Minggu, 20 April 2014

Prabowo Gagal Menjaga Timtim Bagaimana Mau Jadi Presiden?

OLEH Esther Wijayanti
“Kami melihat pembunuhan orang-orang yang sudah menyerah, bahkan perempuan dan anak-anak, bahkan yang terkecil.. Wanita hamil tidak disisakan: mereka dipotong. Mereka mengangkat kaki anak-anak lalu membanting kepalanya ke batu. [Barbedo de Magalhaes, East Timor: Land of Hope].
Keputusan mantan Presiden Habibie melepas Timor Timur, bukanlah keputusan yang datang mak blug dari langit. Namun didasari oleh situasi di Timor Timur yang tidak dapat diredam oleh para petugas penjaga keamanan di Timor Timur itu sendiri. Tidak dapat dinegosiasikan, tidak dapat dikondusifkan, tidak dapat dikuasai. Akhirnya Timor Timur merdeka.
Pendudukan Indonesia di Timor Timur, merupakan mimpi buruk bagi masyarakat Timor Timur. Jumlah penduduk Timor Timur tahun 1999 adalah 823.383 dimana 202.600 penduduk tewas dan hilang. Klik kanan sumber ini . Bahkan, menurut penghitungan Prof. George Aditjondro, dari Universitas Salatiga, selama 6 tahun okupansi, yaitu tahun 1975 – 1981, sekitar 308.000 penduduk tewas. Di mana jumlah populasi penduduk di awal konflik adalah 696.000 jiwa. Yang berarti 44% penduduk Timor Timur tewas selama pendudukan TNI. Angka ini adalah angka pembantaian rakyat sipil TERTINGGI DI DUNIA sepanjang sejarah, mengalahkan angka pembantaian etnis Yahudi oleh NAZI saat Perang Dunia II yang berjumlah 33% dari penduduk Yahudi. Klik kanan sumberini.
Kasus pembantaian penduduk secara massal yang paling mencolok terjadi di Santa Cruz yang menewaskan 250 orang, banyak di antaranya adalah pelajar berseragam sekolah (youtube keyword: santa cruz massacre). Serta pembantaian di Kraras yang menewaskan 287 orang. Seluruh kejadian ini mengerucut pada Johny Lumintang, Wiranto, Prabowo Subianto, dan Kiki Syahnakri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Karena memang mereka inilah yang menjabat sebagai komandan di Timor-Timur saat itu.
Namun, keterlibatan Prabowo Subianto dibantah oleh Prabowo dalam Surat Bantahan kepada The Jakarta Post yang mengangkat kembali kasus Kraras. Klik kanan sumber ini. Menurut Prabowo, dia tidak berada di tempat kejadian saat itu. Tidak ada satu bukti pun yang menunjukkan bahwa Prabowo memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pembantaian di Kraras.
Tidak ada satu bukti pun yang dianggap bisa dimunculkan untuk menempatkan Wiranto dan Prabowo sebagai pihak yang terlibat dalam pembunuhan masyarakat sipil yang dilakukan oleh kesatuannya. Seolah-olah kesatuannya jalan sendiri tanpa komando.
Tidak berada di tempat, tidak memberikan instruksi, tidak ada bukti. Kata Prabowo dalam bantahan tersebut.
Terlepas dari Klik kanan sumber ini yang menyatakan bahwa Presiden Soeharto meminta agar Prabowo jangan disentuh, mengingat jasa ayahnya terhadap bangsa sedemikian besar. Katakanlah kita percaya pada pengakuan Prabowo kepada The Jakarta Post.
Maka, Prabowo adalah Komandan Kopasus yang bersih dari pembantaian rakyat sipil di Timor Timur. Tidak berada di tempat, tidak memberikan instruksi. Tidak terlibat. Tidak tahu.
Jika Prabowo sebagai Komandan yang bertugas menjaga Timor Timur yang berpenduduk hanya 700 ribu orang, malah tewas 300 ribu orang, malah merdeka memisahkan diri dari Indonesia, malah diembargo, tidak berada di tempat dan tidak tahu apa-apa. Bagaimana mau memimpin Indonesia yang jumlah penduduknya 250 juta jiwa? Ngurus 700 ribu saja nggak bisa.

Note: Sumber-sumber tulisan dalam artikel ini dapat anda klik. Semua ada di internet.
Sumber: Kompasiana Prabowo Gagal Menjaga Timtim Bagaimana Mau Jadi Presiden?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar