Senin, 07 Oktober 2019

Menjemput Raja Malewar ke Pagaruyung untuk Menjadi Raja di Negeri Sembilan

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie

H. Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie menjabat tangan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Malaysia, DYMM Tuanku Jaafar ibnu Tuanku Abdur Rahman sesampainya di Pagaruyung pada tahun 1985. Tuanku diantar oleh Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid dan kerabat Pagaruyung Sutan Indrawansyah.
Saya bawa pembaca lebih dahulu mengenal tentang perantauan orang Minangkabau di Negeri Sembilan Darul Khusus, Semenanjung Tanah Melayu.
Jiwa perantau orang Minangkabau memang sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Pada abad ke-12 Masehi, ada catatan yang mengatakan orang Minangkabau sudah menetap di Pulau Temasik, Singapura sekarang.

Beberapa abad kemudian para perantau Minangkabau sudah berada di negeri Malaka yang di kala itu sudah terbilang maju, terutama dalam perdagangan. Kerajaan Malaka pun sudah masyhur ke mana-mana, seperti di Kesultanan Aceh, Palembang, dan ke Tanah Jawa. Pada abad ke-15 dan 16 Malaka sedang mengalami puncak kejayaannya sebelum dikalahkan oleh Portugis pada tahun 1511.
Sebuah pantun yang sangat populer di kalangan masyarakat agaknya telah menjadi cemeti bagi anak Minangkabau untuk pergi merantau. Pantun itu berbunyi:
Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah paguno balun
Pantun tersebut jadi pendorong semangat merantau bagi anak-anak Minangkabau ketika selagi muda remaja. Pergilah merantau dan tinggalkanlah kampung. Para remaja dianjurkan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya karena di rumah atau di kampung belum bermanfaat. Di ranah Minangkabau sendiri menjadi buah mulut pergi merantau ke “Kolang” yaitu pergi ke perantauan Kelang yang terletak di pinggir pantai Malaysia Barat.
Diperkirakan sebelum perantau Minangkabau sampai di Rembau dan Seri Menanti mereka telah meneruka di naning. Tak ada angka tahun yang menyebutkan kapan orang Minangkabau mulai merantau ke Semenanjung Tanah Melayu itu. Pada sebuah nisan tua di Sungai Udang, Linggi, tertulis nama Syeikh Ahmad yang wafat pada tahun 1467 Masehi.
Ada yang berpendapat bahwa yang berkubur di sana adalah seorang yang datang dari Arab dan ada pula yang menyebutnya dari Pakistan.Tapi Buya Hamka yang berkunjung ke Sungai Udang tersebut setelah meniliti tulisan Arab pada batu nisan makam Syeikh Ahmad tersebut merasa heran kenapa setelah nama Ahmad itu tertulis “Majnun”? Padahal “Majnun” itu artinya “gila”. Taklah mungkin seseorang yang dimuliakan dan dipelihara kuburannya dikatakan gila. Menurut Buya Hamka, mungkin hal itu telah keliru dalam menuliskan kata “majnun”. Barangkali kata itu adalah “makhdum”. Huruf Arab kha yang bertitik di atas telah keliru meletakkan titiknya di bawah, maka jadilah ia huruf “jin”. Huruf “dal” menjadi “nun”, sehingga dibaca “majnun”. Padahal yang dimaksudnya adalah “Ahmad Makhudum”, nama salah seorang anggota Basa Ampek Balai, yakni Tuan Makhudum Sumanik yang rantaunya sampai ke Negeri Sembilan.
Kebenaran pendapat dan dugaan Buya Hamka tersebut menjadi bahan penelitian para epigraf,  dan tentunya, ahli sejarahlah yang akan lebih menjelaskannya kelak.
Namun, di dalam buku Sejarah Alam Melayu karangan Cikgu Buyung Adil dari Malaysia memperkirakan kedatangan orang-orang Minangkabau ke Tanah Semenanjung Melayu sekitar abad ke-15 Masehi. Sama dengan dugaan Buya Hamka tentang makam Syeikh Ahmad Makhudum di Sungai Udang, Linggi, yang bertarekh 1467 Masehi dan catatan bahwa orang Minangkabau sekitar abad 12 sudah merantau ke Temasik yang kita kenal sekarang dengan Singapura.
Sementara itu, menurut Tan Seri Datok Samad Idris, mantan Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan Malaysia, di dalam bukunya Payung Terkembang, Pustaka Budiman, Kuala Lumpur (1990) mengatakan bahwa ia telah mencatat sumber sejarah tempatan, lebih berupa sejarah lisan dari Luak Jelebu.
Pada suatu masa ada serombongan pendatang dari Minangkabau yang dipimpin oleh Dato’ Raja dan istrinya To’ Seri. Gelar tersebut telah disesuaikan dengan sebutan di Tanah Melayu yang asalnya dari Datuak Rajo.
Konon rombongan tersebut sebelum mudik ke Rembau dan Seri Menanti beberapa lama sudah berada di naning. Dan sebelum menyeberang ke tanah Semenanjung, beberapa lama pula mereka berada di Kerajaan Siak.
Memang antara Minangkabau dengan Siak Seri Indrapura dua kerajaan yang berjalin berkelindan karena sama-sama berkultur Melayu. Sungguh banyak sekali jasa orang Siak bahkan dari kesultanan Siak untuk memberi bekal dan mengantar orang-orang Minangkabau yang sudah dianggap belahan saudaranya menyeberangi selat Malaka untuk mencari rantau baru di Semenanjung.
Dato’ Raja yang datang dari Minangkabau tersebut adalah kerabat dari Datuak Bandaharo dari Sungai Tarab, salah seorang Basa Ampek Balai yang dikenal juga dengan sebutan Tuan Titah.
Basa Ampek Balai adalah semacam Dewan Menteri dalam struktur Pemerintahan Pagaruyung. Anggota Basa Ampek Balai lainnya adalah Tuan Makhudum di Sumanik (semacam Menteri Perekonomian), Indomo di Suruaso (Menteri Kebudayaan). Sebelum Islam masuk ke Minangkabau. Datuak Indomo mengurus masalah wihara Budha. Tuan Kadhi di Padang Ganting (semacam Menteri Agama Islam). Sementara Tuan Titah di Sungai Tarab yang bergelar Datuak Bandaharo semacam Perdana Menteri merangkap urusan kerajaan dan rantau barat. Di samping Basa Ampek Balai, terdapat Tuan Gadang di Batipuh yang mengurus masalah pertahanan dan keamanan.
Di dalam kitab Tambo Minangkabau disebutkan: ”Kok tajadi tuhuak parang, nagari dalam gaduah, anak jo kamanakan tak aman, mako Tuan Gadang di Batipuh nan bakuaso.”
Demikianlah Dato’ Raja beserta istri yang dipanggilkan To’ Seri dan seluruh anggota rombongannya meneruka dan menetap di suatu kawasan dekat Seri Menanti sekarang. Di daerah tersebut ada suatu kesan bekas jalan naga (ular besar yang menurut dongeng, penjaga pintu angin) yang alurnya sangat panjang. Tempat tersebut diberi nama Londar Naga, tidak jauh dari Seri Menanti arah ke Gunung Pasir.
Dato’ Raja dan To’ Seri (kerabat Datuak Bandaharo Sungai Tarab) diberi kehormatan sampai sekarang menyandang pusaka dua orang dari orang berempat di Istana Seri Menanti Kerajaan Negeri Sembilan. Masing-masing bergelar Dato’ Penghulu Dagang dan Dato’ Akhir Zaman.
Sutan Sumanik dan Datuak Putih
Setelah rombongan Dato’ Raja dari Sungai Tarab, datang pula rombongan kedua dari Minangkabau. Kali ini adalah kerabat Tuan Makhudum Sumanik. Dua orang yang memimpin rombongan tersebut bergelar Sutan Sumanik dan Johan Kabasaran.
Rombongannya terus ke Rembau, kemudian menetap di Seri Menanti dan membuka negeri atau meneruka di Tanjung Alam yang sekarang disebut Gunung Pasir.
Sejak itu, makin ramailah para pendatang dari Minangkabau hendak menetap di Semenanjung Tanah Melayu terutama ke Negeri Sembilan dan ke daerah sekitarnya seperti Johor, Selangor, dan Pahang.
Satu rombongan lagi dari Minangkabau dipimpin Dato’ Putih. Tapi Dato’ Putih bukan dari Luhak Tanah Datar melainkan dari luhak nan bungsu di Minangkabau yakni Luhak Limo Puluah atau Payokumbuah. Kebetulan pula dari Nagari Sarilamak (sekarang masuk kecamatan Harau) sekitar 10 KM sebelah timur Kota Payakumbuh.
Mulanya, Dato’ Putih dan Dato’ Laut Dalam berkumpul dengan Sutan Sumanik di Tanjung Alam. Kemudian Dato’ dari Payokumbuah itu menetap di Kuala Gamin dan Dato’ Laut Dalam berkampung di Kuala Air Humban Tali. Kuala Gamin kekal nama itu sampai sekarang, tapi Kuala Air Humban Tali sudah tak dikenal lagi dan tidak dapat diketahui di kawasan mana tempat itu berada.
Diceritakan, ketika Dato’ Putih sedang membuka lahan baru untuk persawahan dan peladangan, tiba-tiba menemukan tiga rumpun padi. Padi siapa yang telah tercecer pada rawa-rawa itu atau siapa yang menanam di situ, tak seorang pun yang tahu. Namun, Dato’ Putih sadar juga bahwa di kawasan itu dulunya telah ada penduduk asli sebagai orang Sakai yang suka hidup berpindah-pindah. Mungkin mereka telah mengenal juga bercocok tanam dan bertanam padi.
Dato’ Putih yang sudah dikenal dari kampungnya Payokumbuah seorang pawang yang disegani, apa yang dikatakannya dituruti oleh orang lain. Dato’ Putih menamakan kampung itu dengan nama “Padi Menanti.” Kenapa dari nama “Padi Menanti” sekarang berganti menjadi “Seri Menanti” tidaklah diketahui dengan jelas.
Ada yang berpendapat untuk menghormati atau mengambil sempena nama To’ Seri, maka nama Padi Menanti diganti Seri Menanti. Atau karena “padi” juga disebut “Sri”, seperti Dewi Sri, mungkin lebih enak didengar nama “Seri Menanti”. Tapi itu tidaklah pasti. Namun, nama yang berkekalan sampai sekarang adalah Seri Menanti. Di sana sekarang masih didapati istana lama mirip dengan rumah gadang di Minangkabau. Sedangkan di depannya sudah ada pula istana resmi kerajaan Negeri Sembilan.
Berabad-abad sudah para perantau Minangkabau menapak dan bermukim di Tanah Melayu. Sebagai perantau tentulah dalam kurun waktu itu terjadilah pulang mudik ke kampung yang sudah lama ditinggalkan.
Sering terlantun beberapa bait pantun yang menyayat hati menandakan ingatannya taklah pupus terhadap kampung halamannya ranah Minangkabau yang indah dipagar dan dikawal oleh Gunung Merapi, Singgalang, dan Sago.
Ketiga gunung ini bila dipandang dari jauh bagaikan berpegangan tangan “tiga sejoli” menjadi benteng yang kokoh dari Luhak nan Tigo, Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah Koto.
Dengarlah pantunnya seorang anak Minangkabau yang teringat kampung.
Laguah lagah kabau padati
Ganto tadanga sampai ka ladang
Baranti tantang Kato Tuo
Bia sapiriang dapek pagi
Sapinggan dapek patang
Ranah Minangkabau takana juo
Pantun itu menggambarkan betapa dia di rantau orang, namun ranah Minangkabau masih teringat jua. Bagi yang sudah berhasil di rantau, satu-dua kali atau mungkin juga setiap akan masuk bulan suci Ramadhan berniat pulang kampung menjenguk dunsanak yang ditinggalkan di kampung.
Dalam beberapa kali saya mengunjungi Malaysia, baik melalui udara, maupun melalui darat dan laut, ingatan saya melayang jauh ke masa yang sudah silam, dua atau tiga abad yang lampau. Betapa nenek moyang kita dahulu begitu nelangsa menuruti jalan setapak di dalam hutan belantara, rimba yang hana, meretas bukit barisan berkala-kala, naik perahu melewati jeram-jeram yang ganas dan menentang ombak laut bergulung-gulung.
Sampai di tempat yang dituju bukanlah disambut oleh kasur tebal atau kursi goyang untuk bersenang-senang. Harus segera membanting tulang, bermandi keringat, di tengah terik matahari di kala siang dan berselimut embun di kala malam hari. Cancang latiah harus dimulai, alam harus ditundukkan, tebang rambah harus dilakukan, semak belukar harus disiangi, membakar setiap hari, supaya terang lahan dan terbuka.
Letih badan pastilah terasa, namun hati yang keras dan semangat yang membaja tak akan pernah kendor. Dengan semboyan anak Minangkabau sejak dari dahulu: Esa hilang, dua terbilang, sebelum berhasil pantang surut ke belakang. Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Setelah semakin ramai perantau Minangkabau bermukim, berkampung di Rembau, Seri Menanti, Kuala Pilah dan lain-lain, maka kebiasaan di kampung, tradisi, dan adat istiadat tidaklah sirna dari dalam diri mereka masing-masing.
Kalau di Minangkabau mereka punya suku seperti Koto Piliang dan Bodi-Caniago sebagai induk suku yang diciptakan oleh peletak dasar adat Minangkabau: Datuak Ketemanggungan dan Datuak Perpatih nan Sabatang. Pecahan suku tersebut kini sudah lebih dari seratus banyaknya.
Kenyataannya suku-suku yang ada di Negeri Sembilan mengikut pada nama kampung yang ditinggalkan, seperti suku Tanah Datar, Payokumbuah, Batuhampar, Serilemak, Mungkal, Batubelang, Serimelenggang, Tigo Batu, Tigo Nenek, Anak Aceh, dan Biduanda.
Selain dari suku Tigo Nenek, Biduanda, dan Anak Aceh, lainnya tujuh suku berasal dari Luhak Limo Puluah Koto dan satu saja dari Tanah Datar.
Kenapa itu terjadi?
Menurut sahabat saya Tan Seri Datok Samad Idris hal itu terjadi karena perantau Payokumbuah-lah yang ramai datang membuka Negeri Sembilan.
Memang ketika saya berada di Rembau, Jelebu atau Kuala Pilah, penduduk di sana berbicara dengan dialek Payakumbuh. Tabek (tebat) mereka baca tobek, patai (petai) dibaca potai, bareh (beras) dibaca borkheh. Pas, bak dialek urang Payakumbuah atau Limo Koto Bangkinang.
Setelah Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka pada tahun 1511 Masehi, muncullah Kerajaan Melayu Johor. Daerah pengaruh Malaka kini berada di bawah pengaruh Johor. Dalam hal ini termasuk kawasan Negeri Sembilan.
Kemudian, Kerajaan Melayu Johor pun mendapat gangguan dari Aceh, Bugis dan Belanda. Sultan Abdul Jalil II yang memerintah Johor jadi kalang kabut juga.
Dalam keadaan lemah demikian, anak raja Bugis datang ke Negeri Sembilan membuat kegaduhan. Angkatan anak Raja Bugis tersebut dipimpin oleh Daeng Kamboja yang memaksa penduduk negeri yang mayoritas berasal dari Minangkabau untuk mengakuinya sebagai Raja di Negeri Sembilan. Orang-orang Minangkabau di sana tentu tidak mau. Lalu mereka bertolak ke Johor untuk melaporkan keadaan tersebut kepada Sultan Johor.
Tapi apa hendak dikata, Kerajaan Johor yang dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil II dalam keadaan lemah. Serangan datang dari kiri dan kanan. Jangankan sempat memikirkan situasi di Negeri Sembilan, untuk mengamankan Kerajaan Johor saja Sultan sudah kewalahan.
Akhirnya Sultan Johor menganjurkan kepada anak Minangkabau yang membuka Negeri Sembilan tersebut untuk meminta seorang Raja ke Minangkabau. Setelah diadakan musyawarah di Negeri Sembilan, maka disepakatilah Panglima Bandan dan Panglima Bandut yang akan memimpin delegasi ke Pusat Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung.
Tidak diceritakan berapa hari atau berapa lama delegasi tersebut dalam perjalanan untuk sampai di Pagaruyung. Yang jelas, Yang Dipertuan Sultan Muningsyah II telah menyambut dengan baik Panglima Bandan dan Panglima Bandut. Sultan Pagaruyung bersedia mengirim seorang anak Raja untuk memimpin serpih belahan Minangkabau di Semenanjung Tanah Melayu tersebut.
Namun, sebelum anak Raja dikirim sebaiknya diatur persiapan terlebih dahulu untuk menyambut kedatangan seorang Raja di tanah seberang itu. Hal itu logis agar penobatan raja di sana berjalan lancar dan tertib sebagaimana layaknya adat istiadat “Diraja”. Untuk itu diutuslah seorang pembesar dari Pagaruyung untuk berangkat lebih dulu ke Negeri Sembilan bersama dengan Panglima Bandan dan Panglima Bandut serta rombongan. Pembesar itu adalah Rajo Khatib.
Sedangkan Yang Dipertuan Pagaruyung, Sultan Muningsyah II memilih seorang di antara putranya yang akan dinobatkan sebagai Yang Dipertuan Negeri Sembilan. Terjadilah ujian fisik dan batin bagi putra-putra raja tersebut. Ada satu malam penuh mereka ditidurkan di atas kasur batu yang diberi alas dengan daun jelatang nyiru yang membuat seluruh tubuh gatal dan bengkak, perih, dan pedih.
Ternyata anak Raja yang bernama Raja Mahmud lolos dari ujian tersebut. Dia tenang dan tak ada keluhan. Tidak merasa gatal dan tidak menggarut. Tidak merasa perih dan tidak merasa pedih. Lalu diadakan ujian kebatinan cara lain, dia juga lolos. Dalam ilmu bela diri, dilatih dan diuji oleh tujuh ahli persilatan istana, Raja Mahmud juga lolos, maka pilihan jatuh padanya.
Kasur batu beralaskan daun jelatang nyiru tersebut, terletak di bawah kayu beringin sakti, kayu besar dan rimbun tiga sesaing, yang menjadi lambang Raja Tiga Selo, Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.
Bukit Batu Patah dan puncak Gunung Bungsu yang melatari kampung Gudam Balai Janggo, di Ulak Tanjung Bungo di dalam Koto Pagaruyung menjadi saksi ujian kebatinan tersebut.
Terhadap diri Raja Mahmud diberi gelar Raja Malewar. Apa yang dimaksud dengan gelaran itu tak ada kejelasan sampai sekarang. Tambo tidak mengisahkan dan tak ada pula catatan di Negeri Sembilan tentang gelaran itu.
Kata “lewa” bahasa Minangkabau, berarti memberi tahu orang, mengumumkan, menyiarkan atau melepaskan dari kungkungan, release (Bahasa Inggeris).
Pidato malewakan pangulu maksudnya mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa seseorang dengan kesepakatan kaumnya telah menyandang gelar pusaka. Dalam kalimat adat disebutkan: himbaukan galanyo dilabuah nan golong, di pasa nan rami, bawo barundiang jo baiyo, bawo sahutang-sapiutang …” dan seterusnya.
Mengingat arti kata “lewa” adalah melepaskan dari kungkungan, mungkinkan yang dimaksud dengan Raja Malewar adalah seorang raja yang sudah dilepaskan dari kungkungan Kerajaan Pagaruyung?
Jawab dari pertanyaan tersebut tidaklah dapat dipastikan. Yang jelas kepada Raja Mahmud yang bergelar Raja Malewar diajarkan oleh ayahnya Yang Dipertuan Muningsyah II bagaimana resam istana dan resam daulat, bagaimana melekatkan destar dan memasangkan mahkota kerajaan, memasang si samping dengan pending dan menyisipkan keris si Ganja Iras.
Melalui Kerajaan Siak
Setelah musta’id semuanya, maka berangkatlah Raja Malewar meninggalkan Gudam Balai Janggo, Istana Pagaruyung menuju ke tanah seberang, Negeri Sembilan di Semenanjung Tanah Melayu.
Dia diharuskan membawa rambut kudungan (potongan) gombak ayahandanya di dalam sebuah cupu yang terbuat dari kuningan. Sampai sekarang konon sehelai rambut dalam batil (cupu) itu tersimpan baik di Istana Seri Menanti dan setiap penobatan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, kudungan rambut ayah kandung tersebut termasuk dalam kelengkapan upacara.
Raja Malewar diiringkan oleh 40 orang yang terdiri dari para pesilat andalan, ciek galia, ciek pandeka (seorang licin, seorang pendekar), liek-liek jangek kasadonyo (liat-liat kulit kesemuanya) ditambah lagi dengan ahli ilmu kebatinan, mantra-mantra, dan lain-lain.
Keberangkatan itu bertarikh 1770 Masehi menuju ke timur melalui Luhak Limo Puluah. Diceritakan setelah meretas hutan dan rimba (jalan darat) sampailah di kampung yang baru ramai penduduknya disebut di Koto nan Baru. Di sana telah menunggu beberapa buah sampuah (perahu panjang) untuk mengangkut Raja Malewar dan rombongan mengikuti arus Batang Mahat menuju ke Kerajaan Siak, Riau. Pangkalan tempat berangkat itu kini dikekalkan dengan nama Nagari Pangkalan Kota Baru, lebih kurang 50 km di timur Payakumbuh.
Setelah selamat sampai di Kesultanan Siak, Sultan Abdul Jalil memilih para ahli tikaman dan orang kuat fisik sebanyak 8 orang untuk mengawal Raja Malewar menyeberangi Selat Malaka.
Ada sekitar 40 hari Raja Malewar berada di Istana Kesultanan Siak sambil menunggu kutiko nan elok, wakatu nan baiak, supayo nak lalu angin puputan, taduah ombak, taduah galombang, nak aman dari lanun jo parompak.
Pada tahun itu juga Raja Malewar dan rombongan  selamat sampai di Malaka, terus ke Johor menghadap kepada Sultan. Setelah mendapat titah dari Sultan Johor, maka Raja Malewar meneruskan perjalanannya ke Negeri Sembilan untuk naik nobat di Penajis Tanah Kerjan dan menjunjung mahkota di Seri Menanti pada tahun 1773 Masehi.
Sejak itu berlakulah andaian:
ber - raja ke Johor
ber – tali ke Siak
ber – tuan ke Minangkabau
Setelah Raja Malewar bertakhta selama 22 tahun, ia pun wafat. Walaupun Raja Malewar ada punya putra, namun Undang nan Ampek dari Luhak Rembau, Jelebu, Sungai Ujung dan Johol, memutuskan tidak mengangkat putra mahkota sebagai pengganti.
Untuk pengganti Raja Malewar dijemput lagi anak Raja dari Pagaruyung, maka jatuhlah pilihan pada Raja Hitam dan ditabalkan pada tahun 1795. Selama 13 tahun bertakhta wafat pulalah Raja Hitam digantikan oleh Raja Lenggang yang juga dijemput ke Pagaruyung untuk ketiga kalinya bertahun 1808.
Setelah tiga kali menjemput anak raja yang dirajakan di Negeri Sembilan, maka pada kali keempat tidak mungkin lagi untuk menjemput anak Raja ke Pagaruyung. Alasannya,  bumi Minangkabau sadang hangek (panas). Pagaruyung sadang paneh, lah sulik mudiak ka Minangkabau, lah susah balaie ka hulu, batang kok banyak malintang, jalan darek kok tak aman, perang Padri sedang berkecamuk, maka diputuskanlah menobatkan Raja Radin putra Raja Lenggang dan cucu Raja Hitam sebagai Raja Negeri Sembilan bertarekh tahun 1824 Masehi. Sampai ke zaman DYMM. Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdur Rahman, Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan yang sekarang kalau tidak putra raja, adik rajalah yang dinobatkan sebagai raja atau Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar