Senin, 25 Agustus 2014

Tuanku di Ulakan Syekh Burhanuddin

OLEH Anas Nafis

Masuknya Agama Islam ke suatu daerah yang tidak didukung bukti-bukti yang baik, mustahil dapat dijadikan catatan sejarah secara meyakinkan.
Di jaman dahulu bila seorang ulama berhasil atau jauh lebih baik dalam mengajar dan mendidik ummat dari para pendahulunya, baik yang sudah meninggal ataupun semasa hidupnya, tidak saja dianggap ulama besar, makamnya pun ramai dikunjungi orang, bahkan dikeramatkan.
Demikian pula anggapan masyarakat terhadap Syekh Abdurrauf Singkel Aceh dan Syekh Burhanuddin yang disebut pula "Tuanku Di Ulakan Pariaman".

Syekh Abdurrauf yang berasal dari desa Singkil Aceh, sedangkan Syekh  Burhanuddin dari desa pantai Ulakan Pariaman, tidak saja mempunyai tingkat derajat kepopuleran yang hampir sama, tetapi juga dikategorikan ke tingkat yang lebih tinggi, karena keduanya adalah murid dan penganut setia ajaran Syekh Ahmad al-Kusyasi Medinah.
Keduanya diberi kuasa mengembangkan Agama Islam di daerah mereka masing-masing.
Jadi Syekh Burhanuddin adalah murid setia Syekh Abdurrauf sedangkan Syekh Abdurrauf sendiri adalah murid yang setia pula dari Syekh Ahmad al-Kusyasi di Medinah.
Banyak orang beranggapan bahwa Syekh Burhanuddin-lah yang mengembangkan Agama Islam di Minangkabau, walau sebenarnya agama ini sudah ada juga beberapa abad sebelumnya.
Dalam buku "De Atjehers" karangan DR. C. Snouck Hurgronye tidak ada disebut mengenai "curriculum vitae" Syekh Abdurrauf ini. Demikian pula disertasi Dr. Douwe Adolf  Rinkes (Abdoelraoef  van Singkel - 1909), sedikit sekali disinggung tentang orang keramat dari desa Ulakan ini. Juga dalam  kebanyakan literatur lama disebutkan hanya sebatas peninggalan dan sedikit tentang ajaran yang beliau kembangkan.        
Sebagai dikatakan di atas, sebagian besar orang Minangkabau jaman dulu percaya awal masuknya Agama Islam ke daerah ini ialah dari Ulakan Pariaman yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin dari Aceh. Kemudian  dikembangkan oleh murid-murid beliau di kampung Kapeh-Kapeh Koto Baru dekat Padang Panjang ke sepenjuru Minangkabau.
Lahirnya ungkapan yang mengatakan "Adat menurun, Syarak mendaki", tidak lepas dari anggapan masuknya Agama Islam melalui Ulakan tersebut. Maksudnya, Syarak itu naik dari daerah pantai menuju ke pedalaman Minangkabau (pegunungan) sedangkan Adat Minangkabau datang atau menurun dari  Pariangan Padang Panjang ke daerah pesisir.
Dalam majalah “Pemimpin Kita” No. 2 – 1929 dikatakan, masa itu Mesjid Pamansiangan dekat Kapeh-Kapeh merupakan pusat pengembangan ajaran Tuanku Di Ulakan. Sayang mesjid tersebut, demikian pula sejumlah besar buku pelajaran Agama Islam bertulisan tangan ludes dimakan api ketika berkecamuk Perang Paderi.   
Petunjuk mengenai riwayat Syekh Burhanuddin ini lebih banyak diperoleh dari keberadaan mesjid dan makam-makam di komplek pemakaman Ulakan itu  sendiri. Makam-makam tersebut dinamakan pula "Tuanku-Tuanku Nan Balinduang", namun tanpa tulisan, gambar maupun penanggalan. Sedangkan
kisah mengenai keberadaan makam-makam tersebut lebih banyak diperoleh dari cerita-cerita lisan semata.
Boleh jadi karena sulit membuat liang lahat di desa pantai  itu, ada pula seorang Tuanku dimakamkan pakai keranda. Tuanku ini disebut Tuanku Nan Bakarando.  Beliau adalah anak angkat  Syekh Burhanuddin.
Ada pula cerita lain mengatakan, ketika ia meninggal dunia liang lahatnya begitu sempit karena terletak di antara dua makam lainnya, sehingga terpaksa beliau dimakamkan memakai peti atau keranda.
Anak Tuanku Nan Bakarando bernama "Muhamad Saliah Aia Angek". Ia gugur dekat Bonjol tatkala Perang Paderi. Waktu itu ia berpihak pada urang putiah atau Belanda. Anak Muhamad Saliah bernama "Tuanku Kali Nan Mudo". Konon kabarnya ia berumur panjang.
Tuanku Nan Berempat       
Syekh Burhanuddin wafat tanggal 15 Syafar 1116 H atau tanggal 19/20 Juni 1704 di desa Ulakan Pariaman.
Seperti umumnya orang masa dahulu, tanggal kelahiran Syekh ini  pun tidak  diketahui. Sungguhpun demikian naskah "Salasilah" menyebutkan Syekh Burhanuddin berasal dari desa nelayan Ulakan.
Seperti disebutkan di atas, Syekh Burhanuddin adalah murid setia Syekh Abdurrauf di Singkil Aceh. Tiga puluh tahun lamanya beliau berguru di negeri tersebut. Sedang Syekh Abdurrauf yang anak Ali Fansuri ini menimba ilmu agama selama sembilan belas tahun pada Syekh Ahmad al-Kusyasi di Medinah.        
Dr. Ph. S. van Ronkel berhasil menemukan naskah penting SALASILAH di Ulakan dengan bantuan Controleur (Tuanku Mandua) Pariaman W. Dominicus.
Naskah inilah yang menjadi bahan utama bagi Dr. Ronkel menulis karangan berjudul  "Het  Heiligdom  te  Oelakan" (Makam  Suci  di Ulakan) yang dimuat dalam VBG, deel - LVI -1914 setebal 36 halaman. Naskah asli Salasilah itu
sendiri tebalnya 22 halaman, berukuran kertas 17 x 10,5 cm  bertulisan  Arab  gundul berbahasa Melayu - Minangkabau logat Pariaman.
Selain menyelidiki dan mengumpulkan berbagai keterangan di lapangan, Dr. Ronkel juga menelaah "De Atjehers"  karangan Dr. C. Snouck Hurgronje dan buku "Abdoel Raoef van Singkel" karangan Douwe Adolf Rinkes tahun 1909 yang merupakan Academisch Proefschrift. Bahkan Dr. Ronkel sampai pula ke mesjid Taluak dekat Bukit Tinggi, di sana ia menemukan naskah karangan Syekh Abu Abdullah Muhammad Ibn Hazin.
Dari sekian banyak murid Syekh Burhanudin, hanya empat orang saja yang masyhur. Mereka itu adalah:
1)     Tuanku Bayang (Painan), ahli syaraf.
2)    Tuanku Tigo Baleh (Solok), ahli nahu.
3)    Tuanku Padang Ganting (Tanah Datar), ahli fikih.
4)    Tuanku Koto Tangah (Agam), ahli tafsir.
5)     Mereka disebut pula “Tuanku Nan Barampek”. Dalam buku-buku adat lama disebut: Syaraf di Bayang, Nahu di Kubung.
1)     Fiki di Padang Ganting.
2)    Tafsir di Agam.
(Majalah “Pemimpin Kita” No. 2 – 1929).
Diberondong Marsose
Urutan kulipah (khalifah) sepeninggal Tuanku di negeri Ulakan sebagaimana tertulis pada bagian akhir naskah Salasilah itu adalah:  1)  Syekh  Abdurrahman,   2)  Syekh Khairuddin, 3)  Syekh Jajaluddin, 4)  Syekh Idris, 5) Syekh Abdul  Mukhsin, 6) Syekh Habibullah, 7) Syekh Sulthan  al-Kusyai, 8)  Fakir Nan Daif ini adanya.
Dr. van Ronkel memastikan "Fakir Nan Daif" itu ialah Abdul Majid bin Ibn. Latif. Pangkat kulipah selanjutnya disandang oleh Abdul Rahim Tapakis dan setelah  itu Zainul Abidin Tambat.
Jadi naskah Salasilah tersebut ditulis oleh kulipah yang ke delapan. Dr. Ronkel memperkirakan pada tahun 1864. Juga dikatakan bahwa makam yang bersisian dengan orang suci itu (Syekh Burhanuddin), ialah Syekh Idris dan Syekh Abdurrahman. Tetapi nama mereka tidak tercantum di batu nisan makam- makam itu.   
Makam "Tuanku-Tuanku Nan Balinduang" pernah cacat diberondong peluru marsose Belanda. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 20 Mei 1909.
Waktu itu sepasukan marsose (pasukan istimewa Belanda) berpatroli sampai ke makam suci tersebut. Ketika itu masyarakat di sana sedang merayakan Maulid  dengan membantai beberapa ekor kerbau tanpa membayar pajak ternak potong kepada pemerintah.
Seperti yang menjadi pemicu Perang tahun 1908 di Sumatera Barat, karena diberlakukannya pajak ternak potong sebesar 2% yang ditentang oleh  masyarakat, dengan alasan bahwa binatang itu dipotong bukanlah  untuk  dijual di pasar-pasar akan tetapi untuk parayaan Maulid (Agama), maka bentrokan pun tidak dapat dihindarkan. Maka terjadilah perlawanan dari pihak masyarakat yang  dipimpin oleh SIDI JAMADIN bersama DATUK BUDIANG. Korban di pihak rakyat yang 45 orang.
Het Rijk van Bittertong – 1932.  
Setiap tahun pada tanggal wafat Syekh Burhanuddin, berduyun-duyun orang datang berziarah ke makam beliau. PAI BASAPA  (pergi bersyafar), kata orang Minangkabau. Sebahagian besar pengikut Syekh Burhanuddin jaman dulu beranggapan bahwa dengan tujuh kali pai basapa (pergi bersyafar), sama artinya dengan sekali pergi haji ke Tanah Suci Mekah.    
Makam orang suci itu berada dalam sebuah bangunan batu beratap seng, bentuknya mirip mesjid bergaya Minangkabau berlokasi di desa Tanjung Medan Ulakan  Pariaman.
Ada beberapa orang kulipah dimakamkan dalam bangunan tersebut bersisian dengan makam beliau. Karena di bawah satu atap, dinamakan oranglah makam Tuanku-Tuanku Nan Balinduang (Tuanku Yang Berlindung).
Selain mesjid, banyak pula surau dibangun di komplek pemakaman tersebut. Masing-masing surau itu diberi nomor dan papan nama. Yang nomor 2 bernama "Surau Tuanku Tak Makan".
Boleh dikatakan setiap hari makam beliau tidak pernah sepi dari  pengunjung, konon pula pada Hari-Hari Besar Islam dan pada saat "Hari Basapa". Tentu saja peluang demikian dimanfaatkan orang, ditandai banyaknya orang berjualan makanan dan minuman di kawasan itu. Misalnya makanan khas daerah pantai daerah itu seperti rakik maco, rakik udang, sala lauak busuak dan lain-lain  sebagainya. Bahkan  tidak  kurang pula yang  berjualan busana muslim, mukena,  tikar pandan untuk sholat dan tidur dsb. Tak obahnya mirip sebuah pasar tradisonil. Apalagi ketika hari “basapa” yang dipadati ribuan pengunjung.
Hanya saja air bersih yang sulit diperoleh di kawasan itu dan juga tempat peziarah membuang hajat.   
Belajar Sambil Bermain
Banyak cerita menarik yang diriwayatkan mengenai Tuanku Di Ulakan ini. Konon tatkala beliau kembali ke kampung halamannya Ulakan seusai menuntut ilmu selama 30 tahun di Tanah Aceh, keluarlah anak nagari menyongsong  dengan membawa berbagai makanan lezat seperti nasi kunyit singgang ayam (ayam panggang).
Tatkala beliau menyantap singgang ayam tersebut, tahu-tahu terselip digiginya. Beliau menganga, maka tampak seperti lautan saja dalam mulut orang suci itu. Syekh Burhanuddin mohon maaf, lalu mengatakan bahwa ayam yang dimakannya itu adalah ayam bacakau saja alias ayam curian atau mungkin pula ayam yang disembelih tanpa syaratnya.
Kemudian beliau menyuruh mengumpulkan anak-anak untuk diajar mengaji. Sebagai balas budi, orang tua anak-anak itu acap membawa makanan untuk beliau seperti samba  randang  kandiak  (rendang  daging babi)  dan  samba  randang mancik (rendang daging tikus) dsb.
"Makan sajolah dek awak!" (makan sajalah oleh kalian) ujar beliau. Lalu beliau berpesan:
"Apa-apa yang dikatakan oleh anak-anak kalian tidak baik, jangan lakukan!"
Kalau masa kini methode pendidikan moderen bagi anak-anak disebut  “leeren en speelen” atau belajar sambil bermain, maka Syekh kita ini di masa silam telah melakukannya. Misalnya bermain gundu, membuat layangan dan sebagainya membaca doa terlebih dahulu.
Demikian masa awal beliau mendidik dan mengajarkan Agama Islam bagi anak-anak di daerah tersebut.
Syekh Burhanuddin tidak mempunyai putra. Sebagai gantinya beliau mengadopsi dua anak laki-laki (anak  angkat)  asal  Ulakan masing-masing bernama Jalaluddin dan Abdurrahman. Apakah beliau pernah menikah tidak  diperoleh keterangan.  
Dalam naskah Salasilah dikisahkan sebab musabab beliau ini tidak berputra tersebut.
Pada suatu hari tatkala Syekh  Burhanuddin masih di Aceh, ia diminta gurunya Syekh Abdurrauf menjaga dua putrinya. Karena itu bergerak-gerak syahwatnya, lalu ditapuangnya (dihantamnya) dengan batu, karena itu beliau jatuh pingsan. Itulah sebabnya beliau tidak berputra.
Berikut kita salinkan sepenuhnya “Naskah Salasilah” seperti apa yang ditulis kembali oleh Dr.  Ph. S. van Ronkel dalam VBG - LVI  - 1914 yang semula bertulisan Arab – Melayu dengan pengantar berbahasa Belanda berjudul HET  HEILIGDOM TE OELAKAN.
Pasal Pada Menyatakan Salasilah Tuan Syekh Abdurrauf Tatkala Menuntut Ilmu Kepada Syekh Ahmad Al-Kusyasi.
Alhamdulillah Washalati Washalamu ali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Amma Baqdu.
Adapun kemudian dari pada itu, maka inilah kabar Syekh Abdurrauf orang negeri Samkari ibnu Ali Fansyuri tatkala menuntut ilmu ke negeri Medinah kepada Tuanku Syekh Ahmad al-Kusyasi. Berapa lama masa beliau di sanan, sampai sembilan belas tahun. Adapun nan dikaji di sanan surat al-Baqarah.
Adapun kerja beliau, habis tahun berganti tahun gembala onta, petang dan pagi mendukung-dukung guru beliau Tuanku Ahmad  al-Kusyasi dari atas rumah hingga ke jenjang Surau Gadang, yakni mesjid tempat orang menuntut ilmu. Demikianlah kerja beliau. Berbalik pulang berdukung pula senantiasa, berbalik pula gembala onta.
Lalu berkata Tuanku Ahmad al-Kusyasi kepada Syekh Abdurrauf:
"Berbaliklah engkau pulang ke Tanah Jawi. Islamkanlah orang Tanah Jawi (Nusantara)".
Lalu menangis Syekh Abdurrauf, karena ilmu belum sebeberapa lagi, menangis senantiasa.
Dalam masa itu bulan baik haripun baik. Keluarlah orang Medinah berhimpun ke negeri Mekah. Meminta ijinlah Syekh Abdurrauf kepada gurunya. Tiada beroleh  ijin  pergi ke negeri Mekah. Jadi menangis pula Syekh Abdurrauf.
Berkata pula gurunya:
"Apa pula ditangiskan. Lebih pula Mekah pada kubur Nabi Muhammad SAW".
Jadi telah senang dalam hati.
Jadilah Syekh Ahmad al-Kusyasi menyuruh menjemput sekalian kitab pada Syekh Abdurrauf ke surau gadang.

Jadi dibawanya oleh Syekh Abdurrauf ke surau kecil. Jadi mengaji samo surang (sendiri-sendiri). Diajarkan oleh Syekh Ahmad al-Kusyasi sekalian kitab.
Diisyaratkan kepada Syekh Abdurrauf, jadi disimpan malah semuanya oleh Syekh Abdurrauf. Jadi diantarkan kitab semuanya ke surau gadang.
Hari pagi hendak pula mengaji Syekh Abdurrauf ke surau gadang. Jadi berdukung Syekh Ahmad al-Kusyasi tiba di halaman surau. Disuruh menengadalah oleh Syekh Ahmad al Kusyasi, Syekh Abdurrauf ke atas langit. Jadi benderanglah semuanya lalu ke lawha mahfuzh.
Lalulah Ahmad al-Kusyasi ke atas surau gadang. Syekh Abdurrauf pergi mengembala onta. Lalu berkata Syekh Ahmad al-Kusyasi:
"Hai Abdurrauf, bilang-bilang juga onta kita".
Dalam itu artinya, tatkala mengembala onta menengok pula Syekh Abdurrauf ke atas langit. Seperti demikian itu pula kemudian berbalik pulang.
Bertanyalah Ahmad al-Kusyasi kepada Syekh Abdurrauf:
"Apa-apa makanan yang istimewa dalam negeri engkau" ?
Maka menjawab Abdurrauf:
"Durian yang istimewa dalam Tanah Jawi, ya Tuanku".
Maka menyuruhlah Syekh Ahmad al-Kusyasi kepada Syekh Abdurrauf menjemput durian itu. Maka diberikan beliau sayak
(tempurung) sebuah untuk berlayar. Sebentar jadi kembali terbawa buah durian.
Kemudian dari itu maka berkehendak jua Syekh Abdurrauf hendak pergi ke Mekah.
Jadi disuruh oleh Syekh Ahmad al-Kusyasi pergi bertarak ke hulu negeri Mesir  ke dalam kawah batu. Maka pergilah beliau. Sampailah dua belas bulan bertarak.  Tiada hujan selama  beliau bertarak itu. Keluh kesahlah  orang negeri Mesir, tiada boleh menuntut. Teranglah akan habis mati sekalian binatang dalam negeri Mesir.
Kemudian datanglah mimpi kepada Raja Mesir:
"Ada orang siak di hulu negeri Mesir ini dalam kawah batu. Jikalau beliau kasihan boleh pinta. Insya Allah".
Maka menyuruhlah Raja menjemput orang siak itu ke dalam kawah batu itu. Diseru beliau, tiada menjawab. Sampai sekali dua kali menjemput, telah ampai sepuluh kali tiada juga terbawa.
Maka rapatlah orang negeri Mesir. Sekalian syekh-syekh, laki-laki  berarak dan zikir dan tasbih serta salawat zikirullah. Maka terbawalah beliau, lalu ke rumah Raja.
Maka ikrarlah Raja Mesir serta katanya:
"Jikalau boleh pinta kami, kami beri emas Tuanku setinggi tegak. Jikalau mungkir kami, tiadalah kami bertuhan di Allah dan tiada kami berpenghulu Nabi".
Maka dikeluarkanlah isi negeri sekalian serta binatang  ke tengah padang. Maka sembahyanglah Syekh Abdurrauf. Setelah takbir beliau, guruhpun berdentum-dentum, hujanpun runtuh seperti batang kerambil. Maka habislah lari orang yang banyak pulang. Seperti laut dalam negeri itu. Disempurnakan jua sembahyang dengan khotbah.
Maka disonsong oranglah beliau, tiada basah sedikit jua.
Maka ditimbun orang emas setinggi tegak, dihadiahkanlah kepada beliau.
Dikata Syekh Abdurrauf kepada orang Mesir:
"Tidak hamba akan membawa emas semiang jua. Hanya sebuah petaruah hamba. Jikalau akan pergi naik haji, orang yang pergi naik haji sedekahkanlah.
Sebuah lagi  petaruah hamba, jikalau kemari orang Tanah Jawi, sapa dan siasat. Itulah petaruh hamba, karena hamba orang Tanah Jawi".
Kemudian kembalilah Syekh Abdurrauf ke negeri Medinah.
Maka bertanyalah Syekh Ahmad al-Kusyasi:
"Adakah terkabul pinta engkau, hai Abdurrauf"?
Maka menjawab Syekh Abdurrauf:
"Ya, Tuanku Insya Allah, karena telah taat orang Mesir semuanya".       
Dihimpunkanlah oleh Syekh Ahmad al-Kusyasi segala orang Tanah Besar, sekaliannya memegang syariat Nabi Muhammad dan orang Mekah, Medinah, Mesir, Kufah dan orang Rum dan orang Cina, semuanya orang Tanah  Sebelah, tiada terbilang negerinya, ke negeri Medinah sekalian yang mengikut agama Nabi Muhammad. Mengajarlah Syekh Abdurrauf sekedar masanya.
Jadi dipilihkanlah oleh Syekh Ahmad al-Kusyasi sekalian kitab  yang  baik  akan dibawa Syekh Abdurrauf ke Baruah Angin.
Jadi  berpetaruhlah Syekh Ahmad al-Kusyasi kepada Abdurrauf:
"Jikalau sampai engkau ke negeri Acas, datang orang berlima orang. Yang berlima dibawa kitab masing-masing.
Orang Ulakan, yaitu Syekh Burhanudin akan diberi kitab.
Jikalau hendak pergi naik haji ke Mekah, jangan diberi pergi Syekh Burhanudin. Di sana ilmu yang akan diputuskan. Tumpahkanlah  di sana ilmu semuanya. Kakinya tinggi dari bumi, yakni pangkat martabatnya tinggi dilebihkan Tuhan.
Lagi bangsanya namanya Burhanudin orang Ulakan sudah memegang petaruh Syekh Abdurrauf dari pada gurunya Syekh Ahmad al-Kusyasi".
Maka menurunlah Syekh Abdurrauf ke negeri Samkari. Orang Samkari belum Islam, maka kembalilah Syekh Abdurrauf.
Adapun Syekh Burhanudin seperti laku Syekh Abdurrauf pula  tatkala  di negeri Medinah kepada Syekh Ahmad al Kusyasi.
Maka ditunggui sudut mesjid nan empat sudut. Orang yang berlima, yang berempat diam dalam mesjid empat sudut.
Syekh Burhanudin mendukung Syekh Abdurrauf di rumah ke surau hingga halaman. Pergi pula mengembala ternak Syekh Abdurrauf.
Adapun nan dikaji oleh Syekh Burhanudin surat al-Fatihah, tiada berasak sekedar lamanya.
Dhahir dan keramat Syekh Abdurrauf, Islamlah orang Samkari,  berkat  keramat beliau selama beliau dalam negeri Acas.       
Adapun Syekh Burhanudin selama di negeri Acas, menggali-gali tanahnya berkeliling mesjid Syekh Abdurrauf.
Lalu beliau uji segala orang surau oleh Syekh Abdurrauf.
Beliau mencampakkan kotak kapur beliau ke dalam cirit yang banyak manjadi (banyak sekali).
Beliau suruh selam kepada segala orang surau. Tiada mau orang surau menyelam, karena itu beliau suruh Syekh Burhanudin. Lalu beliau selam oleh Syekh Burhanudin kotak kapur itu.
Lama berkelamaan sampai beliau tiga puluh tahun lama diam di Acas.
Disuruh bertarak oleh Syekh Abdurrauf, Syekh Burhanudin ke hulu negeri Acas dua belas bulan.
Maka kembalilah masuk negeri Acas. Maka disuruh jemputlah kitab yang banyak di atas mesjid, dibawa ke atas surau kecil. Maka dikajilah kitab yang banyak itu sebaris-sebaris (oleh) Syekh Burhanudin.
Maka disimpan masuk kembali, lalu dikembalikan ke mesjid. Maka naiklah Syekh Abdurrauf didukung oleh Syekh Burhanudin. Maka naiklah Syekh Burhanudin serta Syekh  Abdurrauf.
Disuruh duduk Syekh Burhanudin di kiri Syekh Abdurrauf. Maka mengaji orang dalam mesjid. Maka bertanyalah Syekh Abdurrauf kepada orang yang berempat serta orang yang banyak. Tiada  tahurusi (terjawab) tanya beliau.
Menghadap beliau Syekh Burhanudin. Tiada pikir sudah maklum sekalian kitab yang ditaslimkan oleh Syekh Abdurrauf sekalian kitab yang lebih-lebih kepada Syekh Burhanudin. Orang Acas ahli al-Quran dan ahli Ushul saja hanya lagi. Tiada tinggal kitab melainkan Syekh Burhanudin jadi khalifah Syekh Abdurrauf.
Sekalian kitab terbawa oleh Syekh Burhanudin serta yang berempat tahakik (sempat) tinggal pada Syekh Burhanudin.       
Jadi dicoba oleh Syekh Abdurrauf Syekh Burhanudin. Disuruh berjalan  sepanjang koto.  Di belakang itu pergi Syekh Abdurrauf ke seberang air gadang. Habis orang beliau bawa semuanya ke seberang.
Beliau bertinggal kata:
"Jikalau datang Syekh Burhanudin, suruh turuti aku ke seberang"! 
Kemudian datang Syekh Burhanudin, disampaikan orang kata Syekh Abdurrauf.
Beliau pergi berjalan di atas air.
Maka berkata Syekh Abdurrauf kepada Syekh Burhanudin:
"Betapa engkau lalu di air gadang?"
Kata Syekh Burhanudin:
"Saya berjalan kaki saja" kata beliau.    
Adapun Syekh Burhanudin tatkala di Acas diuji oleh Syekh Abdurrauf. (Ia) dibawa pulang maunikan (menunggu) anak beliau berdua perempuan. Sebab itu bergerak-gerak syahwat beliau. Jadi
beliau tapuang (hantam)  syahwat beliau dengan batu.  Jadi mati beliau sebentar. Sebab itulah tiada  beliau berputra. Insya Allah Taala, sebab beliau yakin itu.
Jadi (ada) orang Ulakan berdua. Kedua orang itu tidak baputo (berputra). Jadi (mereka) bernazar kepada beliau.
Berkat nazar itu, jadi dua orang laki-laki. Nan tuo bernama Syekh Jalaludin, nan seorang bernama Abdurrahman. Jadi diberikan keduanya oleh ibu-bapanya kepada beliau.
Adapun kedhahiran keramat beliau tiada terhisap.
Maka kembalilah Syekh Burhanudin ke negeri Ulakan. Maka berlayarlah beliau. Maka berlabuhlah beliau di pulau dalam laut.
Maka mufakatlah orang dalam negeri Ulakan. Maka diperbualah nasi kunyit, gulai ayam. Dijaga makanan itu.
Setelah dibawa sekalian hidangan barang yang ada, makanlah beliau.  Terselat di gigi lauk ayam itu, beliau menganga.
Apalah serupa laut saja dalam mulut beliau.
Beliau mintakan maaf, ayam itu karena ayam bercekau  saja !
Kemudian dibawa beliau ke darat. Beliau suruh himpunkanlah kanak-kanak. Amuhlah orang Ulakan.
Telah sampai ke darat, diantarlah sekalian kanak-kanak kepada beliau. Beliau ajarilah mengaji.
Sambal rendang kandiak (babi) bagai dibawa untuk beliau. Sambal rendang mancik (tikus) bagai dibawa untuk beliau. Beliau tiada rajan (suka). "Makanlah oleh kalian"! kata beliau.
Ketika akan berbalik pulang ibu-bapanya masing-masing, beliau berpetaruh:
"Apa-apa tidak elok kata anak,   hentikan malah"!
Itulah petaruh beliau. Amuhlah orang Ulakan. Jadi Islamlah orang Ulakan.
Maka berbuat suraulah Syekh Burhanudin di Ulakan di Tanjung Medan namanya tempat, seratus banyak surau.       
Kemudian berpikirlah Tuanku Nan Barampek dalam hati:     
"Kito balun Islam lai. Lai kapia juo kito. Kito mangulang kapado nagari Acas"! (Kita belum Islam lagi. Masih kafir juga kita. Kita mengulang ke negeri Aceh).
Maka lalu orang berempat itu tiba di Acas.
Apa kata Syekh Abdurrauf:
"Kitab lah habis ke Ulakan kepada Syekh Burhanudin.  Tiada hamba mengajar lagi. Tiada kitab tinggal di hamba lagi".
Jadi telah berbalik orang yang berempat itu. Jadilah berguru kepada Syekh Burhanudin.
Kemudian maka berbaliklah orang yang berempat dari Ulakan kepada negeri masing-masing.
Adapun menjawat Khalifah (setelah) Syekh Burhanudin, Syekh  Abdurrahman.  Dan yang menjawat  Syekh  Abdurrahman (ialah) Syekh Khairudin, (setelah itu) Syekh Jalaludin.
Nan menjawat Syekh Jalaludin (ialah) Syekh Idris. Nan menjawat  Syekh  Idris (ialah) Syekh Abdul Mukhsin. Nan menjawat Syekh Abdul Mukhsin (ialah) Syekh Habibullah. Nan menjawat  Syekh Habibullah  (ialah) Syekh  Sulthan  al Kusyai.  Nan menjawat Syekh Sulthan al-Kusyai (ialah) Fakir yang dhaif ini adanya.-
Jakarta, Januari 1992


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar