Rabu, 03 September 2014

Kisah Pesantren Syekh Abdur Rahman


OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
Masjid di Pesantren Batu Ampa
seorang penasihat pemerintah Belanda, Prof. Dr. Snouck  Hurgronje (1875-1936) menuliskan kesan-kesannya tentang pondok pesantren di Jawa.
Katanya, pesantren itu tidak lebih dari sebuah gedung berbentuk empat persegi. Biasanya dibangun dari bambu, tetapi di desa yang makmur tidak jarang bangunan itu dari kayu.
Tangga pondok dihubungkan ke sumur oleh seleret batu titian, sehingga santri-santri yang kebanyakannya tidak bersepatu dapat mencuci kakinya sebelum naik ke pondok masing-masing.
Batu air dideretkan dari kulah (sumur untuk beruduk para santri) dengan jarak sepelangkahan menuju gedung pesantren (surau). Para santri itu melangkah dari batu ke batu agar kakinya tidak terinjak najis.

Tulisan Prof. Snouck tersebut, meski bagaimanapun akuratnya pastilah berbau sinisme yang terbawa oleh sifat kolonialisme pemerintahan Belanda. Di sini penulis hendak membandingkan dengan sebuah pondok pesantren yang barangkali dapat digolongkan tertua di daerah Sumatera Barat (Minangkabau). Yang penulis maksudkan adalah Pondok Pesantren Syekh Abdur Rahman di Batuhampar, Kabupaten 50 Kota, yang dewasa ini dilanjutkan oleh Perguruan Islam Al-Manar, yang dipimpin oleh cucu Alamarhum, Syekh Dhamrah Arsyadi.
Pondok pesantren, menurut istilah Minangkabau disebutkan “surau”. Surau Syekh Abdur Rahman di Batuhampar amat berke-mungkinan sekali dibangun pada awal abad ke-19 atau sezaman dengan gerakan pembaharuan di Minangkabau, setelah pulangnya Haji Miskin Pandai Sikek dan kawan-kawannya dari Mekah. Atau sezaman dengan gerakan Paderi yang dipimpin oleh Malin Besar yang kemudian masyhur dengan Tuanku Imam Bonjol. Syekh Abdur Rahman adalah datuk atau kakek dari Bapak Dr. H. Mohammad Hatta, bekas wakil presiden, tokoh Proklamator R.I.
Bangunan abad ke-19
Penulis merasa amat berbahagia sekali dapat berkunjung ke pesan-tren tersebut pada penghujung bulan Juli 1976. Kompleks pesantren yang luasnya tidak kurang dari 2 hektar itu, sampai sekarang masih berdiri bangunan-bangunan tua di abad ke-19, seperti sebuah surau gadang (masjid) dengan menaranya yang terbuat dari batu, mirip dengan bangunan Kutub Minar di Delhi yang dibangun di awal abad ke-12 M.
Pesantren (surau) Syek Abdur Rahman terletak di nagari Batuhampar (50 Kota) sekitar 11 km dari Kota Payakumbuh atau 22 km dari Kota Bukittinggi.
H. M. Samah (98 tahun) yang penulis wawancarai mengatakan bahwa ia telah mendapat surau itu berdiri sejak almarhum Tuan Syekh Abdur Rahman. Tahun berapa didirikan, ia sendiri tidak tahu. Orang tua itu hanya mengatakan bahwa yang diganti baru atapnya dan dindingnya yang sudah keropos. Atapnya pada masa tuan Syekh Abdur Rahman adalah ijuk, sekarang diganti dengan atap seng. Lain dari itu tidak ada yang diganti. Demikian diterangkan oleh H. M. Samah yang barangkali satu-satunya orang Batuhampar yang sempat bertemu dengan Syekh Abdur Rahman. Tidak jauh dari masjid itu,  berdiri dengan anggunnya sebuah kubah, juga dari batu dan masih terpelihara dengan baik.
Di dalam kubah itulah terbaringnya jasad ulama, mulai dari almarhum Syekh Abdur Rahman, pendiri pesantren tersebut sampai kepada syekh-syekh yang lain, anak-anak, dan cucunya yang melan-jutkan pengabdian dari amaliah beliau, antara lain Syekh Arsyad, Syekh Ahmad, Syekh Arifin (cucu Syekh Abdur Rahman atau kakak dari Syekh Dhamrah Arsyadi) yang masih hidup sekarang.
Di mejannya ditandai dengan serban dan kopiah haji sebagai tanda bahwa yang berkubur itu adalah berpredikat syekh (ulama). Sementara di luar kubah, terbaring jasad N. Moh. Djamil, ayah Proklamator Kemerdekaan R.I. Dr. H. Moh. Hatta.
Kenapa ayah Dr. Moh. Hatta tidak di dalam kubah?
Menurut H. M. Samah karena H. Djamil itu wafat dalam usia muda. Jadi almarhum belum sempat sampai ke tingkat syekh seperti saudaranya yang lain. Ayah Hatta tersebut adalah yang paling jumbang (ganteng) di antara putra-putra Syekh Abdur Rahman yang lain sehingga ia diberi nama Djamil (indah, ganteng).
Di sinilah penulis hendak membandingkan dengan kesan-kesan yang ditulis oleh Prof. Snouck Hurgronje bahwa bangunan pesantren (surau) itu bukan saja dari bambu atau kayu, malah ada juga dari batu yang sampai pada zaman kita ini masih belum kalah gaya dari konstruksi bangunannya, yakni Pesantren (Surau) Syekh Abdur Rahman.
Sampai sekarang belum kita temui suatu catatan yang pasti tentang sejarah hidup almarhum Syekh Abdur Rahman Batuhampar itu. Yang kita temukan hanya pada kulit-kulit buku yang ditulis oleh putra almarhum, Syekh Arsyad, dalam bahasa Melayu huruf Arab. Catatan-catatan yang sifatnya sporadis itulah yang dikumpulkan/disimpan oleh Syekh Dhamrah Arsyadi yang diperlihatkan kepada penulis pada waktu kunjungan tersebut.
Catatan itu menyebutkan bahwa almarhum Syekh A. Rahman Batuhampar wafat pada tahun 1317 H tanggal 10 bulan Rajab, dalam usia yang sangat tua sekali, 120 tahun. Konon, menurut H. M. Samah ada 11 tahun lamanya almarhum tinggal di tempat tidur. Artinya, tidak bisa berjalan lagi karena sangat tuanya.
Seorang ahli hisab di Payakumbuh, Arius Syaichi, telah menco-cokkan tahun-tahun wafat almarhum (1317 H. 10 Rajab) dengan tahun Masehi adalah tanggal 23 Oktober 1899. Jika usianya waktu wafat adalah 120 tahun, maka berartilah almarhum lahir pada tahun 1779 M.
47 tahun Meningglkan Kampung
Dari catatan lain disebutkan pula bahwa almarhum setelah tamat mengaji Al-Quran dalam usia 15 tahun, meninggalkan Batuhampar, pergi menunut ilmu agama pada seorang ulama di Galogandang, Batusangkar. Puas di Galogandang, ia pun berkelana sampai ke Aceh Selatan dan berguru pada seorang ulama tua di Tapak Tuan.
Dari Tapak Tuan almarhum berangkat menunaikan rukun Islam kelima ke Tanah Suci. Ia bermukim di Mekah selama 8 tahun sambil memperdalam ilmunya, terutama ilmu tasawuf. Setelah itu pulang ke Tanah Air, tapi tak sampai ke desa tempat lahirnya, Batuhampar, karena ia membantu gurunya di Tapak Tuan. Setelah menyalin Kitab Suci Al Quran dengan tulisan tangan tamat 30 juz, ia kembali naik haji ke Mekah. Entah berapa lama pula almarhum bermukim di Mekah, untuk yang kedua kalinya itu, tak ada catatannya.
Yang jelas pulang dari Mekah yang kedua kalinya barulah almarhum sampai ke desa kelahirannya, Batuhampar, setelah terlebih dahulu singgah pula di Tapak Tuan (Aceh Selatan) dan Galogandang (Batusangkar) dalam masa 47 tahun. Begitu sampai di Batuhampar kabar beritanya telah tersiar ke mana-mana. Dari mulut ke mulut diperbincangkan orang, bahwa seorang-orang alim telah pulang dari Mekah. Maka, berdatanganlah orang ke Batuhampar hendak mengaji kepada beliau atau ingin memperdalam ilmu tasawuf kepadanya. Konon, muridnya yang tertua adalah adalah Syekh Salim Batu Bara, orang Mandahiling  (Tapanuli Selatan) yang ayahnya orang Pangkalan (Payakumbuh). Syekh Salim Batu Bara yang mendapat ijazah pertama dari almarhum Syekh Abdur Rahman mengembangkan ilmunya pula di nagari Andalas, Kecamatan Luhak, 50 Kota.
Sejak itu masyhurlah ke seantaro tempat di Sumatera bahagian tengah ini, Syekh Abdur Rahman dengan pesantrennya di Batuhampar. Sehingga berdatanganlah anak siak (santri di Jawa) dari berbagai pelosok dan setiap kelompok kampung atau nagari dari mana mereka datang, lalu membangun surau untuk tempat tinggal. Sampai sekarang masih ada surau-surat tersebut, ada yang bernama Surau Muko-Muko (Bengkulu Utara), Surau Tarusan, Surau Pariaman, Surau Kacang (Solok), Surau Kamang, Surau Andaleh, dan lain-lain.
Berdasarkan catatan-catatan dari almarhum Syekh Arsyad, putra almarhum Syekh Abdur Rahman tersebut atau ayah dari Syekh Dhamrah Arsyadi, pelanjut pesantren yang sekarang, dapatlah kita menduga bahwa pesantren tersebut dibangun mungkin sezaman dengan H. Miskin Pandai Sikek. H. Piobang Payokumbuah, H. Sumaniak Batusangkar atau Engku nan Pahit di Aitabik.
Dan jika benar pula keterangan dari hasil wawancara penulis dengan H. M. Samah (98 tahun) bahwa almarhum Syekh Abdur Rahman mulai mengembangkan ilmu tasawuf di Batuhampar, ketika almarhum telah berumur 45 tahun, maka berarti almarhum mulai membuka pesantrennya pada tahun 1824 atau 3 tahun setelah Perang Paderi dicetuskan oleh Tuanku Imam Bonjol.
Mana yang benar antara keterangan 47 tahun meninggalkan kampung atau dalam usia beliau 45-47 tahun, baru mulai mendirikan pesantren Batuhampar tersebut, diharapkan suatu penelitian yang cermat akan menetukan kelak.
Demikianlah laporan penulis dalam hasil peninjauan singkat ke Batuhampar pada penghujung Juli tahun 1976. Pesantren tersebut, kini masih ada, dilanjutkan oleh Syekh Dhamrah Arsyadi (59 tahun) cucu dari almarhum Syekh Abdur Rahman. Di samping murid-muridnya menyauk ilmu tasawuf, Tharikat Naksyabandiah, maka Syekh Dhamrah bersama dengan kakaknya, Syekh Arifin (almarhum) sejak tahun 1943 mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah, Al Manar di kompleks pesantren itu juga. Sekarang murid madrasah tersebut lebih kurang 175 orang yang terdiri dari tsanawiyah dan aliyah.
Karena pesantren tersebut dapat dikatakan yang tertua di Sumatera Barat sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem surau, di mana syekh sebagai sentral figur, hendaknya dapat dipugar kembali dengan mengumpulkan dana dari umat Islam serta dengan bantuan pemerintah. Sebuah Yayasan Pesantren Syekh Abdur Rahman, semoga dapat dibentuk. *

Harian Haluan, 11 Agustus 1976
Baca juga artikel terkait: Baliau Batu Ampa, Lupa Jalan ke Batu Ampa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar