Sabtu, 07 Maret 2015

Mengusung Cerita Topeng Betawi Tempo Doeloe Menuju Pertunjukan Dunia

(Malam Kesenian Tempo Doeloe di Galangan VOC, Penjaringan, Jakut, Minggu 2 Desember 2012)

OLEH Siti Gomo Attas
tigo_attas@yahoo.co.id 08179139960
Staf Pengajar Universitas Negeri Jakarta

Abstrak


Mengusung “Cerita Rakyat Topeng Betawi Menuju Pertunjukan Dunia”. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui bentuk pertunjukan cerita Topeng Betawi sebagai tradisi lisan Betawi yang dipertunjukan pada Malam Pementasan Jakarta Tempo Duloe di Gedung Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) Pluit Jakarta Utara, Minggu 2 Desember 2012. Para tamu asing yang turut menghadiri undangan Bapak Wali Kota Jakarta Utara malam itu, terdapat 14 negara sahabat, antara lain, negara India, Jepang, China, Amerika, Singafura, Korea Selatan Afrika Selatan, dan lain-lain.

Tujuan tulisan ini untuk melaporkan isi pertunjukan kesenian Betawi secara estetis dengan konteks penonton dunia. Pertunjukan cerita Topeng Betawi, dipakai untuk mengemas struktur isi pertunjukan yang dinikmati oleh penonton dari berbagai negara. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriftif. Pertunjukan ini mendapat standing applause dari penonton karena kemampuan menyuguhkan historis kultural Indonesia ,terutama dari cerita yang disampaikan oleh pembawa acara bahwa pertunjukan itu adalah penggambaran cerita Topeng Betawi pada abad ke-19 di Batavia, ketika kolonialisme Belanda berlangsung.
Peranan estetis panggung juga sangat berperan sebagai media untuk mengusung cerita rakyat Betawi dengan peralatan musik, pencahayaan, panggung, dan kostum pemain tambah membuat pertunjukan ini semakin menarik. Sutradara pertunjukan dengan kepiyawaiannya telah mampu mengemas pertunjukan malam itu dengan model pesta taman di depan Gedung VOC. Ada tiga hal yang membuat pertunjukan ini menarik, yaitu (1) peran pembawa acara dalam menerjemahkan isi cerita Topeng Betawi ke dalam bahasa Inggris dengan baik, (2) nilai eksotik sejarah yang sama sebagai negara-negara yang pernah dijajah, dan (3) kepiyawaian sutradara menata pertunjukan dengan menarik, telah memukau penonton asing menyaksikan pertunjukan malam itu.
Kata Kunci: Pertunjukan, cerita rakyat Topeng Betawi, Galangan VOC, pembawa acara, nilai eksotik, dan sutradara
Pengantar
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara , khususnya Wali Kota Jakarta Utara menggelar Kesenian Tempo Tempo Doeloe di Galangan VOC, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu 2 Desember 2012. Tema acara itu “Memaknai kebudayaaan masa lalu untuk meraih asah yang akan datang”. Selain itu, untuk melestarikan budaya warisan sejarah bangsa Indonesia, pagelaran itu juga untuk menunjukkan kesenian Jakarta di sekitar Galangan VOC tempo dulu.
Pertunjukan itu menggelar komedi Jakarta dengan mengetengahkan cerita topeng yang diantar oleh dua perancag Betawi, yaitu Firman (32 Tahun) dan Jafar (38 Tahun). Pagelaran komedi ini menurut Bapak Wali Kota Jakarta Utara, Bambang Sugiono (2/12/2012) adalah untuk lebih mengangkat keberadaan wisata kota tua kepada masyarakat Jakarta dan Dunia Internasional sejarah Galangan kapal VOC, serta kesenian yang sering menghibur para pekerja pribumi dan kolonial Belanda tempo dulu di kota tua, khususnya sejarah dan budaya masyarakat Jakarta di tengah pluralistas masyarakatrnya yang berasal dari melting pot.
Pegelaran acara itu juga dihadari oleh pihak perwakilan negara asing , yaitu para duta besar dari 14 negara sahabat. Negara-negara itu, antara lain Belanda, Jepang, China , Perancis, Inggris, Amerika, Australia, Singafura, Malaiysia, Afrika Selatan, india, malaysia, Portugis, Nepal, dan lain-lain.
Negara-negara ini terkait dengan Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung khususnya dalam sejarah dan keberadaan kesenian dan kebudayaan Indonesia. Mereka sebagai perwakilan negara-negara, yang tentu saja, ingin mengetahui dan mengenang sejarah Galangan VOC dan budaya di sekitar Bandar Jakarta. Juga tidak terlepas dari keingintahuan mereka untuk melihat secara langsung bangunan unik itu dengan pameran dan penjualan hasil industri kreatif berupa kerajian miniatur kapal pribumi dan VOC, mata uang kuno yang berlaku sekitar abad ke-17-19 dan berbagai kerajinan dan foto-foto sejarah kolonialisme di Galangan Kapal VOC di masa lalu.
Antusiasme para perwakilan negar asing tersebut, yaitu keingintahuan mereka itu di picu oleh keinginan untuk menyaksikan peristiwa yang ada hubungannya dengan sejarah Galangan kapal melalui pertunjukan yang akan mereka saksikan melalui pertunjukan yang mengangkat cerita nasib Topeng Betawi di sekitar bangunan kuno itu. Keterkaitan emosi secara tak langsung pada sejarah kolonialisme bangsa asing di Indonesia di masa lalu. Persamaan kultur sebagai bekas kolonial bagi negara-negara asing itu juga turut membuat mereka peduli untuk mau menghadari pegelaran Kesenian Jakarta tempo dulu malam itu.
Pegelaran ini penting bagi Indonesia, terutama Jakarta sebagai pintu gerbang Indonesia, juga sebagai Ibu kota, tentuy harus siap dengan informasi-informasi sejarah dan budaya yang dikemas sebagai hasil kesenian masyarakat Jakarta Tempo Dulu. Untuk itu, peran serta pemerintah dan masyarakatnya harus mampu mengusung sebuah pertunjukan yang dapat memperkenalkan wisata Jakarta tempo dulu sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia di kancah nasional dan Internasional.
Pagelaran keesenian Jakarta dengan budaya Jakartanya yang lebih dikenal dengan budaya Betawinya, sangat pantas di angkat dalam pergelaran malam itu. Namun bagaimana mengemas kesenian pertunjukan yang bisa disukai oleh tamu-tamu negara asing malam itu tentu membutuhkan persispan pertunjukan yang menarik. Pertunjukan yang menarik harus memperhatikan beberapa hal, antara lain pengantar acara dengan bahasa yang dapat dipahami oleh audiens, nilai eksotik sejarah harus mampu digambarkan dalam pertunjukan, dan peran sutradara untuk bisa mengemaskannya dalam pertunjukan yang menarik.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Budi Darma (2008:2), bahwa sekarang tibalah saatnya Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan Timur memberi andil dalam memperkenalkan kebudayaan mereka kepada negara Barat, yang kini seperti kehilangan darah segar, kemunduran Barat menurutnya merupakan kemunduran negara-negara bekas penjajah/Barat. Kebudayaan Barat bagaikan hidup di tanah gersang (wasteland), orang-orang tampak gagah tapi kosong (the hollow men) dan para pelakunya hanyalah orang-orang dari generasi yang hilang (the lost generation). Inilah tanda-tanda, bahwa Barat pada hakikatnya telah kehilangan darah segar. Maka peluang ini harus ditangkap oleh Indonesia sebagai perwakilan budaya Timur untuk mengemas hasil kesenian yang dihubungkan dengan sejarah kolonialisme di Indonesia.
Selanjutnya Budi Darma menyatakan, bahwa di satu pihak kebudayaan Barat kehabisan darah segar, di pihak lain ekonomi mereka melaju dengan cepat. Mengutip pendapat Arthur Miller dalam drama All My Sons, dengan mengorbankan moral. Inilah sisi kebudayaannya, industri suku cadang pesawat tempur Amerika justru maju. Kendati ekonomi Barat mengalami masa-masa pasang surut, secara keseluruhan amat bagus, dan karena itu terciptalah istilah affluent sosciety, masyarakat yang kemakmurannya berlebih-lebihan. Sesuai dengan pidato D. Rosevelt setelah Perang Dunia I, banyak individu yang menjadi kaya, seperti yang tergambar dalam novel Hemingway, The Sun Also Rises. Kendati banyak orang kaya mendadak, namun mereka kehilangan landasan spirutual, mereka hanya mampu menghamburkan uangnya semata untuk kesenangan duniawi yang dikenal dengan “The lost generation” yang berarti generasi yang hilang. Di satu sisi menunjukkan, bahwa kondisi negara-negara Barat, khususnya Amerika, menjadi negara-negara affluent setelah perang dunia II justru mengalami kemerosotan budaya, mereka mengalami kemunduran pada bidang budaya dan spiritual.
Seiring dengan kemajuan teknologi di Barat dengan dampak kemerosotan spiritual dan budayanya, maka Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan Timur. sudah selayaknya segera bertindak. Bertindak di sini adalah berusaha memperkenalkan budaya kita dengan mengemasnya dalam berbagai kegiatan kesenian, terutama pertunjukan tradisi yang mendunia, misalnya saja Pertunjukan I La Galigo, cerita dari budaya Bugis Kuno yang diangkat dalam sebuah pertunjukan spektakuler oleh Sutradara terkenal Robert Wilson dari Amerika Serikat.
Pertunjukan itu telah berkeliling dunia dengan tiket yang cukup mahal. Pertunjukan La Galigo salah satu pertunjukan yang telah membuktikan bahwa Indonesia sebagai perwakilan budaya Timur, melalui kebudayaan lokalnya mampu diapresiasi dunia internasional. Pertunjukan tradisi lokal La Galigo yang telah menduania ini sebagai wujud dan tindakan nyata dari aset Indonesia dari bidang Kebudayaan yang harus terus digali dan diwujudkan dalam pertunjukan-pertunjukan yang mampu bersaing di kancah Internasional.
Permasalahannya bagaimana tindakan kita dapat terwujud dalam memeperkenalkan budaya sekaligus mengemas pertunjukan dengan konten lokal dalam pertunjukan dunia, seperti La Galigo, sementara keterpurukan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya membaik, sejak 1998 lalu sampai sekarang, Kondisi ini seharusnya dapat memicu darah segar seniman-seniman Indonesia untuk terus berkreatifitas, agar mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan dari lokal yang dikemas dalam pertunjukan modern yang tidak melepaskan sejarah karakter kelokalannya.
Belajar dari pemikiran pertunjukan yang telah mendunia, ada beberapa faktor yang harus diwujudkan dalam pertunjukan Malam Kesenian Jakarta Tempo Dulu di mata penontonnya, antara lain: (1) peran pembawa acara dalam menerjemahkan pagelaran itu, (2) Nilai eksotik sejarah dari sebuah pertunjukan, dan (3) kemampuan sutradara mengemas sebuah pertunjukan. Untuk mengetahui isi pertunjukan malam itu, penulis perlu menguraikannya sebagai beriku.
Isi Pertunjukan
Untuk membahas pertunjukan Jakarta tempo dulu di Bandar Jakarta, terlebih dulu dipaparkan isi pertunjukan malam itu. Pertunjukan dibuka dengan pengatar oleh pembawa acara dengan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahsa Inggris. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penampilan Keroncong Tugu, membawakan lagu-lagu nostalgia Bandar Jakarta, lagu-lagu yang dibawakan malam itu tidak hanya lagu dalam bahasa Indonesia, namun lagu bahsa portugis dan Inggris, hal ini dilatari sejarah Bandar Jakarta, tidak terlepas dari sejarah kolonilisme bangsa Portugis dan Inggris di Indonesia, sebelum datang Belanda. Kehadiran kelompok Keroncong Tugu di tengah acara pertunjukan Jakarta Tempo Dulu, tidak lepas dari sejarah terbentuknya kelompok Keroncong Tugu. Setelah beberapa lagu dibawakan acara dilanjutkan dengan Tarian Selamat datang oleh penari-penari belia dengan konteks tarian modern Jakarta, namun melepaskan karakter tarian Betawi yang masih kental. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan masuknya pertunjukan rancag sebagai narator cerita yang diangkat, yaitu lakon Topeng Betawi tempo dulu oleh perancag Firman (32 tahun) dan Jafar (38 tahun). Setelah penampilan rancag, mengantar cerita, selanjutnya para pemain memainkan peran mereka sesuai alur cerita.
Cerita dimulai dengan penggambaran suasana Galangan Kapal VOC, diringi musik, Adegan cerita dimulai, diceritakan ketika para kuli pribumi yang bekerja di sekitar Galangan Kapal VOC, mereka mengeluhkan tentang gajih mereka yang tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah. Banyolan pun sampai kepada cara bagaimana beristri lebih dari satu, jika gajih tidak cukup dan banyolan sekitar mandor Belanda yang mereka tirukan dalam menekan mereka.
Dialog cerita yang dimaikan adalah cerita keseharian para kuli di sekitar Ggalangan Kapal VOC yang sehari-hari bekerja keras namun keadilan tidak mereka peroleh. Tidak berapa lama mandor Belanda datang dengan gaya bahasa Belanda yang cadel, bahwa mereka akan dipotong gajinya jika tidak bekerja dengan baik. Selanjutnya pimpinan mandor Belanda datang dari atas kantor Galangan Kapal VOC, penonton di bawa pada suasana sejarah kolonialisme VOC ke masa lalu ketika kekuasaan VOC masih berlangsung.
Digambarkan Kepala Partai Dagang VOC, masa itu bahwa untuk meredam gejolak para kuli yang bekerja untuk kemajuan Negeri Kerajaan Belanda di bawa payung VOC, memerintahkan bawahannya untuk mencari rombongan kesenian di kampung untuk menghibur para pekerja di galangan kapal itu. Tidak berapa lama datanglah pimpinnan rombongan kesenian Topeng Betawi, dan menjelaskan bahwa ada kesenian Betawi yang bagus.
Kesenian ini dapat menghibur para kuli dan Mandor Belanda. Selanjutnya pimpinan rombongan dipersilakan oleh kepala mandor Belanda untuk memulai acara topengnya. Acara dimulai dengan ritual menyalakan obor pertanda tari topeng akan dimulai. Musik topeng pun mengiringi pertunjukan itu, dengan suasana yang magis karena acara topeng akan dimulai.
Selanjutnya kembang topeng pun masuk dan menari seperti orang kerasukan, dengan memakai topengnya penari meliuk-liuk di arena pertunjukan. Cerita kembang topeng sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari dua cerita riwayat yaitu Jaka Pertaka dan Sukma Jaya.
Kedua cerita tersebut mempengaruhi tindakan religi, yaitu (1) peran kembang topeng dalam ketupat lepas, (2) kembang topeng tidak menikah dengan pemain musik dan pimpinan topeng, dan (3) nyanyian Alloy oleh kembang topeng tidak boleh diwakili oleh orang lain.
Tindakan religi itu memiliki makna bahwa pertunjukan topeng dapat menolak bala atau musibah yang menanggap kelompok topeng dalam menolak bala itu, apakah bala itu sudah terjadi atau akan terjadi.
Musibah yang dapat ditolak, yaitu (1) berupa menolak adanya keluarga yang sakit, (2) menolak bahaya dari meninggalnya anak kandung yang terus menerus, dan (3) menolak musibah lainnya. Musibah itu dapat ditolak dengan adanya nazar jika sembuh atau menjaga musibah datang, diharuskan menanggap kelompok topeng.
Oleh karena itu orang Betawi sebagian mempercayai, bahwa perkumpulan Topeng Betawi dapat menghindarkan musibah dan menghindarkan kekuatan magis, “menghidupkan” dan “kematian” yang dapat ditolak dengan nazar dengan pertunjukan kelompok Topeng Betawi dengan upacara ketupat lepas, untuk memenuhi nazar yang sembuh dari sakit atau upacara menyalakan obor atau lilin untuk menjaga keselamatan dan keberkahan pada si penanggap topeng.
Gambaran cerita topeng yang selalu mengamen di sekitar Bandar Jakarta, atau kota tua tempo dulu bukan tidak beralasan, dengan kekuatan magis yang dipercayai oleh masyarakat Betawi, turut mendatangkan rezeki dari kelompok topeng ini, selain sebagai penolak bala jika seseorang memiliki nazar.
Pertunjukan cerita topeng dalam bentuk tarian dan nyanyian Alloy, adalah sebuah mithosyang dipercayai oleh orang Betawi mengapa mereka menaggap kelompok topeng. Selanjutnya setelah acara pertunjukan topeng acara di tutup dengan rancag bahwa demikianlah nasib kelompok topeng di sekitar Galangan Kapal VOC, selain ingin mencari nafkah juga menyebarkan kebaikan untuk menolong sesama untuk mengatasi persoalan hidup yang semakin sulit di masa itu, termasuk nasib para kuli Galangan Kapal VOC, yang tentu ingin melepaskan kepenatan selama bekerja, tentu memerlukan hiburan, selain fungsinya untuk menjaga keluarga mereka agar terhindar dari marabahaya seperti mithos kelompok topeng yang dipercayai oleh mereka. Setelah itu pertunjukkkan dilanjutkan dengan rancag penutup bahwa demikianlah isi cerita Topeng Betawi seperti yang telah disaksikan.
Penutup acara semua pemain dan pimpinan pertunjukkkan menaiki panggu dengan menyanyikan lagu perpisahan diringi musik Betawi dan alunan suara pembawa acara menutup pertunjukan cerita topeng tempo dulu.
Pembahasan
1. Pembawa Acara sebagai Pemandu Acara dengan Dua Bahasa
Peran pembawa acara sebagai pemandu dengan keahlian dua bahasa dalam mengkomunikasikan pertunjukan kepada penonton tidak dapat dihindari peran pentingnya dalam membawa acara. Fungsi bahasa sebagai ujung tombak media komunikasi untuk pemaparan isi pertunjukan kepada penonton, peram pembawa acara terutama pengusaan bahasa pengantar, yaitu bahasa Internasional, bahasa Inggris. Pada pertunjukan, Minggu, 2 Desember 2012, pukul 18.30. WITA, pembawa acara tampil prima dihadapan penonton, para undangan dari perwakilan kedutaan.
Selain pengusaan bahsa inggris yang bagus, pembawa acara harus ditunjang kemampuan wawasan terhadap sejarah pertunjukan yang akan disuguhkan. Pembawa acara harus mampu menyampaikan Pesan moral dari pertunjukan kepada penontonnya.
Pembawa acara harus mampu menjelaskan keingintahuan penonton, mengenai acara yang akan disuguhkan kepada penonton sehubungan dengan keunikan pertunjukan sangatlah penting. Kendati kita tahu penguasaan bahasa bagi pembawa acara juga sangat penting, pada hakikatnya bahasa hanyalah alat belaka untuk menyampaikan gagasan. Banyak faktor lain yang harus dimiliki oleh pembawa acara sehingga pertunjukan itu menarik bagi penonton asing.
Selain penguasaan bahasa dan wawasan bagi seorang pembawa acara, poin penting yang tak kalah penting adalah penampilannnya. Penampilan sebagai bagian penting untuk merepresentasikan pesan dan gagagsan dari isi pertunjukan mampu disampaikan dengan penampilan yang menarik.
Kelenturan tubuh dan penguasaan panggung pertunjukan juga sangat penting dikuasai oleh seorang pembawa acara, tanpa keluwesan berdiri di atas panggung dalam memandu acara, tentu akan terlihat kaku dan berpengaruh terhadap penampilannya sebagai pemberi informasi di hadapan penonton.
Ilmu public speaking amatlah penting dikuasai oleh pembawa acara agar tetap prima meski si pembawa acara sedang kalut dengan persoalan lain di luar acara.
Selanjutnya penguasaan global sangatlah penting bagi seorang pembawa acara agar penonton merasa segar dalam menerima informasi setiap acara berganti dari pertunjukan itu. Misalnya malam itu pembawa acara menguraikan sedikit sejarah mengenai Galangan Kapal VOC, sebagai tempat pertunjukan, sangat menarik. Informasi itu tentu menambah pengetahuan mereka sebab suasana yang digambarkan pembawa acara hadir di hadapan mereka.
Pembawa acara mampu menjelaskan keterkaitan suasana dengan sejarah Galangan Kapal VOC dengan sejarah kolonialisme asing di Indonesia . Penjelasan pembawa acara, bahwa meskipun kedudukan kantor Galangan Kapal VOC itu sudah tidak berfungsi, namun konsep bangunan dipertahankan guna dijadikan sebagai cagar budaya Indonesia, yang fungsinya kini telah berubah menjadi restoran milik pribadi seorang pengusaha restoran keturunan China.
Penguasaan sejarah oleh seorang pembawa acara itu menarik. Selain sebagai pemberi informasi, namun isi informasi global itu juga akan mengaitkan pada ikatan emosional penonton terutama dengan sistem kolonialisme di galangan Kapal VOC itu berlangsung di temapat pertunjukkkan itu.
2. Nilai Eksotik Sejarah dalam Pertunjukan
Kendati eksotisme bisa menjadi daya tarik terpenting dalam pertunjukan yang disaksikan oleh penonton asing, namun tidak semua eksotisme menarik untuk pertunjukan, terlebih lagi pertunjukan itu dihadiri oleh penonton yang memiliki wawasan keilmuan yang cukup tinggi seperti tamu undangan perwakilan dari kedutaan asing di Indonesia, seperti pada malam itu (Minggu,2/12/2012).
Mungkin saja gagasan sebuah pertunjukan tradisi itu dapat disampaikan oleh pembawa acara dengan bahasa Inggris yang fasih, namun masalah utama yang tak kalah penting, apakah gagasan pertunjukan itu „in tune”, yaitu sejalan dengan penontonnya dan harapan penontonnya.
Pertunjukan dengan label tradisi yang kental dengan lokalitas bukan sekedar „in tune” juga harus bisa menunjukkan adanya ikatan emosional penonton, misalnya dibutuhkan pengalaman budaya penonton tentang isi pertunjukan yang disaksikan dari segi sejarah melalui pertunjukan kesenian..
Ketika para undangan memasuki tempat pertunjukan yang bernuansa abad ke-17 dengan pemandangan taman yang dikelilingi tembok pagar bagunan Galangan Kapal VOC, mereka diberi liflet oleh panitia pertunjukan, berupa susunan acara dan narasi pertunjukan yang mereka akan saksikan. Di dalam liflet tersebut dideskipsikan acara pertunjukan Topeng Betawi yang memiliki fungsi magis bagi penangggap kelompok topeng dan penontonnya, terutama Topeng Betawi tempo dulu yang ngamen di sekitar Galangan VOC, sebagai latar pertunjukan malam itu. Kaitan kekuatan magis pertunjukan dengan suasana Galangan VOC sebagai salah satu wujud eksotik dari pertunjukan malam itu.
Masalah eksotisme pertunjukkan, juga dikaitkan dengan ikatan emosional antara penonton dengan isi pertunjukan, misalnya situasi dan kondisi kolonialisme di Indonesia, seharusnya telah terekam oleh memori penonton sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ikatan emosional secara langsung, misalnya ketika kolonilaisme berlangsung sejak abad ke-16 di Indonesia, sebuah memori kolektif antara penjajah dengan terjajah.
Ada keinginan untuk mengetahui sistem kolonialisme di Indonesia dan hubungannya dengan negera mereka, seperti penonton dari Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang. Memori kolektif mereka harus mampu merekam kejadian masa lalu itu, artinya ada ikatan emosioanal dengan Indonesia. Bagaimana sistem kolonialisme di Indonesia berlangsung dan hubungannya dengan pertunjukan yang akan mereka saksikan malam itu.
Jika kita hubungkan dengan sistem kolonialisme di Indonesia, terutama negeri Belanda tentu ikatan emosional itu sangatlah kuat, bahwa Galangan Kapal VOC adalah simbol kebesaran politik dagang Belanda saat itu. Ketika kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Galangan Kapal VOC, yang dulu terletak di Batavia berdiri sekitar tiga ratus tahun lalu.
Dijelaskan dalam sejarah, bahwa kawasan ini diberi nama Pasar Ikan menjadi pusat perdagangan utama di Asia saat itu. Bahkan ada yang menyebutkan hampir selama dua abad wilayah ini merupakan urat nadi suatu jaringan niaga, yang terentang dari Pulau Dessirma di Nagasaki (Jepang) sampai Cape Town (Afrika Selatan) dan dari Ternate sampai Bandar Surat di pantai Teluk Arab.
Nilai eksotik Galangan Kapal VOC sebagai tempat pertunjukan, juga dihubungkan dengan sejarah Galangan VOC ini, yang menjelaskan bahwa keberadaan Galangan Kapal VOC amat penting bagi jaringan niaga sedunia, yang berlangsung dengan memakai kapal-kapal layar.
Kapal-kapal berukuran besar kecil ini bongkar muat di galangan itu, dan berlayar mengarungi lautan fasifik , Hindia serta Atlantik dan singgah di berbagai pelabuhan antara Amsterdam dan Nagasaki, antara Hormuz (Pesia) dan Pulau Banda. Menurut salah seorang pengelolah Galangan VOC, kepada penulis (Minggu, 2/12/2012), bahwa diperkirakan Galangan VOC berdiri tahun 1628 yang semula fungsinya sebagai kantor dan tempat dagang VOC. Luas areal Galangan VOC sekarang ini 2.000 meter persegi, Usia galangan VOC ini diperkirakan lebih tua dari Musium Bahari, yang juga sebagai salah satu tujuan wisata Kota Tua.
3. Sutradara Pertunjukan
Dalam unsur pertunjukan tradisi seperti, pertunjukan Jakarta Tempo Dulu Minggu, 2 Desember 2012 itu, peran sutradara sangat penting. Jika kita mengingat pertunjukan I La Galigo yang sempat berkeliling dunia,juga tidak lepas dari peran sutradara Robert Wilson, seorang sutradara berpengalaman dari Amerika Serikat. Menunjukkan Kemampuannya bersenergi dengan para pendukung pertunjukan, menjadikan pertunjukan ini mampu diterima dalam pertunjukan ajang internasional, samapai berkeliling Dunia.
Begitu pun dengan pimpinan pertunjukan Malam Kesenian Tempo Dulu, pimpian Bapak Abas dalam menampilkan pertunjukan malam itu, lebih awal telah melakukan gladi bersih acara pertunjukan sejak siang hari sampai sore hari menjelang final pertunjukan. Bapak Abas dengan pengalamannya telah mempersiapkan panggung pertunjukan, pengaturan musik pertunjukan, pemain, pengeras suara, pengatur suara (sound system), dan media pertunjukan lain yang harus dipersiapkan sebelum final acara. Tujuan Sutradara tidak lain adalah hasil pertunjukan yang berkualitas.
Unsur pertunjukan yang di kolaborasikan antara pertunjukan tari modern Betawi, dengan lagu-lagu nostalgia Kelompok keroncong Tugu, termasuk para pemusik kelompok kesenian Kota Tua dengan Kelompok Musik Gali Putra Pimpinan Firman Jali Jalut.
Isi pertunjukan harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang sesekali dibacakan oleh pembawa acara di dalam memimpin acara juga tidak lepas dari pengaturan Sang Sutradara Abas. Kesiapan itulah yang membuat pertunjukan malam itu begitu meriah di suasana Galangan VOC malam itu.
Untuk itulah Sutradara pertunjukan Kesenian Tempo Dulu di Galangan VOC, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Minggu (2/12/2012), secara umum membuat penonton kagum atas keseluruhan pertunjukan malam itu. Sutradara Abas dari Dinas Pariwisata DKI ingin menyuguhkan pertunjukan yang memiliki nilai eksotik kultural dengan memotret sejarah kolonialisme tempo dulu di sekitar Bandar Jakarta. Sutradara Abas mengemas pertunjukan ini dilhami oleh cerita Topeng Betawi, Gambaran nasib penari topeng pada masa kolonialisme sangat memprihatinkan. Berikut adalah kutipan contoh pertunjukan penari topeng Kartini mendapat sambutan meriah penonton dari berbagai negara malam itu:
“Seorang penari topeng bernama Kartini memasuki panggung pertunjukan. Di hadapannya adalah para pria dan wanita berpakaian necis yang duduk manis di tempat empuk dengan suasana taman Galangan VOC, Penjaringan Jakarta Utara. Mereka adalah para penonton “Para Duta Besar dari 14 Negara” untuk menyaksikan pertunjukan “Malam Kesenian Tempo Dulu” Sejurus kemudian, dia membalikkan badan, membelakangi penonton sambil tak henti menggoyangkan punggung.
Diambilnya topeng berwarna putih, sementara iringan rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, goong, bende terus terdengar. Setelah beberapa saat menimang-nimang dengan tangan kirinya, dikenakannya topeng itu. Topeng Panji yang melambangkan kelembutan, dibawakannya lewat tarian yang lemah lembut untuk menyambut penonton.
Usai mengenakan topeng Panji, Kartini kembali berbalik membelakangi penonton. Ditaruhnya topeng tersebut dan dikenakannya topeng berwarna merah muda (topeng Sanggah). Gerakannya terlihat lebih atraktif dan agresif. Tempo musik pengiring yang dimainkan para nayaga pun makin dinamis, seiring dengan digantinya topeng berwarna merah menyala (topeng jingga) bermotif raksasa.
Gerakan tangan lentik berubah mengepal diacungkan ke atas, sementara gerakan kakinya terbuka memasang kuda-kuda, hingga musik kembali mengalun dan berhenti. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh, dan Kartini, sebagai kembang Topeng tersenyum (Kutipan, pertunjukan embang Topeng Kartini, (2/12/2012).
Gambaran pertunjukan di atas adalah pertunjukan Kartini ketika mempertunjukan tari di atas panggung. Penari Kembag Topeng yang begitu atraktif dalam pertunjukan. Di dalam konteks ini ia sebagai Kembang Topeng yang mencoba mengekspresikan cerita dalam sebuah tarian. Bahwa kini Kembang Topeng sudah hidup kembali oleh kekuatan yang telah ditiupkan dewa (dalam mitos Jaka Pertaka dan Sukma Jaya) kepada Kembang Topeng.
Dalam sejarah Topeng tempo dulu Kelompok Topeng mengamen di sekitar Bandar Jakarta, yang tentu penuh hiruk pikuk mobilitas perdagangan, terutama oleh organisasi dagang Belanda VOC. Sebagai organisasi perdagangan yang kuat tentu memiliki modal kekuasaan, baik secara politik maupun secara modal kapital yang dimiliki VOC pada saat itu tidak sulit untuk bisa menghadirkan Kelompok Topeng atau menanggap kelompok kesenian Topeng Betawi sebagai kesenian kampung (istilah pelabelan saat itu) dengan bayaran sesuai kemauan mereka. Undangan itulah yang dipotret oleh sutradara Abas, bagaimana hubungan kepala VOC Belanda menghadirkan grup kesenian ini untuk menghibur menghibur mereka dan para kuli pribumi yang dipekerjakan oleh VOC Belanda, termasuk para mandor Belanda yang ingin berleha-leha menari dengan para penari Topeng. Gambaran itu cukup masuk akal karena bangsa Belanda saat itu bisa berpoya-poya di negeri jajahannya dengan berbagai hiburan pribumi.
Kesuksesan sutradara dalam menampilkan pertunjukan malam itu juga ditunjang oleh kolaborasi berbagai bentuk kesenian yang dapat berkolaborasi. Menurut Jenifer Linsdsay seorang penulis pertunjukan La Galigo (2007), bahwa keberhasilan seorang sutradara dalam mengembangkan kualitas pertunjukan, jika sutradara dapat merancag pertunjukan dengan tata cahaya, yaitu sebagai unsur dominan pementasan.
Oleh karena itu menurutnya sutradara juga harus memperhatikan musik tradisional dengan musik modern, kolaborasi musik ini juga harus dipadukan agar kenikmatan musik tetap mepertahankan karakter lokal, namun tidak terlalu asing di telinga penonton, yang telah terbiasa musik modern. Pada Pertunjukan itu, sang sutradara Abas mampu mengkolaborasikan musik topeng dengan musik gambanag kromong dengan tetap menyentuhnya dengan sedikit musik modern.
Kolaborasi tari juga turut dipertunjukan dalam pertunjukan malam itu, tari tradisi Topeng Betawi dikolaborasikan dengan baik dengan tarian koreografi modern, unsur ketradisiannya tidak menghilangkan karakter tari Betawi. Sutradara juga menggunakan kemampuan unsur kata yang sesekali meramaikan pertunjukan, spontanitas sebagai inprovisasi yang diucapkan oleh pemusik dengan tujuan ekspresi pemusik agar selalu bersemangat dalam mengiringi pemain lakon.
Nyanyian sendu kembang topeng dalam pertunjukan juga sebagai bentuk penggambara suasana cerita, nasib kembang topeng terdengar melalui irama lagu Alloy, sebagai penjelas kesedihan dan kemagisan cerita topeng.
C. Kesimpulan
Sebagai sebuah apresiasi budaya oleh anak bangsa, dengan kemampuan menggelar pertunjukan tradisi lisan Betawi berupa cerita rakyat Topeng tempo dulu yang dikolaborasikan dengan beberapa pertunjukan kesenian yang berlatar Galangan Kapal VOC tentu sangat memuaskan penonton sebagai tamu perwakilan kedutaan yang diundang oleh Walikota Jakarta utara, Bambang Sugiono (Minggu, 2/12/2012).
Usaha ini adalah sebagai peran strategis Pemerintah DKI, khusus Wali Kota Jakarta Utara untuk memperkenalkan wisata kota tua kepada dunia internasional. Tentu saja tindakan ini sangat bagus, karena hanya melalui pertunjukan kesenian tempo dulu dapat menghadirkan keingintahuan penonton asing mau menonton sebuah pertunjukan.
Ujung tombang pertunjukan kesenian tempo dulu di Galangan VOC, tentu tidak lepas dari peran pembawa acara. Dalam pengusaan bahasa asing yang dimiliki oleh pembawa acara pada malam itu sangat penting untuk bisa menarasikan isi pertunjukan, guna membantu penonton asing dalam menikmati dan memaknai isi pertunjukan.
Selain itu, tidak hanya peran pembawa acara dalam penguasaan bahasa asing, karena bahasa hanya sebagai alat untuk mengkomunikasikan isi pertunjukan melalui bahasa, namun hal penting yang perlu juga dikuasai oleh pembawa acara dalam mengantar acara pertunjukan harus ditunjang penampilan.
Bentuk penampilan yang prima dengan kostum yang disesuaikan dengan tema pertunjukan jelas sangat membantu penampilan pembawa acara dalam membawakan acara pertunjukan di depan para penonton. Selanjutnya wawasan pembawa acara juga dibutuhkan, khususnya wawasan sejarah wista kota tua, termasuk sejarah Galangan kapal VOC sebagai tempat pertunjukan, harus mampu mengaitkan dengan acara yang akan dipertunjukan.
Selanjutnya masalah eksotisme pertunjukan juga perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan pertunjukan malam itu. Tidak semua eksotisme menarik diangkat dalam sebuah pertunjukan. Maka eksotisme seperti apa yang menarik, yaitu eksotisme yang dapat menciptakan ikatan emosional antara isi pertunjukan dengan penonton. Tempat pertunjukan sebagai latar pertunjukan malam itu adalah Galangan Kapal VOC, penetapan tempat acara itu, sebagai upaya panitia untuk menghadirkan eksotisme bangsa Indonesia dengan sejarah kolonialisme Belanda, karena di sekitar Galangan VOC inilah, dahulu kuli-kuli pribumi bekerja dengan keras untuk memenuhi target armada dagang Belanda yang sangat kuat pada masa abad ke- 16-17 M. Para kuli pribumi disiksa dan dipaksa untuk bekerja demi keuntungan armada dagang Belanda VOC saat itu. Adanya ikatan emosional yang kuat antara Belanda dengan Indonesia adalah sebagai bentuk eksotiasme yang menarik untuk diangkat dalam pertunjukan kesenian sebagai titik balik sejarah keberadaan para kuli pribumi dengan pasukan armada dagang VOC. Selain itu sebagai negara kolonialisme yang mampu diangkat sebagai tema kesenian yang eksotis, yaitu kesenian cerita Topeng Betawi yang memiliki mitos untuk menolak bala, juga dapat dijadikan sebagai pertunjukan yang mendatangkan eksotisme tersendiri terhadap sebuah kehidupan magis dari seorang kembang topeng yang dercayai di masyarakat Betawi.
Lepas dari masalah ikatan emosional antara penjajah dan terjajah, bangsa Indonesia dengan Belanda sebagai bentuk eksotisme, termasuk pertunjukan topeng tempo dulu, tentunya harus dikaitkan dengan tindakan ritual, sebagai bentuk eksotime dengan kepercayaan magis masyarakat Betawi terhadap rombongan topeng sebagai syarat sebuah pertunjukan yang dapat disukai oleh penonton asing.
Peranan sutradara dalam mengemas bentuk eksotisme pertunjukan juga di barengi oleh kepekeaan sutrdara dalam mengkolaborasikan bernbagai kesenian dalam satu pertunjukan yang utuh. Mulai dari kolaborasi tari, yaitu tari tardisional dengan tari modern dengan koreografi yang unik dan indah, kolaborasi musik antara musik tradisional topeng dan gambang kromong dipadukan dengan musik modern, kolaborasi lagu modern dengan lagu magis Alloy, yang dinyanyikan oleh kembang topeng, termasuk isi cerita topeng yang dikolaborasikan dengan lakon lenong sebagai teather tradisi, dengan ditunjang oleh perlengkapan suara yang modern, termasuk sistem pencahayaan sebagai wujud pertunjukan yang berkualitas acara pertunjukan itu mampu memberi suguhan pertunjukan yang disukai oleh penonton dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Saputra, Yahyah dkk. 2009. Profil Seni Budaya Betawi. Jakarta: Jakarta City Government Tourism & Culture Office.
Ali, Rahmat.1993. Cerita Rakyat Betawi. Jakarta:PT Gramedia.
Bascom, William R. 1965.”Four Functions of Folklore”. Dalam Alan Dundes (ed). The Study of Folklore. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall Inc.
Chaer. Abdul. 2012. Folklor Betawi: Kebudayaan Kehidupan Orang Betawi . Jakarta: Masup Jakarta.
Danandjaja, James. 1972. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta: Pustaka Umum Graffiti.
Darma, Budi. 2008. Sastra Indonesia dan Sastra Dunia . Dalam Kongres IX Bahasa Indonesia,
Jakarta 28 Oktober – 1 November 2008.
Kleden-Probonegoro, Ninuk. 1987. “Topeng Betawi Sebagai Teks dan Maknanya: Suatu Tafsiran Antropologi” Disertasi Universitas Indonesia.
Koesasi, Basuki.1992. Lenong dan Si Pitung. Australisa: Centre of Southeat-Studies Australia National University.
Kiftiawati. 9 Maret 2011. “Bertahan dalam Teriknya Zaman Nyi Meh, Kembang
Topeng Betawi”. http://langgambudaya.ui.ac.id/betawi/artikel/detail/14/bertahan-dalam-teriknya-zaman/. (5 Maret 2013).
Lindsay, Jennifer. 2007. Harapan-Harapan Intercultural I La Galigo Singafura: The Darma Review Vol. 5 November 2 (T 194) , Summer 2002.
Ong. Walter J. 1989. Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. London: Methuen.
Pudentia dan Roger Tol. 1995. “Tradisi Lisan Nusantara: Oral Tradistions from the Indonesian Archipilago a Three–Directional Approach”, dalam Warta ATL Edisi Perdana (Maret).
Rusyana, Yus. 1978. Sastra Lisan Sunda Cerita Karuhun Kejajaden dan Dedemit. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Ruchiat, dkk. 2003. Ikhtisar Kesenian Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi DKI Jakarta.
Sopandi, Atik dkk. (1992). Gambang Rancag. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Shahab, Y.Z. 1994. The Creation of Ethnic Tradition Betawi of Jakarta. Disertasi S3 Tidak di Publikasikan. London: School of Oriental and African Studies, University of London.
Sedyawati, Edi, 2001 . Pertumbuhan Seni Pertunjukan . Jakarta: Sinar Harapan.
Shahab, Y.Z. 2004. Identitas dan Otoritas: Rekonstruksi Tradisi Betawi. Depok: Laboratorium Antropologi, FISIP UI.
Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra Indonesia Beberapa Masalah Penelitian dan Penyebarannya. Jakarta: Balai Pustaka.
Tourism of Nort Jakarta. Kenalilah 12 Jalur Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara.
Lindsay, Jennifer. 2007. Harapan-Harapan Intercultural I La Galigo Singafura: The Darma Review Vol. 5 November 2 (T 194) , Summer 2002.
Foto Penari Topeng, Koleksi Siti Gomo Attas (Minggu, 2/12/2012)
Perancag Firman dan Jafar Koleksi Siti Gomo Attas (Minggu, 2/12/2012)

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 di Jakarta, yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar