Minggu, 16 Februari 2020

DIM Bisa Diwujudkan

Prof Rusdi Muchtar, Mantan Ahli Peneliti Utama LIPI
Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) seharusnya memang bisa diwujudkan karena secara historis Minangkabau memiliki tempat dalam sejarah Indonesia baik sejarah zaman klasik dan modern. Kontribusi putra-putri Minangkabau cukup penting dan signifikan dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Demikian penilaian dan alasan yang dikemukan Prof Rusdi Muchtar, MA, APU, pensiunan Ahli Peneliti Utama Bidang Ilmu Komunikasi dan Budaya pada  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terkait pentingnya kehadiran Daerah Islam Minangkabau (DIM) menggantikan Provinsi Sumatera Barat.
“Jika dirunut sejarah, pada masa raja-raja dulu, umpamanya Adityawarman yang telah  membangun kerajaan di Melayu Minangkabau hingga pada masa perjuangan kebangsaaan awal abad ke-20, putra-putra Minangkabau banyak berjasa dalam menumbuhkan keinginan merdeka dengan berbagai cara. Itu kontribusi besar yang bisa dijadikan alasan untuk mendapatkan hak istimewa itu,” papar Rusdi Muchtar, yang kini juga mengajar di Ilmu Komunikasi dan Metode Penelitian Komuniasi di Universitas Binus, Universitas Jayabaya, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta kepada, Minggu, 3 Maret 2019.  

Untuk tokoh-tokoh besar yang berasal dari Minangkabau, Rusdi Muchtar mencontohkan Moh Yamin dan tokoh-tojoh Pujangga Baru yang menciptakan berbagi prosa untuk Cinta Tanah Air. Mohammad Hatta, St Sjahrir, peristiwa PDRI, Sjafruddin Prawiranegara, dan lain sebagainya.
“Ini bisa dikatakan sebagai alasan untuk hadirnya DIM itu. Selain itu, bisa jadi keinginan masyarakat Minangkabau untuk membentuk DIM, mungkin merasa bahwa masyarakat Minangkabau kan juga bisa seperti Aceh, DI Yogyakarta, dan Papua yang menjadi daerah istimewa,” urainya.  
Sehubungan dengan keinginan sebagian masyarakat menghadirkan DIM ini, menurut Rusdi Muchtar, bukan karena ada masalah dengan Provinsi Sumatera Barat.
“Tak ada masalah dengan Provinsi Sumatera Barat  karena yang dituntut adalah normal  sesuai dengan berbagai fakta sejarah masa lalu. Jika PRRI dianggap sebagai 'dosa' orang Sumatera Barat, itu sudah tak berlaku lagi sekarang. Semua ide PRRI sekarang sudah dipakai dalam sistim pemerintahan RI, yaitu otonomi daerah,” papar Rusdi Muchtar.
Selain itu, alasan munculnya DIM juga terkait dengan dekadensi moral sebagai dampak perkembangan zaman kendati soal ini bukan hanya terjadi di Sumatera Barat semata tetapi sudah jadi fenomena sosial remaja urban di seluruh tanah air.
“Mungkin dengan DIM  tokoh masyarakat dan pemerintahan bisa bekerja sama dalam membina generasi muda, melalui berbagai program baik secara tradisional, agama maupun pendidikan resmi di sekolah-sekolah formal. Mungkin saja pendidikan budi pekerti dan agama kembali digalakkan di berbagai institusi pendidikan, agama dan sosial,” terangnya.
Menjawab pertanyaan semenjak DIM dicetuskan empat tahun lalu hingga hari ini, tak begitu tersosialisasi dengan baik, dan ini terlihat DIM belum jadi gerakan semua lapisan masyarakat baik di ranah maupun di rantau, menurutnya karena DIM lebih banyak digerakkan tokoh tua-tua dan senior.
“DIM umumnya digerakkan oleh tokoh-tokoh  senior dan sudah tua-tua. Mungkin untuk bisa menjadi isu sentral pada masyarakat Minang, maka upaya untuk mempromosikan itu perlu dilakukan di berbagai lapisan sosial, pemerintahan, pendidikan formal dan nonformal serta tokoh-tokoh agama dan tokoh adat. Ikut sertakan juga berbagai media massa resmi, serta juga fungsikan  berbagai media sosial agar isu ini tersosialisasi dengan baik,” ujarnya.   nasrul azwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar