Minggu, 15 November 2015

Bentuk (Form) Estetika Modern: Problematika Estetika Kantian dari Perspektif Estetika Analitik

OLEH Mardohar B.B. Simanjuntak

Mencari sebuah wacana yang cocok untuk mengartikulasikan estetika nusantara, tentu saja bukan pekerjaan mudah –tambah lagi, bila wacana yang dipergunakan adalah kristalisasi proses argumentasi yang berlangsung selama kurang lebih dua puluh empat abad dalam sejarah pemikiran Barat –dimulai oleh Plato dan setidaknya sampai saat ini belum “diakhiri” oleh siapapun. Mungkin yang kita butuhkan sebagai “pemanasan” adalah sebuah wacana yang relevan dengan situasi dunia kritik seni kita saat ini: sebuah wacana yang dibabtis oleh Roger Scruton sebagai pemberi “form and status to aesthetics” –bentuk dan status estetika; sebuah wacana yang publikasinya sangat signifikan dalam estetika filosofis –“[t]here has been an enormous amount of publication on Kant’s aesthetics” –klaim Paul Guyer; dan satu dari tiga kategori besar definisi seni yang digagas oleh Jerrold Levinson –sebagai “form” atau bentuk, dalam artian “the exploration and contemplation [...] for its own sake” –eksplorasi dan kontemplasi [...] untuk dirinya sendiri”. Mungkin, kita memang sebaiknya mulai dari pemikiran estetika Immanuel Kant yang memuncak dan matang dalam Kritik der Urtheilskraft-nya
Memulai pewacanaan estetika nusantara memang bisa saja kita mulai dari “mana saja” –dari estetika Plato sampai, katakanlah, Derrida; namun demikian, bukan berarti tidak ada risiko yang mengintai. Bila kita mulai dari Anti-Esensialisme, misalnya, maka ada risiko bahwa kita akan menempuh semacam ziarah katapatik yang akan mengisi kosa-kata kita dengan baku-negasi metafor-metafor yang membuat kita “bergerak dan sekaligus tidak beranjak” dari jaman mitik; bila kita masuk dengan gairah ekspresif bacchanalian estetika Nietzschean yang “terlalu liar”, risikonya mungkin kita akan jarang menulis kritik apapun –bahkan kita mungkin “merasa tidak perlu” menuliskan apapun –sebagaimana Friedrich Willhem Nietzsche menuding karakter Sokratik sebagai “dosa asali” filsafat.
Dan bila kita mulai dengan Institusionalisme Dantonian dan Dickiean, maka risikonya mungkin kita akan jatuh dalam wacana sirkular tarik-menarik kekuasaan yang ada di dalam power circle semacam itu –yang oleh Gordon Graham dikatakan “has met with even more contention” –lebih banyak yang menentang daripada mendukungnya. Bahkan bila kita memilih untuk pendekatan inside-out daripada outside-in dalam membangun sebuah wacana estetika yang “sangat Indonesia” sekalipun, risikonya adalah tidak ada jaminan bahwa kita siap dengan infrastruktur yang lebih strategis untuk sampai ke tahap pewacanaan paradigmatik yang tangkas dan cerdik menjawab tantangan dunia kritik seni Indonesia.
Mungkin kita lebih tepat mulai dari estetika Kantian; namun demikian, perlu kita ingat bahwa estetika Aufklärung –abad pencerahan –semacam ini juga tidak bebas risiko. Justru sebaliknya, dalam wacana estetika Barat gagasan-gagasan Kant pada titik tertentu sudah tidak lagi relevan dalam memberikan jawaban terhadap tantangan dunia seni paling mutakhir –seperti misalnya orijinalitas karya di era teknologi informasi. Namun tidak perlu melompat jauh-jauh hingga lebih dua abad setelahnya, argumen Kant dalam Critique of Judgement bahkan sudah mendapatkan kritikan –terutama – dari Hegel, di masa-masa awal penerbitan karya-karya Kant di penghujung abad ke-18 (Critique of Pure Reason 1781, Critique of Practical Reason 1788). Namun sebelum mengulas sedikit tentang kritik Hegel atas Kant, kita akan membahas terlebih dahulu posisi sulit yang ingin dijembatani oleh Kant.
Kant berusaha “melakoni” sebuah proyek raksasa yang telah “menghantui” filsafat sejak jaman Plato: menjembatani rasio dan etika praktis. Dengan kata lain, bagaimana yang benar (rasional) bisa “dihubungkan” dengan yang baik (normatif); dan solusi yang diambil Kant adalah dengan melakukan interpretasi ulang atas konsep yang indah yang pernah dibahas oleh Plato. Nickolas Pappas mencatat bahwa di masa Plato ada sebuah keutamaan, kalos k’agathos, yang berakar dari dua kata: kalon dan agathon. Bila kalon dapat diartikan sebagai “indah” dan agathon sebagai “baik”, maka frasa kalos k’agathos dapat dibahasakan sebagai “keindahan yang paling sempurna karena baik adanya”. Namun demikian, agathon dalam pemikiran Plato bukanlah tekhne –yang merupakan kata dalam bahasa Yunani untuk seni (atau lebih tepatnya kerajinan)–karena keindahan karya seni bagi Plato ada dalam derajat yang paling rendah.
Bagi Plato, secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan (telos) kehidupan manusia adalah melepaskan diri dari statusnya sebagai “sekedar” tiruan (mimema) dan “mengingat kembali” sang ide kesempurnaan itu (idea). Seni dengan karya seninya justru memperburuk situasi itu, karena manusia menjadi semakin jauh dari citra kesempurnaannya. Meniru yang benar (mimeisthai) –versus tekhne –bagi Plato berarti aletheias: “menemukan kembali” sang idea. Sebaliknya, Kant menggunakan kalos k’agathos Platonik dalam pemaknaan yang agak berbeda: yang benar dan yang baik adalah yang indah; sederhananya: “kebenaran yang baik adalah keindahan”. Masalahnya, keindahan ultim yang dimaksud oleh Plato dibawa oleh Kant ke ranah tekhne, dan selain itu, keindahan Kantian bersifat normatif. Serangan terhadap argumen Kant diarahkan pada titik yang kedua ini.
Estetikus Analitik Inggris Nick Zangwill mencoba membahasakan jalur problematis yang dipilih oleh Kant ini: penilaian estetik dalam sistem Kant dibangun di atas dua pilar utama: subjektivitas dan universalitas. Kant mencoba mengatasi antinomi citarasa (the antinomy taste) yang muncul sebagai konsekuensi dari otonomi partikular citarasa yang diajukan oleh David Hume: “[a]ll sentiment is right; because sentiment has reference nothing beyond itself” –semua yang dialami panca indera manusia adalah benar adanya[,] karena panca indera mengacu pada dirinya sendiri. Kant menunjukkan bahwa sebelum subjektivitas bisa bergerak ke universalitas, ada satu poin di antara keduanya yang belum sempat disinggung oleh Hume: normativitas. Mengapa normativitas menjadi penting dalam argumen Kant?
Sederhananya, bagi Kant tindakan seseorang menaruh sesuatu untuk dipamerkan mempunyai implikasi normatif: tindakan itu tidak hanya sebuah penilaian estetik, tetapi juga sebuah “permintaan” agar penilaian tersebut dihargai. Sebuah penilaian “benda ini indah” pada dasarnya mempunyai implikasi “tolong setujui bahwa benda ini indah”. Bagi Hume, mungkin pernyataan kedua terdengar absurd, tapi Kant mengajak kita untuk melihatnya dalam konteks keindahan alam: seakan sudah menjadi konvensi bahwa matahari terbit dan terbenam, misalnya, mengundang kekaguman; reaksi yang sama juga dapat kita temui pada para pengamat karya seni monumental. Atas dasar itu, Kant menekankan bahwa citarasa adalah “common human understanding” –semacam kesepakatan yang adalah dalam setiap jejalin komunal, yang sanggup mengatasi de gustibus non dispuntandum est –bahwa citarasa adalah perkara personal. Antinomi tersebut, dengan demikian, menurut Zangwill dipandang Kant hanya sebagai sebuah gejala partikular: “only applies to judgments of niceness and nastiness” –hanya berlaku dalam penilaian bagus atau jeleknya; Kant sendiri menggunakan istilah “pleasure of enjoyment” –kesenangan yang nikmat untuk penilaian semacam itu.
Tidaklah sulit bila demikian untuk melihat kehadiran the sublime–sang sublim –sebagai upaya nomenklatural dan formatif Kant dalam menyuling citarasa Humean yang memberi penekanan pada pengamat –estetika Kantian adalah estetika para pengamat –atau lebih tepatnya Nietzsche mengkritik Kant: “Kant, instead of approaching the problem of aesthetics from the experiences of the artist (the creator), meditated over art and beauty merely from the standpoint of the “spectator" –Kant, alih-alih mencoba mengkaji masalah-masalah dalam estetika dari pengalaman sang seniman (sang pencipta), ia malah merenungkannya hanya dari sudut pandang “sang pengamat”. The sublime adalah semacam “saringan” yang dipergunakan oleh Kant untuk mengidentifikasi siapa saja yang layak –tanpa-pamrih (disinterested) –disebut sebagai pengamat: hanya pengamat yang berhasil meraih the sublime yang pantas untuk berbicara tentang penilaian estetik yang paling otoritatif.
Dengan menggagas kembali the sublime yang sebelumnya pernah digagas oleh Longinus sekitar 17 abad sebelumnya, Kant akhirnya memberi bentuk pada estetika dan sekaligus statusnya. Namun demikian, seturut sistem pemikiran Kant, the sublime adalah sesuatu yang noumenal –Ding-an-sich –yang ada pada dirinya sendiri, yang menurut Terry Eagleton terkesan “tanggung” (effeminate). Yang dimaksud Eagleton adalah posisi Kant yang serba problematis dan terkesan setengah-jadi dalam mengartikulasikan karakter universal dari keindahan: Kant memberi bentuk tapi tidak memberi isi. Inilah yang kemudian dikritik dan sekaligus coba diselesaikan oleh Hegel, yang juga bereaksi terhadap karakter noumenal the sublime: “‘[t]oo tender for things’”.
Stephen Houlgate mencoba menunjukkan jalur yang ditempuh Hegel: bila Kant menekankan bahwa saat pemahaman (understanding) bermain bebas dengan imajinasi, dan pada titik itulah keindahan muncul –ini berarti bahwa universalitas keindahan Kantian bersifat eksternal, dan bukan internal pada obyek estetik. J.C.F. Schiller –bertolak-belakang dengan Kant –mengatakan bahwa keindahan justru menjadi bagian dari obyek estetik tersebut: “beauty to be the property of the object itself”. Bertumpu pada Schiller, Hegel menariknya pada tahapan yang lebih eksplisit: keindahan adalah manisfestasi kebebasan sang obyek itu sendiri –“direct sensuous manifestation of freedom”. Ini berarti bahwa dalam sistem Hegel keindahan luhur kalonian dan sekaligus agathonian merupakan sebuah titik persinggahan perjalanan Roh (Geist) Absolut sebelum dirayakan oleh agama dan terakhir matang di filsafat. Hegel mencoba mengeksplisitkan apa yang menurutnya gagap diartikulasikan Kant: sekularisasi dan emansipasi keindahan. Kritik Hegel atas Kant tersebut sekaligus mengawali daftar panjang catatan kaki para filsuf pasca-Kantian terhadap argumen-argumen estetika sang filsuf penyendiri dari Königsberg.
Argumen-argumen Kant jelas bukan tanpa cela; dan menariknya, bahkan Kant sendiri sudah bisa meraba posisinya yang sangat problematis jauh sebelum ia menulis kritiknya yang ketiga. Dalam sebuah surat yang ditulisnya tahun 1786 kepada muridnya, Karl Leonard Reinhold, seorang profesor di Jena, Kant secara eksplisit mengutarakan keraguannya: “I thought it impossible to find such principles [sic]”; prinsip-prinsip yang dimaksud Kant mengacu pada “the faculty of feeling pleasure and displeasure” –fakultas kenyamanan dan ketidaknyamanan. Meskipun demikian, Kant bersikeras untuk menyelesaikan manuskripnya empat tahun kemudian –saat Kant berumur 66 tahun. Ted Cohen, seorang estetikus analitik senior, akan membantu kita untuk melihat poin-poin kelemahan mendasar argumen Kant dari jalur estetika analitik.
Cohen mencatat tiga argumen lemah Kant: (1) “[i]n order to decide whether or not something is beautiful, we do not relate the representation by means of understanding to the object for cognition, but rather relate it by means of the imagination” –untuk menentukan apakah sesuatu itu indah atau tidak, kita tidak menyandarkan pemahaman kita pada pada kognisi, tetapi pada imajinasi”; (2) “I declare the rose that I am gazing at to be beautiful. By contrast, the judgment that arises from the comparison of many singular ones, that roses in general are beautiful, is no longer pronounced merely as an aesthetic judgment, but as an aesthetically grounded logical judgment” –saya mengatakan bahwa bunga mawar yang saya lihat adalah sesuatu yang indah. Sebaliknya, penilaian “indah” yang muncul setelah berbagai penilaian akan bunga yang sama membuatnya tidak lagi menjadi penilaian estetik, melainkan penilaian logis yang bersifat estetik; dan, (3) “[o]n beauty as a symbol of morality” –tentang keindahan sebagai simbol moralitas. Berikut kritik Cohen terhadap ketiga argumen Kant.
Pertama, fakultas Pemahaman dan fakultas Imajinasi dalam sistem Kant semestinya bekerja sama dalam menghasilkan sebuah penilaian (judgment), namun yang terjadi dalam penilaian estetik adalah reduksi peran Pemahaman yang diambil-alih secara sepihak oleh Imajinasi. Untuk menjelaskan argumennya, Cohen memberikan interaksi kedua fakultas dalam ilustrasi bunga mawar. Pertama, konsep “mawar” dan “merah” dibutuhkan untuk membuat proposisi “mawar itu merah” –yang keduanya disediakan oleh Pemahaman. Namun demikian, Imajinasi tentu tidak akan berhenti hanya pada “mawar itu merah”, karena masih banyak konsep-konsep lain (“kelopak”, “daun bunga”, dan seterusnya) yang bisa dimunculkan oleh Imajinasi. Seturut Kant, Imajinasi akan membanjiri Pemahaman sedemikian sehingga Pemahaman kewalahan menghadapinya. Pada titik ini, maka posisi Kant menjadi sangat absurd: jika Kant mengatakan bahwa keindahan adalah permainan interaktif antara Pemahaman dan Imajinasi, maka benda apapun akan memiliki asimetri yang sama; dengan kata lain: semua benda disebut indah hanya karena interaksi asimetrisnya.
Kedua, yang bagi Cohen adalah kesalahan fatal Kant, adalah inkonsistensi Kant lewat pernyataannya: “aesthetically grounded logical judgment”. Masalahnya, bagi Cohen, Kant mulai dengan proposisi tunggal –“mawar itu indah” –yang merupakan sebuah penilaian estetik, dan melanjutkannya dengan proposisi jamak –“mawar-mawar itu indah” –yang merupakan penilaian logis. Proposisi yang terakhir-lah yang menjadi blunder bagi Kant: karena bila semua proposisi tunggal dijadikan premis, maka kesimpulannya –yang merupakan proposisi jamak –bagi Cohen adalah sebuah “logical misapprehension” –kekeliruan logika.
Mungkin untuk lebih jelasnya, kita akan mencoba contoh “hantu”. Bila dasar yang dipergunakan adalah penilaian estetik, maka proposisi tunggal (P1) “hantu itu menakutkan” sah-sah saja; artinya, kita mungkin memiliki proposisi-proposisi tunggal sejenis yang kita labeli P2,P3,P4,.... Namun saat P1,P2,P3,P4,...(yang masing-masing adalah proposisi tunggal) menjadi premis-premis yang kesimpulannya berupa proposisi jamak “hantu-hantu itu menakutkan”, maka kedua macam proposisi tersebut (tunggal dan jamak) terhubung dalam sebuah proses penalaran. Bila premisnya estetik dan kesimpulannya logis, maka argumen Kant dengan sendirinya inkonsisten dan tidak sahih (valid). Sederhananya, Kant membuat kesan personal menjadi fakta universal hanya dengan menggabungkannya ke dalam sebuah argumen.
Ketiga, dengan menggunakan bahasa figuratif simile yang mengaitkan antara keindahan dan moralitas, Kant menggiring mereka yang mencoba mengikuti argumennya ke hanya sebuah kemungkinan di antara berbagai kemungkinan, dan masalahnya bagi Cohen: ini tidak menjelaskan apapun. Katakanlah ada konsep “Moralitas” (M), “Keindahan” (K), dan sebuah benda yang memang benar-benar indah (k). seturut Kant, k adalah representasi (simbol) dari M karena karena M sangat mirip dengan K. Konstruksi bahasa figuratif yang dipergunakan Kant menempatkan Kant dalam posisi sulit: ia menempatkan klausa “tentang keindahan [adalah] sebagai simbol moralitas” seolah-olah sebagai sebuah proposisi Universal Afirmatif seperti “semua filsuf adalah manusia”.
Masalahnya, “keindahan” dalam terang Kant adalah sebuah konsep yang “longgar”; sebaliknya, sebuah representasi –baik representasi langsung maupun tidak langsung –membutuhkan “jangkar” (Kant menggunakan istilah Jerman märkmale) yang menghubungkan konsep dengan anggota kelasnya (ekstensi) secara jelas. Ketiadaan märkmale membuat sebuah konsep menjadi –juga istilah yang dipergunakan Kant –Konsep Rasional. Konsep keindahan masuk dalam kategori Konsep Rasional, yang membuatnya tidak mungkin memiliki anggota kelas denotatif. Konsekuensinya, selain K, kita bisa saja mengatakan bahwa “Pengorbanan” (P) dan “Tanggung-Jawab” (TJ) serupa dengan M. Bila k kita katakan sebagai representasi M karena M serupa dengan B, namun M juga serupa dengan P dan TJ, maka keberadaan k sebagai representasi M menjadi sangat lemah dan ambigu.
Selain Cohen, kritik keras estetika analitik datang dari estetikus Amerika Noel Carroll, yang mencatat problematika pengalaman estetik (aesthetic experience) yang diajukan oleh Kant. Carroll mencatat bahwa postur tradisional yang diajukan oleh Kant selalu menyertakan pleasure/delight/enjoyment (atau dapat kita sebut qualia)–kesenangan/kenikmatan –dalam setiap pengalaman estetik: “isolate a certain experential quale [...] as a necessary condition for aesthetic experience”. Ini berarti bahwa pleasurable qualia semacam itu menjadi syarat perlu (necessary condition) bagi pengalaman estetik. Kita tahu dalam logika formal bahwa syarat perlu –berbeda dengan syarat cukup –memperkuat hubungan antara persyaratan dan angota-anggotanya: raket tenis adalah syarat perlu bagi permainan tenis, karena tidak mungkin bermain tenis tanpa raket; memukul bola tenis dengan tongkat baseball sekalipun tetap tidak dapat disebut bermain tenis. Ini artinya, sekali lagi, perlu ada pleasurable qualia dalam setiap pengalaman estetik.
Carroll pada titik ini tidak sependapat dengan apa yang diajukan Kant: “many aesthetic experiences are not pleasurable” –banyak pengalaman estetik yang tidak berhubungan dengan kenikmatan; karya seni yang gagal dan mengecewakan, misalnya, bagi Carroll tetap membuat seseorang mendapatkan pengalaman estetik –kekecewaan adalah sebuah pengalaman estetik. Selain itu, keberatan Carroll yang kedua adalah tentang karya-karya seni yang bersifat memento mori –yang lekat dengan aura kematian –atau karya-karya Damien Hirst yang memang dirancang untuk menghindari “corporeal delights” –kenikmatan ragawi –dan memperkuat keberadaan yang “fleeting and foul” –sementara dan memuakkan. Dalam ranah ini justru pengalaman estetik gagal bila menghasilkan pleasurable qualia. Satu lagi poin keberatan yang diajukan oleh Carroll adalah pengalaman estetik yang “valued for its own sake and not for the sake of something else” –bernilai hanya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk apapun di luar dirinya. Bagi Carroll ini adalah sesuatu yang problematik, karena apapun disposisi mental pengamatnya, secara intrinsik sebuah pengalaman estetik selalu bernilai –“intrinsically valuable”.
Singkatnya, bila Scruton mengatakan bahwa Kant memberikan bentuk pada estetika, maka kita telah melihat bahwa justru Hegel-lah yang memberikan isinya. Dan bila Kant ragu akan upaya yang ditempuhnya di kritiknya yang ketiga, Cohen sudah menunjukkan tiga pelanggaran dasar Kant yang membuat argumen-argumennya tidak konsisten dan dengan demikian tidak sahih: pada titik ini kesalahan Kant seperti kesalahan fondasi pada sebuah bangunan –fatal dan mungkin sulit diperbaiki lagi. Dan bila salah satu argumen Kant yang paling penting berbicara tentang pengalaman estetik yang tanpapamrih, maka Carroll sudah menunjukkan bahwa pengalaman estetik Kantian tidak dapat memenuhi dua kriteria penting secara konsisten: pleasurable qualia dan value for its own sake-nya. Lantas, masih mungkinkah kita menemukan bentuk pewacanaan estetika nusantara lewat pemikiran Kant, salah satu pilar raksasa modernisme ini?

Nietzsche boleh menyerang Kant dengan mengatakan bahwa estetika Kant adalah “estetika para pengamat”; namun bila estetika secara etimologis –menurut Malcom Budd –dari αισθάνομαι (aisthánomai) yang secara harfiah berarti “sense” –mencerap lewat indera, maka estetika semestinya dimulai dari pengamat. Saat A.G. Baumgarten menerbitkan karya seminalnya Aesthetica (yang ditulis dalam bahasa Latin) tahun 1750, empat puluh tahun sebelum Kant menuliskan magnum opus-nya, sebenarnya ada poin penting yang sering dilupakan para filsuf. Sebagai precursor Kant, gagasan cognitio sensitiva yang diangkat oleh Baumgarten dianggap berada di wilayah partikular, i.e., estetika. Namun analisis yang diangkat oleh Steffen W. Gross sebenarnya dapat memberikan masukan yang bernas bagi para pengkaji karena bagi Baumgarten cognitio sensitiva: “est a potiori desumpta denominatione complexus repraesentationum infra distinctionem subsistentium” –yang ditafsirkan Gross sebagai cara spesifik dalam mencerap realitas yang didasarkan atas pengalaman dan representasi inderawi. Mungkin sepintas kita dapat melihatnya sebagai sebuah varian dari empirisisme Humean, namun Gross menunjukkan bahwa “misi” Baumgarten lebih dari sekedar menguatkan posisi para empirisis.Tujuan akhir yang ingin dicapai oleh Baumgarten sebenarnya: “[a]estheticis finis est perfectio cognitionis sensitivae [...] [,] [h]aec autem est pulcritudo [sic]” –yang ditafsirkan oleh Gross sebagai pengembangan dan penyempurnaan kapasitas kognisi inderawi. Sekarang kita dapat memahami mengapa ars pulchre cogitandi –seni berpikir indah –menjadi tema sentral dalam sistem pemikiran Baumgarten. Pertanyaannya sekarang, apa motif di balik upaya Baumgarten yang terkesan “ngotot” ini? Christoph Menke mengatakan bahwa Baumgarten mengangkat aktivitas artistik dan memberinya “the meaning and power to transform the basic elements of the philosophically articulated, cultural self-understanding of the epoch” –makna dan kekuatan untuk mentransformasi elemen-elemen mendasar dari pemahaman-diri yang terartikulasi secara filosofis dan yang bersifat kultural. Upaya ini ditempuh Baumgarten dalam upayanya menekankan manusia sebagai felix aestheticus –mahluk estetik –yang tidak sepantasnya “reduced to either a purely rational or purely sensual being” –direduksi menjadi sekedar mahluk rasional atau mahluk inderawi. Baumgarten, sederhananya, mencoba mengangkat cognitio sensitiva setara dengan cognitio intellectualis, dan mensintesiskannya dalam ars pulchre cogitandi. Masalahnya, fondasi yang diberikan Baumgarten masih terlalu mengambang; “misi” inilah yang kemudian sepenuhnya diambil alih oleh Kant, yang juga menggunakan buku teks Baumgarten dalam memberikan kuliah-kuliahnya.Kant boleh dikatakan “memperbaiki” upaya René Descartes, yang masih menyandarkan filsafatnya pada konsep “Tuhan” yang secara metafisik kontroversial –sebagaimana yang dicatat pengkaji Descartes Josiane Schifres: “Dieu est necessaire à la science et pourtant [...] il permet à la pensée humaine de s’élancer seule” –Tuhan diperlukan dalam ilmu pengetahuan dan meskipun demikian [...] ia mengijinkan pemikiran manusia untuk bekerja sendiri [independen]. Dapat kita katakan pula bahwa Kant menghadirkan konsep “Tuhan” tanpa mengeksplisitkannya. Kant meradikalisasi dualisme Kartesian res cogitansmind –versus res extensabody –ke dalam sebuah oposisi biner noumena-phenoumena. Bagi Kant, noumena –hal yang ada pada dirinya sendiri –akan selalu menjadi misteri karena kita hanya bisa mengetahui phenoumena –apa yang tampak bagi kita –menggunakan keempat momen (kuantitas, kualitas, relasi, modalitas) sebagai mesin penghasil konsep. Bertolak dari itu, Kant membawa dualismenya ke dalam sebuah struktur hirarki: rasio murni (reinen Vernunft) sebagai titik mula, rasio praktis (praktischen Vernunft) –tempat bersemayamnya etika sekuler –di tahap selanjutnya, dan penilaian (Urtheilskraft) sebagai titik final –yang oleh Hegel dibalik urutannya: seni di awal, agama di tahap selanjutnya, dan filsafat sebagai jawaban akhir. Pemikiran Kant, dengan kata lain, memuncak di estetika –seni, kalau kita bahasakan secara sederhana, adalah pencapaian puncak pemikiran manusia yang melampaui apa yang bisa didapat lewat rasio dan panca indera.Postur yang dipilih Kant ini bukan tanpa konsekuensi: seniman, dengan demikian, adalah orang-orang yang paling dekat dengan noumena –realitas yang sesungguhnya; berkesenian berarti menjadi pihak yang sanggup “memotret” kompleksitas realitas dan menghadirkannya sedemikian hingga pengalaman estetik yang diperoleh oleh pengamat menjadi sarat dengan the sublime. Posisi hirarkis penilaian estetik yang melampaui rasio murni dan rasio praktis membawa kita ke konsekuensi selanjutnya: seni mesti sanggup bercerita lebih daripada apa yang sanggup disampaikan oleh kedua rasio Kantian tersebut. Ini berarti bahwa Kant memberikan beban lebih pada seniman: seni tidak pernah lagi menjadi sesuatu yang sederhana, apalagi sesuatu yang banal. Seni adalah sumber pengetahuan yang sarat dengan beban epistemik. Menariknya, kritik Hegel terhadap Kant dimulai dengan melepaskan beban epistemik ini, dan mengganti jangkar “Dieu” Kartesian dengan multiplisitas kehadiran “Geist” immaterial yang dijustifikasi oleh sejarah.              Kant mungkin boleh saja berspekulasi, tetapi seperti yang telah kita lihat sebelumnya, estetikus analitik seperti Cohen dan Carroll telah mengajukan keberatan mereka akan cacat fundamental yang “menjangkiti” sistem pemikiran Kant. Untuk menjawab keberatan yang diajukan oleh keduanya, pertama-tama kita akan melihat argumen yang dikemukakan Leslie Stevenson, yang mencoba membedah konsep imajinasi. Stevenson mengangkat gagasan Kant dari kritiknya yang pertama: “[i]magination is the faculty for representing an object even without its presence in [sense-perception]”–imajinasi adalah fakultas yang berguna untuk merepresentasikan sebuah objek bahkan tanpa kehadiran persepsi inderawinya. Stevenson kemudian mencoba melihat berbagai alternatif definisi tentang imajinasi, dengan mengatakan bahwa imajinasi: (1) “was or will be spatio-temporally real” –telah dan akan nyata dalam ruang-waktu; (2) “[is] possible in the spatio-temporal world” –mungkin dalam ruang-waktu; (3) “[is believed] to be real, but which is not real” –dipercaya sebagai sesuatu yang nyata, tapi ternyata tidak nyata; (4) “[is] opposed to what one believes to be real” –berlawanan dengan apa yang dipercaya seseorang sebagai sesuatu yang benar; (5) “[is able] to entertain mental images” –bisa menghibur imaji-imaji mental; (6) “[is able] to think of [...] anything at all” –mampu berpikir tentang apapun juga; (7) “are explicable in terms of causes rather than reasons” –lebih dijelaskan dalam konteks penyebab daripada akal-sehat; (8) “[is able] to form beliefs [,] on the basis of perception –dapat membangun anggapan berdasarkan persepsi; (9) “[is a] sensuous component in the appreciation of works of art or objects of natural beauty” –adalah sebuah komponen inderawi dalam mengapresiasi karya seni atau keindahan alam; (10) “[is able] to create works of art that encourage [...] sensuous appreciation –bisa menciptakan karya seni yang memaksimalkan apresiasi inderawi; (11) “[is able] to appreciate things that are expressive or revelatory of the meaning of human life” –bisa menghargai hal-hal yang ekspresif atau berhubungan dengan makna hidup manusia; dan (12) “[is able] to create works of art that express something deep about the meaning of human life, as opposed to the products of mere fantasy” –bisa menciptakan karya seni yang mengungkapkan sesuatu yang mendalam tentang makna hidup manusia, sebagai sisi lain yang berseberangan dengan sekedar fantasi.Masalahnya, serangan Cohen terhadap argumen Kant menjadi problematis karena Cohen mengambil asumsi yang terlalu sempit dan monolitik tentang imajinasi, yang sebagaimana telah ditunjukkan oleh Stevenson berada dalam spektrum yang cukup luas. Ketidakjelasan posisi Cohen menjadi bumerang bagi argumennya sendiri karena keduabelas spektra imajinasi tersebut akan memberikan dampak “membanjiri” Pemahaman yang berbeda-beda: spektra (1) sampai (4) mungkin membutuhkan waktu lebih untuk mengkorespondensikannya dengan realitas –yang jelas tidak akan “membanjiri”, sementara spektra (6), (10), (11), (12) mungkin sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Cohen. Sayangnya, Cohen tidak mencoba untuk memberi penekanan pada aspek imajinasi mana yang ia pilih.Selanjutnya, Lambert Zuidervaart mencoba menggali sebuah poin penting yang diajukan estetikus analitik kawakan Nelson Goodman. Zuidervaart mengatakan bahwa “Goodman [...] doubts that correspondence governs art’s cognitive function” –bahwa [teori kebenaran] korespondensi mengatur fungsi kognitif seni. Lebih lanjut Zuidervaart mengatakan, seturut Goodman, bahwa “aesthetic and scientific experience alike are [...] fundamentally cognitive in character” –baik pengalaman estetik dan saintifik pada dasarnya mirip [...] karena secara fundamental keduanya bersifat kognitif. Dalam argumennya, Cohen mempersoalkan tentang kekeliruan logika, yang didasarkan pada inkonsistensi Kant dalam menarik kesimpulan. Masalahnya, serangan Cohen hanya berlaku apabila ada jurang yang sangat besar antara nilai kebenaran (truth value) sebuah proposisi estetik dan sebuah proposisi logis. Namun kalau kita tarik lebih lanjut argumen Goodman, kita dapat melihat bahwa pada dasarnya –seturut Goodman –hirarki kebenaran sumber pengetahuan seakan dipaksakan di ranah korespondensi, padahal bahasa simbol –matematika –sendiri dibangun di ranah koherensi dengan karakter konvensi-nya: matematika, misalnya, mengambil peran sentral dalam fisika sekalipun itu berarti “mengawinkan” ranah korespondensial dan koherensi konvensi –dan tidak masalah dengan postur semacam itu. Pada titik ini, “logical misapprehension” yang diajukan Cohen menjadi samar dan problematis.Terhadap poin ketiga yang diajukan oleh Cohen –bahwa ada karakter asosiatif semu dalam ungkapan yang dipergunakan oleh Kant –Alexander Rueger dan Şahan Evren mengatakan bahwa untuk bisa memahami asosiasi semacam yang diajukan Kant, kita mesti kembali ke argumen fundamental Kant: “in accordance with the universal law of reason” –sejalan dengan hukum universal tentang akal-budi manusia. Lebih spesifik lagi di bagian yang sama Rueger dan Evren mengatakan bahwa bagi Kant penilaian yang diajukannya dijangkarkan pada prinsip: “we are entitled to suppose that nature specifies the multitude of its empirical laws in accordance with our cognitive needs for order” –kita ada dalam posisi untuk menerima bahwa alam telah menyatakan hukum-hukum empiriknya secara spesifik yang sejalan dengan kebutuhan kognitif kita akan keselarasan. Ini berarti bahwa Kant tidak “sesuka-hatinya” menggunakan keindahan sebagai representasi kosong dan longgar dari moralitas, justru sebaliknya, argumen ini akan membantu kita untuk masuk ke dalam salah satu tolak ukur keindahan yang diajukan Kant: keindahan alam yang menjadi salah satu sumber the sublime, yang merupakan artikulasi dan sekaligus revisi Kant terhadap keindahan agathonian Platonik. Serangan Cohen terhadap Kant pada titik ini bisa dikatakan salah tempat; dan posisinya pada titik ini sangat berisiko untuk membuatnya jatuh dalam kerancuan berpikir yang fundamental –strawman fallacy.Terakhir, terhadap serangan Carroll tentang naifnya konsep pengalaman estetik yang diajukan Kant, estetikus analitik kawakan sekaligus pakar pemikiran Kant, Paul Guyer menawarkan sebuah penjelasan yang menarik tentang gagasan Kant akan displeasure –tentang pengalaman yang tidak menyenangkan. Bagi Kant, seturut Guyer, kekecewaan atau apapun itu yang dapat kita kategorikan dalam displeasure “does not posit any disharmony between imagination and understanding” –tidak memberikan indikasi apapun tentang ketidakselarasan antara Pemahaman dan Imajinasi. Argumen yang diajukan Carroll seolah-olah mengarah pada titik disharmoni seperti ini. Lebih lanjut Guyer menjelaskan bahwa ketidaksanggupan manusia untuk memahami dalam satu kegiatan kognitif –terutama yang berhubungan dengan objek-objek estetik yang luar biasa atau yang tidak bisa kita pahami dalam “sekali telan” –lah yang menyebabkan ketidaknyamanan semacam itu. Argumen Carroll menjadi problematis karena tidak menyinggung aspek ketidaknyamanan yang juga menjadi bagian inheren dari the sublime –lebih tepatnya lagi neologisme yang digagas Kant: mathematical sublime. Bila kita menggunakan argumen yang dipergunakan langsung oleh Kant: “the imagination is adequate for the mathematical estimation of every object [...] it must be the aesthetic estimation of the magnitude [...] which exceeds the capacity of imagination” –imajinasi dapat dikatakan adekuat dalam kaitannya dengan estimasi matematis dari setiap objek [...] pada titik ini dapat kita pastikan bahwa estimasi estetis dari skala semacam itu [...] yang melampaui kapasitas imajinasi. Pada titik ini setiap ketidaknyamanan adalah bagian dari proses menjadi nyaman, dan poin inilah yang tidak disinggung oleh Carroll, yang terkesan hanya mengambil kesan pertama sebagai tolak ukur dari pleasure atau displeasure. Posisi Carroll, dengan demikian, juga menjadi samar dan problematis.Proses perdebatan khas estetika analitik yang telah kita lihat di atas dapat kita tafsirkan sebagai, sekali lagi, kemungkinan bahwa untuk memberi bentuk pada estetika nusantara kita dapat mengacu pada Kant sebagai langkah pertama dari upaya outside-in kita. Kita juga telah melihat bagaimana sebuah pewacanaan dibangun, dan jelas proses ini bukanlah sebuah proses yang mudah. Karakter semacam ini yang masih jarang kita lihat dalam proses pewacanaan estetika sampai saat ini. Kita jelas tidak mesti melulu berpatokan pada teori tertentu –entah teori besar atau kecil; yang kita butuhkan adalah sebuah proses yang dinamis dan interaktif. Dalam kaitannya dengan seni nusantara, saya berpendapat bahwa kita tidak perlu terlalu kuatir akan terganggunya arus perkembangan seni nusantara –entah yang ada di koridor seni daerah atau di koridor seni “akademik”; justru saya berpendapat bahwa pewacanaan akan selalu memperkaya “yang diwacanai” tanpa perlu terlalu takut akan kehilangan identitas: busana kita sehari-hari yang paling kosmopolitan sekalipun tidak akan menghapus apapun tentang siapa kita sesungguhnya –toh seturut contoh tersebut sudah jarang kita jumpai busana tradisional dipergunakan setiap hari dalam segala kegiatan. Banyak orang Jepang, misalnya, yang tidak pernah mengenakan kimono seumur hidupnya, namun itu tidak menghapus seberapa Jepang mereka.Sebagai ilustrasi saya akan mengangkat kajian yang dilakukan oleh Adrian Vickers –seorang peneliti asing –yang mengkaji seni lukis dan gambar di Bali kurun waktu 1800-2010, dan menurut saya hasil penelitiannya justru memperkuat argumen yang saya kemukakan sebelumnya. Vickers mengatakan: “[t]he capacity of Balinese art to absorb and reshape elements from outside has meant that Western influences have been able to be added to the rich cultural mix of the island” –kapasitas seni Bali untuk menyerap dan membentuk ulang elemen-elemen dari luar berarti bahwa pengaruh Barat telah memperkaya ramuan budaya yang ada di pulau itu. Vickers mengambil contoh betapa pengaruh semacam itu telah mengubah karakter berkesenian lintas generasi: ia membandingkan I Nyoman Mandra, I Nyoman Dogol, dan I Nyoman Masriadi untuk menunjukkan kontrasnya.
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut berada di luar jangkauan makalah ini. Bahkan bagaimana menggunakan Kant untuk membentuk wacana nusantara pun memerlukan rangkaian makalah yang tidak akan selesai di satu atau dua edisi. Namun setidaknya, dan sebagai penutup makalah ini, kita akan mencoba melihat sejauh mana kita bisa menjadi sangat Kantian dalam memberi bentuk pewacanaan estetika nusantara. Dan jawaban terhadap tantangan semacam ini tentu saja harus dijangkarkan pada poin tersembunyi dan sekaligus sangat sentral bagi Kant: bahwa estetika adalah puncak pencapaian eksplorasi pemikiran manusia yang bahkan melampaui rasio murni dan rasio praktis. Jelas yang dituntut Kant adalah keadiluhungan sebuah karya seni, yang sarat dengan the sublime yang akan menuntut setiap pengamatnya ke noumena. Dan jelas pula bahwa Kant menuntut kehadiran “para jenius” yang siap menjadi “pewahyu” yang akan mencerahkan siapa saja yang mengalaminya, apapun bentuk cara berkeseniannya. Dan juga sangat jelas bahwa estetika Kantian tidak terlalu akrab dengan keseharian dan kebanalan –karena yang ingin dicapai Kant adalah sesuatu yang bahkan mustahil dijangkau oleh rasio murni dan praktis kita. Singkatnya, bila kita membentuk estetika nusantara lewat Kant, kita akan sampai pada sebuah pewacanaan yang sangat padat dan dijejali dengan argumen-argumen yang membuat kita harus merenung untuk merenung saja. Namun ada kabar baik dari Kant sebagai forma estetika: setidaknya ada pukauan –sergapan pengalaman estetik –yang harus menjadi pelengkap dari setiap aktivitas estetik kita.


Referensi                   
·   Adrian Vickers, Balinese Art, Paintings and Drawings of Bali 1800-2010 (Tokyo, Tuttle Publishing:2012)
·   Alexander Rueger dan Şahan Evren, “The Role of Symbolic Presentation in Kant’s Theory of Taste” (2005) dalam  British Journal of Aesthetics, Volume 45, No.3, Juli 2005
·   Alexander Gottlieb Baumgarten, Aesthetica, §17 https://archive.org/details/aesthetica
·   David Hume, “Of the Standard of Taste” dalam Aesthetics, A Reader in Philosophy of the Arts, David Goldblatt dan Lee B. Brown –editor (New Jersey, Prentice-Hall:1997)
·   Friedrich Nietzsche, A Genealogy of Morals, Vol. X dari The Works of Friedrich Nietzsche (New York, The Macmillan Company:1897)
·   Gordon Graham, Philosophy of the Arts, An Introduction to Aesthetics (London, Routledge:1997)
·   Lambert Zuidervaart, Artistic Truth, Aesthetics, Discourse, and Imaginative Disclosure (Cambridge, Cambridge University Press:2004)
·   Leslie Stevenson, “Twelve Conceptions of Imagination” (2003) dalam  British Journal of Aesthetics, Volume 43, No.3, Juli 2003
·   Josiane Schifres, Discours de la methode, Descartes, Analyse critique (Paris, Hatier:1978)
·   Immanuel Kant, The Critique of the Power of Judgment, diterjemahkan oleh Paul Guyer dan Eric Matthews (Cambridge, Cambridge University Press:1978)
·   Jerrold Levinson, “Philosophical Aesthetics: An Overview” dalam The Oxford Handbook of Aesthetics, Jerrold Levinson, editor (Oxford, Oxford University Press:2003)
·   Christoph Menke, “The Dialectic of Aesthetics”, dalam Aesthetic Experience, Richard Shusterman dan Adele Tomlin, editor (New York, Routledge: 2008)
·   Noël Carroll, Beyond Aesthetics: Philosophical Essays (Cambridge, Cambridge University Press:2001)
·   Noël Carroll,“Aesthetic Experience: A Question of Content”, dalam Contemporary Debates in Aesthetics and the Philosophy of Art, Matthew Kieran, editor (Blackwell Publishing:2006)
·   Noël Carroll, “Aesthetic Experience Revisited” (2002) dalam British Journal of Aesthetics, Volume 42, No.2, April 2002
·   Nick Zangwill, “Aesthetic Judgment”, http://plato.stanford.edu/entries/aesthetic-judgment/
·   Nickolas Pappas, “Plato’s Aesthetics”, http://plato.stanford.edu/entries/plato-aesthetics/
·   Paul Guyer, “History of Modern Aesthetics” dalam The Oxford Handbook of Aesthetics, Jerrold Levinson, editor (Oxford, Oxford University Press:2003)
·   Roger Scruton, The Aesthetic Understanding, Essays in the Philosophy of Art and Culture (South Bend, St. Augustine’s Press:1998)
·   Steffen W. Gross, “The Neglected Programme of Aesthetics”, (2002) dalam British Journal of Aesthetics, Volume 42, No.4, Oktober 2002
·   Stephen Houlgate, “Hegel’s Aesthetics”, http://plato.stanford.edu/entries/hegel-aesthetics/
·   Ted Cohen, “Three Problems in Kant’s Aesthetics” (2002) dalam British Journal of Aesthetics, Volume 42, No.1, Januari 2002
·   Terry Eagleton, The Ideology of the Aesthetic (Oxford, Blackwell Publishers Ltd:1990)
                       
I Nyoman Mandra secara pelan tapi pasti mengubah pakem-pakem berkesenian yang diajarkan gurunya, I Nyoman Dogol lewat perubahan komposisi dan teknik yang dipergunakan keduanya untuk subject-matter yang sama, pertempuran antara Garuda dan para dewa. Sebagai kontras generasi, Vickers mengangkat perbedaan yang sangat kontras antara I Nyoman Mandra dengan I Nyoman Masriadi, khususnya dengan karyanya tentang kebangkitan Kumbakarna yang diselesaikan tahun 1999. Bagi Vickers, sekalipun sepintas kedua karya tersebut berbeda jauh, namun signature kesenian Bali masih kental terasa di lukisan yang dikerjakan oleh seniman yang 33 tahun lebih muda dari seniornya tersebut; dan contoh semacam ini hanya secuil dari peluang yang siap digali dan dimatangkan dari sebuah alur berkesenian yang ada di satu daerah di Indonesia. Pertanyaan ini dapat kita perluas lagi: bagaimana dengan daerah-daerah lain di luar Bali?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar