Minggu, 31 Mei 2015

Optimalisasi Peran Media Massa dalam Upaya Pemberdayaan Sastra Indonesia: Fenomena Sastra Siber dalam Menjelajah Sastra Dunia

OLEH Ninawati Syahrul
(nsyahrul@ymail.com)
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Abstrak
Pers menjadi proses mediasi antara masyarakat dan dunia. Pers diproses oleh jurnalisme agar mempunyai daya persuasi. Jurnalisme memprosesnya melalui tata cara mencari dan menyebarkan informasi dan mengembangkan teknik peliputan dan pendistribusiannya sesuai dengan kultur—termasuk dunia sastra—masyarakat dan semangat zaman.

Teknologi sastra diilhami oleh kenyataan bahwa kehidupan masyarakat, termasuk sastrawan, menghayati kondisi iptek yang tengah berkembang pesat. Saat ini adalah era sastra jurnalistik dalam arti media massa berperan besar dalam memasyarakatkan sastra. Setakat ini karya sastra juga banyak yang berpenyajian teknologi, sastra siber (cybersastra), yang mempermudah interaksi antarpenulis serta antara penulis, penikmat sastra, dan pemerhati sastra. Hal ini berarti bahwa hubungan antarpenggiat sastra siber jauh lebih akrab dan pragmatis sehingga lebih gampang untuk saling bertukar pikiran melalui diskusi online.
Hal yang pasti, sastra siber telah membawa sesuatu yang berbeda dalam dunia sastra. Pada era ini dan masa depan agaknya sastra jurnalistik merupakan alternatif pengembangan karya sastra, yang diharapkan berpotensi positif terhadap peningkatan apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia.
Kata kunci: sastra jurnalistik, apresiasi sastra, sastra siber, dan penggiat sastra.
Pengantar
Besarnya peranan media massa dalam perkembangan kesusastraan dan pentingnya penelitian terhadap karya sastra di media massa sebetulnya telah dikemukakan oleh H. B. Jassin puluhan tahun yang silam. Dengan berperannya media massa dalam memuat karya sastra, seni, dan budaya, para sastrawan dan budayawan semakin tertantang untuk menyajikan karyanya di dalam media massa. Penikmatan dan penyebaran karya sastra melalui media online dewasa ini merupakan suatu fenomena baru dalam bersastra. Tidak dapat dimungkiri bahwa sastra jurnalistik sudah hadir di hadapan kita dan sudah dijalani dan akan terus dijalani.
Masyarakat kita hampir tidak mungkin lagi membaca dan menikmati karya sastra dalam arti yang sesungguhnya saat ini karena kehidupan yang keras dan rumit. Peningkatan karya sastra secara khusus tidak mungkin juga terjadi tanpa suasana kehidupan dan kejiwaan yang mendukung. Oleh karena itu, penyebaran dan penikmatan sastra jumalistik harus diterima sebagai sebuah kenyataan. Kita berharap mutu sastra jurnalistik berdampak positif sehingga dapat meningkatkan apresiasi masyarakat.
Perkembangan sastra Indonesia kita ke depan akan menemui kemungkinan baru. Jika selama ini para sastrawan hanya menampilkan karyanya pada buku, majalah, koran, atau yang berwujud kertas, setakat ini kita bisa menemukan karya mereka tersebar di media internet. Hadirnya sastra siber (sastra cyber) melalui media elektronik hendaknya tidak dipandang sebelah mata. Bagaimanapun juga tidak adil jika semua karya yang ditulis melalui media tersebut diklaim sebagai tulisan yang tidak bermutu. Mestinya sastra siber tetap dapat diterima secara positif karena mau tidak mau, sastra tersebut akan ikut menentukan perkembangan sastra Indonesia. Melalui media elektronik diharapkan paling tidak untuk ke depannya akan memunculkan banyak kemungkinan baru yang dilakukan oleh para penulis. Dikatakan oleh Suryadi (dalam Situmorang, 2004:9), jika selama ini para sastrawan hanya menampilkan karyanya pada buku, majalah, koran, saat ini ditemukan karya mereka yang tersebar di media internet. Hadirnya internet sebagai media sastra siber tentu mengundang tanya, akankah eksistensi sastra siber akan diakui dalam sejarah sastra? Akankah sastra siber dicatat sebagai bagian dari sejarah sastra Indonesia?
Era Sastra Jurnalistik
Sastra jurnalistik adalah sastra yang tersedia di media massa, baik cetak maupun elektronik, yang wujudnya disesuaikan dengan visi dan misi media massa tersebut. Melalui media massa cetak khalayak dapat menikmati cerpen, novel bersambung, puisi, esai, dan kritik seni. Melalui media elektronik khalayak juga dapat menikmati berbagai suguhan sinetron dan film sebagai bagian dari dunia kesusastraan.
Sastra jurnalistik dimulai oleh Ernest Miller Hemingway. Di dalam sejarah kesusastraan Amerika, ia tercatat sebagai seorang wartawan kawakan yang kemudian menulis novel dan cerpen, memelopori cara penulisan baru dalam kesusastraan, menerapkan teknik penulisan jurnalistik dalam novel dan cerpen yang ditulisnya.
Pengaruh Hemingway meluas ke seluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia jejaknya diikuti oleh Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan lain-lain. Sastra jurnalistik itu berbeda dengan jurnalistik atau jurnalisme sastra. Sastra jurnalistik lebih tua usianya daripada jurnalistik atau jumalisme sastra. Jurnalistik sastra adalah gaya penulis berita atau opini yang menggunakan gaya sastra. Dengan kata lain, jurnalistik sastra adalah tulisan jurnalistik yang bernuansa atau berpenyajian kesusastraan.
Sastra jurnalistik sebenarnya sama maknanya dengan sastra koran atau surat kabar, sastra majalah, atau sastra media massa. Sastra koran diistilahkan oleh H.B. Jassin, sastra majalah oleh Nugroho Notosusanto, sastra jurnalistik oleh Atar Semi dan Seno Gumira Ajidarma. Istilah sastra jumalistik hanyalah perubahan nama dari sastra koran, sastra majalah, dan sastra media massa.
Ciri khas sastra jurnalistik mengacu pada kriteria atau kekhasan jurnalistik. Delapan ciri yang digunakan jurnalis dalam memilih bahan informasi atau berita, (1) mengutamakan hal-hal yang bersifat human interest, (2) sedapat mungkin merupakan fakta, (3) memiliki nilai kebaruan, (4) ganjil atau luar biasa, (5) mengandung konflik (skandal atau persengketaan), (6) penting dan ternama, (7) dekat dengan lingkungan kehidupan (kontekstual), dan (8) memperhatikan selera dan minat konsumen. Selain mengacu pada kedelapan kriteria itu, sastra jurnalistik juga menampilkan sesuatu yang tidak terungkapkan, melihat fakta dan kenyataan yang terbentang di sekeliling dari segi lain secara kreatif. Sastra jurnalistik, misalnya cerpen, berciri khas singkat dan padat. Jika berbentuk novel, karya sastra itu disajikan secara bersambung. Ciri lainnya, bahasa sastra jurnalistik hidup dan lincah, kalimatnya sederhana, dan menghindari kata-kata bersayap atau hiasan kata.
Perlu dipahami juga bahwa sastra jurnalistik, selain memiliki keunggulan, juga ada kelemahnnya. Beberapa keunggulan sastra jurnalistik dapat disebut sebagai berikut.
Pertama, dengan adanya sastra jurnalistik apresiasi sastra masyarakat bisa tertampung, khususnya dalam kondisi penerbitan buku sastra yang langka. Kedua, sastra jurnalistik mempersembahkan berbagai jenis sastra untuk memenuhi minat pembaca. Sastra jurnalistik itu menyediakan bacaan mulai dari bacaan komik, cerita anak-anak, cerpen remaja, puisi, novel bersambung, esai dan kritik sastra, serta berita kegiatan sastra. Ketiga, sastra jurnalistik elektronik dalam bentuk sinetron dan film ikut memberikan andil yang besar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan. Keempat, sastra jurnalistik dapat digunakan sebagai salah satu bahan pembelajaran yang telah ada di perpustakaan.
Kelemahan sastra jurnalistik dapat disebut, antara lain, kurang memiliki peluang bagi sastrawan untuk berkreasi secara penuh oleh ketentuan dan selera para pembaca, khususnya diwakili oleh pengasuh atau redaktur. Kedua, banyak keluhan para penulis pemula karena tidak memperoleh kesempatan memublikasikan karya sastra mereka. Pengasuh dan redaktur sibuk dan tidak memiliki waktu untuk melakukan seleksi tulisan yang akan dimuat dengan teliti. Ketiga, sastra jurnalistik yang berbentuk sinetron dewasa ini berkualitas rendah. Sinetron kita fasih betul berbicara tentang kemewahan, menjual mimpi-mimpi, dan masih cenderung sekadar hiburan.
Mengapa harus bersastra jurnalistik? Harus diakui bahwa pada saat ini media massa atau jurnalistik berandil besar dalam memasyarakatkan sastra. Surat kabar dan majalah menyediakan kolom "seni, sastra, dan budaya". Penyair, cerpenis, atau novelis kurang didengar jika tidak pernah memuat karyanya atau tanggapannya terhadap kehidupan sastra di dalam surat kabar. Forum diskusi, seminar, lokakarya seni, budaya, sastra tidak bergaung jika tidak dimuat di dalam media massa. Melalui bersastra jurnalistik langkah-langkah ke depan menuju bersastra kualitas dimulai. Untuk itu, kemampuan bersastra perlu dilakukan melalui serangkaian pelatihan, selain penguasaan teori menulis karya sastra.
Peranan Teknologi Informasi dalam Perkembangan Sastra
Seiring dengan berkembanganya zaman tentu akan diikuti oleh meningkatnya berbagai logika dan pemikiran manusia. Sastra turut pula semakin berkembang, termasuk jumlah peminatnya dari berbagai kalangan. Banyaknya peminat sastra menunjukkan bahwa semakin tingginya kesadaran atas kemampuan menyampaikan berbagai perasaan, pendapat, pola pikir, hingga kemauan yang terus berkembang dalam diri para penggiat sastra. Berbagai jenis sastra yang terus berkembang terkadang menjadi suatu simbol dan pokok penting dalam suatu penyampaian aspirasi, yang dalam hal ini banyak ditemui di Indonesia.
Jenis sastra yang paling banyak digunakan di Indonesia ialah syair, puisi, cerita pendek (cerpen), dan pantun. Akan tetapi, peminat paling banyak ialah sastra puisi. Melalui puisi, pengarang atau penulis mampu menyampaikan perasaannya melalui tulisan dalam konotasi penggunaan yang berbeda dengan penyampaian biasa (penyampaian tanpa perumpamaan bahasa sastra). Perkembangan tersebut terus-menerus memengaruhi berbagai perkembangan dalam berbagai bidang pendidikan, perfilman, hingga aspirasi masyarakat. Namun, kebanyakan saat ini, penggunaan sastra digunakan untuk penyampaian aspirasi dalam suatu kegiatan orasi, sebagai gambaran bahwa tidak hanya menyampaikan orasi yang biasa dalam bentuk puisi (syair atau pantun).
Salah satu ciri karya sastra yang sangat penting adalah fungsi komunikasi. Memang benar karya sastra dihasilkan melalui imajinasi dan kreativitas sebagai hasil kontemplasi secara individual, tetapi juga ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain sebagai komunikasi. Secara garis besar komunikasi dilakukan melalui interaksi sosial, aktivitas bahasa (lisan dan tulisan), dan mekanisme teknologi (Ratna, 2007:297-298).
Sesuai dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini, sastra pun menjadi bagian dari perkembangan era globalisasi. Sastra itu pada prinsipnya berisi pembelajaran, bahkan pengalaman, yang terus tersampaikan melalui berbagai media informasi, baik media sosial maupun media massa (cetak dan elektronik). Kegiatan bersastra ini tidak hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga berupa hobi yang dapat terus dikembangkan atas dukungan teknologi informasi atau ICT (Information Communication Technology). Peran teknologi informasi, selain membuat sastra menjadi suatu kegemaran atau hobi, juga dapat meningkatkan kreativitas. Kehadiran teknologi informasi itu tentu sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra dan dapat menjadi ajang pertemuan antarsastrawan untuk saling bertukar pikiran dalam menata perkembangan dan pengembangan sastra dari berbagai wilayah di Indonesia.
Menyiasati Masalah Publikasi Karya Sastra Melalui Sastra Siber
Istilah cybersastra (sastra siber) dapat dirunut dari asal katanya. Cyber dalam bahasa Inggris tidak berdiri sendiri, tetapi serangkai dengan kata lain seperti cyberspace, cybernate, dan cybernetics. Cyberspace berarti ruang (berkomputer) yang saling terjalin membentuk budaya di kalangan mereka. Cybernate berarti pengendalian proses menggunakan komputer. Cybernetics mengacu pada sistem kendali otomatis, baik dalam sistem komputer (elektronik) maupun jaringan saraf. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa sastra siber adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan media komputer atau internet (Enraswara, 2006:182).
Sastra siber sudah muncul beberapa tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 2001 seiring dengan merebaknya internet di Indonesia. Sastra siber adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan fasilitas komputer dan internet. Sastra siber merupakan revolusi, sekaligus transformasi dalam dunia sastra. Sebelum dikenal sastra siber, publikasi terhadap karya sastra sudah memanfaatkan teknologi yang ada. Kita mengenalnya dengan sebutan sastra koran, sastra yang diterbitkan melalui koran, sastra majalah yang diterbitkan melalui majalah, sastra buku atau yang meng-gunakan wahana buku sebagai sarana publikasinya.
Kehadiran jenis sastra siber ditenggarai dengan terbitnya buku Graffiti Gratitude pada 9 Mei 2001. Graffiti Gratitude berupa antalogi puisi siber. Penerbitannya diprakarsai oleh Sutan Iwan Soekri Munaf, Nanang Suryadi, Nunuk Suraja, Tulus Widjarnako, Cunong, dan Medy Loekito, yang tergabung dalam Yayasan Multimedia Sastra. Sastra elektronik ini baru dikenal sekitar tahun 2000-an. Usianya yang masih terlalu muda tidak serta-merta kehadirannya diterima dengan tangan terbuka, pro dan kontra bermunculan dari berbagai pihak. Menurut Sambodja (2003), sejarah sastra Indonesia masih terbelenggu dalam kanonisasi atau masih bergantung pada ―fatwa pemegang otoritas. Bagaimana halnya dengan sastra siber yang belum mempunyai watak yang mapan seperti halnya sastra koran? Meskipun usianya masih muda dan ketidakmapanannya, sastra siber mestinya tetap bisa dikaji dan dinilai sesuai dengan kekhasannya.
Dikatakan oleh Endraswara (2008:184) bahwa untuk mengkaji sastra siber ini sama dengan sastra yang bermedia koran atau buku. Kita dapat menerapkan kode-kode seperti yang disampaikan oleh Teeuw, yaitu kode sastra, kode budaya, dan kode bahasa. Ketiga kode itu ternyata semua ada dalam sastra siber sehingga mau tidak mau sastra tersebut harus mendapat perlakuan yang sama dengan sastra lainnya. Dengan demikian, sastra siber tidak perlu dianaktirikan dan harus mendapat perhatian yang sama porsinya dengan sastra yang sudah mapan.
Kemunculan sastra siber dalam kancah kesusasteraan Indonesia ditanggapi dan diapresiasi secara berbeda-beda. Bahkan, hal ini sempat menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Di satu pihak ada yang menyambutnya positif, tetapi ada pula secara negatif. Disambut secara positif karena kehadiran sastra siber dapat dengan mudah dan cepat diakses oleh kalangan yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain itu, kehadiran sastra siber melalui media internet memberi peluang bagi penulis yang bergiat di bidang sastra untuk memberikan sumbangsihnya, baik berupa karya maupun pemikiran, tanggapan terhadap karya sastra. Disambut negatif karena sastra siber dianggap tidak lebih dari sekadar upaya main-main saja. Sastra ini juga dikatakan sebagai sastra yang kualitasnya sangat kurang dan tidak memberikan kemajuan yang berarti dalam khazanah sastra Indonesia.
Terlepas dari persoalan tersebut, sebenarnya perkembangan teknologi pasti akan berpengaruh besar terhadap budaya suatu bangsa, tidak terkecuali sastra. Tentunya berkembangnya teknologi di satu sisi akan berdampak positif, tetapi di sisi lain bisa berdampak negatif. Begitu juga terhadap khadiran sastra melalui media elektronik. Namun, tentu saja kita tidak perlu merisaukan sastra siber yang kata sebagian pemerhati sastra ditulis ―semau gue, yang akan tersingkir dengan sendirinya. Hal yang jelas adalah bahwa perjalanan waktulah yang akan menentukan apakah karya tersebut akan tetap eksis atau tidak.
Jika berbicara tentang media sebagai wadah penerbitan karya sastra, tentu ada pemerhati yang membedakannya, tetapi ada juga yang tidak. Karya sastra yang diterbitkan melalui media cetak (sastra koran/majalah) dikatakan lebih bermutu daripada sastra yang diterbitkan melalui media elektronik. Hal ini disebabkan oleh sastra koran hadir di hadapan pembaca melalui prosedur dan seleksi yang ketat, sedangkan sastra siber sebaliknya, tanpa prosedur yang ketat. Oleh karena itu, siapa pun dapat memublikasikan karyanya secara leluasa untuk dinikmati oleh siapa saja dari belahan dunia mana pun tanpa memandang apakah dia seorang yang sudah terkenal atau seseorang yang namanya belum dikenal. Kondisi ini menimbulkan kegeraman bagi sebagian sastrawan yang sudah mapan, seperti dinyatakan oleh beberapa pelaku sastra di atas. Kegeraman itu sebenarnya tidak perlu terjadi jika mereka bisa bersikap arif dan bijaksana. Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, begitu juga kemunculan sastra siber meskipun kelahirannya tidak disambut gembira oleh sebagian penggiat sastra.
Sangatlah bijak jika Rahman (2002) mengatakan bahwa tidak perlu memperdebatkan istilah yang berkaitan dengan sastra koran, sastra majalah, dan sastra siber. Baginya istilah itu sekadar ―politik identitas dalam percaturan sastra. Dengan demikian, tidak perlu muncul klaim yang bersifat subjektif. Perlu juga dicermati bahwa yang membuat sebuah buku menjadi karya sastra adalah pembacanya, bukan kritikus, editor, atau profesor. Memang demikian adanya bah-wa karya sastra akan menjadi benda mati (artefak) tanpa peran pembacanya. Karya sastra tidak akan berarti apa-apa tanpa campur tangan pembacanya. Oleh karena itu, tidak perlu dipermasalahkan soal sastra dari segi media karena hal tersebut justru pekerjaan sia-sia. Sastra siber sudah ―terlanjur lahir dan tentunya keha-dirannya harus disambut dengan hati terbuka.
Sastra merupakan dunia yang berhubungan dengan kegiatan tulis-menulis. Sastra merupakan karya seni yang bermediumkan bahasa, misalnya puisi, cerpen, dan novel. Karya tersebut akan dibukukan, kemudian diterbitkan oleh penerbit yang berminat menerbitkannya. Namun, tidak sedikit penulis yang ditolak oleh pe-nerbit karena karyanya dianggap kurang bermutu atau tidak ―menjual dan seba-gainya.
Kehadiran sastra siber membawa suatu inovasi baru dalam menduniakan sastra. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, alih wahana yang dilakukan dalam kesusaastraan Indonesia dari buku atau bentuk fisik ke dunia virtual atau maya merupakan transformasi sastra. Ketika karya sastra diidentikkan dengan kemunculannya yang berupa buku, hal ini tentu mempersulit peserta didik atau mahasiswa yang belajar menulis sastra karena memublikasikan sastra mem-butuhkan penerbit. Pada saat ini untuk bisa menembus suatu penerbitan yang bersedia menerbitkan karya sastra sangatlah sulit.
Solusi yang paling anyar dalam abad ini untuk menyiasati masalah publikasi karya sastra adalah melalui sastra siber. Siapa pun, termasuk mahasiswa, yang berniat menulis karya sastra dan ingin menyebarkannya pada semua orang bisa memanfaatkan media teknologi ini tanpa takut ditolak oleh redaktur. Komunitas sastra maya bermunculan. Pemanfaatan teknologi seperti mailing list (milis), situs, forum diskusi, dan kini juga blog, internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang dapat memajang karyanya dan semua kalangan boleh mengapresiasinya.
Sastra siber memang dunia yang bebas. Siapa saja, tidak harus sastrawan, bisa menulis apa pun yang mereka inginkan di dalam media ini. Dunia sastra siber adalah dunia yang khas atau eksklusif, cobalah memasukinya dan merasakan perbadingannya dengan dunia sastra koran atau majalah. Kebebasan individu dalam mengekspresikan dirinya melalui tulisan dan demokrasi yang ditawarkan siber dalam mewadahi karya sastra yang ditulis merupakan bentuk keistimewaan media ini.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah karya yang dipublikasikan sebagai sastra siber berkualitas sastra atau tidak? Beberapa pihak menuding bahwa sastra siber yang notabene media bebas tidak terbatas ini sebagai ajang main-main. Karya yang ditampilkannya terkesan tidak bermutu. Mereka menganggap karya sastra tersebut kehilangan nilai kesastraan dan tidak memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam pandangan beberapa pengamat sastra, nilai estetika yang di dalam sastra siber dan sastra koran sangat berbeda. Namun, dipandang dari sudut manakah nilai estetika yang membedakan keduanya?
Jika pihak penulis dijadikan tolak ukur kebermutuan sebuah karya sastra, tentu hal ini juga tidak objektif karena setiap orang mempunyai penilaian tersendiri. Karya sastra tetap karya sastra di mana pun dilahirkan, baik oleh penerbit maupun sastra siber. Puisi tetaplah puisi siapa pun penggubahnya, entah itu ditulis oleh penyair atau mahasiswa, demikian juga dengan karya sastra yang lain. Setidaknya sastrawan siber menulis karya berdasarkan estetikanya sendiri tanpa takut ditolak oleh redaktur.
Sebenarnya dikotomi antara sastra koran dan sastra siber hanya berbeda pada penggunaan medianya. Sastra sangat erat kaitannya dengan dunia imajinasi. Siapa pun orangnya, baik penulis/sastrawan terkenal maupun penulis/sastrawan pemula. bebas dan berhak mengekspresikan imajinasi, menafsirkan nilai-nilai estetika dan, bebas menyampaikan pesan moral yang diusungnya. Persoalannya, sastra koran mengenal batasan yang dikendalikan oleh otoritas sang redaktur dan selera pasar, sedangkan sastra siber cenderung hampir tidak mengenal batas-batas itu.
Salah satu perdebatan yang cukup panas hingga saat ini adalah soal mutu dan kualitas sastra siber. Pada dasarnya orientasi terhadap karya sastra itu ada empat macam seperti digambarkan oleh Abrams (dalam Pradopo 1976:6). Pertama, karya sastra itu merupakan tiruan alam atau penggambaran alam; kedua, karya sastra itu merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya; ketiga, karya sastra itu merupakan pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawan; dan keempat, karya sastra itu merupakan sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekelilingnya, baik pembaca maupun pengarangnya (Pradopo, 2003:206--207).
Penelahaan karya sastra hingga pada simpulan bahwa karya sastra itu berkualitas atau tidak bukanlah persoalan mudah karena penilaian tidak mungkin hanya didasarkan pada salah satu elemennya, tetapi harus secara keseluruhan. Karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu elemennya belum dapat dikatakan sebagai sastra yang berkualitas atau sastra yang baik. Begitu pula karya sastra yang tidak mudah dipahami oleh setiap orang tidak bisa langsung disebut sastra yang kurang berkualitas. Hal yang paling mendasar adalah apakah karya sastra tersebut sudah memenuhi kriteria kualitas sastra yang ada, seperti kriteria estetik dan kriteria struktur (struktur dalam dan luar) (Fananie, 2000:73-74).
Dengan hadirnya sastra siber muncul pula perdebatan soal mutu atau kualitas. Banyak pemerhati sastra yang menilai teks sastra yang tergolong ―sampah mudah terpublikasikan. Hal semacam itu (hampir) mustahil terjadi dalam sastra koran. Teks sastra yang lolos atau dapat diterbitkan di sebuah media cetak harus memenuhi persyaratan ketat yang telah ditetapkan oleh redaktur (http://sawali. wordpress. com).
Ketika seseorang memiliki blog gratis, ia akan lebih mudah dalam meng-ekpresikan serta memublikasikan karya sastra serta saling berkomentar seputar dunia sastra dengan penulis/sastrawan lain tanpa mengeluarkan biaya dibanding-kan dengan sastra koran yang hanya terbatas segmen pembacanya dan rubrik sastra hanya muncul sekali dalam seminggu.
Maraknya blogger yang memuat karya sastra dan juga kemudahan memuat suatu karya di situs internet, di lain pihak ditanggapi secara sinis oleh sebagian orang. Bagi mereka, karya sastra semacam ini adalah ―sampah karena tidak memenuhi standar baku karya sastra. Meskipun demikian, penilaian ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena masih hanya berdasar survei secara kuantitatif, yang kemudian dipakai untuk memberikan penilaian secara umum. Padahal, jika dicermati secara saksama, dari sekian banyak blogger itu, beberapa karyanya tidak kalah menarik dibandingkan dengan yang dimuat di media cetak (http://www. hayamwuruk-online. blogspot. com). Hal ini berart bahwa media juga mempunyai peran penting dalam menghidupkan karya sastra. Sebuah produk budaya apabila tidak dapat dikonsumsi oleh khalayak atau publik, karya sastra itu akan menguap tanpa makna. Hal ini mungkin dapat disebut sebagai sebuah bentuk pencarian jati diri penulis pemula untuk publik dalam hal menikmati karya yang ―dihidangkan, terserah publik yang akan menilai seberapa jauh mutu karya sastra tersebut.
Jika berbicara tentang mutu dan kualitas karya sastra siber dan mencermati beberapa karya penulis pemula, baik cerpen, novel, maupun puisi, kita dapat melihat bentuk diksi yang digunakan, isi, atau tema yang beragam disuguhkan sangat menarik, tidak jauh berbeda dengan karya sastrawan kawakan. Kalau selama ini label ―sampah membanjiri karya sastra siber, hal itu hanya teriakan negatif yang menampik keberadaan sastra siber. ategori sastra berlabel sampah itu sebenarnya terpulang pada publik yang menikmati dan mengkritisinya. Jika memang tergolong ―sampah, lambat laun karya itu akan hilang ditelan waktu, dikalahkan olah karya yang memang patut diperhitungkan di dalam kancah pergulatan sastra Indonesia.
Sastrawan seharusnya memanfaaatkan kemajuan teknologi untuk mendu-niakan sastra dan bahasa sastra. Tidak hanya melalui buku yang dijual di toko buku, tetapi juga melalui dunia maya yang bisa diakses oleh semua orang. Pertanyaan berikutnya apa manfaat sastra siber dalam perkembangan sastra Indonesia saat ini?
Sastra siber merupakan tempat yang paling strategis pada saat ini untuk memublikasikan karya sastra secara global. Hal ini disebabkan oleh sastra siber menggunakan layanan internet yang bisa diakses ke seluruh pelosok negeri. Jika ditilik dari segi itu, manfaat sastra siber merupakan media promosi karya sastra. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan sastra siber juga merupakan tempat pelarian penulis yang ditolak oleh redaktur majalah atau koran. Sastra siber juga mampu mengaktifkan sastrawan yang ―mati suri untuk melahirkan karya sastra baru melalui media yang mudah dijangkaunya. Bukti yang menunjukkan adanya relevansi antara sastra siber dan perkembangan sastra adalah terbitnya Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (APDC) oleh Yayasan Multimedia Sastra di Yogyakarta. Antologi ini memuat 55 nama penyair dengan karya sejumlah 169 sajak.
Hal yang tidak dapat dimungkiri adalah bahwa sastra siber memiliki kelebihan dan kelemahan. Kurangnya masyarakat memahami dan menggunakan teknologi informasi membuat sastra siber tidak dikenal oleh banyak kalangan. Hal ini bisa dilihat dari seberapa jauh masyarakat mengenal dan menguasai internet. Agaknya dapat dikatakan kalangan mahasiswa pun masih banyak yang belum mengenal sastra siber. Untuk itu, perlu adanya suatu kajian mengenai pemanfaatan teknologi dalam proses perkuliahan. Dosen bisa mengenalkan sastra siber kepada mahasiswanya ketika mengajar di depan kelas. Untuk meminimalkan ketidak-tahuan mahasiswa terhadap teknologi, pihak kampus bisa mendirikan pusat-pusat kajian media digital.
Dalam sastra siber belum bisa atau sulit dideteksi yang mana karya orisinal dan mana yang bukan karena siapa pun boleh menyajikan karyanya di dalam media canggih itu. Karena belum ada kode etik yang mengatur dan membatasi kegiatan di sastra siber, hal itu dapat berakibat pada kurangnya kontribusinya dalam mengembangkan sastra Indonesia. Kendati demikiam, sastra siber tentu dapat memberi warna dan pencerahan terhadap dunia kesusastraan Indonesia. Melalui internet, sastra siber merupakan sarana baru untuk memublikasikan sastra, sekaligus bisa membumikan sastra dan bahasa Indonesia kepada dunia.
Teks Sastra Berpenyajian Teknologi
Dalam kehidupan sekarang karya sastra banyak yang berpenyajian teknologi. Muatan teknologi juga sarat di dalamnya. Novel Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Rantau, misalnya, berisi tentang budaya teknologis dan agraris, termasuk budaya industrialisasi. Di dalam novel Ayu Utami, Saman, budaya dan gagasan teknologis juga tampak menyertainya. Kedua gambaran atau penyajian itu menandakan bahwa persoalan teknologi telah merasuk ke dalam karya sastra Indonesia. Semoga kondisi ini menjadi satu langkah maju, khususnya dalam memberdayakan karya sastra sebagai khazanah budaya bangsa.
Istilah teknologi dan sastra sudah demikian dikenal oleh berbagai kalangan. Akan tetapi, istilah teknologi sastra tampaknya masih merupakan istilah baru, yang mulai dikenal pada 1996. Istilah ini muncul ketika Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair utama Indonesia dan ilmuwan, menerima hadiah iptek dalam bidang kebudayaan dari presiden. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sastra tidak hanya bidang yang digeluti oleh seniman atau sastrawan, tetapi juga telah dihargai oleh teknolog. Hal ini menandakan bahwa sastra juga bermuatan banyak hal, termasuk masalah iptek.
Munculnya istilah teknologi sastra dilatarbelakangi oleh perubahan tahap pemikiran manusia. Manusia dalam tahap fungsional telah menyadari keterkaitan objek (sastra) dengan dirinya sehingga mampu atau dapat memanfaatkan iptek bagi kepentingan hidup manusia di tengah-tengah masyarakatnya. Teknologi sastra selanjutnya diilhami oleh kenyataan bahwa kehidupan manusia, termasuk sastrawan, yang menyadari dan menghayati kehidupan dalam kondisi atau dalam iklim iptek. Oleh karena itu, lahirlah karya sastra yang bermuatan iptek. Teknologi sastra juga diartikan sebagai ilmu tentang cara menyajikan teks sastra secara sistematis. Teknologi sastra dapat pula diartikan pemanfaatan teknologi untuk pemasyarakatan karya sastra kepada masyarakat luas. Pada saat ini sudah banyak karya sastra berupa teks puisi dan cerita pendek yang disajikan dengan menggunakan yoetube, salah satu jenis kecanggihan teknologi internet.
Dalam catatan Rembulan (cybersastra. org.) puisi siber/digital (puisi cyber) dapat dibedakan atas tujuh jenis: (1) puisi hypertext menggunakan program hyperlink; (2) puisi siber menggunakan program hyperlink yang tidak selalu teks, tetapi juga image, bunyi, video dan animasi dan jenis huruf; (3) puisi siber tidak dapat diterbitkan dalam bentuk cetak; (4) puisi siber merupakan puisi bercampur dengan bunyi; (5) puisi siber dikenal juga sebagai puisi pertunjukkan seperti baca puisi, deklamasi ataupun drama puisi dan ini merupakan bentuk lama, terutama dalam kesenian tradisional atau kesenian rakyat; (6) puisi siber adalah puisi kasatmata; dan (7) puisi siber adalah animal teks, yakni penggunaan program animasi komputer. 11
Pemanfaatan media sebagai penyampai gagasan dalam sastra siber dewasa ini sudah jauh meninggalkan peran bahasa dalam dunia pers. Wonohito pernah mengatakan bahwa bagi pers bahasa merupakan sine qua non: tanpa bahasa, pers tidak mungkin dapat bekerja. Bahasalah yang melukiskan sesuatu pada halaman media massa: segala informasi, bimbingan, dan hiburan yang disampaikan kepada khalayak (Almanak Pers Antara 1976).
6. Sastra Indonesia Memasuki Kancah Globalisasi
Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat membuat akses ke berbagai informasi menjadi lebih mudah. Jika dahulu kita harus menyaksikan berita di televisi untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di luar negeri, sekarang dengan sekali klik, kita sudah mengetahui peristiwa di belahan bumi lain. Kita bisa mengakses informasi secara cepat kapan pun kita mau. Kemajuan teknologi tentunya harus dimanfaatkan sebaik dan semaksimal mungkin. Inilah yang dimanfaatkan oleh Yayasan Lontar, yayasan yang aktif menerjemahkan berbagai karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris.
Beberapa sastrawan ternama Indonesia sudah sering karyanya muncul di internet, seperti karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, Eka Budianta, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dorothea Rosa Herliani, D. Zawawi Imron, Agus R. Sarjono, dan Jamal D. Rahman. Karya mereka tidak hanya dimuat oleh situs lembaga kesenian semacam yang dimiliki Yayasan Lontar yang beralamat di http://www. lontar. org, tetapi juga oleh individu yang membuat situs pribadi. Pembuatan situs individu ini banyak berkembang di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh para industrialis internet, antara lain dengan memberikan penyimpanan gratis muatan situs tersebut. Tidak mengherankan jika di geocities. com, tripod. com, angelfire. com, theglobe. com serta banyak lagi, dapat kita temui situs pribadi. Individu ini, selain memuatkan segala hal tentang dirinya pada situs yang dibuatnya, juga berisi puisi buatannya sendiri, serta tidak lupa memamerkan puisi dari sastrawan ternama yang disukainya. Puisi telah menjadi menu yang banyak disuguhkan pada situs pribadi.
Selain individu tersebut, beberapa lembaga yang bergerak di bidang kesenian juga telah memiliki situs, antara lain Yayasan Lontar, Yayasan Taraju, KSI, Akubaca, Aksara, dan Aikon. Dapat juga disebut di sini kehadiran situs khusus para sastrawan Indonesia seperti milik Taufiq Ismail yang berlamat di http://www. taufiq. ismail. com (agaknya situs ini tidak berfungsi lagi), Sobron Aidit di http://lallement. com, Afrizal Malna, Hamid Jabbar, Sitor Situmorang (di http://www. geocities. com), dan Pramoedya Ananta Toer.
Munculnya nama sastrawan Indonesia, sebagian besar penyair, pemilik situs khusus untuk karyanya, mengindikasi bahwa bagi pelaku sastra Indonesia, dunia siber atau internet telah menjadi alternatif media pemublikasian karyanya. Mereka go international dengan karya sastra berbahasa Indonesia. Karya Ahmadun Yosie Herfanda dan Medy Loekito di Search Engine http://www. poetry. com juga ada yang ditulis di dalam bahasa Inggris dan karya Sutardji Calzoum Bachri dalam bahasa Spanyol di sebuah situs Festival Puisi Internasional.
Pencerahan Estetik Sastra Internet
Dengan menoleh sejenak ke belakang, Nur St. Iskandar pernah menyebutkan bahwa pendirian Balai Pustaka atau Volkslektuur (1908) yang membidani kelahiran majalah Pujangga Baru, melalui rubrik sastranya telah muncul tradisi sastra modern di tanah air. Pada masa itu sastra Indonesia menawarkan estetika yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Fenomena itu terlihat dalam salah satu tulisan Armin Pane yang berjudul ―Kesusastraan Baru (1933).
Pada saat ini koran telah mencipta tradisi sastra, baik pada pada prosa, puisi, maupun drama. Batasan sastra dalam koran mampu atau dapat memberi identitas terhadap sastra secara umum. Pada internet, dalam hal ini, situs sastra siber, sastrawan dapat menjajakan teks apa saja, kapan saja, tentang apa saja, latar apa saja, dan tawaran estetik apa saja. Menurut Nanang Suryadi, penyair yang karyanya tergolong kurang bagus pun, puluhan puisinya ditampilkan di internet. Artinya, para peminat sastra yang baru belajar menulis karya sastra boleh dan bebas berpartisipasi dan bereksperimen dalam sastra siber.
Di dalam media internet sastrawan dapat memperkenalkan diri dan memaknai arti kata kebebasan. Hanya saja, seperti bentuk kebebasan yang lain, internet tidak terlepas dari keramahan, kegamangan, dan risiko omong kosong. Koran terbit setiap hari, sama dengan internet, juga berakses tiap hari, bahkan ruang bagi tulisan sastra hadir setiap saat. Akan tetapi, apakah kondisi kesusastraan internet terkini sebagus kapasitas tawaran mediasinya? Banyak kondisi yang masih patut disayangkan dalam sastra internet. Permasalahan yang timbul dalam media intern internet bahwa sastrawan, kritikus sastra, dan publik sastra belum menemukan format yang tepat.
Di internet ketiadaan kurator atau redaktur penyeleksi kualitas karya sangat berpengaruh terhadap bermutu tidaknya karya sastra yang disuguhkannya. Kondisi semacam itu tidak terjadi dalam pengelolaan sastra koran atau lembaga penerbitan. Jadi, tidak mengherankan apabila para sastrawan internet, termasuk penulis pemula, akan menimbang ulang untuk mengirimkan karyanya ke koran atau pe-nerbit jika dianggapnya masih kurang bagus, yang tentu akan tersaring dalam proses selesksi.
Karya sastra di internet terlihat tidak mengikuti kriteria standar penciptaan karya sastra. Bahwa kegiatan ―menolak berbeda dengan mengabaikan perang-kat dan standar estetik. Setiap tradisi sastra memang ditandai dengan penolakan tradisi sastra sebelumnya. Pertanyaan yang patut disodorkan kepada para sastrawan internet apakah menolak atau mengabaikan tradisi sastra?
Berbagai karya yang dimuat di internet mengindikasi pengarangnya meng-abaikan--atau pura-pura tidak tahu--terhadap aliran sastra. Kenyataan membuk-tikan bahwa sastra Indonesia telah mencatatkan pencapaian artistik, yang tercipta melalui kriteria tertentu. Kondisi sastra internet terkesan kurang dilirik oleh para sastrawan berbobot. Oleh karena itu, alangkah eloknya jika internet menjadi ruang temu antara gagasan sastrawan andal dan para sastrawan pemula.
Kehadiran karya sastra dalam media internet akan sia-sia tanpa hasil estetika sastra. Karya sastra yang bercirikan karakter media internet memang belum terealisasi hingga sekarang, tetapi hal itu bukanlah kemustahilan. Untuk itu, ada beberapa peluang yang dapat dipertimbangkan dalam upaya penciptaan estetika karya sastra internet.
Pertama, karya estetik internet mengandaikan kebebasan berpikir dan berbahasa. Internet merupakan ruang bebas yang melampaui kebebasan demokrasi. Segala informasi bersilangan dan saling berebut ingin dimiliki. Hanya dengan durasi beberapa menit, seseorang sudah dapat mengakses buku-buku di perpustakaan kampus negara maju. Aplikasinya dalam sastra, karya mampu merepresentasikan adanya kebebasan dari batasan aliran sastra. Sastrawan dapat mengombinsikan aliran sastra dan menepis batasan genre, misalnya pencam-puran genre puisi, prosa, dan drama. Karya yang tidak dapat secara mutlak mewakili puisi atau drama dapat diciptakan, atau berupa percampuran sastra dengan musik atau dunia seni rupa. Konvergensi sastra tersebut dimungkinkan sebab media internet secara serentak menampilkan kata, gambar, dan suara.
Kedua, karya estetik internet mengandaikan adanya peleburan bahasa, geografi, nasionalitas, dan ras. Internet memungkinkan adanya penghilangan batas-batas keruangan atau jarak semakin kurang berarti dalam dunia digital. Sebagai contoh, penerimaan dan pengiriman e-mail dari jarak dekat dan jauh sampainya ke tujuan sama saja. Pendirian komunitas yang dipicu dari batas keruangan—nasionalisme, demografi, dan ras—menjadi tidak bermakna dalam internet. Kondisi peleburan internet tersebut bila diadopsi dalam karya sastra akan menghasilkan sebuah estetika tanpa identitas.
Ketiga, karya estetik internet mengandaikan perubahan persepsi terhadap kemanusiaan. Kedirian dalam internet merupakan suatu hal yang misteri. Dengan e-mail, misalnya, manusia sudah menjadi pribadi digital. Manusia lebih banyak berpijak pada waktu daripada ruang. E-mail memberikan mobilitas yang luar biasa tanpa seorang pun harus tahu tempat berada.
Simpulan
Media massa mempunyai peranan penting sebagai kontributor dalam mendukung kehidupan dan pengembangan karya sastra Indonesia . Melalui media massa karya sastra Indonesia dapat dinikmati, diapresiasi, dan/atau dikritik oleh khalayak pembaca, yang sekaligus mampu menciptakan kondisi dinamis dalam arena diskusi karya sastra.
Sastrawan seharusnya memanfaaatkan kemajuan teknologi masa kini untuk menduniakan sastra dan bahasa Indonesia. Dalam kaitan itu, kehadiran sastra siber membawa suatu inovasi baru dalam menduniakan sastra. Dengan memanfaatkan teknologi informasi canggih dewasa ini, alih wahana yang dilakukan dalam kesusaastraan Indonesia dari buku atau bentuk fisik ke dunia virtual atau maya merupakan transformasi sastra.
Pada dasarnya karya sastra, apa pun medianya perlu mendapat perlakuan yang sama dari para pemerhati sastra. Polemik atau perbalahan terhadap kehadiran sastra internet hendaknya dipandang sebagai fenomena dan dinamika kehidupan kesastraan, yang sekaligus diperlukan format estetika yang menguntungkan per-kembangan sastra di Indonesia.
Tindakan yang perlu kita lakukan pada saat ini adalah memperlakukan jenis karya sastra apa pun secara adil. Kehadiran sastra koran, sastra buku, atau sastra elektronik seharusnya diperlakukan sebagai kekayaan sastra dalam perjalanan sejarah sastra di Indonesia. Melalui teknologi informasi yang semakin merebak di bebagai belahan dunia, sastra siber hendaknya diberdayakan sedemikian rupa sehingga karya sastra dan bahasa Indonesia dapat dibumikan ke dalam peradaban global.
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. 1976. Almanak Antara.. Jakarta
Asmadi, T.D. 2008. ―Merintis Bahasa Jurnalistik Baku untuk Mencerdaskan Bangsa. Makalah dalam Kongres IX Bahasa Indonesia. 28 Oktober 1 November 2008. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.
Efendi (Ed. ). 2001. Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Enraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Sastra, Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
-------. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Med Press.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
http//:katarsis2011.wordpress. ―Cybersastra (Bukan) Sastra Era 2010, diunduh pada 5 Juli 2013.
http://sawali. wordpress. Com, diunduh pada 10 Juli 2013.
http://www. poetry.com, diunduh pada 14 Juli 2013.
http://www. taufiq. ismail.com, diunduh 20 Juli 2013.
http://www. lontar. org, diunduh pada 1 Agustus 2013.
http://lallement.com, diunduh pada 5 Agustus 2013.
http://www. hayamwuruk-online. blogspot.com, diunduh pada 10 Agustus 2013.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahman, Jamal D., 2002. Sastra, Majalah, Koran, Cyber. Catatan Kebudayaan Majalah Sastra Horison Februari 2002.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rembulan, Ilenk. cybersastra. org. ―Puisi Digital Cyberputika, diunduh pada 15 Agustus 2013.
Sambodja, Asep. 2003. Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008). Makalah dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 1417 Oktober 2003. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Situmorang, Saut (Ed.). 2004. Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk. Bandung: Angkasa.

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar