Minggu, 23 November 2014

La Paloma: Generasi Keroncong Sumatera Barat

OLEH Sahrul N
Pengajar ISI Padang Panjang

Alunan musik keroncong terdengar dari sudut kampus ISI Padangpanjang yang dimainkan oleh sekitar delapan generasi muda yang rata-rata berpenampilan metal. Sambil menghirup kopi mereka asyik berlatih mematangkan beberapa repertoar yang kata mereka dipersiapkan untuk ivent tertentu. Mereka menamakan grup ini dengan nama Orkes Keroncong (OK) La Paloma yang awalnya dipimpin oleh Alm. Desriland (mantan dosen ISI Padangpanjang). Mereka bukan datang dari Jawa namun adalah generasi Sumatera Barat yang peduli terhadap budaya Indonesia. 

Ironi memang, disaat keroncong di negeri asal (Jawa) mulai terengah-engah hidupnya, justru anak muda berpenampilan metal di kota kecil Sumatera Barat ini mencoba untuk melestarikannya.
Ternyata kesibukan anak-anak muda ini memang untuk pagelaran di beberapa kota di Jawa dan Padang. Perjalanan seni OK La Paloma dimulai dari Padang dalam ivent PLB (Padang Literary Biennale) pada tanggal 20 September 2014. Kemudian dilanjutkan di Solo Keroncong Festival pada tanggal 27 September, Program “BERMALAM” Himpunan Mahasiswa Etnomusikologi ISI Surakarta 28 September, Jurusan Etnomusiklogi ISI Jogjakarta 29 September, CafĂ© Pyramid Bantul Jogjakarta 30 September, ALterego ArtSpace kota Cimahi Bandung, 3 Oktober, dan Radio Lita Fm Bandung 3 Oktober 2014.
Perjalanan OK La Paloma ke tanah Jawa yang diyakini sebagai negeri asal keroncong memang sebuah pertaruhan yang berat. Menurut Kerond (salah satu personil OK La Paloma) bahwa dia optimis karena konsep keroncong mereka berbeda dengan keroncong Jawa. Konsep musik lebih ditekankan pada idiom-idiom musikal minangkabau yang diolah kedalam style keroncong, sebagai bentuk pengaplikasian ilmu orkestrasi dalam musik. Hal ini bisa di lihat dari beberapa repertoar yang dimainkan seperti Cafrinho. Cafrinho merupakan lagu yang sudah turun temurun di mainkan oleh Krontjong Toegoe Jakarta,  lagu ini merupakan lagu andalan mereka. Seperti yang kita kenal bahwa Kroncong yang ada di kampung tugu tersebut merupakan cikal bakal keroncong di Indonesia. Dari lagu cafrinho yang cendrung dengan beat cepat ini dapat ditafsirkan bahwa style dari pendahulu keroncong sebelumnya sangat berbeda dengan style kroncong yang kita tahu saat ini. Pola dari instrument cuk yang ramai, tegas dan konstan sangat berbeda dengan pola cuk yang dimainkan oleh orkes kroncong yang ada di Jawa pada umumnya. Untuk itu La Paloma menggarap lagu ini dengan style La Paloma sendiri, dimana penggabungan pola atau style Tugu dengan pola atau style Jawa akan menjadi karakter tersendiri dari garapan OK La Paloma.
Melihat sejarahnya, menurut Victor Ganap (2011), keberadaan keroncong di Indonesia tidak terlepas dari kehadiran Kroncong Toegoe di Kampung Tugu, Plumpang, Semper, Jakarta Utara.Generasi muda kelompok yang saat ini dimotori oleh Andre Juan Michiels. Kehadiran musik ini berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada tahun 1648. Orang-orang Portugis pada umumnya adalah tentara keturunan berkulit hitam yang berasal dari Bengali, Malabar, dan Goa. Mereka adalah tawanan Belanda dan dibawa ke Batavia (sekarang Jakarta).
Pada masanya, musik keroncong sangat digemari oleh masyarakat terutama lagu “Oud Batavia” dan “Cafrinho” (dalam bahasa Portugis) yang juga jadi lagu andalan La Paloma. Hampir tiap malam keroncong selalu diperdengarkan lewat RRI dan TVRI. Sayang pada saat ini musik ini seperti mulai ditinggalkan.
Repertoar “Kaparinyo” lebih kental lagi rasa Minangkabaunya karena memang berangkat dari lagu rakyat Minangkabau dan Sumatera Selatan. Kaparinyo juga menjadi nama lagu keroncong di kalangan masyarakat Tugu Cilincing, Jakarta Utara, serta tarian dengan koreografi campuran Mor dan Spanyol yang diiringi lagu Kaparinyo.
Ditambahkan Kerond bahwa “Kaparinyo” punya kaitan dengan “Cafrinho”. Fakta ini menjadi wacana untuk OK La Paloma bahwa budaya asing  (Portugis, musik) yang masuk ke Nusantara dan berakulturasi dengan budaya lokal (musik) dan menghasilkan bentuk baru (hibrid, musik) dimana kita ketahui di Jakarta (Tugu) percampuran tersebut menjadi sebuah bentuk musik yang kita kenal dengan musik  Keroncong, sedangkan di Minangkabau percampuran dalam konteks musik ini dikenal oleh masyarakat dengan istilah musik Gamad.
Pada perhelatan Solo Keroncong Festival OK La Paloma membawakan lagu ini sebagai bentuk kelokalitasan atau pakem yang dimiliki dari salah satu dari sekian banyak bentuk musik Minangkabau yang dari sejarahnya nyaris sama dengan alur sejarah keberadaan dan kemunculan bentuk musik keroncong.
Lagu Minangkabau lainnya yang dimainkan OK La Paloma adalah lagu “Lintuah”. Lagu ini sangat popular di Minangkabau yang diciptakan Ibenzani Usman. Jika dilihat dari lirik lagunya akan tergambarkan bagaimana keceradasan linguistik masyarakat Minangkabau. Kebudayaan lingua yang dengan sendirinya membuat muda-mudinya terlatih untuk bertutur mengunakan budi bahasa dengan sastrawi yang tinggi. Tidak hanya itu dengan menggarap lagu ini akan semakin lengkaplah kesempurnaan Minangkabau dengan bunyi-bunyi musikalnya dan dipadukan dengan dengan pola-pola yang berbeda didalam musik keroncong.
Repertoarl terakhir yang menjadi andalan OK La Paloma adalah Kr. Dentingan Gitar ciptaan Dede Kuantani (Alm). Dalam lagu ini OK La Paloma ingin mengatakan bahwa mereka sangat berterima kasih kepada Alm. Dede Kuantani atas terbentuknya Orkes Keroncong ini. OK La Paloma menjadikan Dede Kuantani (Alm) sebagai seorang pejuang keroncong dari tanah Minang meskipun ia dilahirkan di tanah Riau. Fakta tersebut dapat kita lihat dari sekian banyak karya musiknya baik itu dalam bentuk komposisi musik keroncong atau pun dalam bentuk aransemen musik keroncong. Hal ini semakin menguatkan bahwa keroncong bukanlah milik dari satu etnis saja, dan juga menambah pemetaan perkembangan musik keroncong di seluruh Nusantara.
La Paloma yang saat ini dipimpin oleh Roni yang lebih dikenal dengan nama Kerond (mahasiswa musik ISI Padangpanjang) mencoba konsisten untuk menggeluti musik keroncong dengan gaya yang lebih kekinian atau yang dikenal juga dengan keroncong progresif. Di beberapa perguruan tinggi di Jawa keroncong progresif telah mulai pula dihidupkan seperti Cong Rock-nya mahasiswa Universitas Tujuh Belas Agustus Semarang, yang sampai sekarang masih eksis dalam menyuguhkan lagu-lagu Indonesia maupun barat dengan ritme cepat dan rancak. Mereka mampu membawakan lagu-lagu Deep Purple dan Nat King Cole tanpa masalah.
Perjalanan panjang OK La Paloma di tahun 2014 ini merupakan terobosan yang tidak sederhana dan perlu diapresiasi oleh semua pihak. Penonton di Jawa saja menjadikan OK La Paloma sebagai ikon baru dalam musik keroncong di Indonesia dengan mengatakan bahwa grup ini adalah grup keroncong avandgarde. Di masa depan musik keroncong akan memiliki banyak variasi tergantung dimana kelompok tersebut bernaung secara kebudayaan. Sayangnya perjalanan OK La Paloma ke pulau Jawa tidak didukung oleh lembaga yang bertanggungjawab terhadap perkembangan seni budaya di Sumatera Barat yaitu ISI Padangpanjang. Beruntung mereka mendapatkan sponsor dari pihak swasta dan penyelenggara tempat mereka pentas. Hal ini sedikit menciderai perjelanan OK La Paloma.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar