Senin, 23 Februari 2015

Peranan Lagu Popular Minangkabau sebagai Penyumbang Pengembangan Pariwisata Daerah

OLEH Eva Krisna (Balai Bahasa Sumatera Barat)
evakrisna_bbp@yahoo.co.id
Karupuak sanjai 
Abstrak
Pariwisata adalah satu di antara berbagai industri kreatif yang dapat dikembangkan di Indonesia sebagai pilihan pengganti devisa selain migas. Industri pariwisata Indonesia memiliki peluang dan tantangan yang cukup besar di tengah pariwisata dunia yang terus berkembang.
Produk pariwisata bukan cuma alam, tetapi juga kebudayaan, petualangan, lingkungan hidup, dan kuliner. Kuliner menjadi salah satu penanda pariwisata bagi berbagai tempat di berbagai belahan dunia, seperti: Inggris dengan roti scones, Singapura dengan mie fishball noodles, serta Malaysia dengan masakan nasi kandar. Indonesia juga memiliki puluhan kuliner yang terdapat di berbagai daerah, seperti bakpia di Yogyakarta, kerak telur di Jakarta, bika ambon di Medan, dan keripik balado di Padang.

Di Sumatera Barat pada masa lalu kuliner memiliki satu keunikan, yakni dijajakan dengan nyanyian yang disebut bajojo. Tradisi bajojo berlanjut menjadi nyanyian rakyat yang kemudian berkembang pula menjadi nyanyian yang direkam secara komersial. Nyanyian kuliner bajojo adalah salah satu bentuk karya sastra, yakni karya sastra lisan.
Nyanyian kuliner Sumatera Barat sudah memantapkan kehadirannya melalui industri dan teknologi rekaman yang semakin maju sehingga menjadi lagu popular di Sumatera Barat. Tidak kurang dari tigapuluh rumah produksi yang aktif menghasilkan berpuluh-puluh judul rekaman berbentuk kaset dan cakram padat atau CD (compact disc) di Sumatera Barat.
Lagu-lagu pop Minangkabau bernuansa kuliner melalui teknologi perekaman memiliki peran langsung dalam pengembangan pariwisata di Sumatera Barat. Hal tersebut patut dikaji dalam rangka kajian terhadap industri kreatif (pariwisata) berbasis bahasa dan sastra yang turut berperan untuk meningkatkan daya saing bangsa di antara bangsa-bangsa lain di dunia.
Tulisan ini akan mengkaji lintas sejarah perkembangan lagu-lagu kuliner Minangkabau melalui industri rekaman di Indonesia dan nilai-nilai kekulineran yang dikandung oleh syair lagu popular Minangkabau hingga akhirnya ditemukan perannya sebagai media promosi dalam pengembangan wisata kuliner. Tulisan ini menggunakan pendekatan historis dengan pengunaan teori teori stilistika dan teori struktural dinamik.
Kata kunci: syair lagu popular, Minangkabau, karya sastra, wisata kuliner, serta pendekatan historis, teori stilistik, dan teori struktural dinamik.
Pendahuluan
Menjajakan makanan atau kue-kue dengan mengasong adalah kebiasaan masyarakat tradisional Minangkabau. Di tengah keramaian seperti pasar, terminal, balapan tradisional (seperti pacu jawi, pacu itik, dan pacu kuda), berburu babi, serta alek nagari (pesta rakyat) biasanya para pedagang makanan asongan menjadi bagian dari situasi tersebut.
Pada kehidupan keseharian yang bukan keramaian musiman, pelaku berdagang makanan asongan adalah mereka yang benar-benar melakoni pekerjaan sebagai penjaja keliling dan biasanya dengan berjalan kaki.
Menjajakan masakan tradisional secara asongan tidak dilakukan begitu saja tanpa upaya menarik perhatian pembeli, tetapi dengan berbagai kekhasan yang dimiliki oleh masing-masing panjojo (penjaja) makanan tersebut.
Kekhasan tersebut terletak pada nyanyian yang dilantunkan oleh si penjaja untuk menarik minat calon pembeli atau pelanggannya pada makanan yang mereka jajakan. Menyanyikan makanan yang dijual pada akhirnya menjadi strategi iklan untuk melariskan jualan yang dilakukan bersamaan dengan aktivitas jual-beli.
Sala lauak
Minangkabau memiliki berbagai macam makanan (kuliner) yang menjadi kekhasan masing-masing daerah, sebut saja misalnya karupuak sanjai (Bukittinggi), bika mariana (Padangpanjang), lamang tapai (Limo Kaum, Batusangkar), ampiang badadiah (Batusangkar), galamai (Payakumbuh), sala lauak (Pariaman), dokok-dokok (Pariaman), gulai paku (Pariaman), palai bada (Pariaman), palai rinuak (Maninjau), serta randang darek (Batusangkar, Bukittinggi, dan Payakumbuh).
Seperti sudah dituliskan pada bagian awal, para penjaja makanan tersebut mengasong jualannya sambil bernyanyi, pembeli memanggil mereka apabila tertarik, penjual menghampiri calon pembeli, lalu terjadilah transaksi. Setelah transaksi pertama selesai, penjaja kembali mengasong dengan bernyanyi untuk menggugah perhatian calon pembeli selanjutnya.
Hal menarik dari manjojo (menjaja) makanan tradisional tersebut adalah syair lagu yang didendangkan oleh panjojo tersebut. Syair lagu tersebut biasanya berbentuk pantun, pada baris awal bersifat iklan atas makanan yang dijajakan, uniknya baris kedua berisi berbagai hal termasuk ajaran moral, sosial, dan agama.
Lagu berisi kuliner tradisional Minangkabau tersebut mengalami perkembangan yang menggembirakan ketika industri rekaman dan kreativitas pengarang lagu Minangkabau menjadikannya lagu-lagu popular yang dapat didengar oleh banyak orang, di berbagai tempat, dan pada sembarang suasana.
Seorang di antara puluhan pengarang lagu yang produktif menggubah lagu-lagu bersifat kuliner tersebut adalah Nuskan Syarief (alm.) dan seorang pula di antara penyanyi yang aktif menyanyikan lagu-lagu jenis tersebut adalah penyanyi legendaris Elly Kasim.
Pegiat Lagu Bernuansa Kuliner dan Industri Rekaman Lagu Pop Minangkabau
Jakarta memang kota besar tempat segala impian terwujud, demikian pula dengan perkembangan industri rekaman lagu pop Minangkabau di era kemerdekaan pun berawal dari kota ini. Para pengamat musik mencatat bahwa tonggak awal perkembangan musik daerah tersebut dimulai dengan berdirinya Orkes Gumarang yang didukung oleh nama-nama seperti Awaluddin Jamin (mantan Kapolri), Alidir, Anwar Anif, Dhira Suhud, Joeswar Khairudin, Taufik, Syaiful Nawas, dan Asbon Majid (PadangKini.com/24/03/2011; niadilova.blogdetik.com/2009/03/15; dan Tempo.interaktif.padang/24/04/2012).
Kemunculan Gumarang diikuti oleh Orkes Kumbang Tjari pada tahun 1961 di bawah pimpinan Nuskan Syarief yang sebelumnya sempat bergabung sebentar dengan Gumarang. Kehadiran Nuskan Syarief bersama Orkes Kumbang Tjari perlu dicatat agak lengkap sebab Nuskan Syarief adalah penyanyi dan pengarang lagu produktif yang mengarahkan kreativitasnya untuk menggali dan mengembangkan lagu-lagu rakyat bernuansa kuliner menjadi lagu popular Minangkabau.
Suatu ketika pada awal tahun 1970, Nuskan Syarief berkesempatan tampil bersama Elly Kasim yang ketika itu bergabung dengan kelompok band Gatario di Jakarta. Kesempatan itu berlanjut sampai kepada tawaran membuat ph (piringan hitam) untuk merekam lagu-lagu Minangkabau.
Elly Kasim dan Nuskan Syarief bersama Orkes Kumbang Cari mengawali kiprahnya di industri rekaman dengan ph pertama dengan judul Asmara Dara. Lagu-lagu yang terdapat dalam ph tersebut adalah Randang Darek (dinyanyikan Nuskan Syarief), Taratak Tingga (Elly Kasim dan kawan-kawan), Mak Taci (Nuskan Syarief), Apo Dayo (Elly Kasim dan kawan-kawan), Cita Bahagia (Elly Kasim dan Nuskan Syarief), Cha Cha Mari Cha (Nuskan Syarief), Gadih Tuladan (Nuskan Syarief), Kumbang Janti (Elly Kasim), Langkisau (Nuskan Syarief dan kawan kawan), Kureta Solok (Nuskan Syarief dan kawan-kawan), dan Oi Bulan (Elly Kasim dan kawan-kawan).
Lagu Randang Darek adalah lagu bernuansa kuliner pertama yang direkam oleh Nuskan Syarief. Tahun-tahun berikutnya, Elly Kasim menyanyikan lagu-lagu kuliner ciptaan Nuskan Syarief lainnya, seperti Bareh Solok, Lamang Tapai, Sala Lauak, dan Lansek Manih. Berikutnya, lagu-lagu lain seperti Karupuak Sanjai, Gulai Paku, Lamang Tapai, Bareh Solok, Sala Lauak, Palai Bada, Randang Darek, Bika Mariana, dan Dokok-Dokok pun berwujud ph pula yang dapat dinikmati banyak orang di banyak daerah di Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga.
Lagu-lagu daerah tersebut tidak direkam di Padang, tapi di Jakarta. Nuskan Syarief dan Elly Kasim menjadi pasangan duet serasi dalam mempopulerkan lagu-lagu kuliner Minangkabau. Nuskan Syarief pencipta yang produktif dan kreatif sekaligus penyanyi dan pemain musik, sedangkan Elly Kasim dikenal sebagai perempuan penyanyi yang memiliki cengkok suara yang khas dan mendayu-dayu sehingga ia sangat cocok menyanyikan lagu-lagu yang bernuansa imbauan (iklan) makanan tradisional.
Seiring dengan semakin meng-Indonesia-nya lagu-lagu daerah Minangkabau, lagu-lagu Minangkabau bernuasa kuliner pun semakin popular. Nuskan Syarief yang mencirikan gaya musik grupnya pada dominasi suara gitar yang sangat dekat dengan bunyi alat musik tradisional Minangkabau seperti talempong, rabab, dan saluang menyebabkan lagu-lagunya menjadi sangat akrab di telinga masyarakat Minangkabau, terutama para perantau yang telah berjarak dengan kampung halamannya. Lagu-lagu yang bercerita tentang kuliner tradisional Minangkabau ciptaan Nuskan Syarief pun menjadi lagu yang disukai dan dicari rekamannya oleh orang Minangkabau bahkan masyarakat Indonesia yang menyukai alunan musiknya, meskipun tidak paham syair lagunya.
Grup Kumbang Cari bersama Nuskan Syarief telah lama bubar. Mereka berjaya selama dua tahun (1961—1963), lalu vakum karena kepindahan Nuskan Syarief sebagai guru olahraga SMP dari Jakarta ke Jayapura (1963—1968), berjaya kembali setelah Nuskan Syarief kembali ke Jakarta (1969—1970-an), tetapi tidak lagi melalui rekaman, melainkan melalui berbagai acara panggung dan tur hingga ke Malaysia bersama Elly Kasim, Benyamin S., Ida Royani, serta Ellya Khadam.
Nuskan Syarief meninggal dunia pada tanggal 13 Februari 2007 dengan meninggalkan “segerobak” lagu-lagu ciptaannya yang pernah disukai banyak orang. Di antara lagu-lagu tersebut, di antaranya enam lagu kuliner, yakni Ampiang Badadiah, Bareh Solok, Bika si Mariana, Dokok-Dokok, Randang Darek, dan Lamang Tapai.
Selain Nuskan Syarief, lagu-lagu Minangkabau bernuansa kuliner pun disemarakkan oleh beberapa nama lain, di antaranya adalah Ujang Virgo, Yul Khaidir, dan M. Gaus. Ujang Virgo mencipta tiga lagu, yakni: Katupek Gulai Paku, Karupuak Sanjai, dan Palai Rinuak. Yul Khaidir mencipta satu lagu berjudul Sala Lauak dan M. Gaus pun mencipta satu lagu berjudul Palai Bada.
Industri rekaman lagu Minangkabau telah mengalami rentang waktu yang panjang. Setelah sukses merekam lagu-lagu Minangkabau melalui Orkes Gumarang dan Kumbang Cari, industri rekaman lagu Minangkabau semenjak tahun 1970-an mulai berkiprah di Sumatera Barat, tercatat tiga produser rekaman yang aktif ketika itu, yakni: Edo Record, Ganto Minang, dan Tanama Record.
Pada tahun 1980-an industri rekaman lagu Minangkabau sempat vakum. Pada tahun 1990-an industri rekaman lagu Minangkabau bangkit kembali melalui penyanyi Zalmon yang diikuti oleh berbagai penyanyi muda yang lain. Industri rekaman lagu Minangkabau popular hingga tahun ini (2013) sangat marak degan hadirnya puluhan penyanyi dan berdirinya puluhan pula studio rekaman di Sumatera Barat.
Pada tahun 2000-an berdiri ASRINDO (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) di Padang. Organisasi ini berdiri dengan tujuan memberantas maraknya pembajakan terhadap lagu-lagu Minangkabau. Perkembangan industri rekaman di Sumatera Barat sangat pesat.
Menurut catatan ASRINDO, dari Juli 2005—Juli 2006 ada 304 album yang direkam dan dipasarkan. Dalam jumlah tersebut tidak ada lagi lagu baru bernuansa kuliner yang mencapai puncak popularitasnya seperti pada masa lalu. Artinya, lagu-lagu popular Minangkabau bernuansa kuliner lebih berjaya melalui sosok pengarang sekaligus penyanyi alm. Nuskan Syarief, grup Kumbang Cari, dan penyanyi Elly Kasim serta kawan-kawan. Lagu-lagu itu telah direkam dalam puluhan ph dan direkam ulang dalam bentuk pita kaset maupun vcd selama lebih dari 40 tahun, dari tahun 1970-an hingga 2013 ini.
Analisis Syair Lagu Kuliner Minangkabau
Pada hari ini, syair lagu Minangkabau popular bernuansa kuliner tidak lagi bermakna sebatas pemberi rasa nikmat, tetapi sekaligus ia dapat dimaknai sebagai pemberi manfaat (dulce et utile; Wellek dan Warren, 2000). Oleh sebab itu, rumusan masalah pada tulisan ini adalah bagaimanakah makna lagu Minangkabau bernuansa kuliner sebagai pemberi rasa nikmat dan bagaimana pula perannya sebagai pemberi manfaat. Dengan demikian, tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengungkapkan kenikmatan (keindahan) yang dikandung oleh lagu Minangkabau bernuansa kuliner sekaligus manfaat (pesan) yang dibawanya.
Makna lagu Minangkabau bernuansa kuliner sebagai pemberi rasa nikmat dapat diperoleh melalui kajian terhadap struktur, diksi, bahasa kias, imaji, dan bunyi yang terdapat pada syair lagu tersebut, sedangkan makna berupa manfaat yang ditimbulkannya dapat dianalisis melalui makna lagu-lagu tersebut secara lengkap. Untuk mencapai tujuan kajian ini digunakan metode kualitatif melalui analisis konten dengan bantuan teori struktural dinamik dan stilistika.
Mengikuti pendapat Endraswara (2004:62), strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subjektif dari pengarang, mengakui peran sejarah serta lingkungan sosial, meskipun sentral penelitian tetap pada karya sastra itu sendiri. Strukturalisme dinamik juga mengenalkan penelitian sastra dalam kaitannya dengan sistem tanda. Caranya adalah menggabungkan kajian otonom karya sastra dan semiotik.
Kajian otonom, dilakukan secara intrinsik dan kajian semiotik akan merepresentasikan teks sastra sebagai ekspresi gagasan, pemikiran, dan cita-cita pengarang. Selain itu, Pradopo dkk. (2001:64) menyatakan bahwa dalam penerapan strukturalisme dinamik, terdapat dua hal yang harus diperhatikan: (1) peneliti bertugas menjelaskan karya sastra sebagai sebuah struktur berdasarkan unsur-unsur atau elemen-elemen yang membentuknya; dan (2) peneliti bertugas menjelaskan kaitan antara pengarang, realitas, karya sastra, dan pembaca.
Tentang stilistika, Aminuddin (1995:46) mengartikannya sebagai studi tentang cara sastrawan dalam menggunakan sistem tanda sejalan dengan gagasan yang ingin disampaikan dari kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk karya sastra. Sasaran kajian hanya pada wujud penggunaan sistem tandanya. Untuk memperoleh pemahaman tentang ciri penggunaan sistem tanda bila dihubungkan dengan cara pengarang dalam menyampaikan gagasan, kajian perlu menanamkan pemahaman tentang: (a) gambaran objek/peristiwa; (b) gagasan, dan (c) ideologi yang terkandung dalam karya sastra bersangkutan.
Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Dengan demikian, stilistika sastra menyangkut enam materi kajian, yakni: (1) sistem tanda; (2) diksi; (3) bahasa kias; (4) imaji; (5) bunyi; dan (6) makna.
Pada tulisan ini dianalisis enam syair lagu popular Minangkabau yang bernuansa kuliner, yakni: (1) Bika Mariana; (2) Karupuak Sanjai; (3) Dokok-Dokok; (4) Palai Bada; (5) Sala Lauak; dan (6) Gulai Paku. Keenam lagu tersebut dianalisis dengan teori struktural dinamik bersamaan dengan stilistika yang pada akhirnya didapatkan makna setiap lagu dalam manfaatnya sebagai promosi wisata kuliner Sumatera Barat.
Struktur
Pada awalnya, lagu-lagu rakyat Minangkabau disebut dendang yang didominasi oleh pemakaian pantun. Oleh sebab itu, struktur lagu rakyat Minangkabau memiliki kesamaan dengan struktur pantun pada umumnya, yakni terdiri atas empat baris sebait, bersuku kata 8—12, terbagi dua atas sampiran dan isi, serta cenderung memiliki persajakan. Yang menjadi ciri khas lagu rakyat Minangkabau adalah adanya pengurangan atau pemendekan kata (taking syllables) yang berfungsi menjaga keseimbangan irama, misalnya kata urang (orang) menjadi ‘rang („rang), ondeh (aduh) menjadi ‘ndeh, dan kata alah (telah) menjadi ‘lah.
Pengurangan atau pemendekan kata pada syair lagu kuliner Minangkabau tergambar pada lagu Sala Lauak yang dikutip berikut ini, yaitu pada kata urang dipendekkan menjadi ‘rang.
Sasak bana pasa ‘rang Tarusan... yo lah lai...
(ramai sekali pasar „rang (orang) Tarusan... ya lah lai...)
Selain taking syllables, pada dendang juga terdapat filler syllables (penyisipan bunyi) berupa kata yang tidak mengutamakan makna, tetapi lebih mengutamakan fungsi, yakni sebagai penyempurna irama. Penyisipan bunyi pada teks dalam istilah sastra lisan Minangkabau disebut darai kato (derai kata) yang terdiri atas darai kato pangka untuk sisipan bunyi yang terletak di pangkal kalimat, darai kato salo untuk sisipan bunyi yang terletak di sela (tengah) kalimat, dan darai kato ujuang untuk sisipan bunyi yang terletak di ujung kalimat.
Kutipan di atas sekaligus juga menunjukkan penggunaan kata ‘kok yo lah lai sebagai darai kato ujuang (derai kata ujung) yang dimanfaatkan sebagai penyempurna irama.
Sasak bana pasa ‘rang Tarusan... yo lah lai...
(ramai sekali pasar „rang Tarusan... ya lah lai...)
Tanpa adanya kata-kata yang digarisbawahi pada kedua kutipan di atas, sesungguhnya maknanya sudah lengkap atau sempurna, tetapi untuk menjadi nyanyian, kalimat itu membutuhkan taking syllables dan filler syllables agar indah dinyanyikan dan didengarkan.
Diksi
Gaya pemilihan kata pada dasarnya digunakan pengarang untuk memberikan efek tertentu serta untuk penyampaian gagasan secara tidak langsung sehingga memiliki kekhasan tersendiri. Pada lagu Karupuak Sanjai misalnya pada larik Pakiriman Uda denai/Dari pakan tangah balai dapat diartikan bahwa kerupuk terbuat dari singkong goreng yang berasal dari Kampung Sanjai (Bukittinggi) itu dapat menjadi pengikat kasih antara dua orang yang saling mencintai. Dari keramaian pekan, seorang laki-laki mengirim keripik sanjai untuk kekasihnya sebagai pertanda bahwa ia selalu mengingat sang perempuan.
Sanjai karupuak Sanjai
Sanjai kerupuk Sanjai
Pakiriman uda denai
Kiriman uda (abang) hamba
Dari pakan tangah balai
Dari pekan tengah balai
Yo badaruak... darai-badarai
Ya garing... derai-berderai
(Lagu Karupuak Sanjai)
Bahasa Kias
Penggunaan bahasa kias dalam lagu Katupek Gulai Paku yang dikutip berikut ini adalah untuk mengungkapkan hal yang bermakna konotatif. Larik nan tau jo adaik Minang (yang mengerti dengan adat Minang) maksudnya adalah orang yang mematuhi tata cara hidup bermasyarakat di Minangkabau sebagai suatu konvensi yang disimpan dalam ungkapan lisan sebagai kearifan lokal setempat.
Gulai paku indak abih makan sahari
Cubo angek-an …yo sero… manjadi randang
Cari minantu nan pandai mancari pitih
Nan tau …yo tau… jo adaik Minang

Terjemahan:
Gulai pakis tidak habis dimakan sehari
Coba hangatkan …enak… menjadi rendang
Cari menantu yang pintar mencari duit
Yang mengerti…ya mengerti... dengan adat Minang
(Lagu Katupek Gulai Paku)
Larik lagu Katupek Gulai Paku juga mengandung kiasan bahwa syarat ideal calon menantu (laki-laki) di Minangkabau adalah pintar mencari uang dan mewarisi kearifan lokal. Jadi, calon menantu tidak hanya harus memiliki kemampuan finansial saja, melainkan juga memiliki moral yang baik.
Imaji
Gambaran angan suatu objek yang berkaitan dengan hal-hal yang merangsang pancaindera, citraan, atau imaji ‘imagery’ yang terbagi menjadi: pendengaran ‘auditory’, penglihatan ‘visual’, perabaan ‘thermal’, penciuman, dan pencecapan juga terdapat dalam syair lagu kuliner Minangkabau seperti dikutip berikut ini.
Bareh puluik jo santan bagulo anau
Pulut dan santan bergula enau
Bagalimang sabana lamak rasonyo
Dicampur sangat enak rasanya
Bia kini badan ‘den jauah di rantau
Biar sekarang badanku di rantau
Si dokok-dokok oi kanduang takana juo
Si dokok-dokok terkenang jua
Hei…dokok-dokok, dokok-dokok...
Hei..dokok-dokok,dokok-dokok
(Lagu Dokok-Dokok)
Dokok-Dokok menurut KBBI (2008:272) adalah kue berbungkus daun pisang yang terbuat dari campuran tepung pulut, santan, dan gula enau yang dimasak dengan mengukusnya. Kue legit ini menjadi ingatan bagi perantau, meskipun mereka berada jauh di negeri orang. Larik Bia kini badan ‘den jauah di rantau/ Si dokok-dokok oi kanduang takana juo mengandung imaji penglihatan dan pencecapan. Larik ini membawa kepada ingatan terhadap wujud kue ini dan kepada pencecapan atas kelezatannya.
Rima dan Ritma
Rima atau pengulangan bunyi biasanya digunakan untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi, larik-larik menjadi merdu dinyanyikan. Untuk mengulang bunyi itu, pencipta lagu juga mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini, pemilihan bunyi-bunyi mendukung perasaan dan suasana lagu.
Dalam lagu Palai Bada yang dikutip berikut ini terdapat rima pada bait pertama sampai bait keempat dengan bertolak pada pengulangan vokal /a/ yang memberikan kesan riang (efoni).
Jikok jadi Tuan ka pasa
Jika jadi Tuan ke pasar
Tolong balikan si gulo saka
Tolong belikan gula aren
Jikok Tuan salero patah
Jika Tuan patah selera
Cubo makan si palai bada
Coba makan palai bada
Yo… palai bada
Ya… palai bada
Lamak rasonyo… makan baduo
Enak rasanya… makan berdua

(Lagu Palai Bada)
Selain itu, pada lagu Palai Bada juga terdapat ritma yang berhubungan dengan pertentangan bunyi; tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan. Jikok jadi Tuan ka pasa/ Tolong balikan si gulo saka adalah larik bernada sedang, diikuti oleh larik bernada rendah Jikok Tuan salero patah/Cubo makan si palai bada, lalu dilanjutkan oleh larik bernada tinggi yang merupakan imbauan atau iklan dalam tradisi manjajakan kue di Minangkabau, yakni pada larik Yo… palai bada/ Lamak rasonyo…, dan diakhiri oleh nada rendah kembali dengan larik makan baduo.
Makna
Ketika ditinjau lebih lanjut, setiap kata, larik, bait, dan tanda yang terdapat dalam syair lagu kuliner Minangkabau memiliki kandungan maksud yang dapat dimaknai, misalnya pada larik yang dikutip berikut ini.
Cubolah bika si Mariana
Cobalah bika si Mariana
Kok rasonyo ‘yo sabana kamek
Rasanya benar-benar lezat
Cakak abih silek takana
Perkelahian usai, silat teringat
Usah manyasa kok ndak mandapek
Jangan menyesal bila tak kebagian
(Lagu Bika si Mariana)
Cakak abih silek takana (perkelahian usai, silat teringat) adalah ungkapan Minangkabau yang menggambarkan penyesalan seseorang yang tidak menggunakan kesempatan dengan baik. Ia baru menyadari kemampuannya bersilat ketika perkelahian sudah usai. Pada syair lagu ini ungkapan tersebut digunakan untuk mengingatkan supaya jangan menyesal nanti, segeralah mencicipi bika si Mariana sebelum kue lezat itu habis. Penggunaan lambang silat biasanya mengacu kepada strategi pemertahanan diri dari serangan musuh, namun pada syair lagu ini secara asosiatif dihubungkan dengan kompetisi mendapatkan suatu kue yang banyak diminati orang.
Kok jampang... Tuan ka Gaduang
Bila...
Tuan ke Gaduang
Di Bukittinggi... amai jo biyai
Di Bukittinggi... ibu dan nenek
Kok jampang... pulang ka kampuang
Bila... pulang ke kampung
Balilah bali... karupuak sanjai
Belilah beli... kerupuk sanjai
(Lagu Karupuak Sanjai)
Bait pertama lagu Karupuak Sanjai yang dikutip di atas berisi ajakan agar membeli kerupuk Sanjai bila pulang ke kampung (bisa saja) untuk dijadikan oleh-oleh di tanah perantauan.
Lain lagi halnya dengan lagu Dokok-Dokok yang dikutip di bawah ini. Lagu ini menceritakan kue bernama dokok-dokok, kue koci, dan lamang baluo (sejenis lemper) yang merupakan kudapan kesukaan orang Minangkabau. Larik lagu itu menyatakan bahwa setelah mencoba satu akan minta tambah menjadi dua karena kelezatan kue-kue tersebut.
Hei … dokok-dokok
Hei… dokok-dokok
Kue koci, baluo lamang baluo
Kue koci, baluo, lamang baluo
Hei … cubo ciek
Hei… mencoba satu
Cubo ciek,‘yo duo, sanak nak duo
Coba satu, saudara, ingin dua

(Lagu Dokok-Dokok)
Larik Jikok Tuan indak picayo/Bali sabungkuih baok pulang pada lagu Palai Bada di bawah ini menyatakan bahwa Palai Bada adalah lauk yang lezat. Kelezatan pepes ikan kecil semacam teri tersebut dapat dibuktikan dengan membelinya sebungkus lalu membawanya pulang untuk dimakan.
Urang Rao pai ka danau
Orang Rao pergi ke danau
Ambiak rumpuik si bilang-bilang
Ambil rumput si bilang-bilang
Jikok Tuan indak picayo
Jika Tuan tidak percaya
Bali sabungkuih baok pulang
Beli sebungkus bawa pulang

(Lagu Palai Bada)
Sebait larik lagu Sala Lauak yang dikutip berikut ini mengisahkan ulah Sidi (gelar kebangsawanan untuk laki-laki di Pariaman) yang menambah makannya sepiring lagi karena kelezatan sala lauak yang menjadi lauk nasinya. Hal itu diungkapkan dalam larik Kok lah tacubo sala lauak … yo lah lai/Makan batambuah ‘lah Sidi … sapiriang lai.
Urang Cimparuah pai ka Sintuak … yo lah lai
Naiak kureta …yo lah lai… di Kuraitaji
Kok lah tacubo sala lauak … yo lah lai
Makan batambuah ‘lah Sidi … sapiriang lai
(Lagu Sala Lauak)
Terjemahan:
Orang Cimparuah pergi ke Sintuak
Naik kereta di Kuraitaji
Jika telah mencicipi sala lauak
Makan bertambuh Sidi sepiring lagi
Sala Lauak adalah nama sejenis kudapan berbentuk bola-bola kecil seperti onde-onde yang terbuat dari tepung beras dicampur ikan kering (lauak tukai) dan digoreng. Sala Lauak biasa dimakan sebagai kudapan atau dapat pula dijadikan lauk ketika makan nasi. Sala Lauak merupakan makanan yang tercipta atas kreativitas masyarakat pinggir pantai yang hidup dari hasil laut yang melimpah seperti masyarakat Pariaman. Cimparuah, Sintuak, dan Kuraitaji yang terdapat dalam sampiran larik lagu berbentuk pantun tersebut adalah nama-nama tempat di Pariaman.
Yo lamak...yo lamak...si gulai paku
Yo bacampua...bacampua…si buah palo
‘lah tampak calon minantu
Sayang saketek…saketek... indak bakarajo
(Lagu Katupek Gulai Paku)
Terjemahan:
Ya enak..ya enak..si gulai pakis
Ya bercampur...si buah pala
Sudah ada calon menantu
Sayang sedikit...sedikit... tidak bekerja
Lagu Salak Lauak pada kutipan di atas mengisahkan tentang ketupat yang dimakan dengan sayur gulai pakis atau yang disebut Katupek Gulai Paku. Gulai pakis adalah gulai dengan bahan utama sayuran pakis yang dimasak dengan santan, cabe rawit, dan bumbu-bumbu khas masakan Padang lainnya seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, laos, serai, daun kunyit, dan pala. Yang menjadi rasa khas dari gulai pakis adalah buah pala basah yang mendominasi masakan berkuah tersebut.
Hal unik dari larik lagu Katupek Gulai Paku yang berbentuk pantun di atas adalah gulai pakis yang diceritakan tidak menjadi isi seperti lazimnya pantun, tetapi menjadi sampiran, yakni: Yo lamak...yo lamak...si gulai paku/Yo bacampua...bacampua…si buah palo//‘lah tampak calon minantu/Sayang saketek…saketek... indak bakarajo//.
Sampiran yang menceritakan kelezatan gulai pakis dijadikan pengantar untuk sampai kepada isi yang mengisahkan curahan hati seseorang yang sudah memiliki pilihan calon menantu, namun sang calon tersebut belum memiliki pekerjaan.
Hal tersebut menunjukkan kekayaan estetika yang dimiliki pantun, yakni bersifat luwes untuk menyampaikan sesuatu, baik berupa sampiran maupun berupa isi yang keduanya memiliki kandungan makna masing-masing.
Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa sampiran bukan sekedar perangkat bunyi untuk memeroleh rima, sampiran dan isi sama-sama penting karena mengandung makna yang sama-sama penting pula.
Penutup
Lagu-lagu kuliner yang menjadi lagu pop daerah Minangkabau telah mengalami rentang waktu yang panjang dari era 70-an hingga tahun 2013 ini. Lagu-lagu tersebut sangat dikenali pada masanya dan menjadi kenangan pada masa sekarang. Perannya sebagai karya sastra pemberi rasa nikmat dan manfaat telah dijalani oleh lagu-lagu tersebut.
Pada masa lalu, piringan hitam dan pita kaset berisi lagu-lagu kuliner tersebut sangat diminati karena telah membuat orang-orang terhibur. Hal lain yang tidak disadari secara langsung adalah manfaat lagu-lagu tersebut terhadap penyumbang pengembangan pariwisata di Sumatera Barat, khususnya di bidang pariwisata kuliner. Berkat lagu-lagu tersebut Bika, Karupuak Sanjai, Dokok-Dokok, Palai Bada, Sala Lauak, dan Katupek Gulai Paku menjadi daya tarik pariwisata bagi daerah-daerah tertentu.
Bila orang berwisata ke Kota Padangpanjang misalnya, orang akan menelusuri jalan raya Padangpanjang-Bukitinggi untuk dapat menikmati kue bika. Salah satu usahawan bika di antara dapur-dapur bika yang berjejer di sepanjang jalan yang memiliki suatu danau kecil itu memanfaatkan nama Bika si Mariana untuk menamai tempat usahanya.
Dapur-dapur bika yang mengepulkan asap dari tungku pembakaran dengan bahan bakar sabut kelapa merupakan pemandangan khas di tempat itu, apalagi bila wisatawan menebarkan pandangan ke arah Gunung Merapi dan Singgalang yang terletak persis di hadapan jejeran dapur-dapur tersebut, pemandangan indah kedua gunung berbalut mitos itu semakin memesona.
Pada masa lalu, Kota Bukittinggi menjadi produsen karupuak sanjai satu-satunya sehingga Sanjai yang semula hanya nama suatu kampung kecil, berkembang menjadi ikon kota yang indah itu. Kerupuk (keripik) Sanjai adalah irisan sangat tipis goreng singkong garing tanpa tambahan perasa sehingga keaslian singkong sangat terasa di lidah.
Kerupuk Sanjai berbentuk pipih berukuran kira-kira 15 Cm dan berbentuk stik berukuran 5 Cm, baik yang dilumuri cabe atau tidak. Kerupuk Sanjai dijual di pekan-pekan di kampung, di pasar-pasar di pusat Kota Bukittinggi, dan di rumah-rumah produksi yang merupakan industri rumah tangga dengan pengelolaan yang sangat sederhana.
Pada masa kini, popularitas karupuak sanjai Bukittinggi seperti “digilas” oleh kreasi dan inovasi yang dilakukan seorang perempuan usahawan keturunan Cina di Kota Padang yang memberi nama merek dagangnya Keripik Balado Christine Hakim. Kim sang usahawan mengolah karupuak sanjai menjadi keripik balado (dilumuri cabe) dengan menambahkan rasa manis sehingga makanan tersebut berterima di lidah suku bangsa lain.
Kim berhasil mengubah makanan tersebut menjadi bergengsi dalam kemasan modernitas sekaligus mempopulerkan nama baru, keripik balado sehingga bila orang ke Padang, maka Keripik Balado Christine Hakim adalah tentengan wajib ketika meninggalkan kota tersebut.
Dokok-dokok, lamang baluo, kacang tojin, dan kue koci adalah di antara beberapa kudapan yang biasanya dijajakan di terminal, stasiun kereta api, atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Terutama di Pariaman dan sekitarnya, menjajakan kue merupakan bagian dari kehidupan masyarakat tradisional yang tetap berlanjut hingga sekarang, namun menjajakan lagu dengan melagukannya sudah sangat jarang ditemui saat ini. Saat ini, kue-kue semacam itu pun berada di toko-toko oleh-oleh yang dibuat oleh tenaga terampil dengan fasilitas memasak dan mengemas secara modern.
Palai Bada, Sala Lauak, dan Katupek Gulai Paku saat ini adalah kuliner Pariaman yang senantiasa dicari oleh wisatawan ke daerah itu. Meskipun menjadi ikon kuliner Pariaman, namun makanan tersebut mudah ditemukan di kota-kota lain di dalam bahkan di luar Provinsi Sumatera Barat dengan ciri khas tetap mengembel-embeli makanan tersebut dengan daerah asalnya. Ketiga jenis makanan tersebut di Jakarta misalnya dapat ditemukan di pasar Benhil atau Pasar Senen.
Demikianlah, lagu-lagu pop daerah Minangkabau telah turut berperan sebagai penyumbang pengembangan kepariwisata Indonesia.
Industri pariwisata berbasis lagu-lagu pop Minangkabau turut berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa di antara bangsa-bangsa lain di dunia karena kuliner yang disebarluaskan melalui lagu dan disediakan di tempat-tempat tertentu dapat menjadi ikon bagi daerah tersebut. Pada akhirnya, ikon tersebut menjadi daya tarik yang ampuh untuk mendatangkan wisatawan ke Indonesia.
Kutipan Syair Lagu Kuliner Minangkabau
BIKA SI MARIANA
Pencipta : Nuskan Syarif Penyanyi : Nuskan Syarif dan Lily Syarif

Mudiak kureta dari Padang (Datang kereta dari Padang)
Baranti tantang Kotobaru (Berhenti di Kotobaru)
Jikok dagang kok lai ka pulang (Jika perantau ingin pulang)
Bika panggang bali daulu (Bika panggang beli dahulu)
Cubolah bika si Mariana (Cobalah bika si Mariana)

Kok rasonyo ‘yo sabana kamek (Rasanya benar-benar lezat)
Cakak abih silek takana (Perkelahian usai, silat teringat)
Usah manyasa kok ndak mandapek (Jangan menyesal tak kebagian)
Jikok dicubo … batambuah juo … (Jika dicicip…semakin menambah)

Lamak rasonyo dimakan baduo (Enak rasanya dimakan berdua)
Bika ei bika … Bika ei bika… (Balilah bika … Belilah bika…)
Lamak bikanyo si Mariana (Enak bikanya si Mariana)
Indak dibali takana-kana (Jika tidak dibeli, selalu teringat)

KARUPUAK SANJAI
Pencipta : Ujang Virgo Penyanyi : Elly Kasim dan Juni Amir

Kok jampang... Tuan ka Gaduang (Bila... Tuan ke Gaduang)
Di Bukittinggi... amai jo biyai (Di Bukittinggi... ibu dan nenek)
Kok jampang... pulang ka kampuang (Bila... pulang ke kampung)
Balilah bali... karupuak sanjai (Belilah beli... kerupuk sanjai)

Ikok manjua si jando mudo (Jika yang menjual si janda muda)
Dari jauah ‘nyo ‘lah manyapo (Dari jauh ia telah menyapa)
Sambia galak jo kijok mato (Sambil senyum dan kedip mata)
Ondeh Mak... ondeh Mande... (Aduh Mak... aduh Ibu...)

Sanjai karupuak (Sanjai Sanjai kerupuk Sanjai)
Pakiriman uda denai (Kiriman uda (abang) hamba)
Dari pakan tangah balai (Dari pekan tengah balai)
Yo badaruak... darai-badarai (Ya garing... derai-berderai)

DOKOK-DOKOK
Pencipta : Nuskan Syarief Penyanyi : Ernie Djohan

Hei … dokok-dokok (Hei… dokok-dokok)
Kue koci, baluo lamang baluo (Kue koci, baluo, lamang baluo)
Hei … cubo ciek (Hei… mencoba satu)
Cubo ciek,‘yo duo, sanak nak duo (Coba satu, saudara, ingin dua)

Hei … dokok-dokok (Hei … dokok-dokok)
Kacang tojin ‘jo gulo kacang bagulo (Kacang tojin dan kacang bergula)
Bali sabungkuih (Beli sebungkus)
Yo sabungkuih, baduo kanyang baduo (Ya sebungkus kenyang berdua)

Bareh puluik jo santan bagulo anau (Pulut dan santan bergula enau)
Bagalimang sabana lamak rasonyo (Dicampur sangat enak rasanya)
Bia kini badan ‘den jauah di rantau (Biar sekarang badanku di rantau)
Si dokok-dokok oi kanduang takana juo (Si dokok-dokok terkenang jua)

Hei…dokok-dokok, dokok-dokok... (Hei..dokok-dokok,dokok-dokok)

PALAI BADA
Pencipta : M. Gaus Penyanyi : Elly Kasim

Jikok jadi Tuan ka pasa (Jika jadi Tuan ke pasar)
Tolong balikan si gulo saka (Tolong belikan si gula aren)
Jikok Tuan salero patah (Jika Tuan patah selera)
Cubo makan si palai bada (Coba makan si palai bada)

Yo… palai bada (Ya… palai bada)
Lamak rasonyo… makan baduo (Enak rasanya… makan berdua)
Urang Rao pai ka danau (Orang Rao pergi ke danau)
Ambiak rumpuik si bilang-bilang (Ambil rumput si bilang-bilang)

Jikok Tuan indak picayo (Jika Tuan tidak percaya)
Bali sabungkuih baok pulang (Beli sebungkus bawa pulang)
Yo… palai bada (Ya… palai bada)
Lamak rasonyo… makan baduo (Enak rasanya… makan berdua)

SALA LAUAK
Pencipta : Zulkhaidir Penyanyi : Elly Kasim

Sasak bana pasa ‘rang Tarusan (Ramai sekali pasar Tarusan …)
yo lah lai Karuang jo sumpik …(yo lah lai… Karung dan sumpit)
di tangah balai tengah balai
Lamaklah bana sala ‘rang Piaman (Enak sekali sala orang Pariaman)
… yo lah lai

Badaun kunik …yo lah lai… (Berdaun kunyit balauak tukai ber-ikan tukai (kering) Sala… lauak… (Sala… ikan)
Sala… lauak… (Sala… ikan)
Urang Cimparuah pai ka Sintuak (Orang Cimparuah pergi ke Sintuak)

… yo lah lai Naiak kureta …yo lah lai… (Naik kereta di Kuraitaji)
Kok lah tacubo sala lauak (Jika telah mencicipi sala lauak …)
yo lah lai makan batambuah ‘lah Sidi (Makan bertambuh Sidi …)
sapiriang lai sepiring lagi Sala… lauak (Sala… ikan Sala… lauak (Sala… ikan)

Jikok tasasak jan lah baoto (Jika terburu-buru jangan naik mobil … )
yo lah lai
Jikok baoto …yo lah lai… (Jika bermobil jalannyo buruak jalannya buruk)
Jikok taragak yo nak basuo (Jika rindu ingin bertemu …)
yo lah lai Mmakanlah sala …yo lah lai… (Makanlah sala si lauak)
busuak si ikan busuk (Busuk ikan busuk)

GULAI PAKU
Pencipta : Ujang Virgo Penyanyi : Elly Kasim

Yo lamak...yo lamak...si gulai paku (Ya enak..ya enak..si gulai pakis)
Yo bacampua...bacampua…si buah palo (Ya bercampur...si buah pala)
‘lah tampak calon minantu (Sudah ada calon menantu)
Sayang saketek…saketek... (Sayang sedikit...sedikit...)

indak bakarajo tidak bekerja (Jikok makan… yo makan… Jika makan …ya makan…) jo gulai paku gulai pakis
Taraso padeh… yo padeh… (Terasa pedas …)
balado padi pakai rawit

Dek anak lai katuju (Anak menyukainya)
Sayang sakatek… saketek… (Sayang sedikit …sedikit…)
indak bapiti (tidak berduit)
Gulai paku indak abih (Gulai pakis tidak habis)

makan sahari (dimakan sehari)
Cubo angek-an …yo sero… (Coba hangatkan …enak…)
manjadi randang (menjadi rendang)
Cari minantu nan pandai (Cari menantu yang pintar)

mancari pitih (mencari duit)
Nan tau …yo tau… (Yang mengerti…) ya mengerti
jo adaik Minang (dengan adat Minang)
Kok takicok si gulai paku (Jika mencicipi si gulai paku)

Rancah jo udang nan lamak bana (Dicampur udang enak sekali)
Sayang anak… sayang minantu (Sayang anak… sayang menantu)
Sayang ka cucu labiah bana (Sayang pada cucu berlebihan)

Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Endraswara, Suwardi. 2004. Metodologi Penelitian Sastra:Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Edisi Keempat. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa-Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko dkk. 2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widya.
Waluyo, Herman. J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Welek, Reene dan Austin Warren. 2000. Teori Kesusasteraan. Diterjemahkan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia
http://PadangKini.com/24/03/2011/Sejarah Industri Lagu Minang//
http://niadilova.blogdetik.com/2009/03/15/Sejarah Pop Minang Periode Awal//
http://Tempo.interaktif. padang/24/04/2012/Geliat Rekaman Pop Minang//

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar