Umar Malin Parmato, yang Cemas pada Kepunahan

Maestro Musik Gandang Botuang
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)
Umar Malin Parmato bersama MC SIMFest 2015 (Foto Fadil)
Malam itu, wajah Umar Malin Parmato ceria.  Bersama anak perempuan dan 2 cucunya, keempatnya tampil dalam Sawahlunto International Music Festival (SIMFest) VI pada hari ketiga penutupan iven ini musik dunia ini, Minggu (20/9/2015) lalu.
Alat musik tradisi gandang botuang (gendang bambu) atau masyarakat umum menyebutnya talempong batuang (telempong bambu), dimainkan dengan sangat sederhana, dan nada-nada yang dimunculkan juga tak rumit.

Teater Sumbar dalam Tiga Ideologi

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Merumuskan arah teater Sumbar
Teater lahir dari urbanisasi tak terkecuali teater di Sumatera Barat. Teater adalah gaya hidup “orang kota” dan tumbuh dengan cara orang kota pula. Teater adalah ruang-ruang yang melangsungkan perpindahan terus menerus dari ruang yang disebut kampung menuju perkotaan, yang diusung dengan tertatih-tatih oleh orang kampung.
Perpindahan teater dari ruang-ruang bergerak dalam wujud apa saja dengan semua elemen teater menyertainya. Teater yang hadir hari ini, hasil dari persenyawaan dan menyatunya dua ruang: kampung dan kota. Keduanya disertakan dalam perjalanan setiap pertunjukan teater. Dari situ ideologi teater lahir dan terpetakan.

ORASI BUDAYA: Penyair: Ekspirasi, Hasrat, dan Capaian Langit

OLEH Yusmar Yusuf (Budayawan)
Yusmar Yusuf
penyair, memikul tugas ilahiah lewat ‘wajah” jamaliyah Tuhan (kualitas feminin). Karena penyair sadar akan penciptaan manusia, lahir dari sifat jamaliyah. Bukan jalaliyah. Apa-apa yang lahir dari imaji dan jemari penyair adalah sejumlah “keserupaan-keserupaan misteri” dari sifat Tuhan. Bukan dzat Tuhan. Posisi manusia selaku co-Creator di depan Tuhan bukan lagi hamba, tapi khalifah. Di antara makhluk-makhluk Tuhan, yang diberi toga, jubah kehormatan kekhalifahan itu hanyalah manusia. Dia menjadi wakil Tuhan di muka Bumi. Sebuah mandat langit. “Tuhan mencipta manusia dengan kedua tangan-Nya. Kedua-dua tangan itu adalah tangan kanan yang saling berlawanan,” ujar Ibn Arabi.

Analisis Resensi Novel Tanah Ombak Karya Abrar Yusra, Dari Investigasi ke Fiksi

OLEH Sastri Sunarti (Peneliti Sastra Pusat Bahasa)
Abrar Yusra, Tanah Ombak, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Cetakan Pertama, April 2002
Kita mengenal beberapa nama pengarang Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai wartawan yang juga merangkap sebagai penulis prosa atau puisi. Misalnya, Mochtar Lubis, Harris Effendi Thahar, Veven Sp. Wardhana, dan sederet nama lainnya yang awalnya adalah seorang jurnalis kemudian menjadi novelis maupun cerpenis. Abrar Yusra, termasuk salah seorang wartawan yang kemudian juga tergoda untuk menulis karya sastra berdasarkan pengalaman kewartawanannya.
Novel Tanah Ombak adalah karya novel Abrar yang pertama yang pernah diterbitkan. Novel ini menggambarkan hubungan “istimewa” antara Abim seorang wartawan dengan seorang hostes yang bekerja di sebuah nite club. Awalnya kehadiran Abim ke nite club itu semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahunya mengenai kehidupan malam di kotanya. Dari rasa ingin tahu tersebut, mulai tumbuh semacam empati terhadap salah seorang hostes di nite club itu yang bernama Yasmi.

Orasi Sastra: Kesaksian Personal

(Disampaikan dalam Silaturahmi Sastrawan Sumatera Barat)

OLEH Darman Moenir
Sastrawan

Saya berbahagia berpidato sastra yang bersifat personal pada hari ini, Sabtu, 22 Agustus 2015.
Betapa lagi pidato ini harus dimulai dengan menyebut halaman Remaja Minggu Ini (RMI) Harian Haluan yang berawal pada 1976 dan berakhir 1999. Ruang ini jadi persemaian kelahiran sastrawan dari Sumatera Tengah penggal kedua abad lampau. Pula, masa-masa itu mendatangkan kenangan tersendiri, sesudah dinamika Grup Krikil Tajam yang saya pimpin pada 1973, berakhir. Sebelum RMI eksis, sudah ada halaman Budaya Minggu Ini (BMI) tiap Selasa.
Izinkan saya menjelaskan, Haluan adalah salah satu surat kabar tertua di Indonesia, didirikan oleh H. Kasoema bersama Adaham Hasibuan dan Amarullah Ombak Lubis. Menurut Wikipedia, Ensiklopedia bebas, edisi perdana Haluan terbit pada 1 Mei 1948 di Bukittinggi. Selama dan sehabis pergolakan PRRI, April 1958 sampai Mei 1969, surat kabar ini berhenti terbit. Pada bulan Mei 1969 Haluan kembali beredar. Tercatat wartawan yang mengawaki Haluan, antara lain, H. Kasoema, Rivai Marlaut, Chairul Harun, M. Joesfik Helmy, Sjafri Segeh, Annas Lubuk, A. Pasni Sata, Rusli Marzuki Saria, Basri Segeh, Sy. Datuk Tuo. Pada generasi berikut muncul nama-nama Benny Aziz, Nasrul Djalal, Sjukril Sjukur, Azurlis Habib, Ersi Rusli, Darman Moenir, Masri Marjan, Wall Paragoan, Yalvema Miaz, Herman L., Mufthi Syarfie.

Daftar Nama yang Diberangkatkan ke FBF 2015, Nama Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri Tak Ada

Setelah melalui proses kurasi oleh Komite Buku dan Komite Penerjemahan, Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 mengumumkan nama-nama penulis yang akan diberangkatkan ke Jerman.

Frankfurt Book Fair dan Perdagangan Orang

OLEH AS Laksana

Kaget saya! Rupanya ada perbincangan seru di wall Facebook Linda Christanty tentang Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Saya senang membacanya. Akhirnya ada juga yang bersuara keras. Dalam percakapan-percakapan ringan, beberapa kawan saya para penulis sering “gremang-gremeng” mengungkapkan unek-unek mereka, tetapi tidak ada yang memulai buka suara sampai akhirnya Linda menuliskan pendapatnya secara terbuka dalam status tersebut—yang saya bagikan tepat di bawah status ini.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...