Selasa, 17 Maret 2015

Puisi sebagai Media Pendidikan Berbasis Lingkungan Hidup

OLEH Drs Indra Jaya Nauman, M.Pd.
Pengawas Sekolah Kota Padang, Sumbar
Abstrak
Salah satu tuntutan pendidikan masa depan adalah pendidikan berbasis lingkungan hidup. Untuk pelaksanaan pendidikan berbasis lingkungan hidup diperlukan berbagai media. Dalam makalah ini ditawarkan salah satu media pembelajaran berbasis lingkungan hidup adalah puisi. Terdapat beberapa keunggulan puisi sebagai media tersebut, yaitu: (1) Puisi merupakan refleksi masyarakat, (2) Puisi memiliki pilihan kata khusus, (3) Puisi berkaitan dengan sentuhan perasaan. Terdapat banyak puisi tentang lingkungan hidup, yang dapat diklasifikasikan atas; (1) puisi yang menjadikan lingkungan hidup sebagai atribut, (2) puisi yang menjadikan lingkungan hidup sebagai tema, (3) puisi yang memberikan citra lingkungan hidup yang seimbang, dan (4) puisi yang memberikan citra lingkungan hidup yang tidak seimbang.

Kata Kunci: puisi, media, pendidikan berbasis lingkungan hidup, komponen biotik, komponen abiotik, atribut puisi, tema puisi, lingkungan hidup yang seimbang, lingkungan hidup yang tidak seimbang.
Pendahuluan
Pada suatu kesempatan saya bersama keluarga melewati salah satu jalan utama di Kota Padang. Di depan saya melaju sebuah mobil bagus, menurut ukuran saya cukup mewah. Saya tidak mengenali mobil dan penumpangnya. Namun, saya terkesima ketika melihat dari jendela mobil itu dilemparkan kulit buah-buahan. (Barangkali itu kulit buah duku karena di Padang saat itu sedang musim buah duku)
Mulanya saya mengomel. Pada masa sekarang ini masih ada orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal, di berbagai tempat telah terpajang spanduk berisi ajakan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, apalagi di jalan raya seperti di jalan utama. Alangkah naifnya, kalau itu dilakukan oleh orang-orang terpandang, berduit dan berpendidikan (seperti penumpang mobil yang melaju di depan saya).
Saya merenung. Mungkin penumpang mobil yang membuang kulit buah duku di jalan raya itu tidak salah. Bisa saja mereka berpendidikan tinggi, punya banyak uang sebagai hasil pendidikan dan kerja keras mereka. Tetapi, mereka belum terdidik menjadi warga yang ”sadar lingkungan”. Memang, pendidikan pada masa lalu (sebelum tahun 1990-an) belum menjadikan masalah lingkungan hidup sebagai salah satu isu, apalagi akan berbasis lingkungan hidup (Green Education).
Membuang sampah di sembarang tempat hanyalah salah satu unjuk perilaku yang ”tidak sadar lingkungan”. Perilaku serupa juga banyak kita saksikan. Misalnya, membabat hutan dan pohon semata-mata untuk kepentingan ekonomi, melakukan penambangan tanpa memperhitungkan dampak lingkungannya, membangun pabrik, industri tanpa mempedulikan pembuangan limbahnya, dan banyak contoh lainnya.
Akibat buruk dari perilaku yang ”tidak sadar lingkungan itu” sudah dirasakan sekarang oleh kita semua, tidak hanya oleh mereka yang melakukan. Dalam skala internasional masalah lingkungan hidup adalah (1) pemanasan global, (2) keanekaragaman hayati, (3) lubang ozon. Dalam skala nasional/regional muncul masalah (1) tercemarnya tanah, air dan udara, (2) terjadinya erosi, banjir, pendangkalan sungai, dll., (3) berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati, (4) dan lain-lain.
Semua itu adalah ”dosa pendidikan” masa lalu yang tidak memprediksi akan terjadinya perusakan lingkungan oleh manusia, sehingga isu lingkungan tidak menjadi perhatian dunia pendidikan. Sekarang, dunia pendidikan sudah taubat. Masalah lingkungan hidup telah menjadi salah satu isu utama dalam pendidikan, sehingga dikenal istilah ”Green Education”. Persepsi sudah sama, sudah sepakat bulat, tidak ada lagi perdebatan tentang ”Green Education”.
Makalah ini juga tidak akan membahas tentang perlunya “Green Education”, tetapi akan membahas , “Bagaimana penerapannya di lingkungan pendidikan?” Salah satu pilihan yang akan ditawarkan adalah dengan memanfaatkan karya sastra, khususnya puisi, sebagai media untuk penanaman kesadaran lingkungan, atau puisi sebagai media pendidikan berbasis lingkungan hidup.
Mata Pelajaran atau Terintegrasi
Kesadaran untuk menanamkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan (pembelajaran tentang lingkungan hidup) sudah mulai sejak akhir tahun 1990-an. Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayan meluncurkan program “sadar lingkungan” ke sekolah. Sekolah yang telah menerapkan pendidikan berbasis lingkungan diberi penghargaan ”Adiwiyata”.
Penanaman kesadaran lingkungan melalui pendidikan di sekolah tampil dalam dua format. Pertama dilakukan melalui mata pelajaran tersendiri. Biasanya ini dalam bentuk kurikulum ”muatan lokal” karena dalam struktur kurikulum nasional belum ada mata pelajaran lingkungan hidup. Format kedua, materi lingkungan hidup diintegrasikan dalam mata pelajaran lain., seperti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggeris, Pendidikan Agama, dlll.
Untuk kepentingan yang pertama (lingkungan sebagai mata pelajaran), Kementerian Lingkungan Hidup melalui Balai Lingkungan Hidup telah pernah menyusun buku ajar dan buku panduannya bekerja sama dengan jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat dan Riau. Sedangkan untuk format kedua (materi lingkungan diintegrasikan dengan mata pelajaran lain) diserahkan langsung kepada guru yang bersangkutan.
Apapun format pembelajaran yang dipilih, pasti memerlukan bahan dan media pembelajaran. Ada beberapa materi, bahan, dan media pembelajaran yang dirancang oleh Kementerian Lingkungan Hidup, seperti modul, alat peraga dan sebagainya. Salah satu media yang layak untuk dipertimbangkan dan digunakan adalah karya sastra dalam bentuk puisi.
Mengapa Harus Puisi?
Terdapat beberapa alasan mengapa karya sastra puisi sangat baik digunakan sebagai media pendidikan, termasuk pendidikan berbasis lingkungan (Green Education). Alasan-alasan itu antara lain: (1) Puisi merupakan refleksi masyarakat, (2) Puisi memiliki pilihan kata khusus, (3) Puisi berkaitan dengan sentuhan perasaan
Menurut Esten (1989) penciptaan karya sastra, -termasuk puisi, merupakan sintesis dari realitas objektif dengan realitas imajinatif. Realitas objektif adalah kenyataan berupa peristiwa, fenomena dalam kehidupan nyata. Realitas objektif itu menjadi sumber inspirasi bagi seorang penyair untuk mencipta puisi. Realitas objektif itu diolah dengan daya imajinasi penyair, maka lahirlah puisi sebagai sebuah realitas imajinatif,
Puisi juga merupakan produk budaya. ”Sebagai suatu produk budaya, puisi tentu tidak dapat melepaskan diri Dari persoalan-persoalan kemanusiaan yang terdapat dalam satu masyarakat.” (Tim: 1994:13) Bahkan, Teeuw (1984:43) menyebut karya sastra sebagai gejala masyarakat. Pendapat ini juga diakui oleh penyair Hartoyo Andangjaya (1991:4) yang mengatakan bahwa puisi merupakan refleksi dari masyarakat pada masa tertentu.
Bertolak dari teori tersebut, maka jika kita memahami dan membandingkan puisi ”Sawah” karya Sanusi Pane dan ”Sawah” karya Ali Hasymi dengan puisi ”Membaca Tanda-tanda” karya Taufiq Ismail dan puisi ”Kesaksian Lingkungan” karya Abdul Rozak Zaidan, maka berarti kita sudah membandingkan keadaan pada masa penciptaan puisi Sanusi Pane dan Ali Hasymi (tahun 1920-an) dengan keadaan masa penciptaan puisi Taufiq dan Abdul Rozak (tahun 1980-an).
Pada tahun 1920-an, keadaan alam Indonesia masih segar, belum tercemar, dan menyenangkan. Lihatlah ungkapan kedua penyair tersebut.
.......................................................................
Sungai bersinar, menyilau mata
Menyemburkan buih warna pelangi
Anak mandi bersuka hati
Berkejar-kejaran, berseru gempita
Langit lazuardi bersih sungguh
Burung elang melayang-layang
Sebatang kara dalam udara
(“Sawah”: Sanusi Pane)
………………………………………
Keadaan itu sungguh sangat berbeda dengan keadaan alam pada tahun 1980-an, pada masa penciptaan puisi Taufiq dan Abdul Rozak. Tidak ada lagi larik yang menyanjung keindahan alam, yang ada adalah larik-larik yang mengungkapkan kemurkaan alam. Lihatlah puisi “Membaca Tanda-Tanda” dan “Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung” karya Taufiq Ismail, “Solitude” karya Eka Budianta, dan lain-lain.
Salah satu keistimewaan puisi dibandingkan dengan karya tulis, bahkan karya sastra lain adalah pada pilihan kata atau diksinya. Puisi memiliki pilihan kata khusus, indah dan padat. Bahkan, pada puisi tertentu penyair sengaja memperhitungkan rima dan persajakannya. Kekhususan pilhan kata yang memperhitungkan persajakan dan perimaan itu dapat disamakan dengan lapis bunyi (sound stratum) oleh Pradopo (1997).
Lihatlah puisi-puisi Taufiq Ismail. Puisi-puisinya sangat cermat dalam pemilihan kata. Untuk menggambarkan sesuatu yang paling kecil, Taufiq tidak menggunakan kata sebesar atom, biji zaraah (ungkapan yang sudah biasa), tetapi dia menggunakan ungkapan ”sejarum peniti”. Begitu juga untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat besar, dia menggunakan ungkapan ”sepunggung gunung”. Sehingga lahirlah judul puisinya ”Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung” yang dapat dimaknai ”mulai dari suatu yang paling kecil sampai kepada sesuatu yang paling besar”.
Marilah kita nikmati ungkapan-ungkapan khusus Taufiq Ismail dalam puisinya ”Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung”!
 Bertrilyun daun yang terpasang tepat dan rimbun pada pohon
 Bermilyar pohon yang terpancang rapi
 Menguap gaib lewat noktah-noktah jendela mikroskopis
 Angin berganti baju jadi musik gesek instrumental
 Air yang tersedia dalam dalam berbagai ukuran bejana bumi
Marilah juga kita nikmati ungkapan-ungkapan khusus Eka Budianta dalam puisinya “Solitude” dan Abdul Rozak Zaidan dalam puisinya “Kesaksian Lingkungan. !
 Kabut gemetar berlarian tak tentu arah/ Ketika dari moncong-moncong asap raksasa/ debu hitam menyembur ke angkasa. (Solitude)
 Burung-burung menangis sepanjang hari/melihat hutannya musnah sekaki demi sekaki (Solitude)
 Serombongan bangau terbang tanpa sayap/sebab sayapsayap mereka kini kau punya (Kesaksian Lingkungan)
 Air hitam dengan bau yang asing/ menggenang/ keluar dari kelangkang rumah raksasa (Kesaksian Lingkungan).
Puisi Menyentuh Perasaan
Sebagai sebuah karya sastra, puisi memiliki keistimewaan, yaitu menyenangkan dan bermanfaat kalau dibaca dan dipahami. Seperti dikatakan Horatius bahwa karya sastra itu ”dulce et utile”, menyenangkan dan bermanfaat. Bahkan, Teeuw (1984:5) mengatakan bahwa seniman atau penyair berfungsi sebagai orang yang bertugas memberi pengajaran sekaligus kenikmatan.
Mengapa puisi itu menyenangkan dan bermanfaat? Karena kekhususan pilihan kata yang sengaja dibangun untuk menggugah emosi, perasaan pembaca. Berbagai perasaan, emosi (marah, sedih, gembira, dll.) bisa timbul dan bangkit setelah membaca sebuah puisi. Resapilah betapa perasaan dan emosi pembaca tersentuh dengan puisi Taufiq Ismail ini.
MEMBACA TANDA-TANDA
Oleh: Taufiq Ismail
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
Dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
Tapi, kini kita telah mulai merindukannya
Kita saksikan udara abu-abu warnanya
.Kita saksikan air danau yang semakin surut tampaknya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau di pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam didesak asam arang
Dan karbon dioksida menggilas paru-paru
Kita saksikan gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa banjir
Banjir membawa air
AIR MATA!
Lingkungan Hidup dalam Puisi-puisi Indonesia
Terdapat banyak puisi Indonesia yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Nauman (2000) mengidentifikasi hampir seratus lebih puisi yang berkaitan dengan lingkungan hidup. (Itu belum termasuk puisi lama, seperti pantun dan syair yang pada umumnya mengambil lingkungan sebagai sampiran.) Juga pada tahun 1994 diterbitkan sebuah antologi puisi berjudul “Cerita dari Hutan Bakau: Antologi puisi Lingkungan Hidup yang disusun oleh Ahmad Syuhadak, dkk. diterbitkan oleh Pustaka Sastra Jakarta.
Kata dan istilah lingkungan hidup yang terdapat dalam puisi-puisi Indonesia sangat beragam, mulai dari kata dan istilah yang berkaitan dengan keindahan alam, kekayaan alam, kehidupan tumbuhan, kehidupan hewan, sampai kepada masalah kerusakan alam. Jika dikaitkan dengan komponen lingkungann hidup, kata dan istilah yang digunakan berkaitan dengan komponen lingkungan biotik dan komponen lingkungan abiotik.
Jika memanfaatkan puisi sebagai media pembelajaran berbasis lingkungan hidup, terdapat beberapa hal yang bisa digali, antara lain: (4.1) fungsi lingkungan hidup dalam puisi, (4.2) citra lingkungan hidup dalam puisi, (4.3) sikap penyair terhadap lingkungan hidup.
Keberadaan komponen lingkungan hidup, baik biotik atau abiotik, menempati dua fungsi, yaitu: (4.1.1) sebagai atribut, dan (4.1.2.) sebagai tema puisi. Keberadaan kata dan istilah lingkungan hidup sebagai atribut artinya penyair menggunakan kata dan istilah itu sebagai latar, simbol saja, tidak menjadi unsur utama dalam puisi tersebut. Sebaliknya, jika penyair menggunakan kata dan istilah lingkungan hidup sebagai unsur utama, pokok pembicaran, maka disebut kata dan istilah lingkungan hidup berfungsi sebagai tema puisi.
Terdapat banyak puisi yang menggunakan kata dan istilah lingkungan hidup sebagai atribut, baik sebagai latar ataupun sebagai simbol. Puisi-puisi Moh. Yamin merupakan contoh puisi yang menggunakan kata dan istilah lingkungan hidup sebagai atribut, -latar, terutama puisinya yang berbentuk soneta. Pada bait-bait awal puisinya Yamin sering menggunakan kata: Bukit Barisan, Gunung Tanggamus, Gunung Singgalang, hutan, sungai, rimba, lembah, ngarai, sawah, dan lain-lain. Tetapi, kata-kata itu hanya digunakan Yamin latar dan alat untuk mengungkapkan cintanya terhadap tanah air, Indonesia. Lihatlah puisi yang berjudul ”Tanah Air”!
TANAH AIR
Oleh: Muh. Yamin
Pada batasan bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah hutan, rimba dan ngarai
Lagipun sawah, sungai yang permai
Serta gerangan, lihatlah pula 8
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku
Berbeda dengan Yamin, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan Khairil Anwar yang juga sering menggunakan kata dan istilah lingkungan hidup dalam puisinya, tetapi digunakannya sebagai simbol, bukan atribut. Misalnya, puisi STA ”Menuju ke Laut” dan puisi Khairil Anwar ”Senja di Pelabuhan Kecil”.
MENUJU KE LAUT
Angkatan Baru
Oleh: STA
Kami telah meninggalkan engkau
Tasik yang tenang, tiada berisik
Diteduhi gunung yang rimbun
Dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat
”Ombak ria berkejar-kejaran
Di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup
Tebing curam ditantang diserang
Dalam bergurau bersama angin
Dalam berlomba bersama mega/”
Penggunaan kata dan istilah lingkungan dalam puisi STA tersebut lebih bersifat simbol. Laut bagi STA adalah simbol dari visi yang universal. Sedangkan tasik, bagi STA adalah simbol dari visi kedaerahan yang sempit. Laut sebagai visi yang universal memang penuh dengan dinamika yang bergelora yang dilambangkan dengan ombak, serta penuh tantangan yang dilambangkan dengan angin dan topan. Sedangkan tasik tidak memiliki dinamika, tidak penuh tantangan, melainkan tenang, diteduhi gunung yang rimbun, lambang kekuasaan yang hanya legenda.
Bagi Khairil Anwar dalam puisinya “Senja di Pelabuhan Kecil” dan “Cintaku Jauh di Pulau”. Kata dan istilah lingkungan juga digunakan sebagai simbol. Kata laut, pelabuhan, pulau merupakan simbol dari harapan yang tidak pasti. Puisi itu sendiri bercerita tentang keromantisan dan cinta dalam kehidupan. Marilah kita nikmati kutipan dua puisi tersebut.
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Oleh: Khairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus dalam mempercayai mau berpagut
.........................................
CINTAKU JAUH DI PULAU
Oleh: Khairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang. Tapi terasa
Aku tidak akan sampai padanya.
..........................................................
Lingkungan Hidup sebagai Tema Puisi
Terdapat banyak puisi Indonesia yang bertema masalah lingkungan. Hampir semua komponen lingkungan hidup pernah ada dalam puisi-puisi Indonesia, baik komponen biotik, maupun komponen abiotik. Koponen lingkungan itu digambarkan dalam kondisi yang seimbang, maupun yang tidak seimbang.
Terdapat banyak puisi yang bertema lingkungan hidup secara umum. Misalnya, puisi ”Tanah Kelahiran” karya Ramadhan KH., yang bertemakan tanah priangan, ”Sakelo, Siberut Utara” karya Rusli Marzuki Saria, yang berkisah tentang salah satu bagian dari Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, dan ”Sarangan” karya Abdul Hadi W.M.
Juga terdapat beberapa puisi yang bertema objek tertentu. Misalnya, ”Sawah” karya Sanusi Pane, ”Sawah” karya Ali Hasymi, Keduanyan bercerita tentang sawah dengan pengungkapan yang berbeda. Sanusi Pane mengungkapkan betapa tingginya nilai sawah, setara dengan emas batangan, logam mulia. Keindahan persawahan diungkapkan Sanusi Pane dengan cermat. Begitu juga Ali Hasymi yang mengungkapkan keindahan sawah di perbukitan seperti seorang gadis cantik sedang menggera burung.
Juga terdapat beberapa puisi yang bercerita tentang hutan. Misalnya, puisi ”Hutan” karya Hermansyah D., yang bercerita tentang keindahan hutan. Juga puisi ”Rinduku pada Hutan” karya Evelyn R.A. yang bercerita tentang kerinduannya pada hutan yang sudah mulai berkurang. Rusli Marzuki Saria mengungkapkan kekagunamanya pada gunung dalam puisinya ”Gunung Rinjani”.
Dunia tumbuhan juga banyak terdapat dalam puisi Indonesia. Bunga, misalnya, menjadi judul dan tema beberapa puisi Sapardi Joko Damono ( Bunga 1, Bunga 2, Bunga 3, Sonet: Hei Jangan Kau Patahkan). Lindung Simatupang juga mengambil bunga sebagai judul puisinya, yaitu ”Bunga-Bunga”.
Kehidupan binatang juga muncul dalam perpuisian. Misalnya, puisi yang berjudul ”Di Kebun Binatang” karya Ayatrohaedi yang mengisahkan kehidupan binatang, mulai dari ular, beruang, serigala, singa, buaya, banteng, babi hutan, kuda, yang hidup dalam kurungan. Juga ada puisi yang berjudul ”Anjing di muka pendapa” karya Rusyanto L. Simatupang yang berkisah tentang kemalangan yang menimpa binatang piaraan tersebut.
Lingkungan perairan juga banyak muncul dalam puisi. Misalnya, puisi ” Danau Singkarak Tengah Hari” karya Rusli Marzuki Saria mengungkapkan kekaguman RMS terhadap keindahan Danau Singkarak di Sumatera Barat. Danau yang terletak di kaki bukit itu kalau disaksikan pada tengah hari bagaikan seorang gadis cantik (si upik bermata perak). Keindahan danau juga diungkapkan Toto S. Bachtiar dalam puisinya berjudul ”Danau M.”. Ayatrohaedi juga mengungkapkan keindahan danau dalam puisinya berjudul ”Situ Gintung”.
Selain danau, sungai juga menjadi tema beberapa puisi Indonesia. Misalnya, terdapat dua sungai besar di Indonesia yang menjadi judul puisi, yaitu ”Sungai Musi” karya Slamet Sukirnanto dan ”Sepanjang Mahakam” karya Kirjo Mulyo. Dalam puisi ”Sungai Musi” Slamet Sukirnanto bercerita tentang pengalamnya menyusuri Sungai Musi di tengah malam. Suasana begitu kelam dilukiskan dengan / bulat bulan tenggelam dalam sekali/. Meskipun suasana gelap gulita, namun denyut kehidupan masih dirasakan melalui bunyi perahu tempel dan rakit dan lain-lain. Kirjo Mulyo mengungkapkan kekagumannya pada Sungai Mahakam yang panjang membelah pulau Kalimantan.
Selain komponen lingkungan, masalah kerusakan alam juga menjadi tema beberapa puisi Indonesia. Beberapa penyair yang menciptakan puisi bertema kerusakan lingkungan, antara lain Taufiq Ismail, Eka Budianta, Jose Rizal Manua, Abdul Rozak Zaidan, dll. Bahkan, Taufiq merupakan penyair yang paling apik, tajam, dan menyentuh mengungkapkan kerusakan alam lingkungan. Puisi Taufiq Ismail berjudul ”Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung” merupakan puncak karya sastra tentang lingkungan hidup. Begitu juga puisi berjudul ”Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Imail, ”Solitude” karya Eka Budianta, ”Kesaksian Lingkungan” karya Abdul Rozak Zaidan, ”Allah, Ya Rabb: Apa Artinya ini?” merupakan puisi-puisi bagus tentang lingkungan hidup.
Citra Lingkungan Hidup dalam Puisi
Citra lingkungan hidup dalam puisi merupakan gambaran kondisi lingkungan hidup dalam puisi. Citra lingkungan lingkungan hidup dalam puisi dapat dibedakan atas: (1) Citra Lingkungan Hidup yang Seimbang, dan (2) Citra Lingkungan hidup yang tidak Seimbang.
Citra lingkungan hidup yang seimbang adalah penggambaran lingkungan yang masih asri, belum mengalami kerusakan, belum mengalami pencemaran. Puisi yang ditulis pada awal tahun 1920-an merupakan contoh puisi yang memberikan citra lingkungan hidup yang seimbang. Puisi ”Tanah Air” (Muhammad Yamin) ”Tanah Air” (Roestam Effendi), ”Sawah” (Ali Hasymi), dan ”Sawah” (Sanusi Pane ) yang ditulis dalam bentuk sonet atau sexted mengambil pencitraan lingkungan hidup yang seimbang pada bait-bait awal puisi tersebut.
Citra lingkungan hidup yang seimbang juga terdapat pada puisi-puisi yang ditulis sampai pada tahun 1960-an dan 1970-an. Puisi ”Tanah Air II” karya Ajip Rosidi, ”Tanah Kelahiran I”, ”Tanah Kelahiran II” karya Ramadhan K.H.. ”Sarangan” karya Abdul Hadi W.M., ”Cipanas” karya Slamet Sukirnanto, ”Pangandaran” karya Dodong Djiwapradja, ”Mongan Paola, Siberut Utara” dan ”Danau Singkarak Tengah Hari” karya Rusli Marzuki Saria merupakan beberapa contoh puyisi yang memberikan citra lingkungan hidup yang seimbang.
Ajip Rosidi mengibaratkan tanah airnya seperti putri cantik jelita yang sedang tidur, berambut panjang berombak. Ramadhan K.H. sampai menyebut kumpulan puisinya dengan judul ”Priangan si Jelita”, Abdul Hadi mengibaratkan suasana di Sarangan sebagai selusin dua sejoli yang mengajak tidur, Dodong Djiwapradja menyamakan Pangandaran dengan lukisan Nashar, Rusli Marzuki Saria menyebut tanah Mangan Paola sebagai perawan, dan keindahan danau Singakarak diibaratkannya sebagai si upik bermata perak, dan masih banyak contoh lainnya.
Citra lingkungan hidup yang tidak seimbang banyak terdapat dalam puisi Indonesia. Citra demikian ada yang diungkapkan secara ekplisit oleh penyair, ada yang tidak dinyatakan secara eksplisit, hanya melalui kecaman, kecemasan, atau sikap kritis lainnya.
Citra lingkungan hidup yang tidak seimbang ini mulai kelihatan muncul pada dekade 1960-an dan sesudahnya. Puisi Ayatrohaedi “Di Kebun Binatang” yang ditulis pada tahun 1960-an sudah menggambarkan kehidupan binatang yang tidak seimbang. Dia menggambarkan kehidupan binatang di kebun binatang sebagai kelaparan :pisik dan non pisik, (Mirip dengan peristiwa tragis binatang di kebun binatang Surabaya?:.` Begitu juga dengan puisi Lindung Simatupang yang berjudul “Anjing di Muka Pendapa”. Dalam puisi itu digambarkan kehidupan anjing yang selalu ditambatkan, sudah tua, kelaparan, dan kehilangan kebebasan. Namun, ia tetap tidak berontak karena sudah tua dan terbiasa patuh kepada majikannya.
Keadaan alam danau yang sudah rusak diungkapkan Piek Ardiyanto Supriadi dalam puisinya Penghuni Dangau di Tepi Danau”. Kalau biasanya danau memberikan pemandangan yang indah, ikan yang banyak, tetapi tidak demikian danau yang dilukiskan Piek. Citra danau yang diberikan Piek adalah danau yang airnya hampir kering, tidak ada ikan, tanahnya rengkah-rengkah, sekelilingnya ditumbuhi alang-alang. Meskipun lelaki di tepi danau itu berusaha mengail ikan, tetapi yang dia dapat hanya “perih luka/ hati terkait mata kailnya sendiri? Yudistira ANM Massardi menggambarkan kerusakan alam berupa banjir. Hal itu ditulisnya dalam puisi yang berjudul “Sungai Menangis”.
Selain menggambarkan citra yang tidak seimbang, dalam beberapa puisi Indonesia juga diungkapkan bermacam jenis dan penyebab ketidakseimbangan itu. Pada puisi “Dalam Kemarau Terlalu Panjang” karya Yunus Mukri Adi digambarkan kerusakan alam yang disebabkan oleh musim kemarau. Begitu juga dalam puisi karya Damiri Mahmud yang berjjudul “Burung-burung Terhenti Bernyanyi”.
Pada dekade setelah 1980-an, makin banyak penyair yang menaruh perhatian kepada masalah lingkungan, terutama dampak buruk pengelolaan lingkungan yang buruk. Mereka tidak hanya memaparkan lingkungan yang tidak seimbang, tetapi juga memaparkan penyebab terjadinya ketidakseimbangan itu. Bahkan, para penyair secara sadar menyampaikan protes, kritikan terhadap pengelolaan lingkungan tersebut.
F. Rahardi dalam puisinya yang panjang berjudul ”Matahari, Wereng dan Sol Sepatu” melukiskan kerusakan lingkungan yang menyebabkan kemiskinan petani. F. Rahardi melukiskan ketidakseimbangan lingkungan itu dengan ungkapan,” Matahari menggeliat-geliat memancarkan keringat/Matahari cemberut/Matahari makin tinggi/. Tentang langit diungkapkan, ”/Langit melengkung bagai kubah mesjid/Langit berdebu/Langit sempoyongan mabuk pestisida/Langit makin sepi/” Penyebab semua itu adalah kerakusan, penindasan yang dilakukan oleh berbagai pihak, seperti diungkapkan pada bagian penutup puisi itu, ”/Sepatu pejabat disemir mengkilap/sepatu tentara berderap rapi/ sepatu wartawan kesetanan/ sol-sol sepatu itu menyatu/ menancap di pelipis pak tani./”
Eka Budianta dalam puisinya ”Solitude” mengungkapkan hasil renungannya terhadap lingkungan ketika berada di luar negeri. Dia melukiskan kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia yang mengeksploitasi alam dengan dalih industri. Dia mengungkapkan, // Aku mendengar ada yang menjerit/ ketika dinamit itu meledakkan bukit-bukit// Kabut gemetar berlarian tak tentu arah/ ketika dari moncong – moncong asap raksasa/ debu hitam menyembur ke angkasa// Burung-burung menangis sepanjang hari/ melihat hutannya musnah sekaki demi sekaki//.
Berbeda dengan Eka Budianta, Abdul Rozak Zaidan dalam puisinya ”Kesaksian Lingkungan” lebih tegas dan keras. Secara eksplisit dia menunjukkan protesnya kepada pemerintah, via Emil Salim yang waktu itu menjabat menteri lingkungan hidup. Abdul Rozak Zaidan menyoroti punahnya sejumlah satwa akibat perburuan manusia. Satwa tertentu hanya tinggal kenangan, dalam lukisan, seperti diungkapkannya, // Serombongan bangau kini terbang dengan sayap-sayap/ tapi di kanvasmu/ mereka telah tak bernyawa//. Abdul Rozak juga menyoroti kehidupan petani yang makin susah karena berkurangnya lahan pertanian. Lahan pertanian disulap jadi komplek rumah mewah, komplek industri, sehingga sampahnya mengotori lingkungan, sulit mendapatkan air, dan lain-lain. Dengan sinis dia mengungkapkan, //Kini, di manakah air yang jernih/ kalau bukan dari kantung kemih//
Taufiq Ismail adalah penyair yang sangat menaruh perhatian terhadap masalah lingkungan. Banyak puisinya yang berkaitan dengan lingkungan. Kepedulian Taufiq itu didukung oleh kemampuannya menuangkan dalam puisi-puisi yang membangkitkan emosi, apalagi kalau puisi itu dibacakan, seperti puisi ”Membaca Tanda-tanda”. Dalam puisi itu dengan tegas mengingatkan kita agar menyadari kekeliruan dalam mengelola lingkungan, arif membaca tanda-tanda kemurkaan Tuhan berupa bencana, Tapi, kadangkala kita tidak juga mau menyadarinya, seperti diungkapkan Taufiq di awal dan di akhir puisinya, ”Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan/ dan meluncur lewat sela-sela jari kita.”
Puncak dari keprihatinan penyair terhadap kerusakan lingkungan tampaknya terjadi pada tahun 1990-an. Pada tahun itu diterbitkan sebuah antologi puisi oleh Ahmad Suhadak, dkk. Yang berjudul ”Cerita dari hutan bakau: Antologi puisi lingkungan hidup.” Antologi ini diterbitkan oleh Pustaka Sastra Jakarta tahun 1994.
Memahami sebuah puisi juga bisa menangkap konteks penciptaannya. Konteks penciptaan adalah kondisi dan waktu puisi itu diciptakan. Konteks itu merupakan kondisi objektif yang menginspirasi penyair untuk menciptakan kenyataan imajinatif berupa puisi. Maka, jika masalah lingkungan hidup ditempatkan sebagai atribut dalam sebuah puisi, berarti lingkungan hidup waktu itu bukan merupakan isu utama di masyarakat. Sebaliknya, ketika lingkungan hidup sudah menjadi tema dalam puisi, berarti pada waktu itu lingkungan hidup telah menjadi salah satu isu, wacana utama dalam masyarakatnya. Jika sebuah puisi menggambarkan lingkungan hidup yang masih seimbang, berarti pada masa itu belum terjadi kerusakan parah lingkungan. Sebaliknya, jika puisi itu menggambarkan lingkungan hidup yang tidak seimbang, berarti pada masa itu telah terjadi kerusakan lingkungan.
Puisi-puisi lingkungan hidup yang ditulis pada tahun 1920-an sampai tahun 1960-an pada umumnya menempatkan lingkungan hidup sebagai atribut dalam puisi dan menggambarkan lingkungan hidup yang masih seimbang. Artinya, pada masa itu lingkungan belum merupakan masalah atau isu penting di masayarakat karena kerusakan lingkungan belum dirasakan akibatnya, Tetapi, puisi-puisi lingkungan hidup yang ditulis setelah tahun 1960-an telah menempatkan lingkungan hidup sebagai tema puisi dan menggambarkan lingkungan hidup yang tidak seimbang. Artinya, pada konteks tersebut lingkungan hidup telah berkembang menjadi salah satu isu penting di masyarakat karena kerusakan lingkungan telah dirasakan akibatnya.
Penutup
Begitulah, seandainya penumpang mobil yang melaju di depan saya di jalan utama Padang telah memiliki karakter ”sadar lingkungan” tentu mereka tidak akan membuang sampah sembarangan. Tetapi, itulah ”dosa pendidikan” masa lalu. Akibatnya, dirasakan saat ini.
Ke depan, agar dosa itu tidak terulang lagi, maka perlu pendidikan berwawasan lingkungan (Green Education).. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan berwawasan lingkungan adalah puisi. Dan, Nauman, (2002) telah menginventarisasi hampir 90-an puisi dari berbagai penyair Indonesia yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup. Juga, sudah tersedia sebuah antologi puisi tentang lingkungan hidup yang berjudul “Cerita dari Hutan Bakau” yang diterbitkan Pustaka Sastra Jakarta tahun 1994.
Kita tinggal memilih puisi yang mana yang dibutuhkan, :
(1) Apakah puisi yang menjadikan lingkungan hidup sebagai atribut atau puisi yang menjadikan lingkungan hidup sebagai tema?.
(2) Apakah puisi yang menggambarkan lingkungan hidup yang masih seimbang, atau puisi yang menggambarkan lingkungan hidup yang tidak seimbang?
(3) Aapakah kita ingin menggambarkan perkembangan masalah lingkungan hidup dengan memanfaatkan konteks penciptaan puisi?
DAFTAR PUSTAKA
Efendi, S. (1987). Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Tangga Mustika Alam
Esten, Mursal (1989). Sepuluh Petunjuk Memahami Puisi. Padang: Angkasa Raya
Ismail, Taufiq. (1998). Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Ananda
Nauman, Indra Jaya (2002) Citra Lingkungan Hidup dalam Puisi Indonesia Modern. Jogjakarta: Adicita
Salim, Emil. (1979) Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Mutiara
Suhadak, Ahmad, dkk. (1994.) Cerita dari hutan bakau: Antologi puisi lingkungan hidup. Jakarta: Pustaka Sastra
Tadjoedin, A. Ramzy (editor). (1992) Membangun tanpa Merusak Lingkungan. Jakarta: Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Teeuw, A. (1003) Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia
Waluyo, Herman J. (1987) Teori dan Apresiasi Puisi, Jakarta: Erlangga

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar