Selasa, 03 Mei 2016

Lakon Hidup Melati Suryodarmo

OLEH Linda Christanty (Sastrawan)
Salah satu seniman Indonesia yang paling mendunia ini mempelajari memori tubuh dengan menelusuri teks-teks sejarah dan menyembuhkan traumanya dengan berkarya.
MUSIM SEMI 1994 di Braunschweig, sebuah kota di Jerman. Melati Suryodarmo duduk di bangku kebun raya, memandangi kolam. Bunga-bunga teratai bermekaran. Ia sering merenung, membaca, ataupun menulis di tempat ini. Seorang perempuan berkacamata Ray-Ban dan bersepatu tumit tinggi duduk di sebelahnya, yang kemudian menyapa ramah, “Kamu dari mana? Apa yang kamu kerjakan di sini?” Mereka bercakap-cakap.
“Dia ternyata Anzu Furukawa, penari butoh dan profesor seni rupa di HBK (Hochschule für Bildende Künste Braunschweig/Braunschweig University of Art),” kenang Melati, yang disebut sebagai ‘salah satu seniman pertunjukan asal Indonesia yang paling mendunia’ oleh suratkabar New York Times.
Melati tidak asing terhadap butoh atau seni pertunjukan tradisional Jepang. Ia menuturkan kepada Anzu pengalamannya menyertai ayahnya yang bekerja sama dengan kelompok butoh Kyoto dua tahun lalu. Anzu lantas menawarinya menjadi mahasiswa tamu. Setahun kemudian ia mendaftarkan diri secara resmi dan diterima belajar di HBK.
Pertemuan tak sengaja dengan Anzu merupakan satu titik penting yang mengubah jalan hidupnya hingga menjadi seorang seniman. Ketika itu ia baru saja tiba di Jerman, tengah menyesuaikan diri dengan budaya setempat dan hubungannya dengan pasangan sedang menuju babak paling sulit.
Sebelum pergi ke Braunschweig, ia menamatkan belajar di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran di Bandung. Ia juga mengenal sastra, berkesenian, dan mengasah sikap kritis di kota itu. Di Bandung pula ia pertama kali mendengar kata ‘performance art’ ('seni rupa pertunjukan'), yang menjadi mata kuliah di kelas Anzu.
“Marintan Sirait mengajak menonton pameran di Goethe Institut yang menayangkan video dokumenter pertunjukan Joseph Beuys,” tuturnya. Marintan, seniman kontemporer yang tinggal di Bandung, sedangkan Beuys adalah seniman Jerman dan salah satu ikon seni rupa pertunjukan. Video tersebut merekam pertunjukan Beuys pada 1974. Ia menentang tindakan militer Amerika Serikat di Perang Vietnam dan menolak bersentuhan dengan apa pun di Amerika, kecuali dengan seekor coyote. Tindakan itu sebuah cara seni melawan hegemoni.
Di kelas Anzu, para mahasiswa belajar menganalisis memori tubuh. “Kami mencoba menengok sejarah dengan mengeksperimenkan tubuh kepada konteks sejarah tersebut. Kami mempelajari sejarah kegelapan dalam peradaban manusia. Kalau kita tahu sejarah kita seperti apa, kita akan lebih legowo," kisah Melati.
Setelah berguru pada Anzu dari tahun 1994 hingga 1997, ia menjadi murid Marina Abramovic, seniman terkemuka asal Serbia. Melati menganggap Marina telah mengembalikan dirinya kepada akarnya, “Kami diajak retret ke Spanyol Selatan di musim panas, ketika suhu mencapai 40 derajat Celcius. Selama dua minggu kami tidak boleh bicara, tidak makan apa pun dan hanya minum air putih. Orang Jawa bilang seperti ngelakoni.”
Masa kecil hingga remaja Melati di Solo akrab dengan spiritualisme Jawa. Ia sering menemani ayahnya bermeditasi di candi-candi. Sang ayah, Suprapto Suryodarmo, memelopori gerakan baru dalam kesenian dengan memperkenalkan metode Amerta pada 1970-an. “Dulu disebut movement meditation,” katanya. Orang-orang dari berbagai negara dan profesi datang ke Solo untuk belajar pada ayahnya, yang juga sering diundang ke luar negeri untuk mengajar. Berbeda dengan ayahnya yang berjiwa pembaru, ibunya, Siti Nuryamtinah, penari Jawa klasik yang taat pakem. “Tapi mereka saling dukung,” ujar Melati.
Banyak peristiwa di masa itu yang mendekatkannya kepada seni. Dulu ia tinggal di Sasono Mulyo, dalam lingkungan keraton, yang menjadi cikal-bakal Institut Seni Indonesia Surakarta. Di halaman pendopo, ia pernah menyaksikan latihan karya eksperimental Sardono W. Kusumo, Dongeng dari Dirah. Penari utama, Sukmawati Soekarno, bertelanjang dada. Rambut panjang terurai. Mata besar, dipulas pidih. Melati tercengang. Usianya baru 5 tahun. Kelak ia belajar menari Jawa pada Ngaliman Tjondro Pangrawit, seorang mpu tari.
Masa remajanya dilalui dengan merawat ibu yang mengidap kanker. Ayahnya khawatir ia tumbuh menjadi pemurung lalu meminta putri sulungnya belajar meditasi Sumarah yang bertujuan menerima hidup. “Aku belajar Sumarah dari umur 13 tahun sampai lulus SMA dengan Pak Suwondo.” Laura Romano, perempuan Italia yang menetap di Indonesia sejak 1973 dan teman baik orangtuanya, mendampingi Melati belajar ketika itu. Ia akhirnya kehilangan ibu, “Menjelang aku kuliah di Bandung, ibuku meninggal. Adikku yang bungsu, yang baru berumur 4 tahun diadopsi tanteku di Jakarta. Adikku yang nomor dua tinggal berdua dengan bapakku di Solo.” Ayahnya kelak mendirikan Padepokan Lemah Putih untuk mengenang mendiang ibunya.
Pada 2005, ia sering pulang ke Indonesia. Sejak 2007 Melati menyelenggarakan festival seni rupa pertunjukan di Solo, Undisclosed Territory. Festival ini berlangsung setahun sekali. Untuk membangun kerja sama dengan senimandan institusi seni di luar arus utama, ia menyempatkan datang ke festival-festival independen yang diselenggarakan jaringan internasional seni rupa pertunjukan.
Sosok ayah yang kreatif dan gigih mengilhami Melati mendirikan Studio Plesungan di Karanganyar, Jawa Tengah, pada 2012, dengan niat mendukung perkembangan seni rupa pertunjukan dan seni pertunjukan. “Aku mengadaptasi model sustainability bapakku. Dia menghidupkan tempatnya sendiri, membuat jaringan sendiri. Ini model kedaulatan ekonomi yang bisa menjadi masa depan.”
Dalam 30 tahun, Melati telah mencipta 50 karya. Butter Dance paling mengundang perhatian publik. Video pertunjukan ini yang ditayangkan tiga tahun lalu di Youtube memperoleh 1.720.939 “like” dan 2.631 komentar. Butter Dance mengetengahkan sensitivitas manusia dalam menolong diri sendiri untuk bangkit dari situasi yang tidak nyaman. Melati mengenakan gaun mini ketat dan sepatu bertumit tinggi, menari di atas mentega, jatuh bangun mencari keseimbangan. Karya ini memiliki berlapis-lapis makna. Perempuan Asia yang mengenakan pakaian ketat dan sepatu bertumit tinggi sering dipandang negatif di Eropa, dianggap perempuan murahan. Citra itu terbentuk oleh rasisme. Wujudnya adalah diskriminasi. Menari di atas mentega bagi Melati adalah ungkapan dari pengalaman pribadi. Mentega, selain seni, telah mengubah hidupnya. Ia rutin mengonsumsi mentega sejak tinggal di Jerman, “Berat badanku naik 13 kilogram dalam tiga bulan pertama di negara itu dan tidak turun-turun lagi.”
Seperti Beuys, Melati kadang kala menggunakan binatang untuk pementasan. Ia pernah mengendalikan kuda dalam Lullaby for the Ancestors di Italia pada 2001. Ia terkurung dalam kotak kaca bersama tujuh kelinci ketika mementaskan Perception of Patterns in Timeless Influence di Swedia pada 2007. Katanya, “Kelinci adalah salah satu binatang yang dipakai sebagai simbol mitos. Suku Maya, bangsa Cina dan Jepang menjadikannya simbol kesuburan dan kemakmuran. Ilmu psikologi modern memanfaatkan kelinci yang sensitif sebagai penyembuh trauma. Anak-anak yang mengalami trauma berat akibat kecelakaan atau perang disarankan memelihara kelinci.” Pementasan ini mengetengahkan dampak kolonialisme terhadap korban.
Tapi ia tidak pernah memaksa publik berpikir sama dengan dirinya. “Mungkin aku salah satu orang yang tidak menyukai bentuk sebagai hasil akhir. Kalau aku membuat instalasi, aku membuat instalasi yang interaktif. Orang bisa menyentuhnya dan bukan sesuatu yang dipajang.”
Ada yang menganggap karyanya ‘kebarat-baratan’. Ia sama sekali tidak menyangkal, “Jerman seperti Tanah Airku yang kedua. Aku bukan kebarat- baratan. Aku memang pernah hidup di Barat. Buku-bukuku waktu kuliah dulu dari Barat, meski aku sekolah di Indonesia. Aku bersekolah seni di Jerman, pendidikan Barat. Tapi apa salahnya aku punya paspor Indonesia? Aku masih bisa menulis aksara Jawa halus, masih mengerti tata ritual Jawa. Mungkin sudah saatnya kita tidak mempertentangkan antara Barat dan Timur atau Jawa atau Nusantara lagi."
Tiga bulan sekali ia terbang ke Jerman. Ia tidak pernah melupakan pertemuannya dengan Anzu Furukawa di negara itu. ”Dia hadir di saat aku tidak tahu tujuan hidup dan masa depan,” katanya. Ia merasa memiliki ikatan batin yang mendalam dengan sang guru. Pada 2001 Anzu meninggal dunia di Berlin, karena kanker. Namun ia terus berkarya. Duka cita dari masa lalunya tersembuhkan. Katanya, “Sebagai seniman, berkarya adalah caraku menyembuhkan trauma.”


*Pertama kali diterbitkan di rubrik “Profil” Majalah Dewi edisi Mei 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar