Senin, 02 Maret 2015

Makam Haji Miskin di Pandai Sikek

OLEH Deddy Arsya
Sastrawan

Kuburan H Miskin di Pandai Sikek
Haji Miskin telah lama mati, tetapi namanya di sini seperti abadi.
Saya mengunjungi kuburnya di Pandai Sikek—sebuah nagari dingin di pinggang Gunung Singgalang di Kabupaten Tanah Datar. Makam itu terletak tidak jauh dari jalan utama nagari. Dari jalan utama itu menuju ke makam dihubungkan jalan setapak licin dengan tangga-tangga dari beton. Di ujung tangga-tangga itu, masa silam menyumbulkan diri: sebuah makam dari abad ke-19 kokoh berdiri.

Panjang makam hampir lima meter, yang sekelilingnya dipagari pagar besi. Makam itu diteduhi sebuah bangunan bergonjong empat—lambang dari arsitektur tradisional Minangkabau. Batu-batu kecil tertata apik di tengah-tengah badan makam. Di pinggiran badan makam telah dibeton dengan rapi sekalipun belum dihaluskan.
Nisan makam itu, sebuah batu pipih setinggi hampir satu meter dengan lebar tigapuluhan senti dan sebuah pokok pohon dengan diameter hampir sama tetapi memiliki tinggi dua kali itu. Tidak ada nama, keterangan kematian, atau informasi apa pun pada kedua nisan itu. Tetapi, sebuah plang di pinggir makam tertulis: Situs Cagar Budaya Makam Haji Miskin.
Haji Miskin lahir di Batutaba, Agam. Tidak jelas, siapa nama kecilnya. ‘Kecil bernama, besar bergelar’, nama kecil tentu sudah biasa dilupakan ketika seseorang telah besar. Sebelum pergi ke Mekkah, dia pernah terlibat gerakan kebangkitan lokal yang lebih moderat bersama Tuanku nan Tuo, seorang guru tarikat terkenal di daratan tinggi Minangkabau. Tidak diketahui dengan pasti pada umur berapa Haji Miskin naik haji. Yang jelas, tidak seperti namanya, dia tentu berasal dari keluarga makmur daratan tinggi—sebab hanya dari kalangan itulah perjalanan haji yang mahal akan mungkin dilakukan.
Di Makkah, di jantung dunia Islam, Haji Miskin menyaksikan sebuah gerakan pemurnian Islam yang sedang naik pamor. Gerakan yang menganjurkan dengan keras penghancuran atas penyimpangan-penyimpangan ajaran Muhammad; seruan gerakan ini adalah ‘kembali ke kemurnian’. Konon, padri kita ini takjub pada orang-orang berkuda dan berpedang, ksatria tanah Arab itu, yang ‘berjihad’ menghancurkan makam-makam para orang shaleh yang dijadikan tempat berdoa, membakar rumah-rumah para darwis-tarikat yang dianggap sebagai sarang bid’ah, dan menghalau paksa orang-orang untuk datang ke masjid setiap waktu shalat tiba.
Haji Miskin kemudian pulang ke Minangkabau, membawa api yang sama yang diambil dari tangan pengikut Muhamad Abdul Wahab yang telah membakar sekujur jazirah Arab dalam waktu singkat itu. Api yang kelak juga akan membakar hampir sekujur daratan tinggi Minangkabau. Api yang baru akan padam hingga tiga dasawarsa setelah pertama kali disulut. Api yang bermula menyala, di antaranya, di Pandai Sikek, nagari agrokultur, sentra pertanian penghasil sayur itu. Kenapa di Pandai Sikek? Mungkin karena Haji Miskin tidak begitu didengarkan di kampungnya di Batutaba, mungkin juga karena dia tidak punya cukup pengikut di situ. Christine Dobbin, sejarawan Prancis, mencatat bahwa, empat tahun Haji Miskin “menganjurkan pertobatan” di kampungnya sendiri, di Batutaba, tetapi tampaknya hasilnya tidak menggembirakannya.
Pada akhirnya, dia menyeberang, ke Pandai Sikek, karena seorang penghulu daerah itu, Datuk Batuah (bedakan dengan Datuak Batuah penganjur komunis dari Koto Laweh), telah bersedia menjalin sekutu dengannya untuk “membersihkan pasar” dan menata hukum baru “untuk ketertiban negeri yang sedang makmur” itu—makmur akibat majunya perdagangan kopi dan akasia.
Haji Miskin bersama sekutunya, dengan api itu, menurut sumber lisan setempat, membakar hampir seluruh rumah adat di Pagu-pagu, sebuah daerah kecil di Pandai Sikek. Konon yang tersisa hanya satu rumah adat, yang sampai kini masih tegak tetapi telah dalam keadaan rusak parah. Sumber lisan setempat lain juga mengungkapkan, Haji Miskin juga membakar habis satu-satunya pasar di Pandai Sikek, pasar yang konon merupakan sarang candu, pusat lapak-lapak madat dan gelanggang adu jago ketika itu.
Sementara sumber tertulis menyebutkan, sebagaimana dicatatkan Muhammad Radjab, Haji Miskin hanya membakar sebuah balai adat yang baru saja dibangun di sana—kebanggaan orang senegeri, lambang kejayaan tempat para penghulu berapat. Pada awalnya, Sang Haji berkhotbah sekuat tenaga untuk memperbaiki negeri itu. Tetapi pasar tetap berantakan, kata Dobbin pula, uang mengalir masuk ke masyarakat dan langsung dihamburkan dalam gelanggang adu jago di dekat pasar, minum tuak, atau untuk menghisap candu.
Perkelahian mudah meletus, perampokan sering terjadi, dan pembunuhan tidak kalah sering akibat mabuk candu. Sementara hukum tak tegak, para penghulu kehilangan pamornya, catat Jalaluddin Faqih Saghir dalam naskahnya yang banyak dikutip. Haji Miskin tak henti-hentinya berkhotbah, tetapi keadaan terlalu gawat untuk diubah dengan cara itu, kata Dobbin lagi.  Untuk menunjukkan keseriusan gerakannya, maka, dia membakar balai adat, dan mungkin juga telah mengobrak-abrik pasar. 
Di masa sekarang, padri itu, Haji Miskin, akan dikenang sebagai seorang puritan Islam. Cara dia keras, radikal, lagi fanatik. Tetapi di zaman dia hidup, bagi pengikutnya, dia jelas pembaharu, pendobrak kekolotan rezim adat, ketidakbecusan elit penguasa mengemban amanat. Tidakkah telah juga disebutkan kalau rezim adat masa itu penuh korup, penghulu-penghulu tamak, datuk-datuk dibuai candu madat dan tuak dan dilalaikan oleh gelanggang judi adu jago.
Christine Dobbin tentang ini mencatat,  tidak sebatas pecandu, penghulu-penghulu tertentu bahkan dihubungkan dengan perdagangan madat, mereka adalah pelindung mata rantai perdagangan itu. Akibatnya etos masyarakat, terutama penguasanya, menjadi buruk. Haji Miskin menghancurkan etos buruk kaum penguasa adat itu. Menghancurkan, mula-mula, simbol tertinggi tradisi mereka: balai adat. Penghancuran atas simbol-simbol tradisi itu memang menyulut perang berkepanjangan. Apa yang kita kenal dalam sejarah negeri ini sebagai gerakan padri, perang antara kaum adat dan kaum agama.
Perang antara para padri dan kaum penghulu? Tetapi tidakkah sekutu Haji Miskin yang mula-mula adalah seorang datuk? Penghancuran simbol-simbol adat? Tetapi ... lihatlah makam Haji Miskin itu sekarang, diteduhi sebuah bangunan bergonjong empat, yang justru lambang dari arsitektur tradisional Minangkabau yang dulu hendak dihabiskan pengikut padri.
Paradigma tentu bisa berubah, suatu zaman tentu punya caranya sendiri dalam memaknai zaman lain. Dan di Pandai Sikek, entah kenapa di Pandai Sikek, kenapa tidak di Batutaba (di negeri kelahirannya), orang-orang mengenang Haji Miskin dengan takjub. ‘Makam itu makam ulama besar’, kata seorang peladang yang saya temui. ‘Makam itu makam pembela Islam dan penentang Belanda’, kata seorang lainnya.
Orang-orang di situ mengenangnya sebagai ulama pemberani, tegas pendirian, oleh sebab itu patut menjadi panutan sekalian alam. Namun, walaupun demikian, bagi masyarakat setempat makam itu tak lebih dari sebagai penanda, penanda bagi ingatan akan ketokohan Haji Miskin belaka. Tidak ada pengagungan yang bersifat ‘mistis’ atas makam itu misalnya—tetapi bukankah Haji Miskin juga hendak menghancurkan kebiasaan-kebiasaan semacam itu dua abad yang silam?  
Sebagai penghormatan atas ketokohannya itu pula, di Pandai Sikek sekarang, nama Haji Miskin diabadikan dalam banyak pemakaian. Namanya hendak dijadikan pengingat bagi sebuah nilai perjuangan yang baik. Tidak saja menjadikan makamnya sebagai situs cagar budaya yang dilindungi undang-undang.
Tetapi juga, misalnya, ada sebuah pondok pesantren yang cukup besar yang menggunakan namanya di Koto Tinggi (juga daerah Pandai Sikek), ‘Pondok Pesantren Haji Miskin’. Sekolah yang sudah berumur hampir duapuluh tahun. Di daerah Pandai Sikek lain, berdiri Bank Pembiayaan Rakyat berbasiskan syariah Islam yang juga mengabadikan nama padri tua itu, BPRS Haji Miskin.
Bank itu berdiri di Baruah, tidak jauh dari Pagu-pagu, daerah Pandai Sikek yang dua abad silam telah dibumihanguskan Haji Miskin dan pengikut-pengikutnya. Cabangnya ada di Koto Tinggi, juga di Pandai Sikek, tempat Haji Miskin melancarkan gerakan pemurniannya yang lebih keras. Sementara tidak begitu jauh dari situ, sebuah masjid juga berdiri kokoh, dengan nama Masjid Haji Miskin, tidak jauh dari pasar yang dua abad silam ‘diratakan’ pengikut Miskin.
Pada akhirnya, hanya dapat dikatakan, bahwa seorang tokoh ‘mati’ ketika napasnya berhenti. Tetapi di sisi lain, ‘sosok’ sang tokoh bisa hidup terus dalam ingatan kolektif masyarakat sekalipun jasadnya telah hancur binasa dalam kuburnya yang membatu. Pun pemaknaan atas diri dan pikiran sang tokoh itu dalam ingatan kolektif masyarakat juga bertransformasi; sebab setiap zaman punya caranya masing-masing dalam menilainya.
Apakah sesuai dengan diri sang tokoh adanya dalam realitas sejarah atau telah mengalami pemaknaan lain—siapa pula yang bisa jadi ‘polisi tafsir’ atas itu? Sejarah toh memang tidak satu dimensi: di satu sisi sebagai dirinya yang faktual, di sisi lain sebagai sebuah konstruk pikiran. Dan di Pandai Sikek, Haji Miskin telah coba direduksi dengan cara zaman ini mereduksi; ia dengan kata lain telah jadi konstruk pikiran. Hasilnya, jelas, tidak satu.
Haji Miskin bisa dimaknai sebagai seorang moderat, misalnya terepresentasi pada makamnya yang diteduhi tingkap berarsitektur tradisional Minangkabau, pun juga masjid yang memakai namanya yang pada beberapa sisi bangunannya terdapat gonjong; pada sisi lain, Haji Miskin juga dimaknai sebagai seorang modernis (namanya dilekatkan pada nama Bank—sistem ekonomi perbankan yang jelas berasal dari khasanah dunia modern); ataupun Haji Miskin dianggap sebagai seorang puritan (untuk contoh ini, namanya dilekatkan pada sebuah pesantren yang cukup ortodoks).  
Bagaimanapun, ingatan ternyata butuh penanda (sign). Di sinilah nilai penting memelihara situs cagar budaya sebagai sebuah penanda. Di Pandai Sikek terbukti bahwa sebuah penanda, sebuah situs cagar budaya, akan berbiak melahirkan penanda-penanda lainnya. ‘Penanda’ yang akan menjadi ‘lorong’ untuk membawa ingatan kita ke masa silam.

Padang, 26 Maret 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar