Sabtu, 04 Oktober 2014

Seni Pertunjukan dan Reportase Kesenian

OLEH Bre Redana
Wartawan KOMPAS
Pertunjukan Teater Sign Out karya Kurniasih Zaitun
Saya ingin menekankan pertama kali bahwa sebuah pertunjukan kesenian hanya ada arena ada penontonnya, ada khalayaknya. Tontonan ada karena ada penontonnya. Ini akan membawa konsekuensi lanjut yang akan saya uraikan kemudian.
Di sini saya hanya ingin menekankan untuk pertama, bahwa kesenian tidak lahir dari sebuah vacuum atau ruang kosong. Oleh karenanya, perhatian terhadap masyarakat atau khalayak pendukungnya, bagi saya tak kalah penting dari proses lahir dan perwujudan karya itu sendiri.

Utamanya para penggagas kebudayaan kontemporer yang di beberapa tempat dikenal dengan bidang stu-dinya yakni cultural studies, bahkan kemudian banyak yang mencoba menelusuri liku-liku lahirnya karya seni itu, taruhlah kemudian kalau kita nanti memo-kuskan diri pada seni pertunjukan. Janet Wolff (1981) menguraikan sekaligus menyebutnya dengan istilah “The Social Production of Art”.
Di situ intinya dia hen-dak menjelaskan tidak adanya ruang kosong pada ke-senian tadi. Karya seni (art work) lahir dari sebuah pro-ses sosial, dan di situ terlibat banyak extra-esthetic elements atau elemen-elemen ekstra estetik yang harus ikut dilibatkan dalam penilaian sebuah karya.
Untuk jelasnya, di situ dia mencontohkan, taruhlah film.  Meski film adalah produk dari sutradara, namun di situ ada juru kamera, aktor, penulis naskah, dan banyak lagi di dalam proses produksi itu.
Begitu pula pada “seni pertunjukan” (performance art, saya mendu-dukannya dalam konteks lebih mutakhir), meski agak berbeda dari produk-produk kebudayaan masa umum-nya, tapi ada hal-hal yang hampir sama. Kesamaannya sebagail produk kolektif tadi adalah dia bisa sebuah drama yang ditulis mungkin oleh Brecht, Rendra, Wisran Hadi, dalam realisasinya lalu melibatkan pemusik, penari, aktor dan lain-lain. Bahkan kemudian pe-ngertian seni sebagai produk sosial bisa lebih luas dari itu.
Ia dikondisikan, oleh misalnya temuan-temuan teknologi, taruh kata teknologi tata lampu, tata suara, untuk perupa juga cat minyak, akrilik, dan lain-lain. Itu cuma contoh, dari sebuah landasan pemikiran yang bisa menyentuh masalah lebih luas lagi.
Dalam uraian pemikiran yang lain lagi ini masih se-bagai contoh, Howard Becker misalnya (1982), hal seperti di atas menjelaskan keterberkaitan sebuah produk kesenian dengan proses sosial secara menye-luruh.
Bahkan para pencipta yang diistilahkan sebagai “fine artist” juga melahirkan karyanya dalam jaringan relasi-relasi sosial yang telah ada. Pelukis misalnya, membutuhkan cat, kanvas, pelet, dan lain-lain. Untuk seseorang yang hendak menjadi profesional butuh pendidikan, oleh karenanya dibutuhkan suatu lem-baga pendidilkan, suatu sekolah.
Kembali ke contoh pelukis, dalam perjalanan karyanya nanti dibutuhkan art dealers atau juragari kesenian, kritikus, media massa, kurator, galeri, museum, dan lain-lain. Di sini baik Wolf mau pun Becker sama-sama hendak menolak sebuah romantisme, bahwa sebuah karya kesenian lahir dari sebuah proses isolasi, seorang seniman kerja sendirian terlepas dari lingkungan sosialnya.
Nah, begitu pula pada seni pertunjukan. Saya kurang tahu pada wilayah mana kita berhadapan dengan seni pertunjukan ini, namun konsekuensi dan tuntutan-nya niscaya akan sama saja. Maksud saya apakah seni pertunjukan dimaksud adalah seni pertunjukan ke-senian rakyat yang begitu banyak ragamnya di Indonesia, ataukah seni pertunjukan sebagai istilah yang amat khusus, untuk mengindonesiakan performance art, yang merupakan bagian dari ekspresi seni kontemporer.
Toh tuntutannya sama saja, delam arti untuk memahami sebuah kesenian rakyat yang ditampilkan di tempat pertunjukkan yang elok di Bukittinggi setiap malam itu, kita perlu mengenal lebih jauh struktur dan budaya masyarakat yang melahirkan karya-karya itu? Tanpa itu, kita hanya melihat orang yang bergerak seperti gerakan bela diri, menginjak-injak pecahan kaca tanpa alas kaki menjadi terluka, dan seterusnya.
Kesenian sebagai inspirasi kehidupan akan terpa-hami kalau kita kemudian juga kenal tentang tradisi silat Sumatra Barat, asketisme di baliknya, teknik mengatur pernapasan yang seolah tidak berhenti dalam meniup seruling bambu yang baik bagian bawah mau pun atasnya berlubang, kehidupan yang terus mengair bersama tiupan saluang itu begitu pula kalau saya me-nyodorkan sebuah seni pertunjukan rakyat dari daerah pedalaman di Jawa, dari hutan-hutan jatinya, berupa pertunjukan tayub.
Tanpa memahami konteks sosial-nya, Anda hanya akan melihat wanita berkain, ber-kembang, menari-nari tanpa tenaga seperti penari di Bukittinggi, dengan punggung berkilat karena keringat, sorotan penuh nafsu dari para lelaki yang di-ajak menari oleh para penari tayub itu, dan lain-lain.
Hanya saja, dari situ sebetulnya kosmologi masyarakat pedalaman Jawa di hutan jati itu, mengenai ritus keper-cayaan mereka pada kesuburan tanah, resepsi yang per-nah mereka alami, dan lain-lain. Kadang terasa mudah memetakan semua itu, atau sebaliknya, kadang itu justru merupakan pekerjaan yang amat sulit.
Pada seni modern, ketika kita berhadapan dengan drama-drama modern, mungkin kita terbantu dengan referensi-referensi kita, misalnya Stanilvsky atau pun Brencht. Bagaimana dengan pertunjukan di kawasan-kawasan lain. Yang tidak berada dalam wilayah mo-dernisme, taruh dalarn wilayah tradisional, atau bahkan pada wilayah yang sering diistilahkan orang sebagai pascamodernisme?
Persoalan terakhir itu bagi saya sendiri merupakan persoalan yang rumit. Banyak contoh dari seni-seni masa kini yang kelihatannya makin sulit dipahami de-ngan referensi-referensi yang pernah tersedia.
Lebih rumit lagi, di tengah perkembangan zaman geraknya luar biasa cepat ini, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan art and humanities di Indonesia juga kurang berkembang, kalah jauh dibanding dengan yang terjadi di banyak negara lain. Padahal, itulah kerangka-kerangka yang bisa membantu kita untuk memahami dinamika zaman ini.
Itu semua bagi saya hanya akan sampai pada kesim-pulan: bahwa kita memang harus bekerja keras, tidak ada sesuatu yang bisa kita terima dengan taking for granted.


Disampaikan dalam Workshop Jurnalistik Kesenian dan Kebudayaan, Dewan Kesenian Sumata Barat di Taman Hutan Raya Bung Hatta, Padang, tanggal  25-27 Maret 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar