Rabu, 26 Agustus 2015

Orasi Sastra: Kesaksian Personal

(Disampaikan dalam Silaturahmi Sastrawan Sumatera Barat)

OLEH Darman Moenir
Sastrawan

Saya berbahagia berpidato sastra yang bersifat personal pada hari ini, Sabtu, 22 Agustus 2015.
Betapa lagi pidato ini harus dimulai dengan menyebut halaman Remaja Minggu Ini (RMI) Harian Haluan yang berawal pada 1976 dan berakhir 1999. Ruang ini jadi persemaian kelahiran sastrawan dari Sumatera Tengah penggal kedua abad lampau. Pula, masa-masa itu mendatangkan kenangan tersendiri, sesudah dinamika Grup Krikil Tajam yang saya pimpin pada 1973, berakhir. Sebelum RMI eksis, sudah ada halaman Budaya Minggu Ini (BMI) tiap Selasa.
Izinkan saya menjelaskan, Haluan adalah salah satu surat kabar tertua di Indonesia, didirikan oleh H. Kasoema bersama Adaham Hasibuan dan Amarullah Ombak Lubis. Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas, edisi perdana Haluan terbit pada 1 Mei 1948 di Bukittinggi. Selama dan sehabis pergolakan PRRI, April 1958 sampai Mei 1969, surat kabar ini berhenti terbit. Pada bulan Mei 1969 Haluan kembali beredar. Tercatat wartawan yang mengawaki Haluan, antara lain, H. Kasoema, Rivai Marlaut, Chairul Harun, M. Joesfik Helmy, Sjafri Segeh, Annas Lubuk, A. Pasni Sata, Rusli Marzuki Saria, Basri Segeh, Sy. Datuk Tuo. Pada generasi berikut muncul nama-nama Benny Aziz, Nasrul Djalal, Sjukril Sjukur, Azurlis Habib, Ersi Rusli, Darman Moenir, Masri Marjan, Wall Paragoan, Yalvema Miaz, Herman L., Mufthi Syarfie.
Sejak 1 November 2010, Haluan berada di bawah kendali pemodal baru, H. Basrizal Koto.  Pada masa awal manajemen baru bertindak jadi Pemimpin Umum H. Basrizal Koto, Wakil Pemimpin Umum Zul Effendi, Pemimpin Redaksi Yon Erizon, Kepala Litbang Eko Yanche Edrie. Di masa ini Nasrul Azwar pernah menjadi Redaktur Seni Budaya, berbuat profesional. Untuk satu kata yang meragukan pun Mak Naih, demikian panggilan akrab Nasrul Azwar, menghubungi penulis naskah. Ikut jadi redaktur Ismet Fanany, Rusdi Bais, Hendra Dupa. Kini (2015) Pemimpin Umum/Penanggungjawab Zul Effendi dengan Pemimpin Redaksi Yon Erizon.
Pada 1976, di tahun “RMI “ bermula, saya belum setahun bergabung di Haluan. Pada 18 Mei 1975 saya menikahi kekasih, Darhana Bakar (hadir pada acara ini, dan ke mana-mana kami sering berdua), dan saya meninggalkan “pekerjaan” guru bahasa Inggris di RP INS Kayu Tanam. Di INS, saya diajak A.A. Navis yang tahu saya menyelesaikan tingkat sarjana muda jurusan bahasa Inggris di ABA Prayoga Padang. Istri saya setuju saya bekerja di Haluan. Dan Pak Kasoema mau mengajak saya dengan alasan, saya, lapeh makan, bisa berbahasa Inggris, dan saya tamat Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Negeri Padang. Mungkin saya dianggap tahu tata wajah surat kabar?
Pada tahun 1975 itu, Haluan mulai menggunakan cetak web offset tetapi huruf masih ketik timah. Pak A. Hamid, Pemimpin Perusahaan, minta saya merancang logo. Merujuk logo terdahulu, saya ajukan tiga. Satu diterima, dan itulah logo Haluan, persis, terpakai sampai kini. Ketika Basrizal Koto membeli Haluan, saya diajak rapat awal oleh Hasril Chaniago yang ikut membidani. Usul saya untuk moto Haluan, Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat, diterima dan terpakai.
Kerja rutin-awal saya di Haluan adalah korektor, pembetul ketikan. Haluan pada waktu itu terbit delapan halaman. Kerabat kerja saya adalah Djasmani, Daswir Wahiduddin, Masri Marjan (kelak jadi wartawan andal, pernah jadi Ketua PWI Sumatera Barat), Mufthi Syarfie (kini komisioner KPU Sumatera Barat), Aldjufri Sjahruddin (dosen UNP), Armansjah Nizar (terkenal dengan sebutan Mangkutak), Uzmil Argan, Indra Merdy (kelak jadi  redaktur).
Sebagai korektor, tentu saja kami bukan saja membaca tetapi bahkan memeriksa semua naskah yang diset sehingga, dengan demikian, saya tahu naskah-naskah yang disiapkan untuk RMI dan BMI oleh Redaktur Budaya Rusli Marzuki Saria (RMS). Biarpun beberapa tahun sebelum itu secara pribadi saya sudah mengenal Papa RMS, tetapi saya tidak mau mengusik naskah (sering disebut kopai, copy, maksudnya kopi) yang disiapkan dengan sungguh-sungguh, terencana, dan selektif. Otonomi dan karisma RMS sangat kuat, jujur, terpuji, tahan banting. Untuk Minggu, sudah ada sebundel naskah di ruang mesin cetak timah pada hari Kamis. Untuk Selasa, naskah disiapkan dan mulai diketik Sabtu. Ada puisi, cerpen, esai, kritik, dan vignet (ilustrasi). Seleksi dilakukan sendiri oleh RMS. Naskah masuk tiap hari, via pos atau diantar sendiri. Dan itu dikerjakan RMS selama 30 tahun lebih. Sebagai korektor, dan sekali-sekali menulis berita, saya juga menyerahkan naskah sastra dan terjemahan sastra ke RMS tetapi untuk BMI. Saya pernah “antrean” dua tahun sebelum sajak-sajak saya dimuat, antara lain, Shelly Kecil yang saya terakan di bagian awal novel Bako (BP, Cetak Pertama 1983). Shelly Kecil kemudian menang Sayembara Menulis Puisi IKIP dan, 1973, dimuat di majalah sastra paling bergengsi, pada masa itu, Horison. Beberapa bulan sebelum pemuatan, sebagai salah seorang redaktur, Sapardi Djoko Damono menyurati saya, bahwa sajak-sajak saya lolos seleksi, dan (akan) dimuat Horison. Dan Shelly Kecil mengantarkan saya ke Pertemuan Sastrawan Indonesia 1974 di TIM Jakarta. “Sajak DM sudah ada di Horison,” ujar Navis memberi alasan mengapa saya dan belasan sastrawan dari Sumatera Barat diajak ke pertemuan itu. Semua biaya transportasi dan uang saku dicarikan dan disediakan Bang Navis. Itulah pertama kali saya melihat Monumen Nasional pada malam hari. Menakjubkan! Dan di pertemuan itulah saya, malu-malu, berjabat tangan dengan W.S. Rendra, Ramadhan K.H., Slamet Sukirnanto, Darmanto Jatman, Aspar Paturusi, dan mengintip tempat tinggal Taufiq Ismail, di mes, sebelah Wisma Seni (sekarang sudah tidak ada) di kompleks TIM. Pada pertemuan itu pula saya berkenalan dengan orang-orang seusia: Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Yudhistira Ardinoegraha, Adri Damardji Woko, dan Ebiet G. Ade. Dan puluhan yang lain.
***
Ke rumah kontrakan RMS di Koto Marapak, Kota Padang, saya beberapa kali bertamu, sehingga saya mengenal istri RMS dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Ke sana saya belajar dan berdiskusi sastra, meminjam buku-buku sastra penting dan bundel majalah Horison (semua pinjaman kemudian saya kembalikan). Di tempat-tinggal RMS pula saya jumpa dan berkenalan dengan Navis yang, antara lain, mengusul agar saya banyak membaca, membentuk grup, dan menyatakan, kalau ingin jadi penulis jangan kaung, jangan menyiarkan karya di Padang ke di Padang saja.
“Kalau perlu,” jelas Navis, “jual nama saya.”
Imbauan Bang Navis memang saya lakukan, dan pada 1971, sebuah cerpen saya dimuat Indonesia Raya dengan Pemred Mochtar Lubis. Cerpen saya berjudul Nasib, tetapi oleh redaktur diubah jadi Gantungan sudah Putus. Lima belas hari kemudian, nomor bukti pemuatan dan wesel honorarium berjumlah besar sampai ke alamat kos saya. Pada 1970, setahun sebelum itu, dalam usia 18 tahun, cerpen saya bertajuk Senja Penentuan dimuat Haluan dengan Redaktur Minggu M. Joesfik Helmy.
Mengetahui ada cerpen saya dimuat di Indonesia Raya, wartawan junior Masri Marjan mewawancarai saya, dan memuat hasil wawancara itu di majalah hiburan, Selecta, 1972. Menjawab pertanyaan apa keinginan saya, kepada MM saya jelaskan: semoga Hadiah Nobel Sastra jatuh ke tangan sastrawan Indonesia. Dan sungguh-sungguh pemikiran itu bersarang di benak saya setelah membaca sejumlah buku sastra bermutu, termasuk yang dipinjamkan RMS.
Ajakan Navis agar saya membentuk Grup Studi Sastra saya tunaikan, ya, dengan Krikil Tajam itu. Bersama A. Chaniago Hr., Asnelly Luthan, Harris Effendi Thahar, R. Lubis Zamaksjari, Sjahida Siddiq, Sjaiful Usmar, Zulfikar Said, Yalvema Miaz, Susianna Darmawi, Bakhtaruddin Nasution, Sjaiful Bachri, Tabah R. Rawisati, dan satu-dua nama lain yang luput dari catatan saya. Tiap hari Minggu, hampir setahun, kami benar-benar studi sastra secara komprehensif, mendalam. Paling mengesankan, grup itu mendapat atensi besar bukan saja dari Navis dan RMS tetapi juga dari Mursal Esten, Chairul Harun, Nasrul Siddik, Roestam Anwar, Zaidin Bakry, Bhr. Tandjoeng, Muslim Ilyas, M.S. Sukma Djaja, A. Pasni Sata, Wisran Hadi, Upita Agustine, M. Joesfik Helmy, Shofwan Karim Elha, Zaili Asril, Emma Yohanna, Bagindo Fahmy, Ridwan Isa, Makmur Hendrik, Yanuar Abdullah, Benny Azis, Sjukril Sjukur, Nasrul Djalal, Anas Kasim, Sabaruddin Abbas, Satni Eka Putra, Uzmil Argan, Alwi Karmena, Asril Joni, Zainul Basri, A. Karim (yang suka mengajukan pertanyaan: ke mana kesusastraan Indonesia diarahkan?). Kepada mereka saya berutang besar.
Puncak kegiatan Krikil Tajam adalah “Malam Apresiasi Sastra” yang diselenggarakan di Taman Melati pada 22 Desember 1973. Mengurus penyelenggaraan acara, Asnelly Luthan dan saya diinterogasi Laksus Pangkopkamtibda selama 48 jam, siang-malam. Semua sajak yang akan dibacakan disensor, di(per)tanyakan. Semua data pribadi, foto-diri dari pelbagai arah, sidik-jari, siapa induak-bako, siapa sahabat kental, direkam. Pak Mayor Kahfi dan Pak Mayor Hendro bersama anggota mereka, yang menginterogasi, berlaku simpatik, bahkan membasai rokok bermerek. Dan acara “Malam Apresiasi Sastra” yang berlangsung di bawah cahaya andang dan tidak boleh liwat dari pukul 23.00 WIB itu dihadiri lebih banyak oleh intel dan aparat bersenjata lengkap. Sehari sesudah peristiwa, iven itu jadi berita. Haluan keluar dengan pojok Dr. Ronda: semoga dari daerah ini lahir Rendra-Rendra baru. Indonesia Raya dan BBC London memberitakan sehingga kabar itu menasional dan mendunia. Tidak ada kaitan sama sekali, sebulan kemudian di Jakarta memang meledak Peristiwa Malari 1974 dengan aktor utama Hariman Siregar.
***
Dengan “pengalaman” sastra seperti itu, saya kian tertarik dengan kehadiran “RMI 1976” namun, kesibukan rutin saya yang tidak bisa diundur-undur dengan pekerjaan menjadi korektor tidak memungkinkan saya bertemu dan berdiskusi banyak dengan para penulis pemula yang datang silih-berganti. (Hujan lebat, petir dan kilat membahana, puting beliung, ombak menggulung besar di Pantai Puruih, tidak boleh menghalangi kami untuk hadir di ruang koreksi.) Membaca pruf dan teks dalam bentuk koran halaman budaya saya lakukan setiap terbit. Saya baca sajak-sajak itu, cerpen-cerpen itu, esai-esai itu, dan kritik-kritik itu. Kegemaran membaca ini saya pelihara sampai sekarang. Tiap pagi, sampai hari ini, selain buku-buku (usang dan baru), saya rutin membaca empat harian yang terbit di Padang (sesuai abjad: Haluan, Padang Ekspres, Pos Metro Padang, Singgalang), satu dari Jakarta (Kompas), satu majalah berita mingguan setiap pekan, dan satu majalah sastra setiap bulan. Di era internet, saya menyigi ruang-ruang budaya banyak koran, termasuk The New York Times. Dulu, saya pernah berlangganan The Jakarta Post, Newsweek, dan membaca The Archipel Journal. Saya membaca Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, pada suatu hari, mulai pukul 10.00 pagi, dan selesai pukul 02.00, dinihari. Tidak sebulan sesudah itu, Bumi Manusia dilarang beredar. Saya membaca, membaca, membaca, menjaring makna. Pernah saya melanggani beberapa surat kabar khusus edisi hari Minggu saja, yang menyediakan halaman budaya atau ruang sastra, terutama yang terbit di Jakarta.
Syukur, sekarang, kita merdeka, termasuk merdeka untuk membaca. Lebih awal, saya terpesona dan kagum, setiap jumpa Chairul Harun, saya selalu menampak di tangannya ada beberapa eksempelar koran dan buku. Bang Chairul mungkin ogah membawa Echolac atau tas seminar. Tetapi saya berkesimpulan, dia pembaca (buku-buku dan surat kabar) berat. Di Manila, saya pernah diajak Pak Mochtar Lubis bertamu ke rumah seorang Guru Besar untuk mendapatkan goreang talua bulek balado. (Lidah Padang begok saya tidak berterima menu makan manis-manis, bergizi dan berkalori tinggi, bertarat internasional itu.) Semua dinding lantai dasar dan lantai satu rumah besar itu penuh (rak) buku. Saya pun terpana menyaksikan orang asing, di ruang tunggu bandar udara, di waktu istirahat di kampus, selalu membaca, membaca dan membaca buku. Ke mana-mana, dalam tas mereka, ada buku bacaan. (Kini, tentu saja, banyak orang punya telepon genggam, dan dengan gawai, berselancar di dunia maya. Mereka juga membaca?)
Dan saya berusaha benar menjaga hubungan baik, silaturahmi, dengan para senior, sahabat seangkatan, dan yang berusia lebih muda. Untuk menyebut beberapa, biarpun acap kena sarengeh, saya relatif dekat dengan suhu A.A. Navis, Rusli Marzuki Saria, Wisran Hadi, Mursal Esten, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Danarto, Hamsad Rangkuti, Leon Agusta, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Damiri Mahmud, A. Rahim Qahhar, Husni Djamaluddin, bahkan juga Ismail Hussein di Malaysia, Djamal Tukimin di Singapura, Fransisco Sionil Jose di Filipina. Tentu saja saya pernah berdiskusi dengan Umar Kayam, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Toeti Heraty Noerhadi, Ikranagara, Radhar Panca Dahana, Nirwan Arsuka, Nirwan Dewanto, Afrizal Malna, Taufik Ikram Jamil, Adek Alwi, Isbedy Stiawan Z.S. Ke Jakarta, saya menyempatkan diri singgah ke Jalan Bonang 17, atau ke kantor Yayasan Obor di Jalan Plaju, untuk berjumpa dengan Pak Mochtar Lubis. Ketika ke Padang, Mochtar Lubis bahkan mampir ke Jalan Pasaman II/170, Kompleks Perumnas Siteba, Kelurahan Surau Gadang, Nanggalo, tempat tinggal saya. Istri saya menjamu Mochtar Lubis dengan teh manis, dan tumbang ubi bakarambie. Sering Pak Mochtar Lubis mengingatkan, bahwa penulis itu harus berani, jujur menyampaikan kebenaran dan tidak menggadaikan apalagi menjual (harga) diri. Tidak lupa pengarang Harimau Harimau itu memberi saya buku. Mochtar Lubis bahkan minta saya menerjemahkan novel The Moonson Country, nominator penerima Hadiah Nobel Sastra, oleh Pira Sudham dari Thailand. Novel itu saya terjemahkan dengan judul Negeri Hujan, dan diterbitkan Yayasan Obor (Jakarta, 1999). Penyuntingan terhadap terjemahan saya langsung dikerjakan Mochtar Lubis.
Dari mereka dan pembacaan sejumlah buku kemudian saya menerima pemahaman dan pencerahan, bahwa untuk berbuat kreatif, sekali lagi, berbuat kreatif, di bidang sastra itu memerlukan kerja keras, bersungguh-sungguh, berpeluh, mati-matian, tidak mengenal lelah, banyak membaca dan berupaya memaknai kehidupan. Menemukan sesuatu yang baru, itulah ujud konkret kreativitas. Mengulang apa yang sudah dikerjakan M. Yamin, Amir Hamzah, Chairil Anwar atau Marah Roesli, Abdoel Moeis, Armijn Pane, Hamka, Iwan Simatupang, dan seurut sastrawan besar dan penting lain jadi sia-sia. Betapa lagi saya sempat membaca beberapa karya Boris Pasternak, Yukio Mishima, Ernest Hemingway.
Konsep dan tesis penting dan mendasar ini pula yang sepuluh tahun belakangan saya sampaikan kepada puluhan bahkan ratusan siswa, mahasiswa dan guru-guru bahasa Indonesia se-Sumatera Barat yang saya dampingi ketika mereka mengikuti Program Pelatihan Menulis (Puisi, Cerpen, Novel, Esai) yang ditaja Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat di berbagai kampus dan sekolah, dan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Pendamping lain adalah Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Upita Agustine, Gus tf Sakai, Harris Effendi Thahar, Maman S. Mahayana, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Iman Soleh, Yusrizal K.W., Abdullah Khusairi, Zelfeni Wimra, Endut Ahadiat, Muhammad Ibrahim Ilyas, S. Metron Masdison, Syuhendri.
***
DI masa jadi korektor itu saya gamang apakah saya akan mampu menulis karya yang bagus? Kemudian saya juga sempat menyimak Albert Camus, Penerima Hadiah Nobel Sastra 1957: “Setiap orang, dengan alasan yang kuat, setiap seniman, sastrawan, ingin diakui.” Lalu, apa kelak saya bisa diakui, diterima, dalam blantika sastra? Untuk itu, saya membatin, bahwa saya harus melahirkan karya bermutu, betapa pun relatif dan atau absurd ukuran bermutu itu! Saya memang tergila-gila sesudah membaca dan membaca ulang kehebatan pantun, soneta, sajak-sajak modern Indonesia, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Merantau ke Deli, Belenggu, Senja di Jakarta, Merahnya Merah, Godlob, ratusan bahkan ribuan puisi dan cerita pendek.
Di masa jadi korektor, di zaman BMI dan RMI  itulah, saya menulis novel Gumam yang entah mengapa, berani-berani saja saya menyertakan ke Sayembara Penulis Roman DKJ 1976. Ternyata ada 43 naskah roman yang menyertai, dan Gumam termasuk naskah (novel) yang layak diterbitkan sebagai bacaan biasa. Tujuh naskah lain yang direkomendasi adalah Mata-mata (Suparto Brata), Di Atasnya Pepuingan (Tri Rahayu Prihatmi), Jatuhnya Benteng Batu Putih (Mohayus Abukomar), Maryati dan Kawan-kawannya (Suwarsih Djojopuspito), Keok (Putu Wijaya), Jembatan (Ediruslan Pe Amanriza) dan Warisan (Chairul Harun). Pada Sayembara 1976 itu tidak ada Juara I. Juara II diraih Upacara oleh Korrie Layun Rampan dan Juara III Pembayaran oleh Kowil Daeng Nyonri (Sinansari ecip, yang kelak juga saya kenal baik). Dewan Juri: H.B. Jassin, Ali Audah, Mh. Rustandi Kartakusuma, Dodong Djiwapradja, dan M. Saleh Saad.
Gumam benar-benar melecut saya. Saya siasati dan pelajari lagi novel-novel bermutu, yang selalu dibicarakan, didiskusikan, dianggap terbaik. Empat tahun kemudian, 1980, saya kembali ikut Sayembara Penulisan Naskah Roman DKJ. Selama tiga tahun saya menulis Bako yang pada awalnya hendak saya beri judul Mendiang atau Silsilah. Pengerjaan Bako benar-benar berpeluh, lima kali ketik ulang, dengan mesin ketik biasa. Paling akhir, harus pakai lima lembar kertas karbon setiap kali mengetik rangkap enam. Dan pengetikan harus diulang total dari baris pertama di halaman yang sama bila terjadi salah ketik di baris ke duapuluh. Salah ketik saja bisa diakali, bisa dihapus. Tetapi, celaka, ada kata yang tertinggal, atau ada frasa yang harus ditambahkan! Mana ada tip eks, mana ada laptop pada tahun itu. Betul-betul kerja keras! Sekarang? Menyunting naskah alangkah mudah. Dari halaman tujuh bisa langsung berpindah ke halaman tujuh puluh.
Dan, alhamdulillah, luar biasa. Bako dinyatakan menjadi satu di antara Tiga Pemenang Utama. Disusun menurut abjad, Tiga Pemenang Utama itu adalah Bako (Darman Moenir, Padang), Harapan Hadiah Harapan (Nasjah Djamin, Yogyakarta), Olenka (Budi Darma, Surabaya). Ada lima Pemenang Harapan: Den Bagus (Sudarmoko, Surabaya), Dicari Hari yang Cerah (E. Nohbi, Jakarta), Ketika Lampu Berwarna Merah (Hamsad Rangkuti, Jakarta), Merdeka (Putu Wijaya, Jakarta), dan Panggil Aku Sakai (Ediruslan Pe Amanriza, Pekanbaru). Naskah masuk 25, hanya 23 yang memenuhi syarat. Dewan Juri: Ali Audah, Sapardi Djoko Damono, Dami N. Toda, Toeti Heraty Noerhadi.
Merayakan kemenangan Bako, A.A. Navis menjamu saya dan keluarga makan bersama di sebuah rumah makan terkenal “Serba Nikmat” di Kota Padang. Jamuan itu dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Walikota Padang, beberapa Guru Besar, sastrawan, budayawan, dan seniman terkemuka, berjumlah sekitar 40 orang. Semasa Navis hidup, tradisi merayakan kemenangan itu berlanjut.
Ajip Rosidi dari PT Pustaka Jaya menyurat, penerbit yang dia pimpin dan asuh sedia menerbitkan Bako. Saya terlambung! Pustaka Jaya mau menerbitkan?! Tetapi ada syarat, kalau boleh, judul diubah: Keluarga Ayah atau apa. Saya galau. Bukankah saya sama sekali belum punya naskah sastra yang terbit menjadi buku? Tiba-tiba ada tawaran luar biasa. Namun, setelah saya pikir, judul tidak usah diubah, dan biarlah Bako belum terbit. Pada hemat saya, pada diksi bako ada sistem dan sekaligus kebaruan. Pada akhirnya tawaran untuk menerbitkan Bako itu datang dari PN Balai Pustaka. Dengan acc Redaktur Sastra Soetjipto, Soebagio Sastrowardojo, Abdul Hadi W.M., dan Hamid Jabbar, saya menanda-tangani kontrak penerbitan dengan BP. Para redaktur menjelaskan, di sana-sini ada  penyuntingan, dan saya setuju. Dari sinilah saya tahu dan kemudian belajar banyak teknik penyuntingan naskah. Pada cetak pertama, Bako terbit 5.000 eksemplar, dan saya menerima wesel royalti penerbitan. Biarpun tidak banyak, alangkah enak memberi makan bini dan anak-anak dengan honor karya sastra. Syukran. Sampai 2013, Bako sudah tujuh kali dicetak BP (termasuk dua kali untuk naskah elektronik). Pada akhir 2012, Dewan Kesenian Jakarta pun melakukan digitalisasi terhadap Bako.
Dan, Bako mengantarkan saya ke mana-mana di Indonesia, di Asean, bahkan ke International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, 1988. Di kantor Kedutaan Besar AS di Merdeka Selatan, Jakarta, saya mengetahui, bahwa ke IWP saya ternyata direkomendasi oleh Wisran Hadi, Taufiq Ismail, Satyagraha Hoerip, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Mochtar Lubis, Peggy R. Sunday. Rekomendasi Taufiq Ismail dan Mas Oyik (sapaan akrab Satyagraha Hoerip) sangat didengar oleh USIS dan IWP. Sebelum berangkat ke AS, saya menerima “materi” berharga dari Goenawan Mohamad dan Ikranagara untuk, kalau-kalau, PEN Club New York bertanya mengapa buku-buku Pramoedya Ananta Toer (pada masa itu) dilarang beredar di Indonesia. Diskusi tentang Pram memang berlangsung di New York. Di AS, peserta diajak keliling ke 13 Negara Bagian, Pantai Timur, Pantai Barat, dan Amerika Tengah, Sante Fee. Sungguh-sungguh, sepuluh tahun sebelum itu, 1978, Wisran Hadi yang sedang mengikuti IWP menyurati saya, dan menyuruh saya membeli koper dan baju panas untuk juga terbang ke AS. Mungkin WH melucu, atau melagak, entahlah, tetapi itu memang terjadi: saya ke AS, diundang sebagai seorang sastrawan Indonesia. Kecuali untuk fiskal, tidak serupiah pun saya menggunakan uang dari Sawah Tangah, kampung-halaman saya. Dan sepulang saya dari AS, dengan sedikit gegar budaya, istri saya bertanya: apa rumah kita bisa direhabilitasi?
Melalui Bako pula saya berkenalan dengan beberapa calon sarjana S1, S2, S3 di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luarnegeri. Mereka bertanya tentang dan mengenai (novel) Bako. Bahkan dari Universitas Udaya, Bali, saya menerima pertanyaan yang semua dimulai dengan kata apa, siapa, mengapa, bilamana dan bagaimana. Apabila semua pertanyaan itu saya jawab, maka sebuah skripsi pun rampung.
***
Kembali ke RMI, saya masih mengikuti biarpun mungkin tidak secermat dulu. Sesungguhnya saya pernah diminta untuk memberi ulasan (terutama sajak dan cerpen), tetapi saya khawatir tidak mampu menjaga kesinambungan. Padahal inilah yang pernah ditawarkan Abrar Yusra ketika kami sama bermarkas, sama mengajar, di RP INS Kayu Tanam. Menurut Abrar Yusra, saya suka membaca dan punya potensi untuk menulis kritik sastra. Pula, biarpun (pada masa itu) ada H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, S. Boen Oemarjati, Mursal Esten, Lukman Ali, Rustandi Kartakusuma, tetapi kritikus sastra Indonesia masih sangat sedikit. Pendapat Abrar Yusra menarik perhatian, dan saya berbicara dan mengulas sajak-sajak Rusli Marzuki Saria dan Abrar Yusra dalam diskusi sastra di Pusat Kesenian Padang. Paling menarik, kedua tulisan itu kemudian dimuat Kompas (1975 dan 1976). Namun menulis kritik sastra itu tidak selalu saya lanjutkan. Saya ingin menulis cipta sastra kreatif. Namun, sungguh-sungguh, tidak mudah.
Biarpun demikian kritik terhadap karya-karya sendiri senantiasa saya lakukan, sampai kini, dan entah sampai kapan. Pengalaman dari Bako yang disunting Redaktur Sastra Balai Pustaka mengajari saya untuk menyunting puisi, cerpen, novel, esai dan tulisan sendiri, berkali-kali. Saya mengupayakan agar tulisan saya tidak (perlu) disunting lagi. Itu terjadi pada novel-novel saya Dendang (BP, 1988, mengantarkan saya untuk menerima Hadiah Sastra 1992 dari Pemerintah Republik Indnesia) dan Aku Keluargaku Tetanggaku (BP,  1993, Meraih Hadiah II Sayembara Novel Kartini 1986), Andika Cahaya (Akar Indonesia, 2012), dan novel-novel yang belum terbit, termasuk novel yang terakhir, Paco-paco (2012). Novel-novel terbit itu tidak mengalami penyuntingan, kecuali oleh saya sendiri. Satu tanda titik, tanda koma, tanda seru, satu diksi, frasa, kalimat, satu alinea, bab, saya perhitungkan dengan cermat. Judul! Ini yang tidak kalah penting, perlu dipertanggungjawabkan. Jangan sebagai akibat rayuan pasar atau penerbit lalu pengarang mau saja mengubah dan mengganti judul.
Paling mengesankan, ingin saya sebut, adalah ketika Wiswan Hadi minta saya untuk membaca naskah novel Tamu pada 1992. Tidak sampai satu hari satu malam, naskah itu (175 halaman kuarto satu setengah spasi) rampung saya baca. Tetapi, celaka, hampir setiap alinea, setiap halaman, setiap bab, nakah novel pertama Wisran Hadi itu saya corat-coret, dengan tinta merah lagi. Itu memang kerja penyuntingan yang “ganas” tetapi bukan dengan kemarahan. Guru dan sahabat saya itu tidak keberatan, bahkan berterima kasih, dengan tambahan: ko ndak bahonor do, Man (ini tidak punya honor, Man). Saya terpingkal. Tamu kemudian dimuat bersambung di Republika, 1994) dan diterbitkan Pustaka Utama Grafiti, 1996. Bahkan dinobatkan jadi buku terbaik. Dan, kemudian, beberapa naskah Wisran Hadi (bukan lakon) saya sunting. Terakhir saya menyunting novel Persiden Wisran Hadi (Unggulan Lomba Roman DKJ 2010, diterbitkan Bentang, 2013).
Penyutingan saya lakukan terhadap sejumlah naskah buku dari Singgalang melalui Khairul Jasmi dan dari Zaili Asril (lebih-kurang 800 halaman) yang mengimbali dengan honorarium relatif memadai. Saya tidak meminta, tetapi doa untuk menolak rezeki memang belum diayatkan. Saya pun menyunting naskah-naskah buku yang ditulis oleh Buya Bagindo Leter, novel Nelson Alwi, naskah tulisan Sjamsir Roust, cerita rakyat Yulizal Yunus, dan secara lisan saya pernah berdiskusi dengan Syarifuddin Arifin mengenai naskah kumpulan puisi Maling Kondang. Dan saya pun, Mahabesar (ini ejaan yang baku) Allah SWT, saya diajak oleh Kementerian Agama RI bekerja sama dengan IAIN Imam Bonjol Padang, 2012-2014, untuk memvalidasi terjemahan Kitab Suci Alquran dari bahasa Indonesia ke bahasa Minangkabau.
Ada bahkan banyak naskah yang tidak sempat saya baca dan sunting. Selain waktu yang terbatas, saya beranggapan, naskah-naskah itu lebih baik disunting oleh orang lain. Saya bukan menganggap, naskah-naskah itu populer atau bagaimana. Terakhir, Juli 2015, Eddy Pranata PNP minta saya untuk memberi catatan sampul belakang terhadap kumpulan puisi Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (Shell Jagat Tempurung, 2015). Saya minta semua puisi, hampir lima ratus (judul), dikirim dan saya baca sebelum saya putuskan memberikan testimoni, endorsement, atau apa pun namanya. Sesungguhnya saya termasuk orang yang tidak suka penggunaan catatan kulit belakang. Saya percaya, naskah yang baik, puisi yang bagus, novel bermutu, berbicara langsung dengan para pembaca, tanpa perantara. Tanpa pengakuan saya, Eddy Pranata PNP sah jadi penyair.
Dan tulisan-tulisan saya untuk surat kabar dan majalah rata-rata lolos sensor, tanpa penyuntingan. Namun bukan tidak pernah, terjadi penyuntingan dan mendatangkan kelucuan. Saya menulis diksi melesat, sebagai contoh, tetapi oleh redaktur diubah menjadi meleset. Andai hendak mengubah, mengapa tidak bertanya melalui surat-e atau melalui pesan singkat. Itulah yang saya apresiasi pada Nasrul Azwar ketika masih jadir Redaktur Seni Budaya Haluan: hanya untuk satu kata, dia mau dan tidak malu bertanya. Dan ada pula naskah “bagus” yang saya kirim ke surat kabar Padang tetapi, tanpa kabar berita, tulisan itu tidak dimuat. Tetapi saya terlambung setelah artikel itu  dimuat Kompas, tanpa perubahan satu titik koma pun. Pernah pula naskah saya kirim ke Horison, ditolak. Tetapi naskah yang sama dimuat di Kalam.
***
Penggunaan kata ubah dalam berbahasa, sebagai contoh, yang bila diimbuh menjadi mengubah, berubah, perubahan, pengubahan, perlu diperhatikan secara saksama sehingga tidak tersua lagi kata berobah, perobahan, pengobahan. Akar kata ubah bukan rubah (nama binatang), robah (tidak ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia).  Begitu pula untuk diksi meletakkan, bukan meletakan, mengontrakkan, bukan mengontrakan. Risalah “Di Bukittinggi kambing makan kelereng” atau “ke lereng” perlu dipahami. “Salat boleh di langgar” (di sebagai kata depan) atau “dilanggar” (di sebagai awalan) harus dikuasai secara jeli. Saya ingin mengatakan, setiap penulis perlu khatam memakai EYD. Belum lagi dinamika bahasa yang melesat luar biasa cepat. Fenomena kealpaan berbahasa secara baku, baik dan benar tersua hampir di enam puluh buku sastra oleh pengarang-pengarang Sumatera Barat yang terbit selama satu dasawarsa terakhir. Penggunaan judul, penyampaian alinea pertama (cerpen atau novel), atau bait pertama (dari puisi) belum mengundang minat untuk melanjutkan pembacaan. Padahal judul dan alinena pertama (bait pertama) selalu punya magnit hebat agar karya itu dibaca sampai tamat. Saya memaksakan diri untuk membaca sebagian besar buku itu tetapi melelahkan! Penggunaan kredo puitika lisentia saja tidak cukup membela.
Saya juga memandang “aneh” sebagian para pengguna bahasa Indonesia pada akhir abad lampau dan awal abad ini cenderung keinggris-inggrisan. Ini persis meniru gaya kearab-araban atau kebelanda-belandaan di zaman kolonial. Banyak sekali papan nama, merek  dagang, di Jakarta, dan juga mulai mewabah di Kota Padang, menggunakan bahasa asing. Di Taman Ismail Marzuki, dalam forum resmi, saya melayani seorang sastrawati yang keinggris-inggiran itu dengan benar-benar menanggapi pembicaraan dalam bahasa Inggris. Forum itu ditaja dalam bahasa Indonesia. Terlihat si sastrawati gugup, muka dan telinga memerah, dan diam, mungkin jengkel. Bagaimana nasib bahasa Indonesia apabila sastrawan dan sastrawati sudah tigak lagi menghargai bahasa Indonesia?
Saya tidak mengerti mengapa rumah sakit harus menggunakan diksi hospital seperti Semen Padang Hospital? Keinggris-inggrisan? Ya, tetapi lucu dan fatal. Di RS Semen Padang, saya pernah bertanya dengan bahasa Inggris yang standar dan sangat sopan kepada dua petugas satpam? Malang sekali, mereka bengong, tidak mengerti pertanyaan saya. Ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepada tiga resepsionis, mereka tersenyum dan menjawab dalam bahasa Indonesia. Mereka mengerti, mungkin tidak mau melayani saya yang sok Inggris. Pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah di RS itu semua orang harus menggunakan bahasa Inggris? Tidakkah sebutan Rumah Sakit Semen Padang lebih akrab, membanggakan? Kalau ingin internasional juga, dahulukan teks bahasa Indonesia, sehingga nama itu menjadi Rumah Sakit Semen Padang – Semen Padang Hospital.
Banyak contoh lain. Pertanyaan mendasar, kalau bukan anak-anak bangsa Indonesia, siapa lagi yang harus merayakan penggunaan bahasa Indonesia? Bangsa Indonesia, bukan? Bagaimana membayar utang generasi sekarang dan mendatang terhadap upaya hebat M. Yamin dan kawan-kawan yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928? Bagaimana kalau bahasa kebangsaan kita bahasa Jawa, atau satu di antara lebih daripada 500 bahasa daerah yang ada di Indonesia? Tidakkah terpikirkan, negara tetangga Malaysia, Singapura, Filipina, masih sering berdegus dan berkonflik dalam urusan bahasa nasional mereka?
Lebih daripada sekadar penguasaan bahasa dan “penciptaan” bahasa, masalah sikap sastra, sikap budaya, menjadi tidak terhindarkan. Saul Bellow (sastrawan Amerika Serikat kelahiran Kanada, peraih Hadiah Nobel Sastra 1976), pernah menyatakan, bahwa kehidupan itu penuh godaan. Mau menjadi penulis populer, oportunis, kagadang-gadangan, atau apa?
***
“UNTUK siapa Anda menulis?” demikian pertanyaan dilontarkan kepada Nadine Gordimer, penulis terkemuka Afrika Selatan, peraih hadiah Nobel Sastra 1991. Pertanyaan ini memiliki banyak turunan: dari manakah karakter dalam fiksi muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekat, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsa, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakat? Apakah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revolusi? Apakah karya dan cipta sastra memang memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah mengalami ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sumbangan apa yang wajib diberikan sastrawan pada  manusia?
Dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 di Stockholm, Writing and Being, Nadine yang wafat dalam usia 90 tahun menegaskan pendirian, tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun. Hal itu tecermin dalam karya-karyanya.
“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan,” ujar Gabriel García Márquez, peraih Hadiah Nobel Sastra 1982, satu kali, “tetapi kita harus memperjuangkan agar bisa menikmati dengan layak.” Kini, Gabo, demikian sastrawan asal Kolumbia ini akrab dipanggil, dicintai banyak orang karya-karya besarnya dibaca dan dikenang, bukan hanya selama seratus tahun, tetapi untuk selama-lamanya. (Terima kasih saya kepada Gus tf Sakai yang mengirimi saya terjemahan novel Marquez Seratus Tahun Kesunyian.)
“Mengapa Anda menulis? Mengapa Anda memberikan waktu anda untuk aktivitas yang aneh dan tidak jelas ini?” Orhan Pamuk, saat menerima Hadiah Nobel Sastra 2006, menjawab: “Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan sepanjang karir menulis saya.” Pamuk sering memberikan jawaban berbeda ... Kadang sastrawan besar asal Turki ini berkata: “Saya tidak tahu kenapa saya menulis, tetapi yang pasti itu membuat saya merasa lebih baik. Saya harap Anda juga merasakan hal yang sama ketika membaca karya saya. Kadang juga saya berkata bahwa saya merasa marah, itulah, kenapa saya menulis. Dorongan untuk menulis, sebagian besar adalah karena ingin menyendiri dalam ruangan.”
Dan seorang penulis besar yang pernah dimiliki Rusia adalah Boris Leonidovich Pasternak. Karya novel epik Pastenak sangat terkenal, Dr. Zhivago, menggambarkan tragedi di seputar masa terakhir Kekaisaran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet. Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, "untuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontemporer dan di bidang tradisi epik Rusia." Pemerintah Uni Soviet, yang sangat tidak senang dengan penggambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme, memaksa Pasternak menolak penghargaan itu dan mengeluarkan Pasternak dari Persatuan Penulis Uni Soviet. Walaupun tidak dikirim ke pembuangan, semua terbitan karya dan terjemahan Pasternak tertunda hingga membuat dirinya kere.
Tidak ada orang India yang tidak mengenal Rabindranath Tagore, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Tagore orang Asia pertama yang mendapat Anugerah Nobel Sastra, lebih dari seabad yang lalu, 1913. Memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, tidak hanya di India, tetapi juga meluas hingga ke Eropa. Banyak karya-karya sastra Tagore diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, Rabindranath Tagore diabadikan di salah satu ruas jalan di Kota Surakarta. Pandangan Tagore soal pendidikan ternyata memengaruhi tokoh nasional, termasuk Ki Hajar Dewantara.
Saya juga ingin menyebut seorang sastrawan paling jenius yang pernah lahir pada abad ke-20: Ernest Miller Hemingway. Karya Hemingway yang paling fenomenal adalah trilogi besar, terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent dan The Sea in Being (pada 1952 terbit dengan judul The Old Man and the Sea). Novel Lelaki Tua dan Laut ini diindonesiakan secara bagus oleh Sapardi Djoko Damono. Juga ada penerjemah lain, dan saya beberapa kali membaca teks asli The Old Man and the Sea.
Kisah hidup Hemingway paling dikenang adalah nasib sial yang selalu mendera. Dia pernah mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan pesawat terbang secara berturutan. Luka-luka itu sangat serius, bahu kanan, lengan dan kaki kiri terkilkir, ia mengalami gegar otak parah, untuk sementara waktu kehilangan daya penglihatan mata kiri (daya pendengaran di telinga kiri juga terganggu), mengalami kelumpuhan tulang belakang, remuk, liver, ginjal, serta mengalami luka bakar pada tingkat pertama di wajah, kedua lengan dan kakinya. Dalam kecelakaan kebakaran semak, membuat ia mengalami luka bakar pada tingkat kedua pada kedua kaki, dada, bibir, tangan kiri dan bagian atas lengan kanannya. Pada 2 Juli 1961 dia menembak kepalanya sendiri dan langsung tewas.
Dan seorang penerima Hadiah Nobel Sastra paling kontroversial adalah Sir Winston Leonard Spencer Churchill. Mantan Perdana Menteri era Perang Dunia kedua ini dianugerai Hadiah Nobel Sastra untuk kepakarannya dalam penulisan riwayat dan sejarah dan juga kepintaran berucap memertahankan nilai kemanusiaan yang tinggi pada 1953. Padahal dialah sang arsitek pendaratan dan penyerangan Gallipoli di Dardanella waktu Perang Dunia Pertama yang menewaskan hampir seperempat juta nyawa prajurit. Churchill sangat menentang kemerdekaan India ketika masih dijajah Inggris. Namun berkat perang melawan Hitler bersama sekutu abadi, Amerika, membuat nama Churchill melambung tinggi, hingga tulisan itu diganjar Hadiah Nobel Sastra.
***
Pada akhirnya saya perlu angkat topi dan menyampaikan salut kepada Dr. Wannofri Samry, M.Hum., Drs. Dasril Ahmad, Yurnaldi, Syarifuddin Arifin, Yulfian Azrial, Eddie M.N.S. Soemanto, dan Saudara-saudara yang sudah memungkinkan peristiwa Silaturahmi Sastrawan Sumatera Barat 2015 ini terselenggara. (Iven ini konon sudah dirancang sejak 2012, 2013 yang lalu.) Lalu, mungkinkah iven seperti ini diselenggarakan secara berkala? Tidak usah terlalu formal dan kaku, apa mungkin panitia mengakomodasi sebagian keperluan sastrawan daerah ini yang sudah sejak lama jalan sendiri-sendiri? Mungkinkah kepada sastrawan diberikan kesempatan berbuat dan menulis secara kreatif tanpa terbebani oleh keperluan rutin yang sering membebani? Mungkinkah karya-karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku? Apa tidak perlu sastrawan berprestasi diberi penghargaan? Dan, pada masa datang apakah ada donatur, maesenas sastra, seperti pada saat ini diberikan oleh Emma Yohanna. Dulu, di Kota Padang, ada maesenas sastra Roestam Anwar, Boestami. H. Basril Djabar, kini, masih tidak berpikir lama untuk membantu aktivitas sastra. Lalu tahun-tahun mendatang, siapa?
Adakah suara ini didengar oleh Pemerintah Daerah Kota, Kabupaten, Provinsi dan Republik Indonesia?
Terima kasih.
Padang, 17 Agustus 2015

Disampaikan dalam Silaturahmi Sastrawan Sumatera Barat, Sabtu 22 Agustus 2015, di Hotel Basko Padang 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar