Ekspresi Anak Nagari Merayakan Budaya


ALEK NAGARI SIJUNJUANG

OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Foto Edy Utama
JALAN kampung sepanjang 1,5 kilometer di Nagari Sijunjung sore itu dipenuhi warga. Mereka berjejer-jejer di tepi jalan dan tak sedikit pula menyembulkan kepalanya dari jendela rumahnya. Anak nagari dan warga sekitar sedang menikmati peristiwa budaya alek nagari dengan wajah dan gestur riang gembira. Sebuah peristiwa budaya yang mereka rasakan dengan tulus dan ikhas. Semuanya mengekspresikan dirinya.

Teatrikal yang Gugat Sistem Pendidikan “Ini Budi”


PEMENTASAN ”BANGKU KAYU DAN KAMU YANG TUMBUH DI SITU”
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis dan Presiden AKSI)
Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ (Foto Adek)
Memigrasikan teks-teks—apalagi itu teks berupa kode-kode dan tanda-tanda yang sangat referensial dengan ingatan kolektif publik yang telah mengkristal—ke atas panggung sebagai teks pertunjukan, mengemban dua opsi: komunikatif dan tidak komunikatif, baik secara pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme.
Teks pertunjukan ”Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ” dalam durasi 55 menit yang saya saksikan di Teater Arena Taman Budaya Jambi, pada Jumat, 31 Agustus 2018, secara resepsif menempatkan karya yang disutradarai Yusril Katil itu pada posisi teks yang komunikatif dengan artistik-estetika pemanggungan dan pesan makna simbolisme maupun nonsimbolisme, memenuhi capaian yang pas walau dengan beberapa catatan menyertainya.

“The Margin of Our Land” #2Reklamasi” Kolaboratif Setengah Hati"


POSTFEST IKJ 2018

OLEH Nasrul Azwar (Presiden AKSI)
Penampilan kolaboratif “The Margin of Our Land #2Reklamasi dalam rangkain PostFest 2018 Sekolah Pascasarjana, Jumat, 3 Agustus 2018, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Foto Denny Cidaik
Relevansi teks (tertulis) dengan wujud koreoteaterik yang divisualisasikan dalam panggung pertunjukan bukan serta merta hubungan yang bersifat setangkup (simetris). Keduanya (teks dan visual-audio koreoteaterik) bisa saja saling kontraprestasi dan juga terbuka kemungkinan duplikasi teks tertulisnya. Keindahan sebuah pertunjukan seni memang terletak pada kekayaan tafsir dan interpretasinya tapi mungkin saja sebaliknya. 

Rusli Marzuki Saria, Wartawan Mantan Pejuang PRRI


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)
Rusli Marzuki Saria (Foto Faiz)
Saat artikel ini rampung ditulis pada medio Desember 2017, Rusli Marzuki Saria belum mendapat undangan berangkat ke Thailand untuk menerima “SEA Write Award 2017” dari Kerajaan Thailand. Penghargaan ini rencananya akan diserahkan pada Oktober 2017 tapi karena alasan yang belum diketahui dari pihak panitia, sosok yang akrab dipanggil “Papa” hingga kini masih bersifat menunggu informasi lebih lanjut.
Buku kumpulan puisi Rusli Marzuki Saria One by One Line by Line yang bilingual ini diterbitkan Kabarita Padang (2014), meraih hadiah sastra bergengsi, yang juga disebut “Nobel Sastra”nya Asia Tenggara, pada tahun 2017.
“Inilah puncak capaian Papa Rusli Marzuki Saria, salah seorang sastrawan dan budayawan Sumatera Barat yang membanggakan kita,” kata Yusrizal KW, pendiri penerbit Kabarita, yang juga seorang sastrawan itu.

Sjahruddin, Wartawan Pejuang yang Meninggal di Pecahan Granat


OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)


Setelah Soekarno yang didampingi Muhammad Hatta mengumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, Sjahruddin, seorang wartawan senior di Kantor Berita Domei (kini LKBN Antara), menyelinapkan secarik kertas yang bernilai tinggi itu. Sjahruddin bergegas dan berhati-hati karena tentara Jepang masih berkeliaran. Tertangkap, nyawa melayang.   

Kepemimpinan Masyarakat Minangkabau


OLEH Buya Masoed Abidin (Ulama)
Di bawah ini adalah sebuah penjelasan model kepemimpinan dalam suatu masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat, yang masih dipraktekan sampai hari ini.
Kepemimpinan yang mengutamakan kebajikan dan kebijaksanaan ini bersumber kepada kitabullah dan sunnah, tanpa mempertentangkan adat dan agama tapi menyatukannya dalam bentuk kepimpinan yang telah mengakar pada kondisi masyarakat Nusantara, jadi bukan dipaksakan dari budaya Spanyol ataupun Arab dan juga bukan kepemimpinan model demokrasi yang tidak lain adalah pintu belakang dari kapitalisme global (jaringan lintah darat perbankan), dimana praktek riba dihalalkan atas nama ‘suara rakyat’.

Rivai Marlaut, Wartawan yang “Dicari” Wakil Presiden Adam Malik


OLEH Nasrul Azwar
Sejak kecil cita-cita Rivai Marlaut menjadi wartawan dan penulis. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Kedua orangtuanya menambatkan harapan agar Rivai Marluat menjadi seorang insinyur, ahli teknik. Untuk mewujudkan cita-cita itu, orang tuanya memasukkan Rivai kecil ke sekolah Ambacht bagian besi tetapi sekolah itu tak membuatnya menjadi seorang teknisi.

Kekerasan hatinya menjadi seorang wartawan dan penulis, dia buktikan dengan merantau meninggalkan kampung halamannya, Koto Baru, Solok. Pada usia 23 tahun, usia yang tageh-tagehnya, Rivai muda berkelana ke Pulau Jawa. Di Jawa, sekira tahun 1935, Rivai Marlaut bergabung dengan surat kabar Pemandangan yang dipimpin Saeroen, sebuah surat kabar umum tapi menaruh perhatian pada budaya Betawi. Pemimpin Redaksi Soeroen menempatkannya Rivai Marlaut pada “Desk Luar Negeri” hingga dia pindah.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...