Kamis, 05 Februari 2015

Perantau Minang Tak Sekadar Melepas Rindu

OLEH Khairul Jasmi (Wartawan Senior)

PULANG kampung tak sekadar melepas rindu, tapi sekaligus membangun kampung halaman. Begitulah tekad perantau Minang. Dulu, ketika mereka pergi ke rantau, selalu diniatkan, kampung halaman baru akan diinjak lagi jika sudah berhasil di negeri orang. Artinya, perantau akan pulang bila sudah mampu menyumbang untuk tanah kelahiran.
Untuk ukuran provinsi, perantau Minang memang dahsyat. Jumlah penduduk Sumatera Barat sebanyak delapan juta jiwa, separuhnya di rantau. Dua juta di Jakarta. Maka tak heran di metropolitan ini terbit surat kabar khusus untuk perantau, namanya Minang Pos.
Perantau Jakarta itulah yang pekan ini pulang basamo ke Padang. Mereka membawa uang Rp200 juta untuk dibagi-bagikan kepada generasi muda yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi, SMU, SLTP, dan SD. Jumlah yang menerima 706 orang. Mahasiswa mendapat Rp 450 ribu per tahun, siswa SMU Rp240 ribu per tahun, SLTP Rp185 ribu per orang, dan murid SD Rp120 ribu tahun. Perantau yang pulang dipimpin oleh Syahrul Effendy itu menamakan dirinya Gerakan Sosial Orang Rantau (Gesor). Beberapa tahun lalu, masih dari Jakarta, perantau datang membawa sembilan bahan pokok (sembako) dan dibagi-bagikan kepada ribuan rakyat di 14 Dati II.
Semua perantau Minang memiliki satu organisasi: Gerakan Seribu (Gebu) Minang. Masih ada ratusan organisasi lainnya di berbagai kota di Indonesia dan di luar negeri. Paling kecil adalah organisasi perantau se-nagari (desa), lalu se kabupaten. Organisasi perantau nagari yang paling terkenal adalah SAS, singkatan dari Sulit Air Sepakat. Nagari Sulit Air, negeri kerontang di Kabupaten Solok itu, praktis hidup dari kiriman wesel dari rantau. Desa kecil itu memiliki stasiun radio sendiri. Kemudian ada lagi organisasi perantau Koto Gadang, kampungnya Emil Salim. Yang ini rada unik, sebab yang di rantau hampir 100 persen sarjana. Sementara lebih dari separuh rumah di kampung kosong.
Tiap jalur perantau mengirim uang ke kampungnya ke kabupatennya, dan lewat Gebu Minang untuk tingkat provinsi. Paling tidak, lewat kiriman wesel pos, rumah tangga orang Minang menerima kiriman dari rantau Rp 3 miliar setiap bulannya. Angka ini akan membengkak sebelum Lebaran. Itu baru data resmi, belum lagi kiriman uang lewat orang kampung, kenalan, dan lewat bank.
Kepedulian perantau Minang pada kampung halaman-nya dapat dilihat dari pembangunan masjid, sekolah, dan sarana sosial lainnya di kampung halaman mereka. Partisipasi orang rantau sama besarnya dengan penduduk yang menetap di kampung.
Kiriman uang itu, sampai 1989 tidak terpantau baik. Sebab memakai jalur tradisional. Lagi pula, lebih banyak digunakan untuk keperluan konsumtif. Namun, sejak Gebu Minang berdiri 24 Desember 1989 di Bukittinggi, sejak itu penggunaan uang dari rantau sudah terpantau, paling tidak kiriman uang para perantau yang berhasil dan sukses.
Data per Desember 1998 yang dirilis Ketua Umum Gebu Minang, Prof Emil Salim, menunjukkan, organisasi itu sudah memiliki 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Lima di antaranya di Jakarta. BPR itu memiliki aset sebanyak Rp 17 miliar, dengan nasabah sebanyak 50 ribu orang lebih. BPR Gebu Minang memiliki capital adequary ratio (CAR) yang baik, yaitu 37%, sementara garis minimalnya 8%. BPR ini, juga menjalin kerjasama dengan United States Agency for Development (USAID). Kerjasama ini untuk meningkatkan SDM BPR di Gebu Minang.
Gebu Minang, menurut Ketua Eksekutifnya, Prof Harun Zain, merupakan organisasi sosial orang rantau. Lewat Gebu Minang, perantau bisa menyalurkan kepedulian sosialnya kepada kampung halaman.
Sensitivitas Perantau
Kepedulian yang datang dalam wujud bantuan diberikan juga oleh perantau yang menjadi politisi. Seperti yang dilakukan Jusril Djusan, anggota DPR RI. Ia satu-satunya anggota dewan yang memberikan bantuan modal kerja, traktor tangan, sembako kepada ratusan rakyat tidak mampu di Padang Panjang dan Tanah Datar. Jumlahnya sudah mencapai Rp300 juta lebih.
Pada awal-awal 1990-an, perantau Aminuzal Amin, gila-gilaan memberikan bantuan. Ia mendirikan sejumlah masjid sendirian, membantu pembangunan fasilitas kota di Batusangkar.
Selain memberikan uang, sebenarnya ada satu lagi yang sangat penting diberikan perantau terhadap Minang-kabau. Mereka selalu peduli pada persoalan sosial, ekonomi bahkan politik. Menurut Harun Zain, mantan Gubernur Sumatera Barat, semua itu pertanda kepedulian semata. Tidak ada pemilihan gubernur, bupati, dan walikota di Sumatera Barat yang lepas dari pengaruh orang rantau. Namun, kadang-kadang ikut campur dalam urusan politik di kampung terlalu jauh, sering melecehkan aspirasi penduduk yang bermukim di Sumatera Barat.
Oleh pemerintah daerah, meski tidak diberlakukan sama, tapi tokoh-tokoh rantau pulang sering disambut dengan resmi. Ini wajar, sebab meski pulang ke kampung sendiri, tapi mereka tak ubahnya seperti seorang wisatawan. Mereka membelanjakan uangnya, bahkan menyumbang dalam jumlah yang cukup banyak. Perantau yang sering menyumbang untuk berbagai keperluan di Sumatera Barat adalah Is Anwar, Abdul Latief, Nasrul Chas, Fahmy Idris, Aminuzal Amin, dan lainnya. Sedangkan pikiran-pikirannya yang diharapkan adalah Emil Salim, Harun Zain, Abdul Latief, Tarmizi Taher, Taufik Abdullah, Taufiq Ismail, Rosihan Anwar, Yanuar Muin, dan sederetan nama lainnya.
Menurut sosiolog Dr Mochtar Naim dalam bukunya Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984), rantau dalam arti koloni oleh orang Minang sudah ada sejak abad ke-6. Mereka tidak saja mencari penghidupan, tapi kemudian berkembang menjadi rantau politik, sekolah, dan sebagainya. Ir Yanuar Muin menyebutkan, meski jauh merantau tapi ikatan batin dengan kampung halaman tak akan pernah putus. Ia menamakan ikatan itu dengan Minang maimbau (Minang mengimbau).
Imbauan, panggilan kampung halaman itu, sebenarnya sudah ada dalam pantun tua Minang: Karatau madang di hulu/ berbuah berbunga belum/ merantau bujang dahulu/di kampung berguna belum. Artinya, seorang yang pergi merantau menginginkan agar dirinya berguna—seperti orang lain—bagi kampung halamannya. Bila sudah berguna, ia akan pulang dan membangun tanah kelahirannya.
Apalagi sejak Orde Baru, selalu saja pemerintah bilang, dana pemerintah tidak cukup, maka partisipasi masyarakat sangat diperlukan. Lalu, tradisi merantau itu, kemudian terbukti sudah mendarah daging bagi orang Minang. Dalam konsep budaya Minang, merantau tidak saja keluar wilayah hukum adat, tapi termasuk merantau keluar dari kabupatennya. Mereka adalah perantau juga, tapi perantau lokal ini tidak termasuk yang diwadahi oleh Gebu Minang. Gebu Minang hanya mewadahi perantau di luar Sumatera Barat. Perwakilannya terserak di seluruh Indonesia dan di luar negeri. Tiap perwakilan punya ketua dan secara periodik mengirimkan laporannya ke Ketua Gebu Minang di Jakarta. Sastrawan AA Navis, adalah Ketua Gebu Minang untuk Sumatera Barat. Ia berinduk ke Jakarta.***

PADANG, 29 JANUARI 1999 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar