Minggu, 05 Juli 2015

Frankfurt Book Fair 2015: 17.000 Islands of Imagination

OLEH Adhimas Faisal

Perhelatan Frankfurter Buchmesse atau Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 yang belum saja dimulai, ternyata telah menimbulkan polemik di dalam negeri. Penyebabnya berakar, tema 17.000 Islands of Imagination yang diusung oleh delegasi Indonesia, bergeser ke tema “Peristiwa 65.” Polemik ini ikut menarik urat syaraf para penggiat literasi tanah air untuk memperdebatkannya.
Dalam gelaran yang dimulai sejak tahun 1949 itu, Indonesia ditasbihkan sebagai tamu kehormatan (guest of honour) oleh panitia FBF. Posisi Indonesia yang “lain daripada yang lain” itu dianggap sebagai momentum penting bagi perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia. Terlebih, untuk mengenalkan khasanah sastra Indonesia di mata dunia.

Karenanya, penggiat sastra tanah air merasa punya peran penting untuk mengawal ajang yang terhormat itu. Wajar jika kritikan pun bergemuruh di sela-sela penyelenggaraan, pemilihan karya, kualitas karya, hingga polemik pemberitaan di salah satu media online Jerman.

Kritik mulai mendera ketika Goenawan Mohamad (GM) dipilih sebagai Ketua Komite Nasional oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan. Budayawan sekaligus penggagas majalah Tempo ini turut mengusung tema “17.000 islands of imagination.” GM pun memilih 70 penulis yang akan dibawa ke perhelatan itu. Di antaranya merupakan sastrawan.

Beberapa nama penulis tersebut di antaranya Andrea Hirata, Sapardi Djoko Damono, Ayu Utami, Eka Kurniawan, Ahmad Fuadi, Tere Liye, Dewi Lestari, Linda Christanty, NH Dini, Seno Gumira, dan Sindhunata.

Namun, dalam perjalanannya, tema 17 ribu Pulau Imajinasi itu justru melenceng jauh. Tidak ada imajinasi dari 17 ribu pulau yang dapat merepresentasikan kesustraan Indonesia. Melainkan, Peristiwa 65 atau Pergerakan G30S PKI menjadi tema utama Indonesia yang diwakilkan melalui novel Amba dan Pulang. Kabar mengagetkan ini juga diperkuat oleh berita kontroversial dari media Jerman DW Indonesia pada 23 Juni 2015.

Dalam berita di media Jerman versi bahasa Indonesia itu tertulis, “Dari 13-18 Oktober, Indonesia akan tampil di Frankfurt sebagai tamu kehormatan. Yang cukup mengejutkan, kebanyakan yang memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya adalah penulis perempuan.”  

Kalimat terakhir pada pemberitaan itu jelas keliru. Karena, sejarah sastra Indonesia mencatat bahwa tak lama setelah Soeharto naik tahta hingga saat ini, telah banyak penulis laki-laki menulis novel bertemakan peristiwa 65. Bukan hanya Laksmi Pamuntjak yang menulis Amba dan Leila S Chudori sebagai penulis Pulang. Sebut saja, Noorca M Massardi dengan novel September, Umar Kayam dengan cerpen Sri Sumarah dan Bawuk, Ahmad Tohari dengan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, sampai Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka.

Jadi, publik sastra tanah air melihat ada dua hal yang salah pada proses perjalanan FBF ini. Pertama, mengapa tema 17.000 Pulau Imajinasi itu disempitan dan diselewengkan ke peristiwa 65 sebagai tema bayangan? Kedua, kenapa hanya dua penulis perempuan yang dikatakan sebagai pelopor novelis bertema 65? Sedangkan, banyak karya dari novelis laki-laki muncul  jauh sebelum Laksmi dan Leila.

Dengan demikian, publik mencium gelagat aneh jika sebenarnya permasalahan ini menyimpan sebuah skenario di belakangnya. Mengingat, tidak ada upaya panitia untuk mencegah kesimpangsiuran ini. Namun, justru sebaliknya, panitia seolah menganggap hal ini sebagai sebuah kewajaran.

Mata dunia, khususnya pers dan publik Jerman sekarang fokus pada tema FBF Indonesia: peristiwa 65 yang sejatinya merupakan sejarah kelam Indonesia. Sayang sekali, melihat status sebagai tamu kehormatan FBF, Indonesia justru terkesan mengedepankan isu komunisme saja sehingga mengenyampingkan tema awal: 17.000 Islands of imagination. Karena, jika menilik tema itu, terdapat banyak penulis hebat di Indonesia dengan tema luas yang bisa dimunculkan dibandingkan karya yang bertemakan peristiwa 65 saja.

Bukan perkara sederhana, karena tema 17.000 Pulau Imajinasi Indonesia tentu hal yang sangat menarik. Karena, secara eksplisit, dari judul ini bisa dibayangkan betapa yang diinginkan publik adalah gambaran tentang kemegahan imajinasi yang menawan dan akan sangat potensial mencuat.

Misalnya, keindahan alam atau adat budaya dan kebiasaan-kebiasaan manusia Indonesia yang mendiami 17.000 pulau besar-kecil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Bukankah Indonesia di mata dunia terkenal dengan hal-hal itu?

Pulang oleh Leila S Chudori dan Amba oleh Laksmi Pamuntjak adalah novel yang sebagian besar memperbincangkan tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, tokoh yang memiliki sisi historis dengan PKI itu dibentuk penulis justru sebagai “PKI yang melankolis.” Mengapa?

Karena kesan yang ditangkap terhadap tokoh di dalam novel itu lebih kepada korban yang berharap—atau harus—diberi simpati. Jadi, apakah ada korelasi 17.000 Islands of Imagination dengan PKI? Mungkin ada, tapi dalam bentuk dan sudut pandang yang dipersempit.

Benar jika PKI, September 1965, dan hari-hari sesudahnya merupakan lembaran muram dalam buku sejarah Indonesia. Tapi, perlu digarisbawahi, ada banyak sekali korban-korban akibat peristiwa 65 yang dituduh punya hubungan dengan PKI.

Hidup mereka tidak pernah lebih baik. Mereka telah mengalami mimpi buruk di sepanjang malam dan menderita di sepanjang hidupnya. Dengan demikian, haruskah Indonesia “menjual” peristiwa 65 di luar negeri? Lalu, melencengkan tema Pulau Imajinasi dan seolah memunculkan dua nama novelis perempuan yang dianggap pelopor itu?

Kini, kritik mengarah kepada sosok GM sebagai ketua delegasi Indonesia untuk FBF 2015 yang sejatinya akan dilaksanakan pada 13-18 Oktober nanti. Dia berdalih jika pemilihan tema dan peristiwa 65 berdasarkan ketertarikan publik Jerman terkait komunisme di Indonesia.

Seperti tulisannya di Facebook, GM menyatakan orang Jerman suka mengungkit tentang "masa lalu" yang dihapuskan. Ketertarikan itu diperkuat oleh sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer berjudul The Act of Killing dan The Look of Silence.

Kedua film itu mengisahkan sosok eksekutor sadis PKI dan beberapa pengakuan korban terkait tragedi 65. Film itu sejatinya telah diputar dan didiskusikan di Berlin dan Frankfurt beberapa waktu lalu.

Hal serupa juga diutarakan Ketua Komite Media dan Hubungan Luar FBF 2015, Andy Budiman. Dia membantah semua tuduhan yang cenderung menyerang pihaknya. Lewat dinding Facebook miliknya, pekan lalu, Andy juga memberikan klarifikasi resmi. Dia satu suara dengan GM yang menegaskan tidak ada persekongkolan dari pihaknya untuk mengarahkan peristiwa 65 sebagai tema utama.

“Saudara Goenawan Mohamad menjelaskan bahwa tidak mungkin ada sebuah tawaran tema khusus, mengingat tahun lalu saja ada sekitar 40 ribu buku yang diterbitkan di Indonesia,” kata Andy.

Jika berangkat dari tema 65 yang tercipta karena ketertarikan publik Jerman, maka integritas karya sastra Indonesia bisa menjadi lemah adanya. Karena, sangat sayang jika sastra di Indonesia hanya diukur dari novel yang bertemakan peristiwa 65 saja. Karena, novel yang telah banyak menerima penghargaan sastra dunia seperti Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer sejatinya berbicara kolonialisme dan feodalisme di Indonesia.

Bukan perkara peristiwa 65 saja. Terkesan bahwa Komite Nasional sepertinya gagal untuk meredam minat Jerman yang fokus hanya terhadap persitiwa 65 saja tanpa bisa dialihkan ke topik-topik lainnya. Sehingga, ketertarikan itu akhirnya yang menjadi parameter “jualan” sastra Indonesia di FBF nanti.

Jika benar Komite Nasional menggunakan parameter itu untuk melompat jauh dari tema 17.000 Pulau Imajinasi, maka kecurigaan lainnya mengarah pada proses seleksi penulis yang dibawa ke FBF. Mengingat, hanya ada dua penulis seperti Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori yang seolah dilambungkan.

Selain itu, tidak transparannya prosedur dan kriteria buku-buku yang akhirnya diterjemahkan ditengarai sebagai akar permasalahan lain. Sepertinya, tidak ada parameter yang jelas terhadap pemilihan buku-buku yang akan diterjemahkan. Faktor ini penting karena buku-buku yang akan dipamerkan di FBF nanti harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam Bahasa Jerman atau Inggris.

GM menampik kecurigaan itu. “Buku-buku yang berhasil diterjemahkan dan dikirim ke Frankfurt adalah buku yang telah dikuratori oleh tiga orang Jerman. Buku-buku itu diseleksi bukan berdasarkan nama penulis. Melainkan, berdasarkan keragaman tema dan daerah si penulis. Memang, sampai saat ini proses penyeleksiannya belum final,” kata GM di laman Facebook miliknya. Tapi, argumentasi itu dinilai masih lemah. Karena kurator hanya diisi dari pihak Jerman dan tidak diimbangi kurasi dari pihak dalam negeri sehingga hasilnya tidak akan komprehensif.

Jika mengenyampingkan peran kurator, permasalahan penerjemahan juga menjadi batu sandungan bagi proses penyeleksian penulis Indonesia. Permasalahan sebenarnya adalah bagaimana mempromosikan buku-buku penulis jika karyanya belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Jerman.

Ironis, ketika penulis-penulis berbakat Indonesia gagal mempromosikan karyanya hanya karena perkara penerjemahan. Sehingga permasalahan penerjemahan ini menjadi pemicu lain penyelewengan tema FBF Indonesia. Karena, diketahui bahwa novel Amba sejatinya telah dikenal publik Jerman dengan nama Alle Farben Rot. Amba ditemukan dan dibeli hak ciptanya oleh Penerbit Ulstein Verlag melalui Borobudur Literary Agency pada tahun 2013.

Sebenarnya, pemerintah Indonesia telah menyediakan subsidi penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris terkait FBF 2015 ini. Prosedurnya sudah dimulai sejak tahun lalu. Tapi pelaksanaannya tidak berjalan lancar.

Buku-buku dari para penulis terbaik Indonesia tidak pernah bisa diterjemahkan secara proporsional dan komprehensif. Entah faktor apa penyebabnya. Buku-buku yang akhirnya dapat diterjemahkan sangat tidak memadai jumlahnya dan gagal menjadi gambaran yang signifikan dari karya-karya terbaik di negeri ini. Ironis, mengingat pemerintah telah menunjukkan komitmennya pada FBF 2015 dengan mengeluarkan dana sebesar Rp146 miliar.

Kini pelaksanaan FBF hanya menyisakan waktu tiga bulan saja. Sementara persoalan masih belum dapat diurai sepenuhnya. Tentu, masyarakat sastra di Indonesia berharap bahwa nantinya Indonesia tidak hanya menampilkan tema peristiwa 65 semata. Karena, khasanah sastra Indonesia begitu kaya tema dan terlalu sempit jika tema “kelam” itu saja yang nantinya akan merepresentasikan wajah sastra Indonesia kepada dunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar