Philanthropy dan Civil Society: Lunturnya Harga Diri dan Solidaritas Sosial Masyarakat Minangkabau

OLEH Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie

Festval Sitti Nurbaya Padang (FOTO/Antara)

mengambil kata philanthropy bagaikan hendak  mencari kampak  padahal beliung telah disandang atau hendak mencari pisau sementara sakin sudah tersisip di pinggang.

Apa maksudnya?

Philanthropy artinya cinta mencintai dan punya jiwa keder-mawanan. Yang namanya orang Minangkabau itu diajarkan hidup penuh kasih sayang, cinta mencintai satu sama lian, kasih mengasihi, tolong-menolong, solidaritas yang tinggi, dan lain-lain.

Situjuh Batur Sebagai Cagar Sejarah

 OLEH Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie

Monumen Peristiwa Situjuah. (Foto/mp Zaimul Haq Elfan Habib)

Dua puluh satu tahun yang lalu, 15 Januari 1969, mantan Gubernur Militer Sumatera Barat dan salah seorang tokoh penting PDRI hadir di Situjuh Batur. Dia adalah Mr. Sutan Moh. Rasjid yang datang bersama putranya Iwan Rasjid. Dari Padang, mantan Gubernur Militer Sumatera Barat itu diantar oleh seorang sumando Ahmad Nurdin, SH. yang waktu itu menjabat Wali Kota Sawah Lunto. Rombongan lainnya, kami bersama A.I.Dt Bandaro Panjang yang waktu itu Kepala Kantor Veteran Sumatera Barat dan kebetulan juga putra Situjuh Batur.

Sopan, Jalur Sejarah yang Merana

OLEH Yusriwal

SETIAP Minggu, di belakang pasar tradisional Kuamang—sebuah daerah yang jaraknya kira-kira 15 km sebelah timur Rao, Pasaman—dapat dilihat pemandangan yang sudah tidak biasa untuk saat ini. Ada sebuah rumah khusus yang berfungsi sebagai penginapan, tempat makan dan minum, yang di belakangnya ditambatkan sekitar 30 ekor kudo baban. Sepintas, suasana seperti itu mengingatkan kita akan suatu tempat dalam film-film koboi Amerika.

Esai: Bukan Esei atau Essei

OLEH Yusriwal


Sejauh yang dapat ditelusuri, dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan kata “essei”, yang ada hanya kata “esai”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayan, 1988) esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisanya.

Memahami Dunia Penerbitan dan Kepenulisan: Perbandingan antara Yogyakarta dan Sumatra Barat

OLEH  Prof. Dr. Damsar, MA (Guru Besar FISIP Unand)

Pendahuluan

Tidak mudah memang, untuk memperbandingkan antara dua komunitas yang berbeda dalam memahami dunia. Namun suatu perbandingan diperlukan dalam memahami suatu kenyataan.

Didasari bahwa perbandingan bukan merupakan satu-satunya jalan untuk memahami kenyataan, tetapi ia dimengerti sebagai salah satu jalan. Oleh karena itu, dengan keterbatasan yang ada, dibuatlah perbandingan dalam memahami kenyataan.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...