Minggu, 27 April 2014

CHAIRIL ANWAR: Hidup hanya Menunda Kekalahan

OLEH Yusriwal
Peneliti di Fakultas Sastra Unand
Lima puluh empat tahun yang lalu, tepatnya 28 April 1949, dunia kesusastraan Indonesia kehilangan seorang maestro sastra: meninggalnya penyair besar Chairil Anwar. Ia mati muda, dalam usia 27 tahun. Namanya tidak terkubur, walaupun tulang belulangnya mungkin sudah hancur. Siapa pun yang belajar kesusastraan Indonesia, mau atau tidak, pasti akan berhubungan dengan Chairil Anwar dan karya-karyanya. Mengapa?

Seorang seniman memiliki semacam kearifan. Mereka memiliki kelebihan dapat “melihat” dan meramal apa yang bakal terjadi. Mungkin kemampuan itu tidak sama dengan kemampuan yang dimiliki seorang Nabi  atau wali Allah, tetapi jelas, mereka dianggap punya kelebihan dibanding orang kebanyakan. Kearifan yang mereka miliki tidak pula sama dengan kemampuan yang ada pada seorang paranormal.
Kelebihan ini dimungkinkan karena seniman mempunyai intuisi, perasaan, intelektualitas yang tinggi. Dengan perangkat itulah, seniman dapat “melihat” ke depan. Itu pulalah yang menyebabkan karya-karya seniman besar masih dapat bertahan hidup sampai hari ini. Semisal Ronggowarsito, apa yang dikatakannya sebagai “zaman edan” itu, berlangsung juga hingga sekarang.
Kenyataan itu dapat berlaku disebabkan seniman bertindak sebagai “pengamat”. Mereka mempunyai kepedulian terhadap realitas di sekitarnya. Dengan begitu, mereka dapat mereka-reka apa yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang. Seperti dapat kita lihat, begitu banyaknya karya seni yang baik yang sering mendahului zamannya.
Itu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pemimpin, intelektual, dan tokoh masyarakat kita hari ini. Mereka muncul pada suatu saat, kemudian hilang. Muncul tokoh baru untuk beberapa saat dan hilang selamanya. Apa yang kurang pada mereka? Intelektualitas, Intuisi, dan perasaan, mereka semuanya punya. Barangkali, mereka menggunakan salah satunya sesuai kepentingan. Bukan menggunakan ketiganya dalam sebuah harmoni yang pada akhirnya membentuk sebuah kearifan.
Oleh sebab itu, pada bulan April ini patut rasanya direnungkan kembali apa yang telah ditulis Chairl Anwar 54 tahun yang lalu. Kita mungkin belum lupa dengan ungkapan “aku mau hidup seribu tahun lagi” (Semangat atau Aku), “sekali berarti, sudah itu mati” (Diponegoro), dan “hidup hanya menunda kekalahan” (Derai-derai Cemara). Ketiga ungkapan di atas, walaupun terdapat pada tiga puisi yang berbeda, tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat. Keterkaitannya akan terlihat jika diparafrasekan seperti di bawah ini.
Sebenarnya aku mau hidup seribu tahun lagi, tetapi jika hidup hanya menunda kekalahan biarlah sekali berarti, sudah itu mati.
Secara bebas dapat dikatakan bahwa Chairil (aku) ingin hidup lebih lama dan mungkin juga selamanya. Akan tetapi, dia menyadari pula bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena pekerjaan yang paling berarti atau berharga yang dapat menimbulkan kenangan yang mendalam pada orang lain itu, hanya sekali. Setelah itu, walaupun seseorang tetap berbuat, ia akan tenggelam oleh perbuatan sebelumnya. Itu akan terlihat sebagai kegagalan, yang berarti juga kekalahan. Hidup dalam keadaan seperti itu hanyalah pengisi waktu sebelum datangnya kekalahan yang lebih besar, yaitu sang maut. Dia telah mati sebelum meninggal.
Chairil membuktikannya. Dia “menyadari” hidupnya yang singkat itu dan dia membuatnya cukup berarti dengan berkarya sebaik mungkin. Ternyata apa yang dilakukannya tidak sia-sia sehingga dicatat oleh sejarah sebagai pembaharu dalam sastra Indonesia. Karya-karyanya banyak dibicarakan dan tetap aktual. Hidupnya yang hanya 27 tahun, dibaktikannya untuk kesusastraan Indonesia.
Secara manusiawi, apa yang diinginkan Chairil Anwar itu cukup beralasan. Setiap seniman mempunyai keinginan yang sama, yaitu untuk dapat hidup sepanjang masa. Pada saat yang bersamaan Chairil menyadari, untuk apa hidup yang panjang  kalau hanya dapat berarti sekali saja. Pilihan yang paling tepat adalah mundur. Kekalahan yang besar ini, cepat atau lambat pasti akan datang. Chairil “merasa” hidup sudah berarti, karenanya ia menunggu kekalahan itu dengan mempersiapkan diri, seperti yang ditulisnya “aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang “( Yang Terempas dan Yang Putus). 
Sebenarnya, hidup yang singkat itu merupakan sebuah “anugerah” bagi Chairil, karena dia meninggal pada saat kreativitasnya sedang berada di puncak. Ibarat mendaki gunung, puncak itu hanya satu. Di baliknya adalah lembah dan penurunan. Satu-satunya jalan untuk tetap berada di puncak adalah berhenti di sana. Itulah yang terjadi pada Chairil: berhenti di puncak kreativitasnya. Karena mati, sampai saat ini dia tetap berada di sana: di puncak   kreativitasnya.
Kearifan lain yang terlihat, seolah-olah dia “menyadari” bahwa jika tetap hidup dan berkarya  sampai sekarang, mungkin kreativitasnya akan menurun. Tidak banyak orang yang mau mundur di kala karirnya sedang di puncak. Mereka ingin mencapai yang lebih. Namun sayang, mereka tergelincir sebelum mencapai puncak yang diingini. Mereka hidup untuk menunggu kekalahan.
Begitulah kearifan seorang Chairil Anwar. Kalau kita kembali lagi pada ketiga ungkapan di atas, hal itu terlihat seperti sebuah perencanaan yang telah terformulasi di dalam pikiran Chairil. Ketiganya ditulis Chairil dalam dua periode yang jaraknya cukup lama. Puisi Semangat  dan Diponegoro ditulisnya pada tahun 1943, sedangkan Derai-derai Cemara lahir pada tahun 1949.
Periode 1943 merupakan periode awal kepenulisan Chairil yang memperlihatkan gejolak jiwa mudanya dengan ungkapan yang menggebu-gebu dalam menyikapi hidup. Akan tetapi, pada periode 1949 dia mulai menyikapinya dengan kesadaran bahwa ada proses perubahan dalam dirinya yang memisahkannya dari masa lalu. Chairil menumpahkan perasaannya dengan ketenangan. Itulah salah satu kearifan Chairil yang lain: sebuah proses untuk mengubah diri. *
Sumber: Harian Singgalang, Senin 22 April 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar