Rabu, 05 Maret 2014

Fenomena Aji Mumpung Orang Parpol



OLEH Dirwan Ahmad Darwis
Penulis pengamat sosial dan Koordinator Ikatan Setia Kawan Wartawan Malaysia Indonesia, tinggal di Kuala Lumpur E-mail: dirwan2005@hotmail.com
Dari beragam informasi yang diperoleh, baik dari obrolan maupun bacaan, terkait topik di atas, tergerak hati saya untuk menulis fenomena perilaku orang-orang partai politik (parpol) di Indonesia. Sekaligus, ketertarikan itu termasuk membincangkan pemimpin parpol yang sekaligus juga pemimpin rakyat: apakah kapasitas sebagai Presiden, Menteri, Gubernur hingga ke Bupati dan Walikota. Selain itu, saya juga ingin menyinggung para pejabat dan pengikutnya yang berasal dari partai termasuk inner circle (orang dalam) di sekelilingnya.  

Sesungguhnya, di samping profil pemimpin itu sendiri, perilaku dan gelagat orang-orang parpol plus inner circle inilah yang sebenarnya menarik untuk dicermati. Di Sumatera Barat saat ini, ada sejumlah kepala daerah (Bupati dan Walikota, termasuk Gubernur) yang pada kenyataannya mempunyai jabatan ganda. Dari satu sisi mereka adalah para pemimpin dengan jabatan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat, namun di sisi lain pula mereka juga adalah sebagai pimpinan tertinggi di partainya—dengan sejumlah pengikut tentunya.
Kalau kita runut ke belakang, sebelum yang bersangkutan berhasil menjadi kepala daerah atau pemimpin rakyat, banyak proses yang dilalui. Paling tidak, menjadi kepala daerah, tidak datang begitu saja, dan berjalan melibatkan banyak pihak. Yang jelas parpol dengan segenap anggota yang mengusulkan, lalu bersama-sama dengan koalisi bergerak mendukungnya.
Jelas di sini, bahwa pendukung parpol/koalisi/plus pribadi-pribadi tertentu lainnya sangat mempunyai andil dalam proses mengantarkan si calon menjadi pemimpin rakyat yang definitif.  Dalam hal ini, pada hakikatnya, mau tidak mau sang pemimpin “berhutang” budi dan tenaga (tidak tertutup juga kemungkinan berhutang uang?) kepada para pendukungnya. Maka di sinilah kualitas pemimpin itu akan diuji. Sejauh mana dia mampu mengelola berbagai kepentingan yang ada di sekelilingnya dengan kepentingan daerah dan masyarakat badarai sesuai amanah utama yang diembannya.
Kemampuan  mengelola ini yang pada akhirnya akan berdampak terhadap kredibilitas kepemimpinannya yang kelak akan dikenang orang sepanjang waktu. Seorang pemimpin dengan mental yang baik dan stabil, pasti ingin menorehkan catatan tinta emas sepanjang pemerintahannya. Namun tidak jarang para pemimpin ini tergelincir akibat bujuk rayu dan laporan palsu orang-orang partai dan para inner circle di sekelilingnya.
Terkait orang-orang dari partai penguasa (khususnya) dan para inner circle ini—sudah menjadi rahasia umum—tindak tanduk mereka terkadang melebihi pemimpin itu sendiri. Tidak jarang mereka terkesan sangat arogan, lapar dan dahaga terhadap hal-hal yang berbau ekonomi dengan konsep “aji mumpung”: mumpung partainya lagi berkuasa, mumpung si anu jadi kepala daerah, mumpung ada kesempatan, mumpung dekat dengan si anu, serta mumpung-mumpung lainnya.
Orang-orang partai yang duduk terhormat di lembaga legislatif pun ikut terkesima dengan ajaran dan mahzab “aji mumpung” ini. Maka hasilnya, “marasai” lah BUMD, bank-bank daerah, para Kepala Dinas/SKPD, serta instansi-insatansi terkait lainnya.
Lalu pertanyaannya, sebaik apapun atau sealim apapun pemimpin itu, apakah dia tau permainan orang-orang di sekitarnya yang bermahzab aji mumpung ini? Kalau pun dia tahu, apa tindakannya? Dihalangi dengan cara-cara kasar tidak mungkin, nanti dibilang tidak tahu balas budi, lupa kacang dengan kulitnya, atau lain-lain sindiran yang kalau diteruskan kelompok ini mungkin bisa berbalik menjadi lawan dalam diam-diam.  Namun kalau dibiarkan tentu akan merusak kredibilitas.
Dari fenomena di atas, diharapkan agar kepala daerah/pemimpin parpol (apa lagi partai yang membawa unsur-unsur Islami) yang masih punya hati nurani dan mental yang stabil, agar melakukan pengawasan intensif terhadap orang-orangnya di luar sana. Jangan hanya menerima laporan saja.
Sebagai seorang politisi diharapkan para pemimpin ini mampu menciptakan sebuah mekanisme pengawasan sederhana dengan mengedepankan budaya “malu” dan “perjuangan”. Namun, mekanisme “slogan” atau aturan-aturan baku sekalipun tidaklah cukup kalau tidak melibatkan personel-personel tertentu sebagai task force (mata-mata atau spy).
Para mata-mata ini haruslah orang-orang yang teruji pribadinya (tentu saja agama dan keimanannya), orang-orang yang bermental pejuang atau pahlawan sejati, tidak perlu dalam bentuk tim, bahkan mereka ini tidak perlu kenal antara satu sama lainnya. Namun yang penting pelihara “periuk nasi”nya dan keluarganya, karena di zaman sekarang sangat susah mencari pejuang seperti di zaman nabi.
Di negara tetangga Malaysia, ada staf pemerintah dengan jabatan namanya “Pegawai Seranta”. Posisi ini diformalkan dan mereka ditugaskan di instansi-instansi tertentu. Dia bukan sebagai pimpinan di instansi tersebut, tapi memang sebagai pegawai khusus dengan tugas tertentu yang langsung membuat laporan ke pimpinan tertinggi. Karena ini sebuah sistem, maka sang pimpinan instansi juga merasa diawasi dan akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Di lain hal, kehadiran pegawai seranta ini, tidak pula membuat pimpinan instansi merasa bahwa pimpinan tertinggi (kepala daerah) tidak percaya padanya.
Informasi lain sebagai tambahan, di negara tetangga ini saya punya beberapa rekan politisi (pimpinan) yang menerapkan konsep mata-mata buatan sendiri termasuk untuk mengawasi pegawai seranta yang berkemungkinan bermain mata dengan pimpinan instansi. Mereka merekrut orang-orang tertentu dengan kriteria sebagaimana disampaikan di atas, dengan penerapan sistem kerja bernuansa Islami. Alhamdulillah menurutnya terbukti manjur, program-program yang diagendakan selalu tepat sasaran dan volume kegagalannya sangat kecil. 
Dengan cara ini, diharapkan pemimpin akan mendapatkan informasi yang sahih alias dapat dipercaya, sehingga tidak ragu-ragu dalam membuat keputusan, sekalipun nanti keputusan itu akan menuai kontroversi, karena sudah dipredisksi lebih awal melalui sel-sel jaringan informan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar