Minggu, 27 April 2014

Kepekatan Minangkabau dalam Puisi Chairil Anwar

OLEH Yusriwal
Peneliti di Fakultas Sastra Unand
Di pusara Chairil Anwar
Indonesia telah kehilangan seorang pujangga dengan meninggalnya Chairil Anwar pada 28 April 1949. Dia meninggal di sebuah rumah sakit di Jakarta karena penyakit paru-paru dan radang usus. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan Karet, Jakarta.
Chairil Anwar dilahirkan di Medan 26 Juli 1922 dari pasangan Tulus dan Saleha, yang berasal dari Minangkabau. Secara geneologis, Chairil Anwar adalah orang Minangkabau. Lalu bagaimana secara budaya?

Walaupun Chiairil lahir dan hidup di luar Minangkabau, tetapi ada hal menarik yang biasa berlaku dalam keluarga peran­tau Minangkabau. Mereka tetap menggunakan bahasa Minang­kabau untuk berkomunikasi da­lam keluarga dan dengan sesama perantau Minangkabau lainnya. Tampaknya, mereka tidak ingin anak-anak mereka tidak mengerti ba­hasa dan adat Minangkabau.
Selain itu, ada pula pewarisan nilai-nilai budaya yang terjadi melalui penularan secara tidak langsung antargenerasi. Sebuah keluarga, walaupun tidak lagi berkomunikasi dalam bahasa etnis dari mana mereka berasal, tapi dalam melihat dan mencermati suatu persoalan, mereka tetap memakai pola pikir dan konsep-konsep budaya et­nis asal mereka.
Dapat dikatakan bahwa sebelum ke luar ru­mah, para orangtua telah me­makaikan "kacamata" etnis asal tersebut kepada anak-anak atau anggota keluarga lainnya. Pearl S. Buck yang lahir, besar, menulis tentang dan dalam bahasa Cina, misalnya, tetap saja melihat persoalan yang berhubungan dengan masyarakat Cina de­ngan "kacamata" Inggrisnya. Karena kedua orangtua Buck berasal dari Inggris. Hal yang sama juga terjadi  pada  diri  dan  keluarga Chairil Anwar. Persinggungannya dengan bahasa dan kebudayaan Minangkabau tetap ada dan ini terlihat dalam puisi-puisi Chairil Anwar sendiri.
Sebagai penulis (sastrawan), Chairil Anwar sebenarnya cukup produktif. Dia mulai menulis pada usia 20 atau 21 dan meninggal dalam usia 27 tahun. Dalam waktu yang singkat itu, Chairil telah menghasilkan 70 buah sajak asli, 4 buah sajak saduran, 10 buah sa­jak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Ke-94 buah karya itulah warisan Chairil Anwar untuk kesusastraan dan bangsa Indonesia.
Agak disayangkan bahwa selama ini karya-karya Chairil An­war hanya dianggap sebagai hasil sastra yang benar-benar made in Indonesia belaka. Kebanyakan kritikus melihat Chairil An­war sebagai tokoh pelopor Angkatan 45. Kalau tidak, ia akan dibicarakan sehubungan dengan keterpengaruhannya akan sastra dan pemikiran Barat.
Anggapan para kritikus bah­wa Chairil dengan Angkatan 45-nya telah mendobrak tradisi sebelumnya, juga tidak sepenuhnya benar. Karya-karya penyair Angkatan 45 memang berbeda dengan karya-karya penyair Pujangga Baru. Tetapi perbedaan itu hanya terjadi sebatas ti­dak terikat pada persajakan akhir, jumlah kata, dan suku kata tiap bait. Perbedaannya ha­nya dari segi cara pengungkapan, sedangkan "roh" dari kebudayaan asal masing-masing pe­nyair Angkatan 45, masih terli­hat dengan jelas. Hal yang sama terlihat juga pada karya-karya penyair Pujangga Baru.
Penyimpangan Sintaksis
Jarang para kritikus atau peneliti sastra mencoba melihat dan membicarakan karya-karya Cha­iril Anwar dalam hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan Minangkabau. Padahal menurut A.A. Navis (dalam Haluan, 1956), Chairil Anwar memperlihatkan sikap hidup orang Minangkabau. Dan keminangkabauannya dapat diamati dari beberapa kecenderungan yang ada pada karya-karyanya.
Pertama dan paling menonjol terlihat pada struktur sintaksis bahasa puisinya. Kalau dibandingkan dengan struktur sintaksis bahasa Indonesia, Chairil Anwar memakainya secara tidak lazim berupa pembalikan susunan kata. Pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil dia menulis: "Ini kali tidak ada yang mencari cinta". Menurut kelaziman ba­hasa Indonesia, kalimat itu seharusnya ditulis: "Kali ini tidak ada yang mencari cinta". Dalam bahasa Indonesia, struktur yang lazim adalah keterangan subyek ("ini", "itu") harus mengikuti subyek ("kali"), misalnya "rumah itu", "saat ini", dan sebagainya. Pembalikan susunan kata ini sangat banyak didapati pada puisi-puisi Chairil Anwar. Malah menurut Pradopo (1987: 103), Chairil Anwar merupakan pelopor dalam penyimpangan struktur sintaksis ini.
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan bahasa Minangka­bau, apa yang dilakukan Chairil Anwar itu merupakan keharusan. Dalam bahasa Minangka­bau keterangan subyek adalah mendahului subyek, misalnya indak den cameh jo buruang tabang (bukan aku cemas oleh burung yang terbang). Kata ke­terangan indak mendahului subyek den.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut. Chairil Anwar menulis: "Sudah tercacar semua di muka", yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Minangkabau adalah Alah tacaca kasadonyo di muko. Kalau meng­ikuti struktur kalimat bahasa Indonesia yang lazim, kalimat itu seharusnya menjadi "semua sudah tercacar di muka". Dari contoh kecil itu—masih banyak con­toh lainnya—kelihatan bahwa (sesungguhnya) yang dilakukan Chairil Anwar adalah menulis puisi dalam bahasa Minang­kabau dengan kosa kata bahasa Indonesia (Melayu?). Artinya, secara struktur ia adalah bahasa Minangkabau, hanya kata-katanya dari bahasa Indonesia.
Gaya Hiperbol
Kecenderungan kedua adalah pemakaian gaya bahasa hiperbol. Gaya bahasa ini paling dominan dalam karya-karya Chairil. Ia muncul hampir di setiap puisi, seolah ia seperti "napas" atau "roh" yang menghidupi puisi-puisinya. Sekadar contoh, antara lain, "Aku tetap meradang men­erjang", "Mengingat Kau penuh seluruh", dan "Harum rambutmu mengalun bergelut senda".
Hiperbol pada ketiga puisi di atas dimaksud Chairil Anwar sebagai penguat makna: kata "meradang" dipertegas maknanya oleh kata "menerjang", begitu juga dengan kata "penuh" diperjelas oleh kata "seluruh", dan kata "senda" memperjelas kata "bergelut". Kedua kata, baik yang diperjelas maupun yang memperjelas, mempunyai kesejajaran. Masing-masing ka­ta yang membentuk hiperbol itu dapat berdiri sendiri.
Selain mempertegas makna, hiperbol juga dipergunakan penyair untuk keperluan intensitas pernyataan. Dalam bahasa (kebudayaan) Minangkabau, bentuk pernyataan yang berupa hiperbol juga berfungsi sebagai penguat makna dan untuk ke­perluan intensitas pernyataan. Sebagai contoh, untuk mengungkapkan kebesaran seorang datuak atau pangulu, ungkapan Minangkabau menyebutnya nan gadang basa batuah. Kata gadang dan basa mempunyai arti yang sama, yaitu "besar".
Masyarakat Minangkabau ti­dak asing dengan gaya bahasa hiperbol. Ungkapan-ungkapan yang mengandung hiperbol ditemui dalam setiap pernyataan yang berhubungan dengan se­tiap aspek kehidupan mereka. Ketika membicarakan adat, kesenian, dan percakapan sehari, mereka menggunakan ungkapan-ungkapan hiperbolis, misal­nya, dipikia diino'i (dipikir direnungkan), ditangisi dirato'i (ditangisi diratapi), dikicok dirasoi (dicicipi dirasai). Bahkan penggunaan hiperbol yang lebih "ekstrem" biasa ditemui dalam kaba—salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau. Hiperbol tersebut terdiri dari 4 kata yaitu nan sakarang kini nangko. Terjemahannya adalah "saat ini". Bentuk ini dibangun oleh tiga kata yang mempunyai arti sama.
Kecenderungan ketiga dapat dilihat pada imaji yang ditampilkan Chairil Anwar melalui puisi-puisinya. Ada dua imaji yang ditampilkannya di sana: pada suatu saat imaji itu tampil dengan semangat yang bergelora sedang pada saat yang lain ia tampil mendayu-dayu, bahkan cenderung melankolis. Keduanya seolah berada pada dua kutub yang saling berlawanan.
Contoh yang paling menarik adalah membandingkan antara puisi Aku atau Semangat de­ngan Derai-derai Cemara ber­ikut:
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap me­radang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

DERAI-DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin  yang terpendam
aku sekarag orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada satu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu  ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Puisi Aku jelas sekali menggambarkan vitalitas hidup Chairil Anwar. Puisi ini ditutup dengan "Aku mau hidup seribu tahun lagi" yang sekaligus menggambarkan sikap tersebut. Kata-kata yang dipilih pun menyatakan gelora semangat penyairnya.
Hal yang sangat bertentangan dengan pernyatan di atas terlihat pada puisi Derai-derai Cemara. Chairil menulis "hidup hanya menunda kekalahan". Di sini tidak terlihat lagi vitalitas Chairil, seolah dia menerima saja apa yang akan terjadi. Dia pesimis dengan "hidup (yang) hanya menunda kekalahan... se­belum pada akhirnya kita me­nyerah". Pertentangan serupa akan terlihat pula jika membandingkan beberapa puisi Chairil, misalnya antara puisi Diponegoro dengan puisi Nisan.
Dalam Lingkaran Dualisme
Kecenderungan untuk selalu berada pada dua kutub yang berbeda sering ditemukan dalam diri orang Minangkabau. Kenyataannya, orang Minang­kabau dalam kehidupan sehari-hari selalu dihadapkan pada dualisme yang disebabkan oleh pemaksaan dari faktor yang berada di luar dirinya.
Faktor-faktor itu antara lain, (1) pertentangan antara adat dan agama Islam: sistem kekerabatan menurut adat adalah matrilineal, sedangkan Islam ada­lah partilineal. Sementara itu, antara adat dan agama di Mi­nangkabau tidak dapat dipisahkan, karena adat itu dasarnya adalah agama Islam; (2) Pertentangan dua laras, Bodi Caniago dengan Koto Piliang. Bodi Ca­niago demokrat dan Koto Pi­liang aristokrat; (3) Pertentangan antara Luhak nan Tigo (Minangkabau pusat) dengan Rantau. Pemerintahan Luhak dipegang oleh penghulu sedang­kan Rantau diperintah oleh seorang raja.
Akan tetapi, pertentangan-pertentangan tersebut tidak menimbulkan perpecahan dalam masyarakat Minangkabau. Si­kap kompromi merupakan sikap dasar mereka, sebagaimana pepatah mengatakan rancak di awak, katuju di urang (kalau ki­ta menyenanginya, orang lain pun akan menyukainya).
Akibat dari sikap ini, di permukaan orang Minangkabau adalah orang yang tegar, tetapi di bawahnya tersembunyi jiwa yang sentimental. Lagu-lagu Minangkabau umpamanya penuh dengan syair-syair sedih, menceritakan nasib dan perasaan jauh dari orang yang dicintai dan dikasihi.
Chairil Anwar menampakkan hal yang sama. Dia begitu tegar dalam Aku dan sangat senti­mental dalam Derai-derai Cemara. Perasaan terhadap orang yang dicintai tergambar jelas pada Senja di Pelabuhan Kecil.
Begitulah, ketiga  kecenderungan di atas yang tercermin dalam puisi-puisi Chairil An­war, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan bahasa dan masyarakat Minangkabau. Kenyataan ini sekaligus memperkuat anggapan bahwa akar budaya Minangkabau masih kuat tertanam dalam diri Chairi Anwar.*

Sumber: Harian Kompas, Rabu, 26 April 1996


Tidak ada komentar:

Posting Komentar