Kamis, 21 Agustus 2014

Tugu Jong Sumatranen Bond

OLEH Anas Nafis
Di jaman penjajahan Belanda dulu, ada tiga tugu yang menarik perhatian masyarakat kota Padang. Ketiga tugu tersebut ialah:
1.          Tugu peringatan mengenang Luitenant Kolonel A.T. Raaff,
2.         Tugu peringatan mengenang Generaal Majoor A.F. Miechiels,
3.         Tugu peringatan berdirinya Jong Sumatranen Bond.

Peresmian Tugu Jong Sumatranen Bond di Padang pada 6  Juli 1917

Dikatakan menarik perhatian oleh karena buatan dan pemeliharaannya yang baik, lagi pula letak ketiga tugu itu di kawasan elite pula.
Tugu pertama tempatnya di Plein van Rome di lapangan depan Balaikota sekarang dan yang kedua di Taman Melati sekarang. Sedangkan yang ketiga yaitu tugu Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatera) yang sampai sekarang masih ada, yaitu di segi tiga jalan di ujung kiri Taman Melati didekat gedung sekolah Roomsche Katholiek di sebelah selatan Oranje Hotel (Hotel Muara sekarang). Masa ini dua tugu yang disebutkan terdahulu sudah tidak ada lagi, karena dirobohkan oleh Pemerintah Militer Jepang.

Siapa Letkol A.T. Raaff

Seperti juga tugu Michiels, tugu Raaff ini besar artinya bagi Pemerintah Belanda sebagai kenang-kenangan, karena dialah yang pertama kali mengomandokan pasukan Belanda menerobos masuk ke pedalaman Minangkabau untuk menaklukkan kaum Padri.
A.T. Raaff dikirim oleh Pemerintah Belanda dari Betawi bulan Desember 1821, yaitu tidak lama setelah terjadi serangan terhadap pos-pos militer Belanda di Simawang dan Sulit Air.
Raaff merintis jalan baru dari pesisir ke bovenlanden (baca Minangkabau), menuju pertahanan kaum Padri di Simawang. Ia bergerak melalui Ulakan, Kayu Tanam, Ambacang, Tambangan terus ke Gurun dan Sipisang. Raaff menaklukkan kaum Padri di Gurun Tanah Datar, akan tetapi ia tidak mampu menaklukkan Lintau, karena jalan di kawasan itu amat buruk.
Di bukit Sangkar dekat Pagarruyung Raaff mendirikan benteng yang kemudian dinamakan Fort van der Capellen dan di sebelah utara didirikan pula benteng Rao-Rao.
Untuk kepentingan militer, jalan antara Padang dan Minangkabau diperbaiki oleh Raaff. Demikian pula jalan melalui Ambacang yang amat curam yang dinamakan juga jalan neraka, dialihkan.
Berkali-kali Raaff minta bantuan Batavia untuk menaklukkan Lintau, tetapi tidak diperoleh. Sementara itu terjadi pula pemberontakkan di Agam dan Lima Puluh Koto yang digerakkan oleh Tuanku Nan Renceh.
Untuk memudahkan penyerangan ke Agam dan Lima Puluh Koto, benteng Rao-Rao dipindahkan ke Tanjung Alam.
Pengalaman pahit yang dialami Raaff dengan pasukannya ialah pada peperangan di bukit Marapalam. Pasukan Raaff tidak dapat mendaki lereng bukit yang curam di bawah guyuran yang amat lebat, sedangkan peluru dan mensiu basah tidak dapat dipergunakan, sementara itu kaum Padri menghujani mereka dengan batu-batu besar dan balok-balok kayu dari puncak bukit. Di kawasan ini Raaff menderita kekalahan yang parah. Meriam-meriam dan lain-lain termasuk mayat-mayat sendadunya ditinggalkan begitu saja.
Dalam berbagai operasi menumpas kaum Padri ini, Raaff senantiasa dibantu oleh ribuan pasukan anak negeri yang berpihak kepada Belanda. Masa itu pula Raaff dapat mengadakan perdamaian dengan Tuanku Imam Bonjol.
A.T. Raaff menutup mata pada tanggal 17 April 1824, karena diserang penyakit demam panas yang hebat (malaria ?) dan dimakamkan di tepi laut Padang.
Untuk mengenang jasa-jasa A.T. Raaff, Pemerintah Belanda mendirikan sebuah tugu di Plein van Rome Padang dan tulang belulangnya dipindahkan dari tepi laut ke tugu tersebut.
Siapa Generaal Majoor A.F. Michiels
Adegan penting yang dimainkan setelah mendiang Raaff dalam menanamkan bibit kekuasaan Pemerintah Belanda di Minangkabau, beralih kepada Kolonel A.F. Michiels yang kemudian menjalankan pemerintahan militer di Minangkanau dari tahun 1837 – 1849.
Penaklukan Bonjol dilakukan oleh Michiels, sedangkan Tuanku Imam Bonjol dibuang ke pulau Jawa, lalu ke Ambon dan akhirnya ke Manado.
Setelah menaklukkan Bonjol, pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel, lalu dengan bantuan regent Batipuah, Halaban, Tanjung Alam dan Agam, Michiels berhasil menakukkan XIII Koto pada bulan Februari 1838.
Pertempuran terakhir yang dilakukan A.F. Michiels terhadap Padri ialah di Dalu-Dalu, di mana pasukan Padri yang dipimpin Tuanku Tambusai dikalahkan.
Pada tanggal 29 November 1837 Michiels diangkat menjadi Gubernur Sipil dan Militer (Ciciel en Militair Gouverneur) Minangkabau (bovenlanden) berkedudukan di Padang Panjang.
Setelah Letkol J.J. Roegs tewas dalam pertempuran melawan pasukan Aceh di Barus, dalam bulan April 1839 Michiels berhasil menalukkan Barus tanpa menunggu bantuan dari Batavia.
Kerena terdesak, orang-orang Aceh di Singkel membakar rumah-rumah mereka sebelum melarikan diri ke Tarumun melindungi diri, namun Michiles telah membuat perjanjian terlebih dahulu dengan kepala-kepala anak negeri di kawasan itu. Dengan demikian boleh dikatakan hampir seluruh pesisir barat  jatuh di bawah kekuasaan Pemerintah Belanda. Selain itu Michiels juga membuat perjanjian dengan Kerinci.
Suatu hal yang sama sekali tidak diduga oleh Michiels ialah pemberontakkan yang terjadi di Batipuah Padang Panjang pada tahun 1841.
Pemberontakkan ini dikepalai oleh Regent Batipuah dengan Datuk Pamuntjak Nan Satu. Untuk membendung agar pemberontakan itu tidak mejalar ke nagari-nagari lain, Michiels mengirim surat kepada kepala-kepala anak negeri di sekitar daerah pemberontakan tersebut, agar mereka tetap setia pada pemerintah.
Waktu itu kawasan Guguk Malintang dekat tangsi militer Belanda di Padang Panjang telah menjadi kancah peperangan. Setelah berlangsung selama delapan hari, pemberontakan dapat dipadamkan. Regent Batipuah ditangkap, lalu diasingkan ke pulau Jawa, namun setahun kemudian ia berpulang. Sementara itu Datuk Pamuncak Nan Satu dibuang ke Ambon.
Semenjak itu rakyat Batipuah diwajibkan kerja rodi dan dilarang keras membuat bedil.
Dengan beslit tanggal 14 September 1843, Michiels dinaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Major tituler.
Pada tahun 1844 Michiels berhasil menekan pemberontakkan yang terjadi di Pauh yang dikenal perang Lubuak Lintah.
Seterusnya di bawah pimpinannya pula diadakan ekspedisi ke Sungai Pagu, Batang Taro, daerah pulau Nias dan daerah Tapanuli.
Boleh dikatakan selama bertugas di Sumatera Barat, Michiels senantiasa direpotkan dengan berbagai pemberontakkan. Usai urusan Lubuak Lintah, bersambung pula dengan rencana pemberontakkan di Padang Sidempuan, sementara itu Singkel diserang lagi oleh orang Aceh dan bajak laut, lalu di Pariaman terjadi pula pemberontakan di bulan Desember 1848.
Usai itu Pemerintah Belanda menugaskan Michiels memimpin ekspedisi III di Bali. Dalam ekspedisi ini A.F. Michiels tewas.
Untuk menghormati jasa-jasa Michiels, oleh Pemerintah Belanda didirikan dua buah tugu. Satu di Batavia di lapangan Waterloo (Pintu Air, sekarang Mesjid Istiqlal) dan sebuah lagi di Padang. Sekarang kedua tugu itu sudah tidak ada lagi.
Tugu Jong Sumatranen Bond
Berlain dengan dua tugu yang disebutkan terdahulu, yang bagus, indah dan terpelihara dengan baik yang didirikan Pemerintah Belanda untuk mengenang dua pahlawannya yang berjasa menundukkan kaum Padri, maka tugu Jong Sumatranen Bond disingkat JSB adalah monumen mengenang berdirinya suatu organisasi atau persatuan pemuda se-Sumatera sebagai cabang perhimpunan sejenis di Pulau Jawa.
Sedang sebelum itu di pulau Jawa (baca Batavia) telah lahir berbagai organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan seperti Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumatra yang kemudian menjadi tunas pergerakan kaum muda dalam mencapai kemerdekaan bangsa ini.
Kalau untuk mendirikan kedua tugu di atas dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Belanda, tugu JSB cabang Padang ini murni didirikan dengan dana yang dihimpun para pemuda, terutama yang berhimpun dalam JSB. 
Inilah satu-satunya tugu peringatan tertua di kota Padang yang didirikan oleh bangsa sendiri dengan uang sendiri yang keberadaannya di suatu wilayah yang strategis pula. 
Peresmian tugu dilakukan pada waktu berlangsungnya Kongres Pertama JSB pada tanggal 6 Juli 1919 di Padang. Sedang sebelumnya peletakan batu pertama dilakukan oleh Mevrouw M.J.J. Ahrends Overgauw istri tuan Ahrend yang waktu itu adalah Asisten Residen yang merangkap sebagai Walikota Padang (Voorzitter Gemeente Padang).
Pada peresmian itu, selain para pemuda yang tergabung dalam JSB, tokoh masyarakat seperti mantan Tuanku Panglima Regent Padang Marah Oejoeb gelar Maharaja Besar, Haji Abdullah Ahmad dan lain-lain, dihadiri pula oleh Asisten Residen Ahrend dan nyonya.
Pemuda Amir (kemudian menjadi Dr. Amir) tampil berpidato secara menarik mengenai peranan pemuda di masa datang.
Sumpah Pemuda pada tahun 1928 yang melebur semua organisasi yang bersifat kedaerahan seperti Jong Sumatra, Jong Java, Jong Pasundan, Jong Celebes (Sulawesi) dll dan kemudian berhimpun ke dalam sebuah wadah  yang bernama Perhimpunan Indonesia, mengimbas pula ke kota Padang. JSB yang semula diresmikan kan pada tanggal 6 Juli 1917, ikut pula dibubarkan dan diganti pula dengan INDONESIA MUDA. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 1930.
Dalam rapat pembubaran JSB yang berlangsung sejak siang hingga larut malam, Mohamad Yamin berpidato secara panjang lebar yang menarik perhatian pengunjung.
Masa itu tugu Jong Sumatranen Bond mendapat perubahan pula. Sebagian dari tulisan yang terdapat di empat sisi bawah tugu dilenyapkan. Jikalau semula tertulis:
·           MONUMENT J.S.B. 6 JULI 1917 – 5 SJAWAL 1335
·           TERSIARNJA PERGERAKAN ANAK SUMATRA
·           KEKALLAH AGAMA ISLAM
·           TER HERRINNERING V / H 1E KONGRES JONG SUMATRANEN BOND.
Setelah tanggal 23 Maret 1930 itu, tiga di antara tulisan itu dihapus dan yang tersisa hanyalah tulisan ketiga, yaitu “Kekallah Agama Islam” saja.
Barangkali inilah satu-satunya tugu tertua yang merupakan lambang persatuan bangsa yang didirikan untuk memperingati awal berdirinya organisasi kepemudaan di nusantara ini.
Bagaimana Sekarang
Masa ini letak tugu itu masih tetap di sana juga, yaitu di tengah pertigaan jalan, dekat sekolah Katholik, di seberang Hotel Muara, di ujung Taman Melati. Dilihat dari jauh masih seperti dulu-dulu juga. Barangkali bagi sopir-sopir menganggap tugu ini sama saja seperti banyak tugu lain di simpang-simpang jalan kota Padang masa ini. Dipastikan pula banyak anggota masyarakat teristimewa kaum mudanya, tidak tahu tugu apakah itu dan juga tidak mengerti mengapa ada tulisan “Kekallah Agama Islam” dipahatkan disalah satu sisi tugu tersebut.     
Kalau dilihat secara lebih cermat, tampak tugu bersejarah itu dirawat seadanya saja. Misalnya cara melaburnya berlepotan, kalimat “Kekallah Agama Islam” ikut disaput kuas pula, sudut-sudut batang tugu yang coal-coel tidak diperbaiki rapi, bola dipuncaknya dilepoh dengan cat hitam, padahal semula bukan demikian. Demikian pula rantai pengamanannya, ya begitulah. Tidak tampak keanggunan sedikit juga. Padahal dahulu hampir setiap kejadian penting yang berkaitan dengan pergerakan bangsa ini, teristimewa di kota Padang, para pemuda meluangkan waktu berkumpul di tugu tersebut. Bahkan Bung Hatta ketika baru pulang dari Negeri Belanda,  menyempatkan diri berkunjung ke sana.
Apakah tugu bersejarah itu akan dibiarkan begitu saja? Jawabnya tentu saja  tidak! Karena itu melalui tulisan singkat ini penulis menghimbau siapa saja yang peduli, menyingsingkan lengan baju menganggunkan tugu itu kembali. Mudah-mudahan.

Bahan Tulisan: Padang Gids – 1938 dsb.                 
Pusat Dokumentasi & Informasi
Kebudayaan Minangkabau Padang Panjang.
                                                                                
Padang Panjang, 19 Agustus 2005






Tidak ada komentar:

Posting Komentar