3 Seni Menautkan 2 Bangsa


TITIAN BUDAYA ISI PADANG PANJANG-NEGERI SEMBILAN
OLEH Nasrul Azwar, Presiden AKSI dan Jurnalis

“The Margin of Our Land #3”
Salah satu bentuk kolekvitas seni yang mendahului masyarakat zaman sekarang ialah cerita rakyat (folk tale) dan lagu rakyat (folk song). Dua hal ini merupakan bentuk seni yang terkait erat masyarakat tradisional dalam batas-batas ideologis tertentu dan suku tertentu, malah. (St. Sunardi, dalam Popular Culture, 2016).
Kalimat di atas saya kutipkan karena relevan dengan tulisan apresiatif ini terhadap tiga pertunjukan karya seni dari ISI Padang Panjang yang dipentaskan di Kompleks Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Negara (JKKN) Negeri Sembilan dalam program Titian Budaya Malaysia-Indonesia pada 23-26 Oktober 2019 lalu.

Menjemput Raja Malewar ke Pagaruyung untuk Menjadi Raja di Negeri Sembilan

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie

H. Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie menjabat tangan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Malaysia, DYMM Tuanku Jaafar ibnu Tuanku Abdur Rahman sesampainya di Pagaruyung pada tahun 1985. Tuanku diantar oleh Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid dan kerabat Pagaruyung Sutan Indrawansyah.
Saya bawa pembaca lebih dahulu mengenal tentang perantauan orang Minangkabau di Negeri Sembilan Darul Khusus, Semenanjung Tanah Melayu.
Jiwa perantau orang Minangkabau memang sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Pada abad ke-12 Masehi, ada catatan yang mengatakan orang Minangkabau sudah menetap di Pulau Temasik, Singapura sekarang.

Pidato Pati Ambalau: H. M. Taufiq Kiemas Gelar Datuak Basa Batuah dan Ibu Megawati Soekarno Putri Gelar “Sangsako” Adat Puti Reno Nilam

OLEH Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie
ASSALAMUALAIKUM Wrahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, washsholatu wassalam, ‘ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, wa ashhabihi ajma’in.
Yang kami sanjung tinggi Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarno Putri. Yang kami sanjung tinggi, H. M. Taufiq Kiemas gelar Datuak Basa batuah. Yang kami hormati para Menteri Kabinet Gotong-royong. Yang mulia para Duta Besar negara sahabat.

Wartawan dan Penulis yang Dipuji Pengarang Perancis


Muhamad Radjab  Sutan Maradjo
OLEH Hasril Chaniago
Dia menjadi sangat terkenal karena menulis buku Semasa Kecil di Kampung yang juga diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Rusia. Tetapi sesungguhnya dia adalah seorang wartawan yang bekerja di Kantor Berita Antara hingga akhir hayatnya. Namanya Muhamad Radjab Sutan Maradjo, berasal dari Nagari Sumpur di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar.
Nama Muhamad Radjab masuk dalam buku Jagat Wartawan Indonesia (JWI) yang ditulis wartawan senior Antara Soebagjo I.N. (PT Gunung Agung 1981).Radjab dilahirkan di kampungnya pada  1913, dan meninggal di Padang 16 Agustus 1970 dalam perjalanan pulang kampung untuk mengikuti Seminar Sejarah dan Budaya Minangkabau di Batusangkar, di mana seminar itu juga dihadiri mantan Wakil Presiden Bung Hatta, Buya Hamka, dan Dr. Bahder Djohan sebagai Ketua Panitia.

Wartawan Penyelamat Sejarah Minangkabau


RUSLI AMRAN 
OLEH HASRIL CHANIAGO
Rusli Amran adalah salah seorang wartawan asal Minang yang punya peran cukup penting di awal kemerdekaan.  Kurang tiga pekan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Rusli Amran bersama antara lain Sidi Muhammad Sjaaf, Anas Ma’ruf, dan Suraedi Tahsin, menerbitkan Harian Berita Indonesia. Suratkabar ini pertama kali terbit di Jakarta sejak 6 September 1945 dengan misi mendukung Proklamasi Kemerdekaan, dan punya peran penting dalam menggalang massa untuk menghadiri rapat besar di lapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945.

Anak-anak yang Menyemir Kehidupan

OLEH kHAIRUL JASMI 


MereKA
ada di pusat keramaian; di trotoar, di rumah makan, terminal, stasiun, dan hotel. Menenteng peralatan semir. Mereka kehilangan masa kanak-kanaknya: bermain gundu, mengaji di surau atau mandi di kali atau bersenda gurau.
Dengan mata kuyu dan baju dekil, mereka merayu orang agar mem­berikan sepatunya untuk disemir agar memperoleh imbalan. Apa boleh buat, mereka tinggalkan sekolah, tapi bukan semata karena kemauannya. Mereka terpanggil membantu orangtua, terpaksa karena harus makan, dan sederet alasan yang membuat mereka pun jauh dari hingar-bingarnya dunia pendidikan.

Dari SK ke Alas Kaki Menata Dagang dengan Keringat


OLEH KHAIRUL JASMI
Putus sekolah tidak berarti menjadi pengang-guran. Setidaknya prinsip itu berlaku bagi Beye. Lelaki yang punya nama asli Anwar Bujang itu memang hanya sekolah sampai kelas 2 SMA, tapi kini punya usaha kulit yang beromset Rp10 juta per bulan. Suatu jumlah yang cukup besar bagi usah kecil di Padang.

Pro-Kontra Pemekaran Nagari Era Otoda Kembali ke Nagari

(Bagian 5 dari 5 tulisan-Habis) OLEH   Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo Dari perspektif nagari di Minangkabau dan sistem pemerintahann...