Menjemput Raja Malewar ke Pagaruyung untuk Menjadi Raja di Negeri Sembilan

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie

H. Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie menjabat tangan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Malaysia, DYMM Tuanku Jaafar ibnu Tuanku Abdur Rahman sesampainya di Pagaruyung pada tahun 1985. Tuanku diantar oleh Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid dan kerabat Pagaruyung Sutan Indrawansyah.
Saya bawa pembaca lebih dahulu mengenal tentang perantauan orang Minangkabau di Negeri Sembilan Darul Khusus, Semenanjung Tanah Melayu.
Jiwa perantau orang Minangkabau memang sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Pada abad ke-12 Masehi, ada catatan yang mengatakan orang Minangkabau sudah menetap di Pulau Temasik, Singapura sekarang.

Pidato Pati Ambalau: H. M. Taufiq Kiemas Gelar Datuak Basa Batuah dan Ibu Megawati Soekarno Putri Gelar “Sangsako” Adat Puti Reno Nilam

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
ASSALAMUALAIKUM Wrahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, washsholatu wassalam, ‘ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, wa ashhabihi ajma’in.
Yang kami sanjung tinggi Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarno Putri. Yang kami sanjung tinggi, H. M. Taufiq Kiemas gelar Datuak Basa batuah. Yang kami hormati para Menteri Kabinet Gotong-royong. Yang mulia para Duta Besar negara sahabat.

Wartawan dan Penulis yang Dipuji Pengarang Perancis


Muhamad Radjab  Sutan Maradjo
OLEH Hasril Chaniago
Dia menjadi sangat terkenal karena menulis buku Semasa Kecil di Kampung yang juga diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Rusia. Tetapi sesungguhnya dia adalah seorang wartawan yang bekerja di Kantor Berita Antara hingga akhir hayatnya. Namanya Muhamad Radjab Sutan Maradjo, berasal dari Nagari Sumpur di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar.
Nama Muhamad Radjab masuk dalam buku Jagat Wartawan Indonesia (JWI) yang ditulis wartawan senior Antara Soebagjo I.N. (PT Gunung Agung 1981).Radjab dilahirkan di kampungnya pada  1913, dan meninggal di Padang 16 Agustus 1970 dalam perjalanan pulang kampung untuk mengikuti Seminar Sejarah dan Budaya Minangkabau di Batusangkar, di mana seminar itu juga dihadiri mantan Wakil Presiden Bung Hatta, Buya Hamka, dan Dr. Bahder Djohan sebagai Ketua Panitia.

Wartawan Penyelamat Sejarah Minangkabau


RUSLI AMRAN 
OLEH HASRIL CHANIAGO
Rusli Amran adalah salah seorang wartawan asal Minang yang punya peran cukup penting di awal kemerdekaan.  Kurang tiga pekan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Rusli Amran bersama antara lain Sidi Muhammad Sjaaf, Anas Ma’ruf, dan Suraedi Tahsin, menerbitkan Harian Berita Indonesia. Suratkabar ini pertama kali terbit di Jakarta sejak 6 September 1945 dengan misi mendukung Proklamasi Kemerdekaan, dan punya peran penting dalam menggalang massa untuk menghadiri rapat besar di lapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945.

Anak-anak yang Menyemir Kehidupan

OLEH kHAIRUL JASMI 


MereKA
ada di pusat keramaian; di trotoar, di rumah makan, terminal, stasiun, dan hotel. Menenteng peralatan semir. Mereka kehilangan masa kanak-kanaknya: bermain gundu, mengaji di surau atau mandi di kali atau bersenda gurau.
Dengan mata kuyu dan baju dekil, mereka merayu orang agar mem­berikan sepatunya untuk disemir agar memperoleh imbalan. Apa boleh buat, mereka tinggalkan sekolah, tapi bukan semata karena kemauannya. Mereka terpanggil membantu orangtua, terpaksa karena harus makan, dan sederet alasan yang membuat mereka pun jauh dari hingar-bingarnya dunia pendidikan.

Dari SK ke Alas Kaki Menata Dagang dengan Keringat


OLEH KHAIRUL JASMI
Putus sekolah tidak berarti menjadi pengang-guran. Setidaknya prinsip itu berlaku bagi Beye. Lelaki yang punya nama asli Anwar Bujang itu memang hanya sekolah sampai kelas 2 SMA, tapi kini punya usaha kulit yang beromset Rp10 juta per bulan. Suatu jumlah yang cukup besar bagi usah kecil di Padang.

Wartawan dan Penulis Perempuan Pertama Indonesia


SAADAH ALIM
OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis)


Dia salah wartawan dan penulis yang menaruh perhatian penuh pada perjuangan dan kesetaraan kaum perempuan di zamannya. Salah satu buktiyang dia kerjakan dengan susah payah ialah mendirikan dan menerbitkan majalah Soeara Perempoeanpada tahun 1924, empat tahun sebelum Soempah Pemoeda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928. Suara Perempoeanadalah sebuah majalah yang memiliki visi pergerakan bagi kaum wanitadi Nusantara.
Sosok itu bernama Saadah Alim, perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, 9 Juni 1897. Diaadalah penulis perempuan Indonesia pertama, yang terkadang saat memublikasikan tulisannya menggunakan nama pena Aida S.A.
Kendati lahir di Kota Padang, Saadah Alim menghabiskan waktu pendidikannya di Kota Bukittinggi, yakni di Sekolah Guru (Kweekschool). Bakat menulisnya sudah kentara sejak di bangku Sekolah Guru ini.
Setelah lulus Kweekschoolatau dikenal juga dengan Sekolah Radjo, tahun 1917, Saadah Alim mengabdisebagai pengajar di HIS selama dua tahun (1918-1920) di kota kelahirannya, Padang. HIS merupakan singkatan dari Hollandsch Inlandsche School (HIS), penamaan sekolah Belanda untuk bumi putera yang didirikan Belanda sebagai konsekuensi politik etis pada tahun 1914. Selanjutnya, dia menjadi guru Meisjes Normaal School (Sekolah Guru Wanita) di Padang Panjang.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...