Minggu, 09 Maret 2014

Menggugat Tradisi Bajapuik Melalui Komposisi Musik

OLEH GUSRIYONO 
Jurnalis
Musik tradisi Minang
Hampir seluruh penonton di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumbar “tumpah” ke depan panggung. Mereka berjoget bersama dalam iringan komposisi musik berjudul Bajoget karya Susandra Jaya. Luapan kegembiraan ini seakan perayaan atas perjalanan empat bagian dari komposisi musik Piaman dalam Ritme yang dimainkan Susandra bersama kelompoknya, Jumat (20/4/2012) malam itu.
Para penonton meminta Susandra Jaya mengulangi komposisi bagian terakhir ini agar bisa ikut berjoget bersama-sama. Seakan ikut memaknai pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, yang menjadi dasar penciptaan bagian keempat tersebut. Karya ini menyiratkan sebuah akhir bahagia dari kekhawatiran beratnya perjuangan hidup berumahtangga. Suasana gembira dan suka cita itu diungkapkan dengan materi musikal riang melalui instrumen pupuik rabunian, gandang katindik, yang bersumber dari musik tradisi Katumbak Pariaman.
Komposisi Piaman dalam Ritme ini merupakan siklus hidup rang sumando atau lelaki di Pariaman. Di mulai dari masa kecil dengan judul karya Buai Anak. Bagian ini merefleksikan proses pendewasaan anak dalam didikan orangtua. Maka dihadirkanlah suasana yang tenang dengan melodi-melodi yang mengalun dan kadang-kadang riang.
Bagian selanjutnya, Mancari Minantu. Setelah anak dewasa dan dirasa cukup umur untuk menikah, maka dicarilah pasangan yang cocok. Dalam proses bamintu itu muncul konflik-konflik, terutama menyangkut uang japuik, sebagaimana lazimnya di Pariaman, yang dikenal dengan tradisi kawin bajapuik. Bagian ini disampaikan dengan gaya musikal dialogis, saling berinteraksi, dan interlocking permainan dari aneka alat musik yang digunakan. 
Kemudian, sebagai klimaks dari komposisi Piaman dalam Ritme ini, Ratok Rang Sumando. Di bagian ini menonjolkan emosi rang sumando dalam menghadapi konflik rumahtangga. Apalagi ditautkan dengan tradisi bajapuik tadi, yang menimbulkan konflik batin tersendiri bagi laki-laki Minangkabau. Menjadi seorang suami yang baik memang sulit terutama di masa-masa awal perkawinan. Rasa kesedihan, emosi dan ratapan ini diungkapkan dengan melodi sarunai, vokal, dan pupuik rabunian dalam mengekspresikan ratapan rang sumando.
Komposisi Piaman dalam Ritme seperti gugatan atau pemberontakan sang komposer terhadap tradisi bajapuik di Pariaman, yang dihadirkan dalam warna bunyi dalam bentuk melodis, ritmis, olahan vokal, serta tingkah laku atau ekspresi yang berkarakter dan bervariasi. Di sini, lelaki kelahiran Limaupurut Padangpariaman itu, bersama kelompoknya, Emri, Hafif HR, Bustanul Arifin, Leva Khudri Balti, Rismelya Fitri, Lidya Triana, Shofwan, Agung Hero Hernanda, dan Agung Perdana, mengeksplorasi beberapa musik dan dendang tradisi di Pariaman. Kemudian, yang tak kalah menariknya, sebagai orang Pariaman, ia mampu mengadaptasi kenakalan-kenakalan atau cimeeh urang Piaman dalam musiknya. Sehingga menjadi sebuah tontonan yang mengasyikkan.
Diskusi Salah Arah
Selesai pementasan, penyelenggara pertunjukan membuka ruang diskusi sebagai apresiasi dan interpretasi atas karya Susandra Jaya tersebut. Sayangnya, diskusi itu salah arah. Diskusi yang seharusnya berbicara tentang musik karya Susandra Jaya, melenceng menjadi diskusi soal tradisi kawin bajapuik di Pariaman.
Hal ini dipicu setelah Susandra Jaya membentangkan maksud penciptaan karyanya itu. Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan Susan. Akan lebih baik kalau ia diam saja saat itu, sehingga memunculkan pertanyaan dan interpretasi penonton tentang komposisi yang dibuatnya. Kalau saja itu dilakukannya, mungkin diskusi akan cukup menarik diikuti.
Namun, kekeliruannya itulah yang membuat pembicaran mengenai pertunjukan musik hilang, karena orang sibuk bicara tentang kawin bajapuik. Tidak ada satu pun penonton atau peserta diskusi yang berbicara dalam bentuk analisis atau interpretasi lain mengenai komposisi musik yang baru mereka lihat dan dengarkan itu. Bahkan, salah seorang wakil rakyat yang turut dalam diskusi itu ikut nimbrung berbicara, yang ingin menghapuskan tradisi bajapuik ini. Seolah-seolah menghapus aturan adat itu mudah seperti mencabut atau mengganti peraturan daerah.
Pada akhirnya, apa yang diharapkan dari diskusi, berupa apresiasi, analisis, dan interpretasi terhadap komposisi musik yang pentas malam itu tidak kesampaian. Diskusi hanya kesia-siaan. Sekadar menahan langkah penonton untuk tidak segera keluar setelah pertunjukan usai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar