Rabu, 12 November 2014

Derita Permanen Petani Gambir

OLEH Ari Febrianto
Anak Petani Gambir
Petani gambir (kotoalam.wordpress.com)
Keadaan petani gambir menjadi semakin  tidak menentu, hidup di daerah penghasil terbesar gambir, komoditas ekspor, tapi harganya sayur. Petani berharap dengan janji toke yang mengatakan harga gambir akan segera naik, tapi kenyataannya sekarang harga komuditas ekspor itu semakin menurun tajam jauh di bawah rata-rata.
Lagi-lagi orang membayangkan enaknya menjadi petani gambir, padahal jika dilihat dengan situasi dan kemurungan petani ditengah kegalauan harga gambir yang tidak menentu, bisa saja dibilang petani gambir adalah petani termiskin diantara petani komuditas ekspor lain, betapa tidak, dengan harga yang sedemikian rendahnya tidak menutup kemungkinan petani mempunyai hutang yang jauh lebih besar dari penghasilan perbulannya, apakah ini yang disebut petani sejahtera?

Walaupun sudah ada perancangan pemerintah setempat dalam membicarakan masalah ini dan telah melahirkan konsep dan langkah-langkah, tapi semuanya itu masih berada dalam kontek tekstual dan belum terealisasi sampai sekarang, terbukti sampai sekarang harga gambir dipasaran masih berada di bawah standar.
Problemanya  sejauh ini, belum ada usaha nyata yang diperlihatkan untuk membantu petani gambir keluar dari kesulitannya. Petani gambir menjadi pasrah dan tidak punya pilihan lain dan masyarakat tidak tahu masalah utama yang membuat harga gambir sedemikian jatuhnya dipasaran.

Angan-angan Sejahtera
Kata sejahtera rasanya masih jauh dari petani gambir, mungkin masih berada dalam angan-angan. Pokoknya kesejahteraan Petani gambir masih jauh. Kasihan kita dengan mereka. Walaupun daerah kita terus digadang-gadangkan sebagai daerah petro dolar untuk gambir, kenyataannya Petani terus dihadang banyak persoalan, ucap mantan Petinggi Bank Indonesia, Iramadi Irdja. Tidak hanya Iramadi, sekretaris Daerah Kabupaten Limapuluh Kota Resman Kamars juga mengungkapkan hal serupa. Dihadapan  utusan Kementerian Perekonomian saat Rakor kebijakan pengembangan dan pengelolaan sarana produksi pertanian dengan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian di ruang rapat Bupati Limapuluh Kota (perbincangan media lokal). Namun semua itu kalau hanya dibicarakan dan didengarkan tidak akan ada hasilnya dan belum tentu akan merubah nasib para petani gambir.
Petani kita sudah memberikan usaha dan hasil yang maksimal dalam bidang penghasilan gambir, tercatat produksi gambir nasional mencapai 90 persen kebutuhan gambir dunia dan 90 persennya berasal dari  daerah Sumbar, sehingga hal ini menjadi pembius masyarakat kita untuk terus meningkatkan produksinya disamping lahan yang memadai. Ketergantungan masyarakat kita terhadap komuditas ini juga semakin tinggi, jadi jika harga gambir berada dilevel yang terendah dan menurun akan sangat mempengaruhi kehidupan rakyat.
Beberapa bulan terakhir harga gambir berada ditingkat terbawah dalam sejarahnya, beberapa pekan terakhir harga gambir masih berada antara kisaran dua belas ribu rupiah sampai tiga belas ribu rupiah perkilonya, tapi sekarang harga gambir menurun tajam sekitar delapan ribu rupiah perkilonya, dengan harga yang sedemikian rendahnya tidak setimpal dengan pekerjaan yang harus dilakukan oleh para Petani “manggampo gambia, gigi ajo nan indak bapaluah”, dari pernyataan ini dapat kita gambarkan bagaimana susahnya menjadi petani gambir yang harus menguras tenaga dengan kerja keras tidak mengenal lelah hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga, dengan harga gambir seperti sekarang memenuhi kebutuhan sehari saja kadangkala tidak mencukupi, “karajo sehari, habis sehari”.
Mimpi dan Harapan Petani Gambir
Gambir sebagai salah satu  komoditi ekspor andalan dari Sumbar dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, seharusnya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, tapi kenyataannya masih jauh panggang dari api. Kestabilan harga akan sangat membantu masyarakat petani dalam melanjutkan hidup dan peran aktif pemda dibutuhkan dalam mengawasi dan memantau harga gambir dipasaran dan menetapkan harga gambir secara berkala. Dengan embel-embel komuditi ekspor, seharusnya tentu dapat mensejahterakan masyarakatnya bukan sebaliknya menyengsarakan.
Pemerintah telah berupaya untuk memajukan dan berjanji akan mensejahterakan masyarakat Petani gambir, Petani menjadi milestone (tonggak penting) dalam kesejahteraan Sumbar yang mayoritas mengantungkan hidup pada gambir. Jangan sampai mimpi ini buyar dan hanya menjadi bunga mimpi, tapi diharapkan akan menjadi kenyataan. Dengan demikian kalau Petani gambir sejahtera dapat dipastikan kehidupan masyarakat Sumbar akan mengalami perubahan kearah lebih baik kedepannya.
Di sisi lain kejatuhan harga gambir seperti sekarang setidaknya bisa diatasi, sehingga harapannya kehidupan masyarakat (petani gambir) akan lebih baik dan sejahtera dengan harga gambir yang stabil. Petani berharap kepada pemerintah setempat untuk dapat meniupkan angin perubahan kepada petani gambir, tidak hanya bicara dan janji tapi harus ada langkah-langkah konkrik yang harus dilaksanakan. Akhirnya mimpi dan harapan petani gambir akan hidup lebih baik selangkah lebih maju.
Usaha ke Depan
Usaha yang sejauh ini dilakukan oleh pemerintah sudah mencapai satu titik temu persoalan yang harus diatasi, walaupun secara umum belum mendapatkan hasil yang bisa melebarkan senyum para petani gambir.
Di Indonesia, terutama di Sumbar gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih (wanita-wanita Minang), kegunaan lain yang lebih penting sejauh ini di negara kita adalah untuk penyamak kulit dan pewarna (Toni Nainggolan, Kepala Bidang Alat, Mesin, dan Sarana Pertanian dan Kelautan). Disamping itu gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bermanfaat untuk antioksidan. Di Sumbar sendiri  terdapat dua daerah sentral penghasil gambir, pertama di daerah Payakumbuh Limapuluh Kota yang tersebar dibeberapa wilayah dan kecamatan (Harau, Kapur IX, Mungka, dan Pangkalan Kotabaru) sedangkan daerah lain yakni daerah Pesisir Selatan (Bungus, Teluk Kabung, Surantih) dan tersebar dibeberapa wilayah lainnya.

Sumbar sebenarnya sudah menjadi salah satu acuan dan referensi dalam pengembangan alat-alat pertanian semenjak tahun 1980-an, tetapi yang disayangkan kita sebagai acuan malah jauh tertinggal dari daerah-daerah yang masih bayi dalam pengembangan pertanian, seharusnya kita bisa lebih sedikit agresif dan bersunguh-sungguh dalam mengembangkan agrarian, karena Sebagian besar orang Minang bekerja dan bergantung dari hasil pengolahan pertanian, salah satunya adalah gambir. Semoga kedepan kehidupan Petani gambir menjadi lebih sejahtera, bukan hanya dalam mimpi dan angan-angan serta pembicaraan kelompok tertentu, tapi dapat terealisasi secepatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar