Senin, 21 Agustus 2017

Melayu dan Minangkabau Bagaikan Dua Sisi Mata Uang

OLEH H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie
Pada judul tulisan ini, saya meletakkan kata dan di antara kata Melayu dan Minangkabau. Kata dan memang berfungsi sebagai kata penghubung dalam satu kalimat. Tapi yang saya maksudkan lebih dari itu bahwa kata dan itu menunjukkan kesetaraan dan kesamaan tipe.
Itulah yang saya katakan: Melayu dan Minangkabau bagaikan dua sisi mata uang. Sisinya yang berbeda, sedangkan logamnya atau materi kertasnya sama. artinya yang satu itu juga.
Sekarang dari sisi mana kita hendak membicarakan Melayu?
Nenek moyang orang Minang sering berpantun, sering  kata pantun itu ia ganti dengan sebutan lain. Misalnya “menurut hadis Melayu...”, dan seterusnya. Walaupun pantun itu dalam bahasa Minang, ia masih ingat Melayu karena rumpunnya memang Melayu.
Nah, kalau kita lihat dalam konteks bangsa dan negara kita Indonesia, maka Melayu adalah salah satu suku bangsa, misalnya Melayu Deli, Melayu Riau, dan lain-lain. Yang lainnya adalah suku Jawa, Sunda, Bugis, Minangkabau, dan seterusnya.
Tapi, kalau ditanya selanjutnya, apa ras kita, maka akan kita jawab bahwa biar pun orang Jawa, orang Minang, orang Bugis, Banjar, Betawi, Sunda, dan lain-lain adalah orang Indonesia yang rasnya Melayu.
Kalau kita membicarakan Melayu dari segi kesejarahannya akan kita temukan berbagai pendapat, hipotesis, analisis dari bermacam sumber pula.
Menurut M. Rasjid Manggis Datuk Rajo Penghulu yang bertemu dengan Prof. Dr. Hussain Nainar, seorang antropolog dari Madras University, India, yang mengunjungi Sumatera Barat pada tahun 1950-an menyebutkan, bahwa kata “melayu” berasal dari dari kata “malai”. Kata itu berasal dari bahasa Tamil yang artinya gunung. Malai-ur lama-lama menjadi malayu berarti suku bangsa pegunungan. Tepatnya adalah penduduk yang mendiami pesisir pegunungan Dekkan, yakni Malabar.
Sementara itu seorang peneliti bangsa Belanda, Prof. Kern menegaskan bahwa bangsa dari Asia Tengah yang mula turun ke daerah Selatan adalah Proto-Maleiers (Melayu Tua) yang disusul kemudian oleh Deutro-Maleiers (Melayu Muda). Umumnya, kata Kern, wilayah Nusantara ini didatangi oleh bangsa-bangsa yang turun dari India Selatan atau India Belakang.
Kedatangan mereka tidaklah serentak atau sekaligus tapi mereka datang secara bergelombang, berangsur-angsur, tahap demi tahap sesuai dengan kondisi desakan musuh yang mendesak dan menghalau mereka dari daerah utara.-1)
Sementara itu kita simak pula pendapat yang dikemukakan oleh J. J. de Hollander (1893) yang menyebutkan bahwa Pulau Perca (Pulau Andalas atau Pulau Sumatera) ini boleh dianggap sebagai tanah air orang Melayu.
Mereka agaknya adalah keturunan beberapa orang yang selama air bah besar telah meninggalkan bahtera Nabi Nuh dan menetap di pantai timur Sumatera, antara muara sungai di Palembang dan Jambi.
Apa yang dikemukakan oleh J. J. de Hollander ini berbeda jauh dengan pendapat para ahli atau para pakar sejarah yang kita baca dan kita pelajari selama ini.
Dalam cerita itu dikatakan bahwa orang Melayu menganggap dirinya penghuni asli di Pulau Sumatera bahagian selatan atau tengah, tapi dari cerita itu dikatakan mereka datang setelah kiamat Nabi Nuh Alaihis Salam. Artinya mereka adalah pendatang juga. Bukan diciptakan Al Khalik sejak semula jadi di Pulau Perca.  Asumsinya di wilayah yang begitu luas itu masih kosong, belum ada penghuni. Tak ada perlawanan atau rintangan ketika mereka datang yang menandakan pulau itu kosong hingga rombongan itu sampai menembus ke daerah pedalaman Sumatera Tengah. Diceritakan pula bahwa rombongan tersebut kemudian menetap di hulu Sungai Batanghari.
Kalau J. J. de Hollander menyebutkan daerah pedalaman Sumatera Tengah dan kemudian menetap di hulu Sungai Jambi (Batanghari), bukankah itu artinya mereka adalah orang Melayu yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Minangkabau?
Tapi Hollander juga mempersoalkan kata “Melayu”, apakah kata itu memang berasal dari bahasa Melayu? Mungkinkah kata itu berasal dari kata Jawa: “layu”, yang dalam bahasa Inggris disebut withered yang juga berarti lemah, layu, lunglai?
Entah berapa kurun zaman setelah itu, orang Hindu atau Jawa Hindu menyerang Sumatera Tengah dan berhasil mengembangkan kekuasaannya yang begitu luas, maka orang Melayu meninggalkan daerahnya. Jika memang orang-orang Melayu itu terdesak atau kalah, tidak juga mungkin mengabadikan kata Jawa “layu” untuk nama sukunya. Orang mencari nama tentulah yang bagus, indah, bermakna atau beriwayat.
J. J. de Hollander tidak menyebutkan peristiwa tersebut sebagai Ekspedisi Pamalayu (1275). Ia mengatakan bahwa pada tahun 1160 sejumlah besar orang Melayu meninggalkan daerahnya menyusur pantai ke utara sampai di muara Sungai Indragiri. Dari sana mereka menuju Pulau Bintan (Bintang) dan menetap di pulau itu. Pimpinannya dikenal sebagai Tri Buwana. Kemudian salah seorang putra Tri Buwana kawin dengan putri Ratu pulau tersebut.
Selanjutnya dari sebagian rombongan menuju ke Malaka dan kemudian menetap di ujung tenggara tanah semenanjung yang disebut Ujung Tanah. Belum diketahui apakah di tanah  semenanjung tersebut sudah didiami oleh ras Melayu atau belum. Ketika itu para pendatang dari Sumatera disebutkan sebagai  “orang di bawah angin”.
Yang menarik dari cerita J. J. de Hollander tersebut,-2) bahwa asal muasal orang di Tanah Melayu (Malaya—sekarang Malaysia) datang dari Sumatera bukan seperti jalur biasa bahwa penduduk Nusantara ini berasal dari India belakang dan mestinya yang didiami mereka lebih dahulu tentulah jazirah Tanah Melayu sebelum ke Sumatera melalui muara sungai yang menganga di timur pulau tersebut.
Tapi, sudahlah, saya tidak mempersoalkan masalah perihal kedatangan mereka. Porsi ini biarlah kita serahkan kepada para ahlinya, para pakar sejarah kita. Yang jelas perjalanan sejarah dan kebudayaan orang  Melayu dan Minangkabau pada prinsipnya sama. Orang Melayu berbahasa Melayu yang kini ditetapkan sebagai bahasa Indonesia dan mengembangkan demokrasi dalam bentuk musyawarah dan mufakat serta beragama Islam
Tegasnya dapat dikatakan bahwa bahasa Minang adalah juga rumpun bahasa Melayu. Bahasa Melayu memang merupakan “Lingua Franca”, bahasa pergaulan dan bahasa perantara sejak dari dahulu. Bahasa Minang hanya berubah sedikit dari bahasa Melayu sehingga ada yang mengatakan bahwa bahasa Minang adalah dialek atau perubahan logat semata.
Tentang musyawarah dan mufakat yang menjadi dasar demokrasi antara Melayu dan Minang ternyata juga sama. Orang Minang mengatakan, duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang. Artinya kalau kita duduk seorang saja, hanya berpikir sendiri, maka sempitlah pikiran kita. Tapi kalau kita duduk bersama (berdua, bertga atau lebih banyak lagi), maka pikiran kita akan lapang. Bulek aie ka pambuluah, bulek kato ka mufakat. Kok picak satapiak, bulek sagolek. Picaklah buliah dilayangkan, bulek lah buliah digolongkan. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, baajun-ajun jo urang sumando.
Di dalam pantun adat dikatakan :
Balaie biduak nak rang Tiku
Bakayuah sambie manungkuik
Singgah sabanta di pantai Sasak
Basilang kayu dalam tungku
Di sinan api makonyo hiduik
Apo nan dijarang akan masak
Berkaitan dengan Islam yang menjadi anutan orang Melayu memang sama betul dengan filosofi orang Minang, Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Tegasnya adat Minang itu adalah adat Islami. “Syarak mangato, adat mamakai. Manusia bersifat khilaf, Tuhan bersifat qadim”.
Selanjutnya kalau kita ingin sedikit gambaran tentang hubungan antara suku Minang dengan suku Melayu, baiklah kita ambil cuplikan jalannya sejarah antara Minangkabau dengan Melayu di nusantara Indonesia ini.
Tentunya puak Melayu yang terdekat dengan Minangkabau adalah Melayu Riau. Inilah yang akan saya ceritakan.
Ada pada suatu masa sekitar tahun 1723 Kerajaan Siak Sri Indrapura berjaya kembali. Ingatlah kisah “Tuan Bujang” yakni Tuan Rajo Kaciak (Rajo Kecil) putra Sultan Mahmudsyah II dari Kerajaan Johor yang mangkat dibunuh oleh Laksamana Megat Seri Rama. Putra Sultan Mahmud Syah tersebut yang dipanggil sebagai Rajo Kaciak (Raja Kecil) diselamatkan orang ke Pagaruyung (Minangkabau).
Di Pagaruyung ia dipanggil sebagai “Tuan Bujang” dan setelah ia dididik di Pagaruyung dan setelah ia menjadi dewasa, ditetapkanlah para pembantunya. Di antaranya yang memegang jabatan penting penting adalah Datuk Limo Puluah, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir ditambah dengan Datuk Kampar.
Tuan Bujang yang disebut Raja Kecil dilepas kembali ke Siak Seri Indrapura dari Pagaruyung bersama ke empat pembatu tersebut di atas yang  ketika telah berada di Siak, maka Pembantu yang berempat tersebut dipanggilkan orang sebagai Datuk Ka Ampek Suku.
Dari Siak Raja Kecil itu berupaya merebut haknya kembali sebagai pewaris Kerajaan Johor yang ditinggalkan oleh ayahnya yang mati terbunuh. Upaya Tuan Bujang (Raja Kecil) ternyata berhasil. Beberapa tahun kemudian ia pergi ke pulau Bintan dan terus ke Siak. Pada tahun 1723 Kerajaan Siak Seri Indrapura berjaya kembali dan Datuk Ka Ampek Suku (Datuk Limo Puluah, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir dan Datuk Kampar) diangkat sebagai Orang Besar Kerajaan Siak sampai ke era Sultan Syarif Kasim pada tahun 1946.
Ketika Penulis berkunjung ke Istana Sultan Siak pada tahun 1998 yang lalu, Datuk-Datuk Ka Ampek Suku tersebut diabadikan sebagai nama jalan di kota Siak tersebut. Dan setelah saya memasuki Istana yang indah itu terpampang sebuah moto: “Berbapak ke Johor, beribu ke Minangkabau”.
Pada tahun 1770, empat puluh tujuh tahun kemudian ketika Raja Kecil sudah tiada, hubungan kedua suku yang serumpun itu kembali terjadi.
Orang Minang yang suka merantau sejak dari dulunya ternyata telah ikut meneroka di Negeri Sembilan Semenanjung Tanah Melayu. Pada mulanya para perantau Minang itu setelah sampai di Malaka dan membuka perkampungan di Nanning kemudian ke Rembau Seri Menanti. Setelah ramai orang Minang di sana, maka atas kesepakatan Datuk Undang dijemputlah seorang anak raja dari Pagaruyung untuk dirajakan di Negeri Sembilan.
Utusan Datuk Undang yang sampai di Pagaruyung tersebut berhasil mendapatkan anak raja Pagaruyung yang bernama Raja Mahmud kemudian bergelar Rajo Malewar.
Setelah dilepas di Pagaruyung, maka untuk menyeberang ke Tanah Melayu singgah dulu di Kesultanan Siak. Oleh Sultan Siak disiapkan 40 orang para pendekar yang handal dan pelaut yang tangguh agar kepergian Raja Malewar selamat sampai ditujuan, yakni Negeri Sembilan. Kebetulan wilayah penerukaan baru orang Minangkabau di Negeri Sembilan tersebut berada di bawah Sultan Johor.
Pada tahun 1773 Raja Malewar dinobatkan sebagai Yam Tuan Negeri Sembilan dan bersemayam di Seri Menanti. Raja-raja Negeri Sembilan dengan sebutan Duli Yang Maha  Mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan  yang sudah silih berganti sejak Raja Malewar sampai ke DYMM Tuanku Jaafar ibni Tuanku Abdur Rahman yang sekarang adalah keturunan Pagaruyung. Di Negeri Sembilan tersebut sampai sekarang juga punya adagium “Barajo ka Johor, batali ka Siak, ba Tuan ka Minangkabau”.
Demikianlah hubungan tali darah, tali adat dan tali budaya antara Melayu dan Minangkabau sudah terpatri sejak dari dahulu kala.
Ketika saya tampil memberikan makalah dalam suatu seminar di hotel Sahid kota Pekanbaru tahun lampau berdua dengan Tokoh Lembaga Adat Riau, Bapak Tenas Efendy, saya tutup makalah saya dengan pantun yang berbunyi sebagai berikut:
Alah bakayuah biduak ka ilie
Jikok ka ilie banyak singgah
Sambia lalu kito maimbau
Antah ko lukah di dalam aie
Antah aie di dalam lukah
Baitu Malayu jo Minangkabau
Lalu Tuan Tenas Efendy pun menutup makalahnya dengan seuntai pantun pula.
Ketuku batang ketukal
Dua batang keladi mayang
Sesuku kita se-asal
Se-nenek kita se-moyang
Persisnya antara Melayu dan minangkabau bagaikan mata uang dua sisi. Menurut pandangan saya antara kedua puak suku tersebut, antah air di dalam lukah, entah lukah di dalam air.

Padang, 6 November 2002 M/1 Ramadhan 1423 H




-1) Lihat M. Rasjid Manggis Dt. R. Panghulu di dalam bukunya Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1982
-2) Lihat J.J. de Hollander “Handelling bij de beoefeing der Maleische Taal en letterkunde”, terjemahan T. W. Kamil diterbitkan Balai Pustaka, 1984

Tidak ada komentar:

Posting Komentar