Biaya Sosial Dampak Pencemaran Sungai


OLEH  Azwar Rasyidin
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas
Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia ( MKTI) baru saja melaksanakan kongres ke VII di Universitas Jambi.  Kongres yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 November 2010. Semulanya kongres  akan dibuka oleh Menteri Kehutanan dan sekaligus memberikan kuliah umum, tapi berhubung karena suatu hal, kehadiran  Menteri Kehutanan digantikan oleh staf ahlinya.
Jambi dipilih sebagai tuan rumah kongres terasa sangat cocok. Setelah 21 tahun MKTI berdiri, banyak hal mengenai konservasi tanah dan air yang belum tersentuh oleh kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan yang menyangkut dengan pengelolaan sumber daya air dan lahan pada sebuah kawasan aliran.

MINUMAN KAWA DAUN: Warisan Kolonial Jadi Gaya Hidup

OLEH Nasrul Azwar
Para pengunjung dan penikmat kawa daun di salah satu kedai kawa dauh di di Nagari Tabek Patah, Tanah Datar, Sumatera Barat. (Foto Buya Roni)
Daihatsu Xenia yang membawa kami dari Kota Padang berhenti di samping sebuah kedai sederhana di KM 10 Jalan Raya Batu Sangkar-Bukittinggi-Payakumbuh di Provinsi Sumatera Barat, pengujung tahun lalu. Kedai itu berada di Nagari Tabek Patah, Kabupaten Tanah Datar, 120 KM dari ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Perjalanan panjang bersama kendaraan “sejuta umat” itu—setelah melewati Kota Arosuka-Solok—tak terasa telah mengantarkan kami ke kedai kuliner khas Minang itu.

Fungsi Nilai, Budaya, Agama dalam Upaya Membangun Kepribadian Anak




OLEH Yulizal Yunus Dt Rajo Bagindo 
Ketua V LKAAM Sumatera Barat
 
Nagari Seribu Rumah Gadang (Sumber: yathada.wordpress.com) -

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, 24-26 Juni 2011, menggiatkan Forum Anak Sumatera Barat Tahun 2011. Sesi menarik ditawarkan ke LKAAM Sumbar, membincangkan “fungsi nilai adat, budaya dan agama dalam upaya membangun kepribadian anak“.
Pengalaman orang Minangkabau mendidik anak berkarakter, adalah melaksanakan agama dengan adat sebagai kebudayaan lokalnya. Di lingkungan rumah tangan dan kaum suku/ kampung, orang tua sebagai guru pertama mengajar anaknya berpengetahuan hingga cerdas, ninik mamak mendidik kamanakan (anak saudara perempuannya) berbudi di surau suku/ kampung. Anak kamanakan pun mau berguru dengan orang tua, mempertinggi budi dengan mamak. Kemauan kedua belah pihak itu (orang tua – mamak dan anak kamanakan) mengajar dan belajar adat dan agama direkat nilai/ norm agama dan adat. Norm agama dalam hadis disebut „belajar tak ada henti/ longlife education/ uthlub al-ilma min l-mahdi ila l-lahdi (cari ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahad). Nilai adat, “kalau ingin pandai berpengetahuan dan berilmu tidak ada jalan lain rajin berguru, kalau hendak mulia dan bermatabat tidak ada cara lain, dipertinggi budi pekerti. Nilai ini menjadi prioritas agama yakni makrima l-akhlaq (budi mulia), adat melaksanakannya seperti terdapat pada petatah di antaranya sebagai berikut:
Anjalai tumbuh di munggu
Sugi-sugi di rumpun padi
Supayo pandai rajin baguru
Supayo tinggi naikkan budi

A Tribute to Wisran Hadi: Sebatas Kita Tanpa Kata




OLEH Esha Tegar Putra
Pementasan Teater Cabang di Minangkabau Arts Festival
 “Sejak penemuan baju kulit sebagai penghangat tubuh masyarat Homo Neanderthal. Pakaian telah jauh berubah fungsi sampai sekarang. Dari sitem pengamanan tubuh, sampai menjadi simbol, gengsi, dan ideologi….”
Pada hari terakhir A Tribute to Wisran Hadi, Rabu (16/11) sorenya di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat tampil Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang memanggungkan naskah Sebatas Kata dengan sutradara Kurniasih Zaitun. Pada malamnya, di tempat yang sama tampil Teater Noktah Padang membawa Wanita Terarkhir sutradara Syuhendri.  

A Tribute to Wisran Hadi: Gaung Ekspose “Dimakan" Konser Musik



OLEH Nasrul Azwar dan Esha Tegar Putra
Pementasan Teater Rumah Teduh di Minangkabau Arts Festival
Hari kedua pagelaran naskah-naskah Wisran Hadi atau A Tribute to Wisran Hadi, Kelompok Teater Gaung Ekspose Padang tampil mementaskan naskah Dr Anda karya Wisran Hadi dengan sutradara Anita Dikarina dan Armeynd Sufhasril di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Minggu (13/11) sore. Malamnya, pukul 20.00 di tempat yang sama, Komunitas Teater Kamus Padang memboyong Matri Lini dengan sutradara Muslim Noer.
Nyaris sama, problem utama kelompok teater yang ada di Sumatera Barat adalah kurangnya militansi  dan eksplorasi terhadap naskah serta segenap pengetahuan di dalamnya.

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Teater Ranah dan yang Membingungkan




OLEH Esha Tegar Putra
Pertunjukan Serunai Laut pada Minangkabau Arts Festival
Banyak kalangan yang menaruh harapan, pagelaran pertunjukan teater naskah-naskah Wisran Hadi ini yang digelar sejak 12 sampai dengan 16 November, dengan menampilkan sembilan kelompok teater dari rencana 10, sebagai momentum bergairahnya kembali seni pertunjukan teater di Sumatera Barat.
Sampai Selasa (15/11) sudah tujuh kelompok teater yang memanggungkan garapannya,  tapi panggung utama Taman Budaya Sumatera Barat belum terlihat penyajian teater yang sungguh-sungguh itu teater. Jika dirujuk empat tahun terakhir, misalnya, tak ada perbedaan signifikan dengan cara berteater hari ini. Teater  Sumatera Barat hanya bermain di situ-situ saja.

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Kompilasi Teater Rakyat yang Tanggung


OLEH Andika D Khagen dan Esha Tegar Putra
Pertunjukan Teater Langit dalam Minangkabau Arts Festival

Teater Sakata Padang Panjang membuka pementasan teater Parade Naskah Drama Wisran Hadi Sabtu, (12/10), berjudul Matrilini yang disutradarai Fani Dilasari dan Enrico Alamo konsultan artistik.
Iven ini ditasbihkan sebagai A Tribute to Wisran Hadi yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat selama sepekan sejak tanggal 12 hingga 16 November 2011 menghadirkan sembilan kelompok teater aktif di Sumatera Barat, yang semuanya membawa naskah karya Wisran Hadi ke atas pentas.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...