Minggu, 13 Maret 2016

Buku Puisi dari Buih Laut

OLEH Ivan Adilla (pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, FIB Unand)

Judul Buku: Ombak Menjilat Runcing Karang, Sebuah Antologi Puisi
Karya: Eddy Pranata PNP
Penerbit: CV. Rumahkayu Pustaka Utama, Padang.
Tahun Terbit: Maret 2016
Halaman: x +148 halaman.

Ivan Adilla saat menyajikan makalahnya
Adakah yang bisa dilakukan lelaki saat sendiri di malam sepi pada sebuah pulau karang di tengah laut? Penyair Eddy Pranata PNP memanfaatkan kesempatan itu untuk berdialog dengan ombak, karang, pelangi dan angin. Sebagai petugas navigasi laut, ia   menjalankan pekerjaan di menara suar yang terletak di pulau karang terpencil selama puluhan tahun. Ia menyaksikan kapal, sampan, gelombang, dan para nelayan yang hilir mudik di lautan. Dari tempat sepi itulah ia merajut puisi tentang cinta, kerinduan, persahabatan dan Tuhan. 

Meski dikenal sebagai bangsa bahari, karya sastrawan Indonesia tentang lautan jauh lebih sedikit dibanding tentang daratan. Kenyataan ini agak aneh juga karena banyak sastrawan berdomisili di kota pantai. Bisa jadi benar, bahwa sastra adalah produk perkotaan yang berorientasi pada kehidupan daratan; mal, pasar, kantor, lingkungan perumahan, atau taman. Tak banyak yang peduli bahwa perahu, nelayan, tempat pelelangan ikan, atau jermal adalah juga bagian dari kehidupan masyarakat kota-pantai.
Para penulis tentang laut umumnya orang pesisir seperti Abdul Hadi WM atau D. Zawawi Imron dari Madura. Yang lain adalah Rusli Marzuki Saria - penyair gaek yang telah berkarir selama 60 tahun dalam bidang sastra- yang menulis tentang ombak di pantai Purus, Muaro Padang, serta legenda Puti Bunga Karang. Meskipun tinggal di pinggir laut, puisi mereka tak berbeda dari puisi para pelancong yang datang ke sebuah pantai untuk mengagumi keindahan laut, desiran ombak atau hamparan pasir putih yang indah. Lihat saja sajak Abdul Hadi, “Ombak Itulah” /Ombak itulah yang mengingatkan aku lagi padamu/rambutmu masih hijau/ meskipun musim berangkat coklat/. Ombak hanya stimulus ingatan pada orang lain, bukan subjek yang dibincangkan. 
Eddy Pranata PNP sejak awal bertugas sebagai petugas navigasi laut. Semula ia bertugas di menara suar di Bukit Lampu di Padang. Dari tempat itu ia melahirkan puisi-puisi dalam buku Improvisasi Sunyi (1997), yang menggambarkan dialog internal dalam kesunyian. Buku Ombak...ini merupakan antologi keempat setelah Improvisasi, Sajak-Sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), dan Bila Jasadku Kau Masukkan ke Liang Kubur (2015). Buku yang memuat puisi-puisi berkolofon 2013-2015 ini terdiri dari dua bagian, “Ombak Menjilat Runcing Karang”, dan “Bunga Karang Nusakambangan”. Bagian pertama terdiri dari 100 puisi, sedangkan bagian kedua 30 puisi. Dilihat dari tahun penulisannya, karya ini ditulis Eddy selama masa tugas di mercusuar di Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah.   
Puisi Eddy Pranata menunjukkan kedekatannya dengan laut. Diksi tentang laut memperlihatkan bahwa ia bukan hanya mengamati, tapi telah menjadi bagian dari laut. Eddy tidak berhenti pada bentuk luar, tapi menyigi hingga ‘serat rongga karang’, ‘helaian gelombang yang bisa dipintal’, hingga ‘menjerat gerak angin’. Ia mampu /menenun lidah ombak jadi selimut dan selendang// (58); atau menyatu dalam perahu yang meluncur hingga ke selat/ hatimu yang karang!// (95); Ketika seseorang meninggal, begini manusia laut itu berucap; /berpendarlah jasadmu/ kurenda karang dan laut untukmu/ untuk sebuah pertemuan yang abadi// (146). Inilah buku puisi dari buih laut, ditulis penyair yang berkantor di pulau karang.
Kedekatan dengan dunia bahari membuat ia mahir membangun metafora dari laut. Kata ‘sampan berlumut’, ‘batu karang’, ‘pelangi’, ‘angin’, ‘selat’, adalah sebagian kata yang berulang kali muncul dalam puisi-puisinya. Tapi justru di situlah persoalan lain muncul; metafora masih terbatas pada diksi untuk melahirkan estetika-verbal, belum fungsional untuk membangun makna simbolik. Kata ‘sampan berlumut’ yang sering muncul belum menjadi simbol bagi sesuatu; penantian atau pelayaran yang lama, keterasingan, ketuaan, atau lainnya. Begitu juga ‘pelangi’; tak jelas apakah ia menyimbolkan keindahan, rangkaian warna, atau jembatan menuju langit seperti dalam mitos. Eddy belum membangun kata-kata itu menjadi simbol bagi sebuah makna.
Salah satu hal menonjol dari sajak-sajak dalam kumpulan ini adalah kemampuan penyairnya menemukan paradoks dari sebuah fakta maupun peristiwa. Sajak “Sekeranjang Cahaya untuk Devi Mei”(13), “Kupetik Mawar, Durinya Menusuk”(20), “Seseorang dari Negeri Malam” (72) dan banyak lagi. Pada sajak “Kupetik Mawar...” penyair menampilkan pradoks antara keindahan (bunga) dengan bahaya (duri); pada “Seseorang...” ia menampilkan paradoks antara keindahan dan kesuburan (menyiram anggrek) dengan kesedihan (airmata); sedangkan pada “Sekeranjang ...” menampilkan paradoks antara materi (buah dan makanan) dengan keikhlasan (sekeranjang cahaya yang keluar dari dalam hati). Kemampuan melihat paradoks mengindikasikan kemampuan untuk menemukan sisi beragam dari sebuah peristiwa atau materi. Layaknya kemampuan prismatis, bahwa sesuatu yang diamati tidak hanya memiliki satu sisi, atau dua warna (hitam-putih), tetapi beragam warna dalam cahaya. Ya, layaknya pelangi - kata yang berulang kali muncul dalam buku sajak ini. Kemampuan seperti ini memperkaya perspektif pembaca untuk melihat fakta kehidupan yang memiliki banyak sisi dan kemungkinan. Dengan cara itu penyair menggugah dan menawarkan alternatif untuk mengamati sebuah fakta dan peristiwa.
Sebagian besar sajak dalam buku ini berbentuk lirik. Kekuatan penyairnya terlihat pada sajak-sajak lirik yang pendek. Ketika penyair menulis sajak naratif, ia seperti terlupa pada alur peristiwa sehingga kurang diperhatikan. Misalnya pada sajak “Sekeranjang...”. Bait pertama sajak ini mengisahkan ‘aku lirik’ yang datang malam hari ke Lembah Tlewah, kampung tempat tinggal Devi Mei. Pada bait kedua dideskripsikan keluarga Devi Mei. Tiba-tiba saja pada akhir bait kedua diungkapkan bahwa Devi Mei berangkat sekolah dengan langkah lelah dan wajah tertunduk. Narasi seperti itu mengesankan seakan Devi Mei berangkat sekolah pada malam hari, karena sejak awal pembaca disajikan dengan kisah tentang malam. Hal serupa terjadi pada “Ombak Menjilat Runcing Karang” yang menjadi judul buku ini. Pada bait bait14 (hal. 18-19) dikisahkan sepasang kekasih berlayar menembus gelombang untuk membuang sekoper kenangan. Pada putaran arus yang kusut, koper berisi kenangan itu dibuang. Koper itu terombang ambing dan menghilang dari penglihatan. Tapi bait ini ditutup dengan aneh; dari koper yang tak kelihatan itu justru mereka bisa melihat dari dalam koper itu ‘berhamburan masa lalu..’. Bagaimana pembaca harus memahami narasi dan fakta demikian? Kopernya saja sudah hilang dari pandangan, bagaimana mungkin isi koper berupa kenangan bisa terlihat? Tampaknya, keasyikan menemukan lirik membuat penyair terlupa menata alur cerita.
Telah banyak kisah tentang dunia atas laut, tapi jarang sekali puisi tentang isi laut. Dialog kehidupan laut tentang habitat mereka yang dipenuhi sampah, disirami limbah tambang, dan wadah bagi segala limbah manusia yang hidup di darat. Atau dialog karang dengan angin yang mengalunkan gelombang; cerita pasir tentang keringat nelayan dan pertemuan jaring dengan ikan yang mendatanginya. Mungkin juga dialog karang di pantai  Cilacap tentang pasir di pantai Temon, Kulon Progo, bahwa beberapa tahun ke depan di pantai itu bukan lagi perahu nelayan yang merapat, tetapi pesawat milik maskapai penerbangan? Pada tempatnya kita menitipkan harapan agar penyair ini membagikan kisah lebih spesifik dari dalamnya lautan pada karya selanjutnya. Akhirnya, kalau takut pada harapan tentang laut, usah berkantor di tengah gelombang!

Tulisan ini dibacakan dalam acara peluncuran buku Ombak Menjilat Runcing Karang, Sebuah Antologi Puisi, Rabu 9 Maret 2016 di Kuala Nyiur II F 12 Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar