Musik Gamad, Tradisi atau Modern?


OLEH Agus Taher (Seniman)

Umumnya kita membuat garis yang tegas kapan dimulainya era musik, yaitu antara musik tradisi Minangkabau, seperti yang disebut di atas dengan musik Minangkabau modern.  Garis batas yang biasa dipakai adalah ketika orkes Gumarang memulai debutnya tahun 1955. 

Tahun itulah yang dipatok sebagai awal dimulainya era musik Minang modern. Meskipun demikian, kita agaknya masih perlu melihat keberadaan musik Minang pramodern, yang sebenarnya lebih condong dikelompokkan ke musik modern.

Dalam era 1920-an-1950-an di Sumatera Barat sudah berkembang kesenian gamad, Hawaian, gambus, dan keroncong, termasuk gambang. Akan tetapi, hanya gamad dan gambus yang bertahan sebagai kesenian rakyat di Minangkabau, bahkan gamad sudah dianggap sebagai bagian dari kesenian Minang. 

Sementara, gambus memang masih sangat jelas wujudnya sebagai musik impor dari Arab, samahal dengan musik Hawaian dari Kepulauan Hawai. Sementara gamad, walaupun disebut dari luar, akan tetapi perbaurannya yang unik dengan seni tradisi Minangkabau sudah disepakati oleh para ahli musik sebagai musik tradisi dari Padang Kota. 

Sebenarnya, seni gamad tidak begitu saja bisa disebut sebagai musik tradisi Minang, karena cirinya sangat berbeda dengan musik tradisi subetnik di Minangkabau, terutama dilihat dari dominannya peralatan dari luar pada musik gamad, seperti biola, armonium, akordion, atau gitar. 

Gamad tidak mengenal alat musik saluang, bansi, pupuik batang padi, rabab, dan talempong, yang menjadi ciri seni musik sub etnik Minangkabau. Apalagi kesenian gamad lebih diwarnai oleh tangga nada diatonik, tidak seperti seni musik tradisi Minang yang didominasi oleh tangga nada pentatonik. 

Oleh karena itu, gamad lebih tepat diposisikan sebagai kelompok musik Minang pramodern, kalau kita sudah menganggap era musik Minang modern dimulai dari kelahiran Orkes Gumarang.  Sebaliknya, kita bisa juga mengatakan bahwa musik Minang modern generasi pertama adalah gamad, sedangkan format musik yang diusung oleh Orkes Gumarang adalah musik Minang modern generasi kedua.

Lebih jauh dari itu, perbedaan musik tradisi itu dengan musik modern dapat pula ditinjau dari sudut pandang etno musikologi.  Musik modern dan musik tradisi dapat dikenal dari 2 ciri utama, yaitu alat musik yang digunakan, serta corak lagu yang dinyanyikan.

Musik tradisi adalah musik yang lahir dan berkembang secara turun temurun di daerah setempat sehingga sifatnya lebih lokal spesifik serta dipertahankan sebagai sarana hiburan. 

Musik tradisi memiliki ciri khas yang terletak pada isi lagu dan alat musik tradisi.  Syair dan melodi lagu dalam bahasa dan gaya daerah setempat, seperti kita melihat berbedanya musik rabab dengan musik dendang darek. 

Musik tradisi cenderung eksklusif, tidak dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat di luar budaya masyarakat yang melahirkan musik tersebut.  Karena sifatnya khas, masyarakat luar tidak mudah mencerna dan menikmati musik tradisi tersebut. Orang Pariaman akan kesulitan menikmati dendang pauah, musik tradisi Kota Padang, begitu juga orang Payakumbuh akan tidak mudah memahami musik tradisi rabab Pesisir Selatan.

Sebaliknya musik modern adalah musik yang sudah mendapatkan sentuhan kebaruan dan teknologi,  baik dalam penggunaan alat musik, maupun penyajian musik.  Sifatnya lebih universal, sehingga semua orang relatif lebih dapat memahami dan menikmatinya. 

Musik modern tidak dilahirkan dari tradisi suatu masyarakat tertentu. Musik modern dicirikan oleh kejelasan notasi, tangga nada, serta motif musik. Biasanya alat musik yang digunakan sudah dikenal luas dan mudah dipelajari. Biola, gitar, saxophon, akordion, bass, armonium, gendang ketipung atau pun drum sudah dikenal oleh berbagai bangsa di dunia, serta lebih mudah mempelajarinya dibandingkan alat musik tradisional seperti saluang atau rabab.

Nah, dari sisi penggunaan alat musik, maka gamad makin jelas dapat dikategorikan sebagai musik modern, apalagi lirik lagu berbahasa Minang yang dipakai dalam musik gamad tidak berbeda dari lirik lagu musik Minang modern.

Perjalanan Panjang Musik Gamad

Menapaktilasi perjalanan musik gamad, mirip sekali saat kita mempelajari asal usul orang Minangkabau. Samar, gelap, dan hampir sulit mendapatkan kata pasti.  Untuk memastikan asal kata gamad saja, seperti tak mudah. Mana yang betul, gamad atau gamat. Perbedaan kecil tersebut masih saja diperdebatkan.

Menurut Burhan, salah seorang pemain gamad sekitar tahun 1937, asal kata gamad itu adalah game, alias main, atau ajakan ayo mari kita main. Kakak kandung pencipta M. Gaus ini memberi alasan bahwa dalam acara gamad ada prosesi mengajak penyuka gamad untuk main, baik bernyanyi ataupun menari.  Selanjutnya, Rizaldi dari ISI Padang Panjang yang banyak meneliti tentang gamad, juga memperlihatkan begitu kusutnya silang pendapat asal kata gamad itu. Katanya, menurut budayawan AA. Navis, kata gamad berasal dari kata gamit. Gamit artinya menyentuh seseorang untuk suatu keperluan.

Pendapat ini didasarkan adanya tradisi "menggamit" si penyuka gamad yang hadir dalam acara pesta ketika memberikan saputangan atau selendang.  Pada gilirannya, yang kena gamit harus siap untuk bernyanyi atau menari. 

Pemain biola orkes gamad Ikatan Budi, Rusyid lain lagi penjelasannya. Katanya, gamad berasal dari kata gamek,  yang artinya "kacau".  Dulu, belum ada aturan dan patokan antara lagu dan musik. Keharmonisan melodi instrumen dengan vokal belum terjadi, karena alat musik barat, seperti biola, armonium, akordion belum begitu dikuasai oleh musisi generasi perintis gamad tempo doeloe. Sementara latar belakang penyanyinya adalah seniman yang biasa mendendangkan lagu tradisi dengan teknik bernyanyi yang tidak mengenal birama atau ketukan. Jadi, akibat yang satu ke barat, yang satu ke timur, maka kedengarannya kacau.

Rahim Cik, seorang penyanyi gamad era 1950-an menyebutkan bahwa gamad berasal dari akronim Gabungan Musik Alunan Daerah, karena musik gamad sebagai jenis musik baru berasal dari gabungan berbagai aliran musik, seperti musik Malaya, Medan, Portugis dan Minang. 

Versi Wan Abdul Kadir lain lagi. Gamad berasal dari kata ghazal, sedangkan ghazal adalah musik Melayu Hindustan, yang juga disebut gamat.  Rizaldi lebih condong ke pendapat Wan Abdul Kadir ini, terutama berdasarkan kesamaan alat musik gamad dengan musik gazal. 

Bertitik tolak dari penjelasan Burhan dan rangkuman pendapat yang dikumpulkan Rizaldi, maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya asal usul kata  gamad saja masih kelam. 

Setiap alasan tentang asal kata sepertinya dipaksakan cocok dengan kata gamad.  Persoalan ini wajar terjadi karena rentang waktu antara peristiwa penamaan gamad dengan penelusuran peristiwa mendekati 4,5 abad.

Menurut Indra Yudha,  dosen UNP, kedatangan bangsa Portugis ke Padang dalam misi dagang sekitar tahun 1589. Kedatangan Portugis ini selalu dikaitkan dengan kelahiran musik gamad. Saat itu, orang Cina yang sudah ada di Padang membawa etnik Nias sebagai buruh dan pembantu rumah tangga untuk bangsa Portugis. Mereka ditempatkan di sekitar Muara Padang, Pariaman, Pasar Usang, dan Muara Sakai, akan tetapi sebagian besar tinggal di Padang. 

Hubungan kerja antara Portugis dan Nias ini menyebabkan terjadinya relasi sosial  budaya, antara lain dalam tari Balanse Madam.   Setiap pesta orang Portugis, baik di atas kapal, maupun di darat selalu menghadirkan tari Balanse Madam ini.  Pesta-pesta Portugis ini yang sering ditonton oleh etnik Nias.

Dalam perkembangannya, tari Balanse Madam ini menjadi tarian tradisi etnik Nias perantauan, atau etnik Nias yang merantau ke Padang. Akan tetapi, tari Balanse Madam ini tidak dikenal dalam budaya Nias di kepulauan Nias.  Barangkali karena 1) Dalam acara gamad selalu ada tari Balanse Madam.

2) Pertunjukan gamad selalu dibuka dengan lagu Kaparinyo, dimana notasi lagu Kaparinyo ini kentara sekali iro Spanishnya, terutama lagu Kaparinyo Pulau Batu, bahkan notasi lagu ini sangat mirip dengan lagu Katakam Takam, lagu rakyat Filipina, yang juga dikenal sebagai lagu yang berasal dari Portugis.

 3) Eratnya relasi sosial budaya Portugis dan Nias, maka sebagian orang menyimpulkan bahwa musik gamad berasal dari Portugis dan musik gamad adalah musik tradisi etnik Nias. Mungkin itu pula sebabnya, Yusri Z, pimpinan orkes gamad Budi Sejati, menyatakan bahwa kata gamad berasal dari bahasa Nias, "gama-gama", yang artinya sejumlah peralatan, seperti alat pertukangan, alat dapur, atau alat musik.

 Pernahy dimuat di Harian Khazanah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...