Sabtu, 11 Januari 2020

Di Nagari Koto Gadang Tiap Rumah Ada Sarjana


OLEH Khairul Jasmi
Seratus tujuh belas tahun silam, Agus Salim lahir. Meski telah teramat lama, di Sumatera Barat, anak-anak sekalipun tetap mengenal namanya. Betul juga kata orang bijak: harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Nama besarnya nyaris tidak tertandingi oleh siapapun, kecuali oleh sejumlah orang di zamannya yang kemudian menjadi ‘bapak bangsa’ ini. Agus Salim adalah tipe orang Minang, yang dalam istilah Rosihan Anwar gilo-gilo baso alias gendeng. Semua orang Minang yang pintar memang memiliki sikap demikian.

Ia lahir di Nagari Koto Gadang pada  8 Oktober 1884. Nagari ini senantiasa dibalut kabut. Anginnya semilir.  Jika Anda berada di Bukittinggi, masuklah ke Ngarai Sianok, menelusuri jalan beraspal yang menurun tajam. Naik mobil Chevrolet keluaran tahun 1944 (kini kendaraan itu telah ditukar dengan jenis lain-editor) atau berjalan kaki. Sesampai di jorong Lambah, Nagari Sianok VI Suku, Anda berbelok ke kiri, melintasi Nagari Sianok dan selanjutnya Anda akan sampai di Koto Gadang. Bisa juga melalui Padang Lua dari simpang empat menuju jalan ke Maninjau, tapi sesampai di Pakan Sinayan, belok kiri menuju Nagari “Emas” Guguak Randah, belok kanan maka Anda masuk Nagari Koto Gadang.
Koto Gadang adalah satu dari 61 nagari di Kabupaten Agam atau 517 nagari (setelah berlakunya Perda No 9 Tahun 2000) di Sumatera Barat. Koto Gadang masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan IV Koto (baca: Ampek Koto), yaitu nagari: Koto Tuo, Koto Panjang, Koto Gadang, Sungai Landia, Balingka, Malalak, Guguak Tabek Sarojo,  Sianok IV Suku, dan Sungai Jariang
Di Koto Gadang, Anda akan disambut oleh ciri khas nagari Minangkabau: rumah berjejer di sepanjang jalan, di belakang selapis atau dua lapis rumah akan ada sawah. Rumah-rumah di sini banyak yang kosong. Pemiliknya entah di mana kini. Mungkin di Jakarta, Sydney atau California, dan bisa juga di Surabaya.
Banyak rumah yang didiami oleh orang upahan. Sebuah keluarga digaji untuk mendiami rumah oleh keluarga Koto Gadang yang sedang berada di rantau. Hal semacam ini banyak ditemukan di nagari-nagari lain di Minangkabau, tapi di Koto Gadang jumlahnya teramat banyak.
Para gadis Koto Gadang yang menetap di kampung halaman, selain sekolah di kampung sendiri juga di Bukittinggi dan Padang. Yang di kampung, banyak yang melibatkan diri dalam kerajinan Amai Setia yang didirikan lebih seabad silam. Hasil kerajinan anak Nagari Koto Gadang terkenal luas. Tidak saja mengisi etalase pasar konveksi di Bukittinggi, tapi juga dipesan oleh banyak orang dari berbagai kota.
Ketika wanita di daerah lain masih tidur, di Koto Gadang sudah ada kerajinan Amai Setia. Tatkala wanita di daerah lain dipasung di rumah, Rohana Kudus, gadis desa itu, sudah menjadi pemimpin redaksi surat kabar Soenting Melajoe di Padang awal abad ini. Ia menjadi perintis perdebatan gender dan hak-hak wanita Minang-kabau.
Nagari ini, kini, juga menjadi desa tujuan wisata. Para wisatawan asing akan menuju Ngarai Sianok dan seterusnya berjalan menuju Koto Gadang. Di sana mereka sepertinya memasuki bab demi bab buku tua milik kaum intelektual bangsa ini.
Koto Gadang sama terkenalnya dengan Agus Salim atau cucunya, Emil Salim. Nagari ini berhasil mengambil manfaat yang sempurna dari sistem pendidikan kolonial yang diterapkan Belanda di Minangkabau. Tidak ada orang Koto Gadang yang ketika itu tidak pandai berbahasa Belanda. Malah kini, orang seangkatan Emil Salim atau satu generasi di bawahnya, biasa berbicara memakai bahasa Belanda dengan kedua orangtuanya.
Dapat dibayangkan di zaman awal-awal politik etis saja orang Koto Gadang sudah berbondong-bondong untuk sekolah, apalagi sekarang. Maka jangan heran dengan kenyataan seperti ini: tiap rumah di Koto Gadang pasti memiliki sarjana dari bidang ilmu apa saja.
Dari nagari ini muncul sejumlah menteri, jenderal, direktur berbagai perusahaan, pakar, ahli politik, dan dokter. Di mana pula di Indonesia tiap rumah memiliki sarjana? Dari segi prestasi, tidak ada desa di Indonesia, bahkan mungkin di dunia yang bisa menandingi Koto Gadang.
Celakanya, mereka semua berada di rantau. Koto Gadang mereka titipkan pada Gunung Singgalang dan Marapi. Mereka mencari hidup dan penghidupan di rantau orang.
Biasanya saat Idul Fitri, Koto Gadang sangatlah ramai. Semua perantau intelektual itu pulang kampung. Tidak ada yang congkak, merasa hebat satu dari yang lainnya. Mereka patuh dan santun pada mamaknya yang tinggal di kampung. Mereka hormat kepada kepala desa, meski ia sendiri seorang jenderal. Segenap pangkat, atribut, mereka lepas. Maka jadilah mereka orang Koto Gadang yang sesungguhnya.
Agus Salim, tidak meninggalkan apa-apa, kecuali spirit yang kuat bagi warga Koto Gadang dan rakyat Minang-kabau. Orang Minang adalah orang yang paling bangga di negeri ini, karena telah menyumbangkan Agus Salim, M Hatta, Syahrir, M Yamin, M Natsir, As’aad, dan sejumlah nama lainnya bagi Indonesia.
Di Koto Gadang, Agus Salim membuka HIS partikulir setelah menamatkan pendidikannya pada akhir 20-an. Ia sekaligus pulang kampung untuk menikah. Sejak itulah orang mengenalinya sebagai Haji Agus Salim atau Paatje bagi kerabat keluarganya. Sekolah partikulir yang ia buka, ternyata mendayung Koto Gadang ke laut pendidikan yang mahaluas.
Ia buka sekolah tanpa pamrih. Sifat tanpa pamrih itu terus ia bawa sampai ia menjadi seorang intelektual terhormat. Ia sederhana dan nyaris melarat.
Anekdot Agus Salim makan dengan tangan, sementara orang-orang Eropa makan dengan sendok, sampai kini berkembang luas di nagari-nagari Minangkabau.
“Sendok sudah masuk ke seribu mulut orang lain, tapi tangan ini hanya ke mulut saya sendiri.” begitulah pembelaan Agus Salim. Dengan dalih serupa, makan dengan tangan seolah mendapat pembenaran di Minang. ***

Padang, 27 Oktober 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar