Minggu, 31 Mei 2015

Sastra Anak di Tengah Sergapan Media Elektronik

OLEH Dra. Mukti Widayati, M. Hum
(Universitas Sukoharjo)
Abstrak
Media elektronik menjadi sarana penting yang menunjang publikasi berkembangnya sastra anak. Bukan sekedar sebuah totntonan yang menyenangkan di berbagai televisi ataupun media elektronik lainnya tetapi lebih mendasarkan fungsinya sebagai alat untuk menanaman nilai-nilai kehidupan yang berkarakter sedini mungkin. Kekhawatiran memang sudah dirasakan oleh berbagai kalangan pendidikan, khususnya sastra. Sastra anak yang mempunyai nilai karakter itu sedikit demi sedikit disergap oleh media elektronik yang semakin canggih. Akibatnya, budaya literasi anak berkurang. Sastra anak yang kaya nilai tidak terdistribusikan dalam kognisi dan afeksi anak.

Pemahaman sastra anak disesuaikan dengan kebutuhan pemahaman estetika dan ekstra estetika anak. Sesuai dengan perkembangannya, anak akan mencoba mengeksplorasi dan mengekspresikan keindahan dari yang didengar, dilihat, dibaca. Hal itu diperkenalkan melalui bentuk-bentuk lagu (dalam puisi) ataupun bentuk cerita menjelang tidur (dalam bentuk prosa). Sastra anak dapat diperkenalkan dengan melalui bahasa yang sederhana dan dengan melagukan syair-syairnya. Bentuk puisi yang dilagukan memudahkan anak mengenal keindahan bahasa sastra melalui alitersi, asonansi, serta persajakan atau paduan-poaduan bunyi yang ritmis. Sastra prosa dapat diperkenalkan melalui tradisi lisan yang biasanya orang tua bercerita pada anak sebelum tidur. Sastra anak dapat membawa pikiran-pikiran anak dalam world vision. Dunia yang tidak sama dengan kenyataan, yaitu dunia kreativitas, dunia imajinasi anak.
Pengantar
Kemajuan media audio visual dan sarana hiburan yang cukup menggoda membawa konsekuensi pada masyarakatnya khususnya bagi pendidikan anak. Konsekuensi positif lebih bermanfaat bagi anak dalam menumbuhkembangkan ketrampilan bersastra untuk dapat lebih memahami budaya dan kehidupan agar dapat bertahan dalam era global.
Di tengah perkembangan media elektronik yang semakin maju pesat, ada kegelisahan yang dalam “budaya mebaca yang menjadi dasar pemahaman sastra akankah mulai ditinggalkan oleh anak-anak?”. Adalah suatu kosekuensi yang wajar di tengah peradaban modern. Orang cenderung berpikir secara kapitalis untuk mendapatkan seonggok keuntungan di balik itu dengan cepat dan melupakan dampak negative terhadap anak. Inilah tugas berat bagi guru, orang tua, lingkungan untuk meningkatkan gairah membaca bagi anak-anak. Tentu saja kita tidak pernah berharap budaya baca dan tulis ini “loyo”.
Berbagai tontonan di televisi bagi anak (film kartun, sinetron anak, film dokumenter) baik dalam negeri maupun luar negeri bukanlah merupakan hal yang perlu ditakutkan tapi diwaspadai. Kewaspadaan terhadap tontonan anak ini adalah dalam kendali guru, orang tua, keluarga, dan lingkungan masyakatanya. Banyak film-film kartun yang diimport dari Jepang maupun film-film anak-anak dari Negara-negara Barat yang disenangi oleh anak-anak. Seperti Naruto, Avatar, Shinchan, Hagimaru, Doraemon, Powerangers (produk Jepang), Popeye, Scoo Be Doo, Tom and Jerry, Donald Duck, Mickey Mouse (produk Barat), yang dalam penyelesaian setiap persoalan selalu dilakukan dengan kekerasan. Di satu sisi terdapat pandangan negative tetapi di sisi yang lain anak diperkenalkan dengan pengetahuan yang canggih ataupun kekuatan di luar kemampuan manusia dengan alat-alat yang unik seperti kincir serba guna yang terdapat di kepala tokoh Doraemon. Sedangkan Shinchan dan Hagimaru merupakan film komedi anak tetapi kadang-kadang melibatkan konsumsi orang tua. Lebih lagi, anak-anak dimanjakan dengan mainan yang terdapat dalam software di berbagai perangkat computer, gamewach, hand phone, dan berbagai alat elektronik. Semuanya itu jika tidak diwaspadai orang tua, anak akan dengan mudah tenggelam dalam keasyikan. Inilah yang mengancam terkikisnya budaya membaca dan menulis di kalangan anak. Akan tetapi, jika sistem kendali orang tua berjalan dengan baik dengan memanage waktu dan mengarahkan ke hal yang positif, maka anak akan mendapatkan pengalaman yang positif dan dapat mengembangkan kearah positif pula yang kemudian menjadi aktivitas yang kreatif menciptakan sesuatu karya baru berdasarkan pengalaman yang dilihat atau dinikmatinya.
Film boneka Si Unyil, sinetron Si Entong, Eneng merupakan program acara yang cenderung menghibur anak. Surat Sahabat, Sibolang, Lap Top si Unyil adalah tayangan informatif yang menjadi konsumsi anak. Tayangan tersebut sarat dengan dunia pendidikan, pengetahuan, dan kebudyaaan dalam konteks dalam negeri. Bagaimana konteks kehidupan daerah dengan seting Betawi yang diwakili oleh si Entong dan Eneng adalah salah satu sinetron yang berwawasan budaya Indonesia, yang menggambarkan bagaimana anak Indonesia bertoleransi dalam kehidupan. Surat Sahabat, Sibolang adalah tayangan informasi yang memperkaya anak-anak dalam khasanah budaya di seluruh tanah air. Sehingga bagi anak tayangan tersebut dapat menumbuhkembangkan sikap nasionalisme.
Media audio visual dan teks menunjukkan adanya hubungan dialektik. Berbagai program acara yang diproduksi di televisi adalah berdasarkan hasil skenario. Bahkan, tayangan yang bersifat edukatif justru akan memberikan inspirasi bagi anak untuk menciptakan karya baru yang sifatnya literer. Di sinilah sastra elektronik dapat ditransformasikan ke dalam teks berupa bacaan anak-anak demikian juga sebaliknya.
Tayangan-tayangan yang yang memang tidak dapat dikonsumsi anak mestinya dalam kendali orang tua, lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Tayangan-tayangan inilah yang membahayakan bagi perkembangan jiwa anak. Orang tua harus selektif dalam memilihkan program-program acara yang memang sesuai dengan perkembangan kognitif dan jiwa anak. Kecuali itu, beberapa stasiun televisi menempatkan acara anak-anak pada jam-jam yang kurang tepat, misalnya pada waktu-waktu yang dia harus belajar disiplin untuk belajar justru dipergunakan untuk kesenangan saja dengan menonton televisi. Barangkali acara anak lebih baik ditayangkan pada hari-hari libur dengan waktu sebelum jam 19.00 malam.
Perkembangan dunia elektronik bukan sesuatu yang perlu ditakutkan bagi guru, orang tua dan lingkungan. Tetapi bagaimanakah membawa kehidupan anak ini ke dalam dunia yang memang global. Agar mereka dapat memahami dan bertahan dalam kompetisi global dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang tertanam oleh budaya yang sudah mapan.
Budaya dan sastra merupakan bagian yang dialektik dan sangat berpengaruh pada sosial. Sastra tidak saja disebut sebagai lembaga sosial tetapi juga budaya. Sastra menunjukkan masyarakat dan sekaligus budayanya. Sastra yang dimaksud adalah menyeluruh tidak pandang bulu itu sastra anak ataupun sastra dewasa ataupun sastra pada umumnya. Apa yang terungkapkan dalam sastra merupakan gambaran sosial dan budaya masyarakat. Budaya dalam sastra tidaklah berwujud konkret tetapi sikap, pandangan, filosofi kehidupan, dan kebiasaan-kebiasaan kehidupan dalam masyarakat merupakan produk kebudayaan yang sangat penting dalam kehidupan. Tidak terlepas pula bagi anak. Sastra anak merupakan representasi kehidupan anak dengan segala aktivitas, pandangan, pikiran, jiwa, dan dunianya.
Pada dasarnya sastra anak mempunyai hakikat yang sama dengan sastra pada umumnya, yaitu memberikan hiburan dan kesenangan-kesenangan pada anak dan memberikan manfaat bagi anak melalui nilai-nilai yang terkandung dalam sastra anak itu sendiri. Banyak karya sastra yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan suri tauladan anak sehingga kehidupan anak akan lebih baik, nyaman, bahagia, dan berwawasan luas.
Wawasan Keindahan Sastra dan Responsi Anak
Sastra anak adalah sastra yang diperuntukkan anak. Di mana segala sesuatu disesuaikan dengan kebutuhan pemahaman estetika dan ekstra estetika anak. Sesuai dengan perkembangannya anak akan mencoba mengeksplorasi dan mengekspresikan keindahan dari yang diadapatkan. Sastra anak dapat diperkenalkan dengan melalui bahasa yang sederhana dan dengan melagukan syair-syairnya. Bentuk puisi yang dilagukan memudahkan anak mengenal keindahan bahasa sastra melalui alitersi, asonansi, serta persajakan atau paduan-poaduan bunyi yang ritmis. Sedangkan sastra prosa dapat diperkenalkan melalui tradisi lisan yang biasanya orang tua bercerita pada anak sebelum tidur.
Siapa dan berapa usia pengarang sastra anak tidak menjadi pertimbangan. Yang paling penting sastra anak adalah sastra yang mengutamakan isi dan esensinya untuk anak. Sastra anak dapat membawa pikiran-pikiran anak dalam world vision. Dunia yang tidak sama dengan kenyataan, yaitu dunia kreativitas. Kemenarikan dalam prosa lebih ditekankan pada figure tokoh dan alur cerita. Tokoh-tokoh Hero, pahlawan, orang-orang yang berjasa dalam kebaikan atau tokoh-tokoh penolong menjadi figure pembawa suritauladan bagi anak. Tokoh-tokoh tersebut biasanya melekat di pikiran anak. Dalam sastra anak yang sederhana mungkin tidak banyak disajikan konflik.
Sastra sangat berkaitan erat dengan keterampilan berbahasa. Ketrampilan awal yang dimiliki oleh anak dalam kondisi normal (tidak cacat fisik) adalah menyimak. Hasil menyimak akan diekspresikan melalui gerak motorik, proses belajar berbicara dan proses belajar menulis. Lingkungan yang dilihat, diraba, dicecap, dicium, dan didengar merupakan stimulan bagi proses belajar berbicara.
Ketika anak sudah dapat berbicara lancar dia akan berusaha mengungkapkan apa yang diindera dengan kata-kata. Melalui proses berpikir anak akan berusaha untuk berpikir, berimajinasi, membayangkan membayangkan apakah hal itu masuk akal atau tidak. Seperti yang sering diimajinasikan anak-anak; “seandainya aku jadi malaikat kecil, seandainya aku jadi burung, seandainya aku jadi kupu-kupu” yang itu semua biasanyan diungkapkan pada anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki lebih cenderung ungkapan yang bersifat maskulin dan konkret, “kalau akau jadi presiden, kalau aku jadi astronot, kalau aku jadi pilot, dan sebagainya”.
Sastra memang sudah diperkenalkan pada anak sejak usia dini. Keindahan yang didengar melalui nyanyian Nina Bobo yang dilantunkan orang tuanya memberikan sentuhan keindahan suara yang diekspresikan melalui senyuman, kenyamanan, dan ketenangan. Maka, tak ayal lagi dengan mudah bayi akan tidur nyenyak. Responsi semacam ini bersifat nonverbal yang berorientasi pada gerak (motor – oriented).
Ketika anak sudah mulai belajar berbicara maka sastra akan lebih mudah untuk diperkenalkan. Melalui nyanyian anak, ia akan berusaha untuk menirukan dan mengekspresikan memalui mimik wajahnya yang diiringi dengan gerak motoriknya. Misalnya lagu sederhana “pok ame-ame”. Lagu yang memang mengajak anak untuk belajar dan bermain bersama-sama. Ekspresi melalui mimik wajah gerak motorik merupakan apresasi terhadap bentuk-bentuk sastra yang sederhana, yang biasanya ditembangkan atau dilagukan oleh orang tuanya. Menirukan adalah bentuk produk yang baru mampu dilakukan oleh anak seusianya. Pada anak usia bicara ini terdapat response verbal, dimana anak sudah mulai menirukan bahkan memberikan pendapat dengan bahasa dan logika yang sederhana dan sesuai dengan perkembangan kognitifnya. Nilai edukasi di balik lagu tersebut adalah mengajarkan pada anak untuk selalu bermain bersama, makan dan minum yang bergizi untuk pertumbuhan badan.
Ketika anak sudah dapat berbicara tetapi belum dapat dapat membaca, ia akan mengekspresikan apresiasinya dengan kata-kata. Misalnya bagaimana tanggapannya ketika orang lain bercerita atau ketika ia melihat gambar berantai seperti komik. Dia akan mengapresiasi dan hasilnya diwujudkan dalam bentuk lisan. Ketika ia menghadapi sebuah gambar ia akan membaca gambar tersebut sesuai dengan apa yang diimajinasikan. membaca. Oleh karena itu, hasil ekspresi imajinasi melalui lisan ini mungkin akan berbeda satu anak dengan yang lain. Inilah bukti bahwa anak mempunyai daya apresiasi yang berbeda terhadap gambar yang dilihat. Response itu bersifat verbal. Lagu-lagu anak yang puitis dapat digolongkan pula sebagai sastra anak. Misalnya, Desaku, Kebunku, Pelangi, Bintang Kecil, Balonku, Satu-satu, dan sebagainya menunjukkan adanya bahasa yang ritmis yang terletak pada paduan bunyi pada akhir baris maupun pada setiap suku katanya.
Di situlah keindahan sastra dapat dinikmati oleh anak. Puisi yang dilagukan akan lebih mudah untuk dipahami anak. Di daerah Jawa terdapat lagu-lagu dolanan yang diperuntukkan anak-anak dengan bernyanyi sambil bermain. Misalnya. Cublak-cublak suweng, uri-uri, sluku-sluku bathok, jamuran, dan lain sebagainya merupakan lagu dolanan yang mempunyai nilai adiluhung. Keadiluhungan itu terletak pada gaya penyajiannyanya yang ritmis dan nilai yang terkandung di dalam lagu tersebut. Menyimak lagu-lagu dolanan pada anak-anak Jawa menunjukkan bahwa mereka mengutamakan kebersamaan, kerukunan, dan bukan masyarakat yang individu karena setiap permainan yang diiringi lagu dolanan tersebut dimainkan oleh beberapa anak. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat komunal.
Gambar merupakan sarana sastra bagi anak baik dalam media kertas, TV, maupun media elektronik yang lain. Penyampaian lisan dari anak menjadi sangat penting dalam melatih ketrampilan menyimak dan berbicara. Seperti yang ditemui dalam layar kaca dalam sebuah media TV dalam beberapa sinetron yang melibatkan anak sebagai pemainnya. Bagaimana anak dapat membaca naskah/scenario? Dialog yang mereka lakukan adalah karena mereka dituntun untuk menirukan sang sutradara. Jadi sebenarnya potensi anak sebagai produsen sastra sangat tinggi. Allanis dalam Doo Bee Doo, Baim dalam Cerita SMA, adalah anak-anak yang masih jauh di bawah umur (sekitar 2 tahunan) yang tentu saja tidak dapat membaca apalagi menulis tetapi mereka sudah dapat bermain sinetron. Mereka sudah menjadi pelaku seni yang menghasilkan berbagai kesukaan. Seorang actor ataupun aktris harus dapat menafsirkan teks sehingga ada keharmonisan antara acting dan dialog yang membuat sinetron atau drama itu menjadi lebih menarik. Walaupun mungkin menemui berbagai kendala.
Pada anak usia pendidikan dasar yang sudah mengenal huruf dan dapat membaca sudah dapat dimulai tradisi literasi. Mereka akan lebih bisa mengekspresikan apa yang dipikirkan, apa yang sudah menjadi pengalamannya, dan apa yang akan dilakukannya. Ketika ketrampilan menulis sudah dikenalnya, ia akan berkembang menjadi seorang produsen sastra sekaligus kritikus.
Pada tingkatan ini, anak sudah dapat melakukan response verbal/lisan mapun tulis. Response dalam tingkatan rendah berupa perasaan-perasaan nyaman dan senang, kemudian pada tingkat kedua berupa sikap, tingkah laku dan gerak-gerik motorik serta mimic wajah yang bersifat nonverbal. Tingkat ketiga, response dapat bersifat ketiga-tiganya, dan pada tingkatan ke empat responsi lebih bersifat tulis. Responsi pada tingkat tinggi, dalam taraf kematangan berpikir, responsi dapat berupa pernyataan-pernyataan atau statemen-statemen yang kritis dengan bahasa yang sistematis dan lebih kompleks. Responsi tersebut dapat dikatakan sebagai krtitik sastra.
Sastra dalam Sergapan Media Elektronik
Bagaimana sastra menghadapi sergapan dunia teknologi yang semakin maju pesat dimana anak-anak lebih cenderung menikmati dunia audio visual. Pendidikan sastra adalah melibatkan empat ketrampilan berbahasa dan berimajinasi. Ekspresi imajinasi yang disajikan dengan keindahan bahasa menjadi produk sastra. Bagaimanakah ini dapat ditanamkan pada anak sehingga anak menjaqdi produsen sastra bagi dirinya sendiri.
Kemajuan alat teknologi bukan untuk digelisahkan selama ada campur tangan positif dari lingkungan pendidikan. Dalam era ini anak jangan dibiarkan menjadi GAPTEK. Mereka dituntut dapat mengoperasionalkannya. Internet yang merupakan sumber informasi dan inspirasi hendaknya dapat dipergunakan anak secara positif. Dengan sendirinya, anak yang didominasi pikiran positif akan dapat menyaring mana yang lebih bermanfaat dan mana yang menimbulkan kerugian bagi dirinya. Dengan alat yang begitu canggih, computer/laptop/internet mereka dapat menggunakannya sebagai sarana untuk menulis, mengekspresikan ide, pengalaman, perasaan-perasaan kagum terhadap tokoh dan objek-objek tertentu. Karyanya itu kemudian dipublikasikan ke berbagai media untuk dikomunikasikan pada pembaca. Alat-alat itu merupakan sarana produksi karangan.
Tradisi tulis juga bukan ancaman bagi anak untuk meninggalkan dunia audio, audio visual, sosial, dan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan softwarenya anak. Karena semuanya itu akan memberikan pengalaman dan kekayaan kreativitas anak. Memberikan pengalaman budaya, sosial, pendidikan, termasuk campur tangan positif yang menjadikan anak akan dapat lebih memahami kehidupan melalui sastra. Dalam hal ini anak akan mengeksplorasi dengan melakukan cross culture understanding. Pilihan bacaan juga mendukung adanya cross culture understanding. Dengan demikian anak akan mengenali budaya asing yang kemudian dapat membandingkan dengan budaya negri sendiri. Pada taraf yang lebih tinggi pemahaman yang demikian ini akan menjadi inspirasi anak. Anak akan menjadi pengarang yang produktif, apalagi sudah mempunyai wadah dan komunitas.
Cerita-cerita rakyat, bukanlah suatu yang dianggap ketinggalan tetapi semua mempunyai porsinya sendiri sendiri dalam konteks masing-masing. Cerita Kancil versi Kancil Mencuri Timun mungkin dapat dikembangkan oleh anak dengan daya krativitasnya menjadi kancil yang lebih cerdik dalam konteks anak-anak sekarang. Kancil yang dapat bermain alat-alat elektronik. Kancil dapat dimetaforakan sebagai anak yang cerdik dan mandiri sebagai anak sekarang yang mempunyai kualitas pendidikan dan budaya tinggi. Image kancil mencuri timun bukan seakan-akan negative dan menyarankan anak dalam budaya yang tidak baik. Tetapi di balik itu kecerdikannya tidak pernah ditinjau kembali. Bagaimana kancil dapat melarikan diri dari bahaya yang akan menimpanya.
Nah, image kecerdikan inilah yang dapat dimanfaatkan anak atau penulis-penulis cerita anak dalam konteks yang sekarang, seperti cerita Home Alone. Cerita anak yang tinggal sendiri di rumah tetapi dapat mengatasi segala permasalahan yang dihadapi sampai pada masalah kejahatan yang akan menimpanya. Dengan kecerdikan-kecerdikan itulah anak akan lebih dididik untuk lebih berani dan mengambil keputusdan sendiri terhadap apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Dalam hal ini sastra dalam hal ini sebagai karya seni dapat meningkatkan kecerdasan intelektual. Sastra juga mengandung nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini perlu pemahaman yang dalam pada anak. Nilai-nilai sosial budaya yang terdapat dalam sastra dapat mempengaruhi anak lebih meningkatkan kecerdasan emosional. Pemahaman sastra pada anak sebenarnya ntidak hanya berorientasi pada tingkat organic dan arorganik saja, tetapi sampai pada tingkatan humanism dan metafisik. Tingkatan humanism dan metafisik mempengaruhi anak lebih memahami kehidupan sampai pada tingkat religious.
Berangkat dari ide-ide yang sederhana mengenai kasih sayang ibu/orang tua, adik, kakak, teman, guru, kekagumannya terhadap lingkungan sudah mulai ditulis anak-anak di beberapa media massa. Hampir setiap media massa, pada hari-hari khusus atau edisi khusus memuat karangan-karangan anak-anak. Dalam hal ini, media massa sudah bisa mereka jadikan wadah bagi tulisannya. Selain itu, beberapa kota besar mempunyai komunitas sendiri yan g menampung anak-anak kreatif. Akan tetapi tidak berhenti di sini.
Proses transformasi selalu ada dalam fenomena sastra. Cerita-cerita anak-anak dengan versi yang berbau mitos, yang dalam setiap penyelessaian masalah cerita selalu menghadirkan tokoh yang kuat/atau kekuatan-kekuatan supranatural yang dimunculkan secara fiktif, misalnya cerita Timun Mas, Keyong Mas, Bawang Merah-Bawang Putih, Cinderela, dapat ditransformasikan dalam bentuk cerita dalam konteks modern.
Kadang-kadang sikap, pikiran, anak yang lugu dapat dieksplorasi ke dalam karya sastra yang besar sehingga mendapatkan penghargaan yang besar. Misalnya karya NAGUOIB MACHFOUZ yang berjudul “SURGA ANAK-ANAK”. Cerpen ini pernah mendapatkan penghargaan NOBEL PRIZE FOR LITERATURE pada tahun 1988. Kalimat-kalimat yang sederhana seperti yang diucapkan seorang anak yang lugu yang selalu menanyakan hal-hal yang metafisis sehingga ayahnya sulit untuk menjelaskan. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain tentang agama, mati, dan Tuhan. Seperti kutipan berikut:
1. Tentang agama
Seorang tokoh “aku” (anak kecil yang bersahabat dengan Nadia) mempertanyakan mengenai perbedaan agama dengan sahabatnya. “Aku” beragama Islam dan Nadia beragama Kristen. Seorang ayah harus secara berhati-hati menjawab pertanyaan anaknya, seperti percakapan berikut.
“Kenapa saya seorang Islam?”
Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia (ayahnya) berkata:
“Bapak dan ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam”.
“Dan Nadia?”
“Bapak ibunya orang Kristen. Sebab itu juga ia Kristen?”
“Apa karena bapaknya berkacamata?”.
“Bukan. Tak ada urusannya dengan kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen”.
2. Tentang kematian
Kata-kata polos “aku” yang memberikan response dan pertanyaan pada ayahnya tentang Tuhannya Nadia yang menurut cerita Nadia Tuhan dulu tingggal di bumi tetapi sekarang telah meninggal/ mati dan kakeknya juga sudah meninggal. Seperti kutipan berikut.
“ Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi”.
“Karena ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana”.
“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”
“Tapi Ia hidup dan tidak mati”.
“Nadia bilang, orang-orang telah membunuh-Nya”.
“Tidak, saying.mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati”.
“dan kakekku masih hidup juga?”.
“Kakekmu sudah meninggal”.
“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”
“Tidak, ia meninggal sendiri:.
“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”
Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.
“Tidak, insya Allah ia akan sembuh”.
“Dan kenapa kakek meninggal?”
“Sakit dalam ketuaannya”.
“Bapak pernah sakit dan bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”
3. Tentang Tuhan
Tokoh “Aku” mempertanyakan keberadaan Tuhan (Allah).
“Siapakah Allah, Pak?”
Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:
“Apa kata Bu Guru di sekolah?”
“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu”.
Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya”.
“Seluruhnya?”
“ya. Seluruhnya”.
………
“Dimana Ia tingal?”
“Di dunia seluruhnya”.
“Dan sebelum ada dunia?”
“Di atas”.
“Di langit?”
Pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan tokoh “Aku” (seorang anak kecil) semacam itu adalah wajar karena rasa keingintahuannya yang tinggi. Pemahaman filosofis yang abstrak belum begitu bisa karena pemahamannya baru dalam tingkat konkret dan kasat mata. Seorang anak akan terus bertanya sesuatu sampai dia mendapatkan pemahaman dan gambaran yang konkret mengenai eksistensi sesuatu.
Cerpen tersebut sebenarnya diangkat dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang biasa terjadi. Ketika orang tua atau orang dewasa tidak berhati-hati maka akan memberikan pemahaman yang salah sejak dini dan itu membahayakan. Sebagai bacaan anak, cerpen tersebut cukup bagus karena mengandung nilai-nilai toleransi dan religious yang membawa tingkat pemahaman sastra anak yang lebih tinggi.
Berbagai upaya dalam meningkatkan pemahaman kehidupan anak melalui sastra anak dapat dilakukan di lingkungan formal maupun nonformal. Di lingkungan sekolah, anak akan lebih mudah diarahkan untuk selalu membaca dan membaca. Tentu saja sarana dan prasarana cukup menentukan keberhasilan anak dalam memperluas apresiasi sastra. Selain itu, peran guru sangat penting dalam memberikan kekayaan apresiasi sastra. Dalam hal ini, pendidikan dan keahlian guru sangat dibutuhkan. Jika profesionalisme guru Bahasa dan Sastra Indonesia memang sudah menu njukkan kualitas yang tinggi, maka tidak perlu diragukan lagi keberhasilan sebuah pengajaran sastra dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi.
Di lingkungan nonformal, orang tua dan keluarga sangat menentukan anak dalam mencintai sastra, yaitu dengan menyediakan bacaan-bacaan anak. Peran aktif orang tua dengan bersama-sama ikut mengapresiasi sastra secara lisan sangat juga diperlukan. Secara tertulis, orang tua dapat menyediakan sarana-sarana yang diperlukan.
Penutup
Sastra memang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Dengan memahami sastra, anak dapat diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang berwawasan global. Tidak menjadi anak yang tertinggal. Juga tidak menjadi anak yang larut dalam kehidupan modern sehingga meninggalkan budayanya sendiri. Sarana elektronik yang menawarkan berbagai program hiburan yang memabokkan bagi kalangan umum bukan suatu yang harus dimarginalkan. Justru ini merupakan tantangan bagi pelaku-pelaku pendidikan dan budaya untuk memfilter dan mengarahkan anak ke dalam perkembangan yang positif sehingga mereka mampu berkompetisi dalam mengembangkan pendidikan di era globalisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. 2004. Antologi Cerpen Nobel. Yogyakarta: Penerbit Bentang.
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tarigan, Henri Guntur. 1995. Dasar-Dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.

Tulisan ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia X di Hotel Grand Sahid Jaya, 28—31 Oktober 2013 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar