Minggu, 24 Agustus 2014

Nama yang Tidak Layak bagi Bangsa Indonesia

OLEH Anas Nafis
Sungguhpun nama Indonesia “orang bule” yang menemukan, namun di jaman penjajahan dulu Pemerintah Belanda yang juga “bule-bule” enggan mendengar apalagi memakainya. Mereka lebih suka memakai kata Inlanders, Inheemse (Bumi Putera) atau Bevolking van Nederlandsch Indie (penduduk Hindia Belanda).
Tuan Kreemer dalam “Het Koloniaal Weekblad” tahun 1927, mengatakan nama Indonesia itu dianjurkan atau didorong pemakaiannya oleh orang-orang pergerakan komunis dan ulah orang-orang pers.

“Tempo doeloe”, dalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia, anggota yang Belanda tidak menyukai wakil anak negeri memakai Bahasa Indonesia dan nama Indonesia sebagai pengganti Bahasa Belanda dan Hindia Belanda.
Barulah kemudian dalam Perjanjian Linggarjadi 1947 delegasi Belanda mau menerima pencantuman nama Indonesia pada perjanjian tersebut. Padahal bagi Bangsa Indonesia telah menetapkan secara resmi pemakaian nama Indonesia sejak Hari Sumpah Pemuda tahun 1928.
Berlain di Hindia Belanda ketika sedang marak-maraknya tumbuh berbagai organisasi bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Pasundan, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Celebes dsb, di Negeri Belanda para pelajar dan mahasiswa yang terdiri dari berbagai suku, daerah dan agama telah bersatu dalam suatu wadah yang awalnya diberi nama “Indische Vereeninging”.

Artinya, persatuan dan kesatuan bangsa yang bersifat nasional (sekarang Indonesia), awalnya bukanlah di Indonesia, akan tetapi diawali oleh semangat “Indische Vereeniging” dari negeri Belanda dan memuncak ketika perhimpunan tersebut dipimpin oleh Nazir gelar Datuk Pamuntjak dan Moh. Hatta.                                                                              

Perhimpoenan Indonesia
Berdirinya “Indische Vereeniging” di Negeri Belanda yaitu suatu organisasi tempat berhimpunnya mahasiswa dan pelajar asal Hindia Belanda, adalah berkat usaha Sutan Kesayangan dengan Noto Suroto.
Semula maksud dan tujuan perkumpulan tersebut, hanyalah sekedar perkumpulan pesta-pesta dansa dan pidato-pidato dan sama sekali tidak menyinggung atau memikirkan nasib bangsa dan tanah air mereka yang masa itu merupakan jajahan Bangsa Belanda.
Barulah setelah Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi (kemudian Ki H. Dewantoro) menjadi anggota, mereka menyadari betapa pentingnya perhimpunan tersebut bagi bangsa dan tanah airnya. Waktu itu pula diterbitkan sebuah buletin atau bulanan yang diberi nama HINDIA POETERA, akan tetapi isinya sama sekali tidak memuat hal-hal yang bernada politik.
Pada tahun 1925, ketika Nazir Datuk Pamoentjak menjadi Voorzitter (Ketua) dan Hatta menjadi pengurus keuangan perhimpunan tersebut, nama “Indische Vereeninging” diganti dengan “PERHIMPUNAN INDONESIA” dan buletin “Hindia Poetera” dengan “INDONESIA MARDEKA” dan M. Hatta merangkap sebagai pimpinan redaksinya.
Penggantian nama itu dilakukan karena nama sebelumnya, yaitu “Indische Vereeniging” dan “Hindia Poetera”, TIDAK LAYAK BAGI BANGSA INDONESIA.
Semenjak itu pula bulanan “Indonesia Mardeka” memuat tulisan-tulisan yang bernada politik.
Awal tahun 1926 M. Hatta terpilih menjadi Voorzitter P.I. (Ketua Perhimpuan Indonesia). Saat itu yang menjadi Raadsman (penasehat)  Kementerian Urusan Tanah Jajahan ialah L.C. Westenenk. Ia juga ditunjuk Menteri sebagai bapak atau wali pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negeri seberang laut itu.
Keterangan:
Westenenk ini lama bertugas di Sumatera, teristimewa di Sumatera Barat. Ketika terjadi pemberontakan di Sumatera Barat tahun 1908, ia menjabat Kontrolir Agam. Ia pula yang meneriakkan komando “vuurd” (tembak) pada serdadu Belanda yang menyerang nagari Kamang pada tahun 1908, dalam usaha memadamkan pemberontakkan yang terjadi di nagari tersebut.
L.C. Westenenk banyak menulis buku tentang Minangkabau, sehingga dijuluki Ahli Minangkabau.
Ketika terjadi perlawanan di pagi buta berdarah di nagari Kamang yang tidak begitu jauh dari kota Fort de Kock, M. Hatta yang baru mengenal bangku pendidikan berdomosili di kota ini.
Seusai pemberontakan PKI di pulau Jawa bulan November 1926, perseteruan antara P.I. dan L.C. Westenenk (baca Pemerintah Belanda) meningkat tajam. Perhimpunan Indonesia dituding kominis semua. Hatta dan P.I. dituding mendapat bantuan keuangan dari Moskow serta membuat konvensi dengan Samaoen.
Orang tua mahasiswa di Indonesia yang ambtenaar (pegawai) diancam dan diteror akan dipecat dan kehilangan hak pensiun, jika masih saja mengirim uang untuk anaknya yang dikatakan sudah menjadi kominis.
Bukan hanya itu, orang tua mahasiswa yang tidak ambtenaar pun diteror  pula dengan ancaman, akan menghentikan hubungan dagang dengan firma-firma Belanda.
Selain Arnold Mononutu, M. Hatta termasuk salah seorang yang menjadi korban teror tersebut dan tidak menerima kiriman uang lagi dari orang tuanya yang ketakutan.
Karena dengan berbagai cara yang dilakukan untuk meredam gerakan mahasiswa tersebut dianggap tidak mempan, lalu pada tanggal 23 September 1927 Hatta bersama tiga orang pengurus Perhimpunan Indonesia lainnya ditangkap.
Di sidang pengadilan di Den Haag, Hatta mengatakan, perhimpunan indonesia berdaya upaya menguatkan eenheidsgedachte (persatuan) bagi seluruh Bangsa Indonesia.
Tujuan yang hendak dicapai ialah hendak mendirikan suatu “blok nasionalis” bersama PKI, Sarikat Islam, Sarikat Rakyat dsb.
Daya upaya mengadakan blok ini sudah dijalankan bulan Agustus 1926 di Bandung dalam suatu pertemuan untuk mendirikan “Comite Voor Eenheidsgedachte” (Komite Persatuan) ... dst.
Gebrakan yang dilakukan Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, merambah pula ke wilayah ini yang waktu itu masih disebut Nederlandsche Indie.
Nama Indonesia mulai menjadi buah bibir, dipakai oleh orang-orang nasional, dicantumkan dalam berbagai nama organisasi masyarakat, konon pula setelah terjadi pemberontakan kominis pada akhir tahun 1926 dan awak Januari 1927.
Pemerintah Belanda mulai gelisah. Ahli-ahli Belanda turun tangan meneliti apa yang telah terjadi. Hasilnya antara lain seperti di bawah ini.
Asal Nama Indonesia
Selama ini orang mengatakan “nama Indonesia” dipakai pertama kali oleh seorang Ethnoloog pengembara yang bernama ADOLF BASTIAN pada tahun 1884 untuk nama Kepulauan Hindia atau Indischen Archipel. Keterangan ini dapat kita baca dalam “Het Koloniaal Weekblad” tanggal 16 September 1926 No. 37 hal. 11. Keterangan serupa tercantum pula pada Encyclopaedie van Winkler Prins (3e dr, 1908) dan Encyclopaedie van Nederlandsch Indie (1918). Demikian juga selama ini yang dipelajari murid-murid sekolah dalam buku pelajarannya.
Namun keterangan di atas dibantah oleh Tuan Kreemer dalam Het “Koloniaal Weekblad” tanggal 3 Februari 1927 No. 3 hal. 4. 
Tuan Kreemer ini menulis sebuah artikel berjudul “Waar komt de naam Indonesie vandaan (Dari mana asal nama Indonesia)?”
Di situ ia mengatakan, bahwa selama ini orang mengatakan bahwa nama INDONESIA itu didapat oleh seorang ethnoloog pengembara yang bernama Adolf Bastian, seperti tertulis dalam Het Koloniaal Weekblad tahun 1926 dan pada kedua Encyclopaedie tersebut di atas.
Dalam tulisannya dalam Het Koloniaal Weekblad 1927 tsb Tuan Kreemer mengatakan, tidak benar A. Bastian yang menemukan nama Indonesia tersebut. Dikatakan pula, bahwa nama Indische atau Maleische Archipel (Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu) telah dipakai juga sejak jaman dahulu, yakni sebelum orang mendapat nama yang lebih baik untuk menunjukkan penduduk jajahan itu.
Nama “Inboorlingen van den Indischen Archipel” atau “Bumi Putra Kepulauan Hindia”, adalah terlalu panjang.
Sir Thomas Stanfort Raffles pernah mengusulkan nama penduduk jajahan ini dengan “Hither Polijnesians atau Melayu Sebelah Sini”, untuk membedakan dengan Bumi Putra di negeri-negeri Lautan Teduh yang diberinya nama “Further Polijnesians atau Melayu Sebelah Sana”. Akan tetapi nama-nama tersebut tidak disetujui oleh banyak pengarang dan orang-orang pandai lainnya.
Ketika mencari nama yang lebih baik, Tuan G.W. EARL mengambil makna kata “Polijnesia” (polij = banyak, nesos = pulau) yang artinya “pulau-pulau yang banyak atau kepulauan” dan diperolehlah nama INDOE – NESIER atau MALAJOE – NESIER (Indu – nesier atau Malayu – nesier). Akan tetapi di antara kedua nama tersebut, yang kedualah yang lebih disukainya, yaitu Malajoe-nesier. Alasannya karena nama yang tersebut pertama, yaitu Indoe-nesier dapat pula menunjukkan penduduk kepulauan Ceylon (Sri Langka) dan kepulauan Malediven dan Lakediven.
Kemudian Tuan J.R. LOGAN melalui tulisannya dalam JOURNAL OF THE INDIAN ARCHIPELAGO AND EASTERN ASIA (jilid IV tahun 1850 halaman 254, dengan judul “The ethnology of the Indian Archipelago”) memilih nama INDONESIE untuk tanah Kepulauan Hindia dan INDONESIERS bagi penduduknya.
Jadi menurut Tuan Kreemer: “HET VADERSCHAP VAN DEN NAAM “INDONESIE“ KOMST DUS NIET TOE AAN BASTIAN, MAAR AAN JAMES R. LOGAN, EN DAGTEEKENT REEDS VAN 1850”. 
Jadi yang mendapat nama Indonesia itu, bukanlah Adolf Bastian, akan tetapi Tuan J.R. Logan sejak tahun 18501.
Asal Kata Merdeka
Di awal jaman repolusi tahun 1945 dulu, jika kita berpapasan atau bertemu dengan seseorang, misalnya teman, pemimpin perjuangan, tentara atau barisan, atau pun orang disegani, kita memberi salam dengan ucapan kata MERDEKA. “Mardeka Pak”, “Mardeka Buk” atau “Mardeka Bung” dsb sembari mengepalkan jari tangan kanan dan menangkat lengan setinggi bahu.
Demikian pula para pemimpin saat memulai pidatonya, selain salam Assalamualaikum diucapkan pula “pekik merdeka” sebanyak tiga kali, juga ketika ia mengakhiri pidatonya.               
Banyak orang mengatakan asal kata “merdeka” itu dari bahasa Sanskerta (bahasa kesusteraan Hindu kuno) , yakni “mahardika”.
Saya sudah menanyakan kepada banyak orang dan mencari di Perpustakaan Nasional Jakarta, namun kata “mahardika” yang dikatakan dari Bahasa Sanskerta itu tidak ditemukan.
Siapa tahu, barangkali saja nanti ada orang yang dapat membuktikan bahwa kata “mahardika” tsb berasal dari bahasa Sanskerta, mudah-mudahan.
Dalam kamus Purwadarminta kata “merdeheka” atau “merdeka” itu, antara lain berarti bebas dari perhambaan dan penjajahan dsb. Tidak disebutkan dari mana asal-usul kata “merdeka” tsb.
Dalam buku berjudul “DE INDISCHE ARCHIPEL” pada sub judul NIEUWE TOESTANDEN IN INDONESIE halaman 213, terdapat tulisan mengenai asal-usul kata “merdeka’ dimaksud2.
“Mahardika atau Merdeka” adalah verbastering (perubahan) kata bahasa Belanda Mardijkers2, artinya vrijgelaten slaaf (pembebasan dari perbudakan).
Mardijk adalah suatu tempat kecil dekat Duinkerken. Di abad ke tujuh belas tempat ini (Mardijk) sangat dihinakan oleh penduduk Negeri Belanda sebagai kawasan yang busuk, karena di sana bersarang atau tempat beristirahat bajak laut bangsa Spanyol yang amat merugikan armada pelayaran Belanda.
Orang-orang Mardijk yang membebaskan diri dari perbudakan bangsa Spanyol yang bajak laut itu, disebut MARDIJKERS.
Demikian pula orang-orang Portugis yang ditawan Belanda di Malaka, kemudian dibawa ke Batavia lalu dibebaskan dan ditempatkan di Jalan Roa Malaka, disebut pula “Mardijkers”. Kemudian keturunan orang-orang Portugis yang telah dimerdekakan (mardijkers) ditempatkan di kawasan Tugu Cilincing. Merekalah yang memperkenalkan “orkes keroncong” kepada anak negeri yang pada awalnya dikenal dengan nama “Keroncong Tugu”.-
Keterangan
“The name Indian Archipelago is too long to admit of being used in an adjective or in an ethnographical form. Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesians but rejects it in favour of Malayunesians, (ante p. 71). For reasons which will be obvious on reading a subseuent note, I prefer the purely geographical term Indonesia, which ia merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islanders. Ia have no affection for the multiplication of semi-grecian words, and would gladly see all the nesias wiped off the map if good Saxon equivalents could be substituted. The term has some claim however to be located in the region, for in the slightly form of nusa it is perhaps as ancient in the Indian Archipelago as in Greece”.

Mardijkers” in een Nederlandsche verbastering van MAHARDIKA, vrij gelaten slaaf.
MARDIJK in een klein plaatsje bij Duinkerken. Deze plaatsen waren berucht bij de Nederlanders der zeventiende eeuw, daar van uit deze havens de Spaanche zeerovers werden uitgerust, die de Nederlandsche scheepvaart enorme verliezen berokkenden.                          
Keterangan Tambahan
Onder de niet-Nederlandsche elementen der bevolking van Batavia bevonden zich de afstammelingen der Portugeesche immigranten van Malaka (vandaar dat een straat in Batavia “Rua Malacca” heette), de afstammelingen van gewezen slaven, meestal aangevoert van de kust van Indie en door de Nederlanders “Mardijkers” genoemd, en de Chineezen.
De Mardijkers hadden geen gunstige reputatie. Zij waren Christenen, en daarom waren zij niet verplicht als de andere Aziaten hun nationale kleerderdracht te dragen.
Een Nederlandsch tijdgenoot schreef van hen:
“(De Mardijkers) dewelcke met een bespottelijke portugeesche verwacntheyd quamsuys als wij op zijn Europiaans gekleet gaan dog meest zonder hembt, koussen off schoenen, met een korte duurlugtige rok, daar gemeenlijk de flenters bijhangen en haar pickzwart troonie en poten  zo aardig afsteeken, en parreeren als quaksalvers aap, die met zijn beste pakje opgeschikt is, latende haar echter niet minder voorstaan als ons gelijke te wezen”. (TBG III, 74-75).
Sumber Bacaan Lain
·          Student Indonesia di Europa – 1928.
·          Het Rijk Van Bittertong – 1932.
·          Madjallah “Medan Ra’jat” – 1931.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar