Selasa, 17 Maret 2015

Manuskrip Indonesia sebagai Pustaka Dunia: Persebaran dan Apresiasi

OLEH Dr Mu'jizah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Sebelum Gutherberg menemukan mesin cetak pada abad ke-18 berbagai sumber informasi dan pengetahuan yang menjadi peradaban suatu bangsa diabadikan dalam naskah tulisan tangan yang disebut manuskrip.Tulisan tanganini jumlahnya terbatas berbeda dengan buku cetakan yang dalam sekali cetak bisa mencapai ratusan bahkan ribuan eksemplar jumlahnya. Seperti sebuah buku masa kini, manuskripsangat penting sebab di dalamnya tersimpan kekayaan informasi dan pengetahuanyang berlimpah, seperti agama, hukum dan adat, astrologi, perobatan, teknik dan arsitektur, sampai sejarah.

Manuskrip itu ditulis dalam berbagai bahasa di Indonesia, yakni bahasa Aceh, Bali, Batak, Bugis-Makassar-Mandar, Jawa, Madura, Melayu, Minangkabau, Sasak, Sunda, Ternate, Wolio, bahasa-bahasa Indonesia Timur, Bahasa-bahasa Kalimantan, dan bahasa-bahasa Sumatera Selatan. Di samping itu, terdapat juga manuskrip yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Belanda. Manuskrip berbahasa Arab berhubungan dengan agama dan manuskrip berbahasa Belanda berhubungan dengan sistem pemerintahan. Manuskrip ini tersimpan di berbagai lembaga di seluruh dunia. Dalam Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia (Chambert-Loir dan Farurrahman, 1999) disebutkan bahwa manuskrip yang berasal dari Indonesia tersebar di sekitar 30 negara. Bahkan ada negera yang tidak memiliki hubungan sejarah seperti Rusia, Jerman, dan Prancis juga memilikinya.
Dengan persebarannya yang begitu luas dapat dikatakan bahwa Indonesia sejak masa lalu telah menarik perhatian dunia dan hasil pemikirannya dalam manuskrip telah menjadi pustaka dunia, pustaka atau kitab yang diapresiasi oleh masyarakat dunia. Hanya masalahnya bagaimana masyarakat Indonesia sebagai pewaris kebudayaan itu mempelajarinya dan bagaimana masyarakat dunia menghargainya? Berkaitan dengan hal itu, dalam makalah ini dibahas beberapa hal, yakni (1) di mana saja manuskrip itu tersimpan dan bagaimana manuskrip-manuskrip ini tersebar, (2) apa saja isinya dan bagaimana masyarakat dunia mengapresiasinya, dan (3) bagaimana cara pemerintah menangani dan mengelolanya?
Manuskrip Indonesia sebagai Pustaka Dunia
Manuskrip yang berasal dari Indonesia ini menggunakan alas tulis seperti lontar,kulit kayu, bambu, kain, dan kertas tradional yang disebut dluwang oleh orang Jawa dan Sunda. Alas tulis berbahan tradisional ini bersifat kurang lestari. Jika kurang dipelihara dengan baik alas ini akan rusak. Hingga saat ini manuskrip-manuskrip yang disimpan perorangan di Indonesia banyak yang kurang terjaga sehingga banyak yang rusak, hilang, dan hancur. Dengan hilang dan hancurnya manuskrip itu berarti hilang pula informasi dan pengetahuan yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu, manuskrip ini disebut sebagai benda budaya yang terancam punah.
Manuskrip merupakan tradisi tulis yang hidup dan berkembang di kraton atau istana yang pada masa lalu ditulis oleh para pujangga atau juru tulis kerajaan.Sementara masyarakat di luar kerajaan lebih banyak berkreasi dalam sastra lisan. Hampir seluruh suku di Indonesia (Badan Pusat Statistik Nasional menyebutkan jumlah suku sekitar 1.128) mempunyai kekayaan sastra lisan, tetapi hanya sebagian kecil yang memiliki sastra tulisan tangan(manuskrip). Kedua sastra itu menggunakan bahasa daerah sebagai alat ungkapnya yang jumlahnya mencapai 746 bahasa.Dari jumlah bahasa itu, kini hanya tersisa belasan bahasa mempunyai aksara yang diabadikan dalam manuskrip. Aksara itu antara lainaksara turunan Palawa , seperti aksara Jawa, Sunda, Bugis-Makassar, Bali, Sasak, Ulu/Krinci, Lampung, Batak, Mbojo, aksara turunan Arab, seperti Pegon, Jawi, Buri Wolio, dan Serang. Manuskrip itu berasal dari beberapa daerah, seperti Aceh, Minangkabau, Riau, Jambi, Palembang, Lampung (Sumatra), Jawa, Betawi, Sunda, Bali, NTB, Pontianak, Banjarmasin, Berau (Kalimantan) dan Bugis, Makassar, Tanete, Buton, Mandar d (Sulawesi) , Ternate dan Ambon.
Manuskrip yang berasal dari Indonesia itu jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Benda budaya itu dapat dikatakan sebagai pustaka dunia, bacaan dunia sebab (1)dilindungi dan diakui sebagai warisan dunia, (2) penyebaran dan tempat penyimpanan tersebar di belahan dunia, (3) dibaca dan dikaji oleh masyarakat dunia, serta (4) dikreasi dan dipentaskan menjadi pertunjukan tingkat dunia.
Untuk melindungi manuskrip ini dari kepunahan ini, beberapa lembaga di Indonesia dan beberapa negara asingmemberikan bantuan dalam program inventarisasi dan dokumentasi manuskrip sebagai benda hampir punah. Lembaga itu seperti The British Library (Inggris), Toyota Foundations, dan Tokyo University for Foregin Studies (Jepang). Saat ini manuskrip disimpan dalam berbagai lembaga dan perorangan baik di Indonesia dan di banyak Negara di dunia. Dalam koleksi lembaga, manuskrip ini cenderung aman karena sudah dijaga meskipun dengan syarat minimal. Namun, koleksi yang tersimpan dan milik perseorangan sebagian besar terancam karena perawatannya kurang memadai. Untuk itu, manuskrip-manuskirp ini harus dilindungi dari kepunahan sebab benda ini sebagai kekayaan hak intelektual bangsa Indonesia.
Dalam rangka pelindungan UNESCO telah mendaftarkan melalui Memory of the World (MOW)beberapa manuskrip sebagai kekayaan tak benda dari Indonesia. Manuskrip itu adalah (1) Negarakertagama, (2) I La Galigo, (3) Babad Diponegoro, dan (4) Makyong. Dua judul yang disebut terakhir masih dalam proses pengesahan dalam registrasi tersebut.Di samping keempat judul tersebut masih banyak manuskrip bermutu dari Indonesia yang siap diregistrasikan ke lembaga dunia tersebut dan hanya menunggu kesigapan bangsa Indonesia sebagai pemilik syah warisan budaya ini.
Berbagai usaha pencatatan dan dokumentasi sudah dilakukan dalam bentuk katalog.Katalog yang mencatat manuskrip yang berada di Indonesia, antara lain Ronkel (1909) mencatat naskah di Museum Gadjah danBehrend (1989) naskah yang berada dalam koleksi Perpustakaan Nasional, Florida (1981) mencatat naskah di Surakarta, Lindsay (1982) dan Behrend (1989) naskah koleksi Kraton dan naskah Senobudoyo (Yogyakarta), Yusuf (1980) naskah Maluku, Ekadjati (1988) naskah Sunda, Mulyadi dan Maryam salahuddin (1980) naskah Bima, Yayasan naskah Nusantara yang diketuai Ibu Ikram menyusun beberapa katalog, antara lain naskah Buton (2001) naskah Palembang, (2004 ), naskah Kalimantan dan naskah Ambon,serta Paeni (1994) naskah Bugis. Di samping itu, masih banyak katalog yang disusun oleh lembaga-lembaga pemilik naskah.
Manuskrip Indonesia yang berada dalam koleksi di luar negara disusun antara lain oleh Juynboll (1899) dan Ronkel (1921) naskah koleksi Universitas Leiden, Braginsky (1989) naskah koleksi di Rusia, Voorhoeve dan Ricklefs (1977) naskah koleksi Inggris, Omar (1991) naskah di Prancis dan Jerman, Syahrial dan Rahman naskah Melayu di Afrika Selatan, dan Chambert-Loir dan Faturrahman (1999)naskah-naskahdi dunia. Dalam katalog yang disebutkan terakhir itu dicatat sekitar 30 negara yang menyimpan manuskrip Indonesia, antara lain AfrikaSelatan, Amerika Serikat, Australia, Austria, Belgia, Ceko, Denmark, Hungaria, India, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Norwegia, Polandia, Portugal,Rusia, Selandia Baru, Spanyol,Swedia, Swiss, Thailand, dan Vatikan.Naskah-naskah Indonesia ini tersebar dan banyak tersimpan di Belanda dan di Inggris karena faktor sejarah, tetapi naskah terdapat pula di Jerman, di Prancis, di Rusia, dan di berbagai negeri yang lain yang tidak mempunyai kaitan sejarah dengan Indonesia.
Penyebaran yang sangat luas itu mempunyai arti sejarah. Menurut Chambert-Loir dan Faturrahman (1999:8) sejumlah koleksi dibawa ke luar negeri oleh orang Indonesia sendiri. Contohnya naskah-naskah yang sekarang terdapat di Afrika Selatan dan Sri Lanka sebagian dibawa dari Indonesia, sebagian disalin atau ditulis oleh para perantau (atau orang buangan) yang menetap di kedua negeri itu. Koleksi-koleksi lain adalah hasil persentuhan budaya. Misalnya, naskah yang kini di Jerman (terutama naskah Batak) sebagian besar berasal dari kegiatan para misionaris Jerman di Sumatra Utara mulai pertengahan abad yang lalu dan ada juga yang dikumpulkan oleh seorang Jerman yang menjadi guru privat anak-anak Gubernur Jendral Belanda di Buitenzorg (Bogor) sekitar tahun 1850. Contoh lain lagi, koleksi yang tersimpan di Library of Congress, Washington, diperoleh oleh sebuah ekspedisi Amerika di Singapura tahun 1842, sedangkan koleksi yang berada di Perpustakaan Nasional Paris, Prancis, dirintis oleh seorang Prancis yang belajar bahasa Melayu di London tahun 1845.
Dalam Baried (1994) manuskrip sejak abad ke18 telah menjadi barang dagangan antik. Benda ini sudah masuk dalam perdagangan gelap benda-benda kuno. Perdagangan ini terus berlangsung hingga kini. Beberapa kali dalam media massa, di antaranya Kompas, diungkap masalah jual beli manuskrip Indonesia di berbagai daerah di Indonesia. Benda langka dan kuno ini penting dan banyak menarik perhatian karena di dalamnya terdapat berbagai informasi, pemikiran, dan pengetahuan lokal mulai dari catatan harian para penguasa, surat-surat berharga, adat-istiadat, hukum, sejarah, keagamaan, arsitektur, makanan, astrologi, dan pengetahuan lainnya. Untuk memasuki dunia itu, katalog menjadi semacam pintu masuk bagi para peneliti untuk mendalami sejarah masa lalu Indonesia.
Keberadaan manuskrip Indonesia sebagai pustaka dunia dibuktikanjuga dengan apresasi berupa kajian yang dilakukan oleh pakar dari Indonesia dan pakar asing. Kajian terhadap manuskrip Indonesia ini sudah dilakukan sejak awal abad ke-19 oleh beberapa ahli budaya, seperti H.C. Klinkert dan Von De Wall. Menurut Baried, dkk (1994:50) minat terhadap teks-teks Nusantara berawal dari adanya pelajaran bahasa-bahasa Nusantara yang diberikan kepada para calon pegawai dan pejabat yang akan dikirim ke Indonesia. Mereka dibekali pengetahuan bahasa, ilmu bumi, dan kebudayaan. Kuliah pertama kali diadakan di Breda, tahun 1836 dan di Delf, tahun 1842. Taco Roorda dan Roorda van Eysinga diangkat sebagai guru besar. Pada akhirnya kuliah ini dipindahkan ke Fakultas Sastra Universitas Leiden, Belanda. Dari sini perkembangan kajian terus terjadi, bahkan beberapa ahli dari Inggris juga memberikan perhatian khusus pada teks-teks ini, seperti John Leyden, R.O. Winstedt, dan Hans Overbeck.
Pada tahap awal kajian teks-teks Nusantara bertujuan untuk menyunting. Berhubung tenaga peneliti masih terbatas, teks-teks yang diambil kebanyakan dari naskah Jawa dan Melayu. Hasil suntingan terbatas berupa penyajian teks dalam huruf aslinya dan pengantar. Suntingan seperti ini, diterbitkan tahun 1849 oleh Van Hoevel, Syair Bidasaridan pada tahun 1845 oleh Roorda van Eysinga Hikayat Sri Rama. Kajian berikutnya Sejarah Melayu oleh John Leyden (1921). Pada terbitan ini teks dialihaksarakan dan ditambahkan dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Suntingan yang serupa juga dilakukan oleh H. Over Beck (1922) terhadap Hikayat Hang Tuah.
Kajian berupa suntingan dengan kritik teks mulai dilakukan pada abad ke-20. Suntingan dengan mencari teks yang mendekati aslinya dilakukan oleh A. Teeuw (1966) dalam Hikayat Seribu Masail dan Shair Ken Tambuhan. J.J. Ras (1968) dalam Hikayat Bandjar dan Kota Waringin. Pakar dari Indonesia juga mulai mengikuti jejak ini, seperti Teuku Iskandar (1959) menerbitkanDe Hikajat Atjeh oleh Naguib al-Attas(1970) mengkajiThe Mysticism of Hamzah Fansuri dan S. Soebardi(1975), The Boek of Cabolek.Beberapa tahun kemudian telaah manuskrip menggunakan beberapa pendekatan penelitian sastra, seperti kajian Achadiati Ikram (1980) dengan Hikayat Sri Rama dan Edwar Djamaris (1999) Tambo Minangkabau, dan Partini Sardjono Pradotokusumo (1984) meneliti Kakawin Gadjah Mada dengan pendekatan interteks.
Berbagai telaah yang mengangkat sastra sejarah (historiografi) juga dilakukan oleh Chambert-Loir terhadap beberapa manuskrip Bima, (1) Syair Kerajaan Bima,(1982),Cerita Asal Bangsa Jindan Segala Dewa-Dewa,(1985) dan Bo’ Sangaji Kai (1999). Sampai saat ini manuskrip Indonesia terus dikaji pada tahun 2004 terbit shair Sinyor Kosta oleh A. Teeuw dkk, dan Syair Bidasar oleh Julian Millie, dan Karya lengkap Abdullah oleh Amin Sweeney.Lembaga penelitian yang terus memfokuskan diri dan menerbitkan kajian manuskrip Indonesia antara lainEFEO, lembaga penelitian Prancis, Universitas Leiden, dan KITLV,lembaga penelitian Belanda.
Akhir-akhir ini, penelitian manuskrip tidak sebatas pada kajian teks yang ditekuni filolog, tetapi juga didorong oleh kajian kodikologi yang mempelajari naskah (codex). Mulyadi (1994) mengatakan kajian kodikologi antara lain sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian tempat-tempat penyalinan, penyusunan katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah. Beberapa penelitian mengenai tempat-tempat (scriptorium) penyalinan mulai dilakukan, misalnya penyalinan naskah Merbabu-Merapi oleh Wiryamartana (1999) dan Wiryamartana, van der Molen, dan Kartika; naskah Bali oleh H.I.R Hinzler (1993); naskah Jawa oleh T.T. Behrent (1999); naskah Betawi oleh Teuku Iskandar, Chambert-Loir, Dewaki Kramadibrata, dan Maria Indra Rukmi; naskah-naskah Riau oleh UU Hamidi, Ding Choo Ming, Virginia Matheson, dan Mu’jizah. Dalam penelitian ini keindahan visual pada naskah-naskah bergambar mulai dikaji dan kajian itu di antaranya oleh Gallop dan Arps (1991), Gallop (1994) Janson Aan dkk (1995), dan Mu’jizah (2009). Iluminasi naskah Jawa diteliti oleh Tim Behrend (1999) dan Saktimulya (1996) serta prasi Bali oleh Suparta. Telaah seperti ini diperkaya lagi dengan terbitnya buku Illuminations yang disunting oleh Ann Kumar dan McGlynn (1994).
Kajian manuskrip dengan menampilkan manuskrip seperti aslinya juga dilakukan dalam bentuk edisi facsimile. Pada tahun 1993 Roger Toll dan Jan Just Wirkam menerbitkan Mukhtasar Tawarikh al-Wusta dan Ismailmenyunting Hikayat Isma Yatim.Untuk mengetahui berbagai kajian yang pernah dilakukan, pada tahun 1999, Edi S. Ekadjati dkk. menyusun Direktori Edisi Naskah Nusantara.Selain telaah, berbagai tulisan ringkas dalam beberapa jurnal masih berlangsung. Namun, jumlah jurnal juga belum banyak bertambah. Sampai kini kita masih membaca jurnalBKI (Belanda), JMBRAS (Inggris), Archipel (Perancis), ditambah dengan Jurnal Filologi (Malaysia), Wacanadan Lektur (Indonesia).
Bentuk apresiasi masyarakat dunia terhadap manuskrip Indonesia adalah pementasan di tingkat dunia. Pementasan yang masih hangat dalam ingatan kita adalah pementasan atau pertunjukan kelas dunia terhadap I La Galigo yang disutradai oleh Robert Wilson. Pementasan ini diselenggarakan di beberapa kota dunia, seperti Rotterdam (Belanda), Barcelona (Spanyol), New York (Amerika Serikat), Melbourne (Australia), dan Singapura serta Jakarta dan Makassar. Pada dasarnya kreasi ini juga sering diadakan di Yogyakarta di Candi Prambanan untuk pementasan sendratari Cerita Ramayana.
Pengelolaan Manuskrip sebagai Pustaka Dunia
Dari jumlahnya yang besar, pengetahuan yang beragam, ketersebaran yang luas,dan apresiasi yang tinggi, pemerintah harus mengelola dan menangani kekayaan intelektual bangsa ini dengan terencana. Pengelolaan itu ditujukan untuk kemaslahatan dan pemartabatan bangsa Indonesia di mata dunia. Program yang harus dilakukan adalah pengembangan, pembinaan, dan pelindungan terhadap manuskrip sebagai pustaka dunia.
Untuk keperluan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan langkah pertama yang dilakukan adalah penelitian sebagai dasar untuk studi kekayakan. Pengkajian yang perlu dilakukan antara lain pemetaan manuskrip Indonesia. Pemetaan yang dimaksud adalah menginventarisasi, merekam, mendokumentasi seluruh manuskrip yang ada dalam sebuah pangkalan data manuskrip Indonesia. Pangkalan data ini menjadi semacam pusat infromasi manuskrip. Untuk pendataan seluruh kekayaan itu diperlukan teknologi informasi yang dapat memudahkan mencatat, mendistribusikan, dan mengakses dengan teknik online. Dengan cara ini sosialisasi kekayaan intelektual bangsa Indonesia dapat dinikmati masyarakat dunia.Pada dasarnya usaha ini pernah dirintis oleh beberapa lembaga, tetapi belum menyeluruh. Untuk itu, pemerintah Indonesia yang harus melaksanakan program ini dengan pangkalan data yang lengkap.
Berbagai usaha pencatatan dalam berbagai katalog yang sudah disebutkan di atas dapat dikutip dengan mencantumkan sumbernya. Idealnya pemetaan itu juga dilengkapi dengan perekaman dan dokumentasi. Dengan adanya rekaman baik dalam bentuk foto digital, mikrofilm, atau mikrofis, penelitian lanjutan lebih mudah. Selain rekaman dilakukan juga pendokumentasian, yaknipengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan dengan cara yang benar.Dalam dokumentasi ini prioritas diberikan pada manuskrip milik perorangan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Jika pencatatan, perekaman, dan dokumentasi tidak segera dilakukan, manuskrip itu akan rusak atau hilang. Dengan rusak dan hilangnya manuskrip berarti hilang pula pemikiran dan pengetahuan yang ada di dalamnya.
Model pencatatan yang sangat lengkap dapat dicontoh dari katalogsusunan Wieringa (1998) Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts. Katalog ini sangat baik dan deksripsinya sangat rinci dengan berbagai indeks, seperti indeks judul, indeks tempat atau daerah, dan indeks cap kertas (watermarks), dan cap kertas tandingan (countermarks). Dalam penyusunan katalog manukrip selain keahlian filologi dan kodikologi juga diperlukan kesabaran dan ketekunan karena yang hadapi adalah buku kuno yang memerlukan perlakuan khusus.
Pelindungan dalam bentuk dokumentasi manuskrip saat iniharus segera ditingkatkandan perlu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Dokumentasi merupakan salah satu bentuk pelestarian yang sangat penting agar isi naskah tidak hilang. Iklim tropis seperti Indonesia sangat rentan bagi benda kuno itu, terutama alasnya yang tradisionalyang tidak dapat bertahan terhadap iklim tersebut. Di samping itu, serangan ngengat juga mengancam keberadaan naskah. Untuk itu, perawatan naskah menjadi prioritas utama. Namun, pada kenyataannya perawatan pada benda budaya ini sangat minim. Beberapa puluh tahun yang lalu dokumentasi dalam bentuk mikrofilm sudah dilakukan, tetapi perawatan mikrofilm itu tidak memadai sehingga mikrofilmnya lebih dahulu punah daripada manuskripnya. Saat ini dengan kemajuan teknologi, pendokumentasi yang lebih mudah dapat dilakukan dengan foto digital dan tenaga profesional.
Manuskrip yang berada di luar negara sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan karena manuskrip ini sudah dirawat dengan baik, tetapi sebagai pewarisnya ada kerinduanuntuk memilikinya. Di Perpustakaan Nasional terdapat beberapa manuskrip yang merupakan rekaman dari manuskrip di The British Library dan Perpustakaan Universitas Leiden, tetapi jumlahnya tidak banyak. Pemerintah harus menindaklanjutinya danbekerja sama dengan negara-negara pemilik manuskrip Indonesia tersebut.
Catatan dan dokumentasi harus dimasukkan dalam pangkalan data sehingga informasi dapat diakses dengan mudah oleh para peneliti. Kajian naskah dengan edisi teks sebagai sumber dan kajian antardisiplin harus dilakukan sebab di dalam teks itu terdapat beragam pengetahuan masa lalu yang memerlukan kepakaran khusus. Tugas filolog dan kodikolog adalah menyajikan teks dan mengungkap sejarah naskah. Berbagai pertanggungjawaban keilmuan dalam pengolahan manuskrip harus akurat.
Hasil kajian ini ditindaklanjuti untuk bahan pembinaan.Naskah warisan nenek moyang ini jangan terkesan hanya dilestarikan sebagai benda keramat, manuskrip ini harus diolah sebagai bahan bacaan penunjang atau bahan ajar muatan lokal. Salah satu bentuk olahan itu berupa penyusunan bahan ajar yang dapat dibaca untuk khalayak ilmiah dan khalayak umum tergantung pada kepentingannya. Penyusunan itu bisa dalam bentuk (1) edisi teks, (2) bacaan remaja, (3) antologi atau bunga rampai, dan (4) penyusunan buku sejarah.
Penyusunan bahan bacaan bagi siswa atau remaja yang bersumber pada naskah juga harus disusun agar generasi muda mengetahui nilai-nilai dan mereka mempunyai wawasan pengetahuan budaya asli mereka. Kita berharap mereka juga bisa mengapresiasi karya-karya klasik. Berbagai edisi ilmiah yang sudah ada dapat dipakai sebagai sumber. Upaya yang dilakukan Inggris dalam memperkenalkan karya klasik seperti Hamlet dan Shakespeare kepada anak-anak muda perlu ditiru. Bahan bacaan ini diharapkan dapat membangkitkan kreativitas remaja dan menumbuhkan minat terhadap sastra. Di samping itu, bahan bacaan ini juga menjadi alternatif bagi guru sebagai bahan pengajaran sastra di sekolah.
Penyusunan antologi atau bunga rampai merupakan salah satu upaya pemasyarakatan dan penyebaran informasi . Bahan bacaan itu diambil dari hikayat dan syair yang dikreasi dengan bahasa kini dan yang dipilih adalah tema-tema yang menarik.Di samping itu, hal yang penting juga dalam pengadaan bahan bacaan adalah penyusunan sejarah sastra, khususnya sastra trdisional. Dalam rangka pelindungan perlu dilakukan usaha untuk mengkontekstualkan isi manuskrip dengan masyarakat saat ini. Salah satu usaha yang dilakukan dengan cara aktualisasi, yaitu upaya pemasyarakatan isi manuskrip kepada masyarakat modern dalam bentuk terkini.
Kegiatan ini dilakukan agar masyarakat mengenal lebih jauh tentang kekayaan pemikiran. Upaya aktualkisasi ini di antaranya dengan cara penyaduran/penceritaan kembali, penerbitan ulang, alihwahana (alih bentuk) misalnya dari sastra klasik dialihkan bentuknya ke dalam film, sinetron, dan pementasan lain. Usaha lainnya adalah revitalisasi, memberdayakan kembaliisi teks di tengah masyarakatnya. Cara yang dilakukan mengenalkan kembali teks-teka lama kepada generasi muda. Karya-karya penting dan menjadi puncak perlu direvitalisasi dengan cara pengalihan pengetahuan dari generasi tua kepada generasi penerus/muda.
Penutup
Kekayaan bangsa Indonesia pada masa lalu dalam manuskripsangat besar. Di dalam manuskrip ini terdapat berbagai pemikiran bangsa dari berbagai suku di Indonesia, khususnya suku yang sudah mengenal sistem tulis. Pada masa lalu isi manuskrip dijadikan pegangan hidup dan falsafah. Di dalam manuskrip itu terkandung pengetahuan lokal, seperti sastra, keagamaan, budaya, primbon, ideologi, sosial, ekologi, dan politik. Saat ini manuskrip dari Indonesia tempat penyimpanannya sangat tersebar hingga mancanegara dan apresiasi yang diberikan oleh masyarakat dunia juga besar. Oleh sebab itu, untuk menangani hasil kekayaan intelektual bangsa ini diperlukan pengelolaan yang baik oleh pemerintah. Manuskrip ini termasuk sebagai karya hampir punah, alas tulisnya kurang lestari. Oleh sebab itu, banyak negara memberikan perhatian khusus dalam penyelamatannya.
Berbagai langkah perlu dilakukan dan bersama-bersama dalam usaha pelindungan. Pemerintah harus bekerja sama dengan lembaga yang berkecimpung di bidang ini untuk menyusun program pengembangan, pembinaan, dan penyelamatan. Kegiatan tersebut di antaranya berupa inventarisasi, penyusunan katalog, dokumentasi dan digitalisasi, penyusunan bahan ajar, aktualisasi, dan revitalisasi. Untuk kerja besar itu para profesional di bidangnya harus dilibatkan agar hasilnya berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Behrend, T.E. 1999. “Manuscript Production in the Nineteenth-Centra Java, Codicology and the Writing of Javanese Literary History”. Dalam BKI, 149, hlm.408—435.
Chambert-Loir , Henri dan Siti Maryam R. Salahuddin. 1999. Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima. Jakarta : EFEO dan Yayasan Obor Indonesia.
Chambert-Loir , Henri . 1999. Khazanah Naskah: Pnaduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Djamaris, Edwar. 1991. Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka.
Ekadjati, Edi S dkk. Direktori Edisi Naskah Nusantara.Jakarta: yayasan Obor Indonesia.
Ekadjati, Edi. 1988. Koleksi naskah Sunda tercatat dalam katalog yang berjudul Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.
Gallop, Annabel Teh dan Bernard Arps. 1991. Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia;Surat Emas: Budaya Tulis di Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
Florida, Nancy. 1981. Javanese Language MSS of Surakarta, Central Java: A Preliminary Desceriptive Catalogue. Ithaca: Cornell university.
Ikram, Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama: Suntingan Maskah disertai Telaah Amanat dan Struktur.Jakarta: UI Press.
McGlynn, John H. dkk. 1996. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia.Jakarta:Yayasan Lontar.
Mu’jizah. 2006. Martabat Tujuh: Tanda, Simbol, Makna. Jakarta: Djambatan.
----. 2009. Iluminasi dalam Surat Raja-Raja Melayu Abad ke-18—ke-19. Jakarta: KPG-EFEO
Mulyadi, Rujiati. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Robson, S.O. 1978. “Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional” dalam Bahasa dan Sastra, IV, 6, hlm. 3—48.
-----. 1988. Principle of Indonesian Philology. Dodrecht-Holland: Foris Publications.
Teeuw, A. dkk. 2004. A Merry Senshor in the Malay World Four Texts of the Syair Sinyor Kosta.Leiden: KITLV.
Saktimulya, Ratna.1996. Katalog Naskah Pakulamaman. Yogyakarta.
Wiryamartana, I Kuntara. 1999. “The Scriptoria in the Merbabu Marapi Area”. Dalam BKI, 149, hlm. 504—509.

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar